Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Rahasia Puncak Pegunungan Berkabut


__ADS_3

[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan  100 pil peningkat ranah]


[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan setetes darah garuda emas]


[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan tubuh Kekosongan yang bisa dipadukan dengan fisik Dewa Abadi]


[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan kesempatan naik ranah tiga tingkat]


Saka tersenyum puas. Memang kotak hadiah berlian tidak pernah mengecewakan.


"Sistem, bagaimana caranya upgrade?"


[Ding! Jika Tuan sudah mencapai ranah Immortal, sistem akan upgrade secara otomatis]


Saka kemudian kembali ke kamar, memasang array kedap suara dan array pertahanan.


"Sistem, pasang tubuh Kekosongan."


[Ding! Memasang tubuh Kekosongan, harap Tuan bersiap]


Rasa sakit kemudian mulai menjalar di seluruh tubuh Saka. Seolah ribuan belati menyayat seluruh sel-sel yang ada di tubuhnya hingga lemas tak berdaya. Hal itu berlangsung selama lima menit sebelum kemudian Saka merasakan sebuah lubang tak berdasar di tubuhnya, yang seolah bisa menghisap segala sesuatu.


"Ding! Selamat Tuan! Tubuh Kekosongan telah terpasang! Dengan ini, Tuan bisa meningkat ranah secara gila-gilaan tanpa takut meledak, karena tubuh Kekosongan akan menyerap seluruh energi yang ada di langit dan bumi, sejatinya tubuh Kekosongan adalah bentuk sempurna dari Teknik Penyerapan Ilahi]


Saka menggumam samar, lalu mengeluarkan setetes darah garuda emas. Tanpa kata, ia langsung memasukkannya ke mulut.


Sebuah energi dalam jumlah besar seperti gulungan ombak yang menghantam dantian Saka. Gejolak energi itu menimbulkan  rasa mual dan sakit yang teramat hebat. Lautan energi yang semula tenang kini bergejolak seolah akan tsunami. Belum lagi darah naga miliknya bereaksi memberikan perlawanan. Kini Saka harus bisa menyatukan dua darah berbeda di dalam tubuhnya.


Dua hari dua malam, Saka terus berjuang menenangkan dua darah berbeda agar selaras. Saat waktu menjelang pagi, darah naga dan garuda yang ada di tubuh Saka mulai tunduk dan bersatu. Wajah Saka sudah sepucat orang mati, keringat membasahi tubuhnya layaknya habis mandi, dan seteguk darah ia muntahkan. Usai proses menyakitkan itu, Saka merasakan gatal di punggungnya. Rasa gatal semakin menjadi hingga terasa sakit. Dalam tiga hela napas, sepasang sayap emas mengepak indah di punggungnya.


Fyuhh!


Saka menghela napas panjang lalu membuka mata. Beberapa kali mengerjap karena merasakan pandangannya buram.


"Akhirnya selesai," gumam Saka lirih. Ia sama sekali tidak menyangka jika penyatuan darah garuda akan lebih menyakitkan dibanding darah naga. Saka kemudian menghilangkan sayapnya, lalu kembali bermeditasi saat merasakan lautan energinya akan meledak.


Duaarr!


Duaarr!

__ADS_1


Empat ledakan teredam dari dalam tubuh Saka menandakan ia naik ke ranah Langit tingkat lima. Saka juga melihat dantiannya yang berwarna emas, di sekelilingnya terdapat tiga bola cahaya berwarna hitam kemerahan, putih, dan biru.


"Apakah ini elemen angin?"


[Ding! Benar Tuan, karena ras garuda memiliki elemen alami, yaitu angin. Setelah darah garuda menyatu dengan tubuh Tuan, maka elemen alami ras garuda juga ikut menyatu]


"Sistem, gunakan kesempatan naik ranah tiga tingkat."


[Ding! Menggunakan kesempatan naik ranah, Tuan akan naik ke ranah Langit tingkat delapan]


Tiga ledakan teredam kemudian terdengar menandakan naiknya tingkat Saka.


"Tinggal satu tingkat lagi dan sistem bisa upgrade," gumam Saka.


Saka kemudian membersihkan dirinya dengan energi, lalu menghilangkan array di kamarnya. Saat keluar, ia disambut oleh Sinta yang tengah berkultivasi.


"Ibu sangat jenius, baru beberapa hari dan sudah naik ke ranah Jenderal tingkat akhir." Saka mengangguk bangga. Ia memandang ke sekeliling goa, tapi tak mendapati seorang pun.


"Mungkin mereka masih di dalam cermin."


Tak ada yang bisa ia lakukan di sini, Saka kemudian memutuskan untuk menjelajahi puncak Pegunungan Berkabut.


Menggunakan teleportasi, Saka muncul di depan pintu goa dan langsung berlari menggunakan langkah angin menuju ke puncak pegunungan berkabut. Semakin tinggi, kabut yang menyelimuti semakin pekat.


Notifikasi pemberitahuan sistem terus berbunyi di benak Saka.


