Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Ke Istana


__ADS_3

Suasana di singgasana sedang tegang setelah mendengar laporan dari salah satu pengintai. Jumlah pasukan yang besar dengan kekuatan di luar nalar sebentar lagi akan sampai di perbatasan, membuat mereka merasa putus asa. Hanya berdoa semoga datang keajaiban sebelum kerajaan mereka runtuh dan dikuasai oleh makhluk asing.


"Penasehat, apa yang harus kita lakukan?" tanya Raja Dharma setelah diam beberapa saat. Meski ia memaksakan otaknya untuk berpikir cepat, semuanya berujung pada kebuntuan.


"Yang Mulia, hamba juga belum mendapat solusi yang pasti, tapi untuk pencegahan awal sebaiknya warga di sekitar perbatasan harus kita ungsikan terlebih dahulu, lalu mengirim satu juta pasukan khusus untuk menahan mereka di perbatasan," usul sang penasehat kerajaan.


Raja Dharma tampak termenung. Wajahnya yang berwibawa kini tampak menua dalam sekejap. Ia sama sekali tak menyangka jika kerajaan terkuat miliknya akan jatuh dalam posisi genting seperti ini.


"Hah, sepertinya kita semua menemui jalan buntu. Lakukan seperti yang diusulkan oleh penasehat, kita akan melawan musuh sampai titik darah penghabisan!" tandas Raja Dharma mencoba membangkitkan semangat para bawahannya.


"Siap, Yang Mulia!"


Semua bersiap untuk segera melaksanakan titah sang raja saat kasim mengumumkan kedatangan Tetua Rama.


"Salam, Yang Mulia!" Tetua Rama berlutut sebagai bentuk penghormatan, sementara Saka hanya sedikit menundukkan kepala.


"Lancang! Siapa kamu sampai tidak memberi penghormatan kepada Yang Mulia?" Salah satu menteri berteriak lantang saat Saka tak ikut berlutut.


Saka menatap Raja Dharma dengan tenang, sepenuhnya mengabaikan sang menteri.


"Pemberontak! Kamu harus dihukum karena tidak menghormati Yang Mulia!" Menteri itu kembali berteriak saat menyadari dirinya diabaikan oleh bocah tak dikenal yang sangat tidak sopan.


"Tenanglah! Jangan gegabah!" Raja Dharma memberi peringatan kepada menterinya. Sebagai raja yang bijaksana, Raja Dharma tak ingin gegabah dalam bertindak dan berujung kehancuran kerajaan yang dipimpinnya. Ia memang tak bisa melihat tingkat kultivasi Saka, tapi ia merasakan ancaman tersembunyi saat melihat matanya. Namun sayang, sang menteri tak secerdik sang raja.


"Yang Mulia, biar saya yang menghukum anak tidak tahu sopan santun itu." Lantas tanpa menghiraukan peringatan dari Raja Dharma, menteri itu langsung melakukan serangan cepat ke arah Saka.


Saka yang melihat itu tetap tenang. Saat beberapa meter lagi serangan dari menteri itu mengenai Saka, dengan santai ia membuka sedikit mulutnya lalu ....


Hatchi!


Tak hanya serangan itu menghilang tetapi menteri itu dikirim terbang jungkir balik hingga menghantam tembok, lalu muntah darah sebelum pingsan.


"Ah, maaf! Aku kelepasan karena ada serangga di depan hidungku," ucap Saka tanpa merasa bersalah sembari mengusap hidungnya.


Semua orang menahan napas sesaat. Menteri itu berada di ranah Langit puncak yang tinggal sedikit lagi ke ranah Immortal, tapi mampu dikirim terbang hanya dengan satu bersin? Sekuat apa pemuda yang ada di depan mereka ini sebenarnya?

__ADS_1


Tak berbeda jauh dengan para bawahannya, Raja Dharma pun sangat terkejut. Ia dengan hati-hati bertanya kepada Tetua Rama yang sedari tadi memilih diam karena tau sekuat apa Saka sebenarnya.


"Tetua Rama, siapa kiranya pemuda yang kau bawa?" tanya Raja Dharma.


"Mohon ampun, Yang Mulia! Pemuda ini adalah Pendekar Saka yang selama ini Yang Mulia cari."


Ucapan Tetua Rama membuat kehebohan di ruang singgasana. Pasalnya mereka sudah berbulan-bulan mencari jejak Pendekar Saka atau pun Pasukan Garuda tetapi tak menemukan petunjuk satu pun. Namun kini, orang yang mereka cari datang dengan sendirinya.


"Benarkah?" Raut wajah Raja Dharm berubah menjadi cerah. Ia seolah melihat cahaya harapan yang dibawa oleh Saka.


"Yang Mulia, saya Arsaka Dirgantara, atau orang-orang menyebut saya Pendekar Saka. Saya mendengar dari Kakek Rama jika Yang Mulia mencari saya, bolehkah saya bertanya ada keperluan apa Yang Mulia mencari saya?" pancing Saka yang ingin segera sampai di pokok permasalahan.


Senyum Raja Dharma mengembang. "Nak Saka, akhirnya kamu datang! Aku tidak tahu ini tindakan yang tepat atau tidak, tetapi Kerajaan Victoria benar-benar membutuhkan kekuatanmu untuk mempertahankan diri dari gempuran musuh." Raja Dharma tampak begitu berat dalam berucap. Tentu saja sebagai Raja dia tak ingin menunjukkan kelemahan, tetapi mau bagaimana lagi? Mengandalkan harga diri bodoh hanya akan berujung kehancuran dan penyesalan.


