Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Telur Dalam Batu


__ADS_3

Meski sudah menebak alur selanjutnya dari akibat terbunuhnya Tuan Muda Rajasa, Saka dan Alice tetap berjalan-jalan dengan santai mengelilingi kota Rogo. Begitu banyak orang-orang berjualan di sepanjang jalan menuju alun-alun kota membuat suasana Kota Rogo begitu meriah. Beberapa prajurit kota juga terlihat berpatroli untuk menjaga ketertiban.


Saka dan Alice berjalan perlahan sembari membeli beberapa camilan yang mereka suka. Keduanya sangat menikmati waktu berdua layaknya remaja pada umumnya.


"Ak ...." Alice menyodorkan manisan buah yang berada di ujung tusukan ke arah mulut Saka yang dengan patuh terbuka.


Selain makanan, ada juga yang berjualan beberapa kerajinan tangan bahkan batu-batu yang mengandung energi spiritual atau pun harta berharga. Tentu saja untuk orang yang beruntung. Batu-batu seperti itu sering disebut sebagai judi batu. Jika beruntung, maka kaya. Jika sial, maka miskin. Saka sendiri sudah tak asing dengan judi batu, bahkan saat di bumi judi memiliki berbagai macam jenis. Tapi untuk batu-batu seperti ini, di bumi hanya akan dijumpai batu akik yang akan digunakan sebagai akesesoris saja. Sementara batu yang lebih berharga tentu saja sudah dikuasai perusahaan pertambangan.


"Ayo dipilih-dipilih, kalau untung jadi kaya, kalau sial jadi miskin!" Suara teriakan terdengar dari deretan pedagang batu.


Saka cukup tertarik dengan deretan batu-batu yang dipajang. Ia merasakan fluktuasi energi akrab dari salah satu batu yang dijual. Mata Saka berkilat, dengan mata dewa miliknya, ia melihat di dalam batu.


"Apa itu? Burung?" gumam Saka saat merasakan energi kehidupan dan makhluk hidup yang tertidur di dalam batu.


[Ding! Terdeteksi telur phoenix suci]


Saka tidak bisa tidak terkejut mendapati kenyataan batu di depannya adalah telur phoenix suci yang mana darahnya mengalir di dalam tubuhnya.


Saka mendekat dan melihat lebih jelas kondisi telur phoenix suci yang telah membatu selama ribuan tahun.


"Berarti benar, naga suci dan phoenix suci tewas saat perang besar di Alam Primordial, selanjutnya, aku hanya perlu mencari kura-kura suci dan qilin suci saja," kata Saka dalam hati.


"Paman, berapa kau jual batu ini?" tanya Saka kepada sang penjual.

__ADS_1


"Hohoho, rupanya kau berwawasan, Nak! Ini adalah batu yang diambil dari Gunung Liman. Terkubur di dalam lava dan akhirnya keluar setelah ribuan tahun lamanya," jawab sang penjual yang entah benar atau tidak.


"Berapa harganya?" Saka sama sekali tak tertarik dengan sejarah dari mana batu itu berasal.


"Hohoho, sepertinya kau tidak sabaran Anak Muda, kau bisa memiliki batu itu cukup dengan sepuluh keping koin emas," jawab sang penjual itu.


Saka memicingkan matanya dan menatap sang penjual tajam. Sepertinya penjual itu ingin memerasnya. Namun tak tahu saja ia kalau sepuluh keping koin emas hanyalah pecahan butiran debu dari seluruh kekayaan miliknya.


"Ini sepuluh koin emas," ucap Saka sembari mengambil batu itu lalu menarik Alice pergi.


"Sayang, batu apa itu? Kenapa sepertinya kamu sangat menginginkannya?" Alice tak mampu menahan rasa penasarannya.


"Ini bukan batu biasa. Jika aku tidak salah, ini adalah telur phoenix suci." Jawaban Saka tentu saja membuat Alice terkejut. Namun wajah terkejutnya bahkan masih terkesan datar membuat Saka terkekeh lucu. Perubahan kepribadian yang sangat signifikan ini bahkan sempat membuatnya merasa asing dengan sosok Alice. Namun ia cukup bisa beradaptasi, tidak seperti para penghuni dunia cincin lainnya yang justru menjadi canggung dengan sosok Alice yang sekarang. Pertimbangan itu juga yang membuatnya mengajak Alice keluar.