"Pantas saja tidak ada yang selamat saat datang ke puncak, kabut ini juga melakukan serangan jiwa," gumam Saka.


Perjalanan menuju puncak tak terlalu sulit. Hanya beberapa monster ranah Bumi tingkat akhir dan ranah Langit tingkat awal. Saat sampai di puncak, Saka terpesona dengan betapa indahnya pemandangan di puncak Pegunungan Berkabut. Tidak seperti puncak gunung lain yang hanya berisi pepohonan dan monster, tapi puncak Pegunungan Berkabut justru seperti dunia lain. Di mana tak ada lagi kabut yang menyelimuti, terdapat sebuah danau dengan energi yang sangat melimpah dan dua buah pohon yang sangat besar. Pohon itu berbuah sangat lebat. Bentuknya seperti buah apel, tetapi mempunyai warna seperti buah persik.


Saka mendekat dengan pandangan terpesona. "Apakah ini harta karun yang disembunyikan  pegunungan berkabut?"


Tangan Saka terulur ingin mengambil salah satu buah itu, tapi danau yang semula tenang tiba-tiba bergejolak. Gelembung-gelembung dalam ukuran besar terlihat sebelum sebuah kepala diikuti dengan badannya muncul dari dasar danau.


"Na-naga?" Saka tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendapati seekor naga dengan badan sebesar truk tronton sudah berada di hadapannya.


"Manusia? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" Naga itu bergumam. "Tunggu! Kamu juga memiliki darah naga? Siapa kamu sebenarnya?" Rupanya, yang terkejut bukan hanya Saka.


"Aku?" Saka menunjuk dirinya sendiri. "Namaku Saka, Paman!"

__ADS_1


Naga itu mendengus. "Aku tidak bertanya namamu, Bocah!"


"Lalu bertanya apa? Paman Naga bertanya siapa aku, aku jawab namaku Saka, salahnya di mana?" tanya Saka dengan wajah tanpa dosa.


Naga itu kembali mendengus. "Kamu bisa sampai di sini artinya kamu bukan orang sembarangan. Apa yang akan kamu lakukan  di tempat yang kujaga ini?" tanya naga itu.


Saka tampak menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Tidak ada, Paman! Aku hanya penasaran saja dengan rahasia puncak Pegunungan Berkabut."


Naga itu mengernyit. Seberkas cahaya terang tampak menyelimuti sang naga sebelum kemudian seorang laki-laki dewasa muncul di depan Saka.


Saka tak bisa memungkiri jika laki-laki dewasa di depannya ini sangat tampan.


"Paman, apa paman sudah mempunyai istri?" Saka tak bisa menahan pertanyaan yang secara spontan keluar dari otaknya.


Laki-laki jelamaan sang naga itu tampak terkejut sejenak lalu memandang remaja di hadapannya dengan pandangan aneh.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Hanya penasaran, sudah berapa lama paman di sini? Kenapa paman bisa berada di alam rendah ini? Bukankah para naga hanya ada di Alam Primordial?" Terkadang, saat rasa penasaran memuncak, Saka akan berubah menjadi makhluk paling cerewet.


"Anak muda, sepertinya kamu tahu banyak hal," ucap laki-laki itu. "Aku memang hidup di Alam Primordial sebelumnya, tapi terpaksa berada di alam ini karena aku terluka setelah peperangan melawan ras phoenix."


Kening Saka berkerut. "Kenapa antar ras saling berperang?"


"Anak muda, semua makhluk hidup yang mempunyai akal dan nafsu tapi tidak diimbangi dengan kontrol diri yang baik hanya akan berakhir dengan keserakahan. Bukankah manusia juga begitu?"


Saka berdehem membenarkan. "Yah, manusia bahkan lebih tidak masuk akal. Demi reputasi, bahkan anak sendiri pun diabaikan."


"Itulah kenapa tidak ada yang namanya kedamaian abadi di seluruh alam semesta ini. Selama hati makhluk itu masih diliputi keserakahan, maka akan selalu terjadi perselisihan."


Saka terdiam, mencerna semua ucapan dari sang jelmaan Naga yang kini sudah duduk bersandar di batang pohon.


"Paman, sudah berapa lama paman di sini?"


"Entahlah, mungkin sudah 900 tahun? Sejak Yang Mulia menyembunyikanku di sini, aku tidak pernah keluar dari tempat ini, bahkan saat aku merasakan Yang Mulia sudah tiada. Aku terluka parah dan hanya bisa bersembunyi sebagai pengecut." Raut sendu tak bisa disembunyikan dari wajah laki-laki itu.


"Paman, mungkin saja Raja Naga mempunyai rencana lain sehingga menyembunyikan paman di sini," ucap Saka mencoba menenangkan.


Naga itu tersenyum tipis. "Anak muda, namaku Gentala."

__ADS_1


"Paman Gentala, kalau paman tidak punya istri, maukah paman menikah dengan ibuku?" Mata Saka berbinar. Sejak tadi ia selalu memikirkan hal ini.


Mendengar itu, Gentala tersedak ludahnya sendiri.


__ADS_2