"Yang Mulia, Anda belum mengetahui kekuatanku, jadi bagaimana mungkin aku bisa diandalkan untuk hal sepenting itu?" Saka tak serta merta menyetujui begitu saja.


"Nak Saka, ada banyak saksi yang menyaksikan kehebatanmu di berbagai kota dalam memberantas vampire, jadi tidak ada alasan untuk kami tidak percaya dengan kekuatanmu," ucap Raja Dharma.


Saka tampak terdiam sejenak, lalu pandangan matanya beralih ke pojok ruangan yang gelap. "Pak Tua, bagaimana menurutmu? Apakah pasukanku sanggup bertempur melawan musuh yang puluhan orang berada di ranah Saint bahkan Saint King?"


Usai ucapan Saka jatuh, tampak keheningan menyapa karena mereka semua bingung kepada siapa Saka berbicara. Namun sedetik kemudian, mata mereka membola melihat leluhur kerajaan keluar dari sana sembari terkekeh.


Saka mengulum senyum tipis. "Kita berjumpa lagi, Pak Tua! Kuharap kebiasanmu mengintip bisa dikurangi."


Bukannya marah, Thomas sang raja terdahulu justru tertawa lepas.


"Hahahaha, maafkan aku! Tapi aku adegan itu sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan! Aku sebenarnya sudah mengamati sekte itu sangat lama untuk mengukur kekuatan mereka sebelum melenyapkannya. Namun siapa sangka, salah satu sekte yang kita waspadai bisa kamu hancurkan dalam hitungan jam."


"Pak Tua, lalu bagaimana menurutmu? Sekarang Kerajaan sedang diserang dari dua arah berbeda."


Thomas tampak terdiam sejenak. "Apakah kamu memiliki solusi?" Bukannya menjawab malah balik bertanya membuat Saka sedikit kesal.


"Kalau sesuai prediksi, pasukan dari Benua Tengah akan sampai di perbatasan esok hari, sementara pasukan dari Sekte Lembah Hitam akan menyerang nanti malam. Berapa banyak pasukan yang dikerahkan untuk melawan Sekte Lembah Hitam?"


Thomas tak menjawab, tetapi menatap Raja Dharma. Paham dengan tatapan ayahnya, Raja Dharma pun menjawab, "untuk melawan Sekte Lembah Hitam kami mengirim sepuluh juta prajurit yang rata-rata berada di ranah Jenderal sampai Langit dan dipimpin salah satu tiga komandan yang berada di ranah Immortal awal."

__ADS_1


Saka tampak menggelengkan kepalanya. "Pasukanmu pasti akan terbantai karena di pihak musuh ada beberapa orang di ranah Immortal."


Informasi dari Saka tampak membuat semua orang gelisah. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


Saka tampak terdiam sejenak. "Pasukanku akan menyusul ke sana, sementara itu tambahkan pasukan bantuan dengan beberapa orang lagi di ranah Immortal. Sebagai antisipasi, aku akan memerintahkan salah satu orangku untuk membantu." Saka kemudian melambaikan tangan, dan Tigra muncul dari kekosongan.


"Penguasa!" sapa Tigra yang membuat Saka menepuk keningnya pelan melihat banyak orang menatapnya heran. Namun, ia tak punya waktu untuk menjelaskan.


"Tigra, tugasmu adalah mengawal Pasukan Garuda berperang melawan Sekte Lembah Hitam. Pastikan kamu tidak kehilangan satu pun dari mereka, tapi biarkan mereka bertempur sebagai pengalaman. Apa kamu mengerti?"


"Baik, Penguasa!"


"Yang Mulia! Hari sudah menjelang sore, sebaiknya pasukan bantuan segera di siapkan dan segera berangkat ke medan perang!"


Raja Dharma yang sejak tadi terdiam bingung dan penasaran dengan identitas Saka pun tergagap.


"Ah, baiklah! Jenderal, siapkan sepuluh juta prajurit ranah Bumi sampai Immortal awal. Pimpin pasukan itu dan bawa kemenangan!" perintah Raja Dharma dengan tegas.


"Baik, Yang Mulia!" Jenderal itu kemudian undur diri untuk menyiapkan pasukan.


Saka pun undur diri untuk ke lapangan mengeluarkan semua pasukannya. Lima ratus orang dengan rata-rata kultivasi ranah Bumi awal sampai Langit menengah muncul di halaman.


"Tuan!" sapa mereka dengan serentak.


"Pasukanku! Apakah kalian sudah siapa berperang dengan pasukan vampire lainnya?"


"Siap, Tuan!"


"Baiklah, Tigra! Kau yang bertugas memimpin mereka. Tunggu sampai pasukan istana selesai dan kalian bisa langsung berangkat. Karena pertempuran di laksanakan di perbatasan, dengan kecepatan penuh aku yakin kalian akan datang tepat waktu."


Setelah memberikan beberapa arahan, Saka kemudian mengantar pasukannya ke perbatasan.


"Nak Saka setelah ini ke mana?" tanya Thomas saat para pasukan sudah pergi.


Saka menyeringai. "Tentu saja memberi kejutan untuk pasukan dari Benua Tengah. Apa kakek mau ikut bersenang-senang?"

__ADS_1


Mata Thomas bergetar sesaat melihat seringai milik Saka. "Aku ikut!" putusnya.


"Baiklah! Tolong pejamkan matamu, Kek!" Berkat pemetaan dari sistem, Saka pun akhirnya bisa menentukan koordinat yang tepat untuk menyambut pasukan dari Benua Tengah.


__ADS_2