"Dia yang membunuh Tuan Muda!" Salah satu orang yang ada di rombongan itu memekik seraya menunjuk ke arah Saka dan Alice.


Tepat setelah pekikan orang itu terdengar, hawa membunuh mulai merebak membuat beberapa orang yang berada di sekitar merek mengambil langkah mundur.


"Nak, apa benar kamu yang membunuh Tuan Muda kami?" Salah seorang pria paruh baya bertanya.


Saka memicing, dan langsung paham jika rombongan di depannya adalah rombongan dari keluarga Rajasa yang berniat membalas dendam padanya.


"Memang aku yang membunuhnya, lantas apa yang akan kalian lakukan?" tanya Saka dengan nada merendahkan.

__ADS_1


Semua orang di sana cukup terkejut melihat arogansi Saka, karena mereka hanya bisa melihat Saka dan Alice yang berada di ranah Prajurit, sementara di pihak lawan ada yang berada di ranah Langit.


"KURANG AJAR! KAU MEMINTA KEMATIAN! SERANG DAN BUNUH MEREKA BERDUA!"


Saka memandang kumpulan orang di depannya seperti semut yang ingin terbang.


"Apakah kalian tidak akan bertanya terlebih dahulu alasanku membunuh Tuan Muda sampah kalian itu?" tanya Saka yang semakin memantik emosi pasukan Keluarga Rajasa.


"TIDAK PERLU ALASAN, PERBUATANMU JELAS MENGISYARATKAN PERANG DENGAN KELUARGA RAJASA DAN SEKTE BUKIT TENGKORAK!"


Saka tersenyum remeh. "Oh, ya? Apakah kalian pantas melawanku?" Setelah ucapan Saka jatuh, seperti pada saat di rumah makan, suhu semakin turun dan hawa dingin membekukan seluruh aliran darah pasukan Keluarga Rajasa yang membuat mereka semua tak bisa bergerak bahkan bagi yang berada di ranah Langit. Karena pengendalian es Saka yang sudah ahli, pembekuan itu hanya berlaku untuk pasukan Keluarga Rajasa saja, sementara orang-orang yang kebetulan ada di sekitar sana hanya merasakan dingin menusuk tulang yang memaksa mereka mundur semakin jauh.


Berbagai bisikan kemudian terdengar. Tidak seperti saat berada di rumah makan di mana hanya sang manager dan kasir sebagai saksi, kini mereka berada di tanah terbuka dengan disaksikan puluhan orang. Keberadaan kultivator kuat dengan elemen es kini menyebar luas bak virus mematikan.


Saka sendiri menanggapi itu semua dengan santai. Ia memang sengaja mengekspos dirinya karena sistem yang tiba-tiba memberikan misi. Sebagai Calon Penguasa Alam, bukankah sudah sepantasnya namanya dikenal di seluruh penjuru alam?


"Ingat baik-baik ucapanku, namaku Arsaka Dirgantara, Keluarga Rajasa dan Sekte Bukit Tengkorak sama sekali tidak layak menjadi lawanku, tapi karena kalian sudah memprovokasiku, maka aku juga tak keberatan menghapus keberadaan kalian dari Alam Kultivator ini. Terutama untuk kalian Sekte Bukit Tengkorak ...." Saka menatap salah satu tetua Sekte Bukit Tengkorak yang kini gemetar ketakutan. "Aku pastikan tidak akan ada yang tersisa dari kalian yang berani bersekutu dengan vampire. Bahkan kekuatan pusat kalian, Lembah Kabut, aku akan memusnahkannya dari alam ini."


Begitu ucapan Saka jatuh, gemuruh suara mulai terdengar. Ucapan Saka, dan perkenalan dirinya mengingatkan semua orang tentang Pendekar Saka dari kota Tanica yang memberantas para vampire sendirian.


Saka kemudian dengan santai melambaikan tangan, dan puluhan orang itu terbungkus es tebal. Dalam satu jentikan jari, ea berbentuk manusia itu hancur berkeping-keping.


Saksi mata yang melihat pun bergidik ngeri dan menanamkan dalam benak mereka sosok pasangan remaja yang tak bisa mereka singgung atau nyawa menjadi taruhannya.

__ADS_1


__ADS_2