Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Misi


__ADS_3

Hisshh!


Semua orang mendesis ngeri melihat tindakan kejam Saka yang langsung menghancurkan kultivasi semua anggota organisasi Banteng Api. Kesepuluh orang itu berguling-guling di tanah merasakan sakit saat dantian mereka hancur.


"Jadilah baik setelah ini," ucap Saka singkat lalu melenggang pergi diikuti oleh Alice.


"Tunggu, Tuan!"


Saka berhenti, tetapi tidak menoleh. Tak lama kemudian seorang pemuda dan anak kecil itu menyusulnya dan membungkuk sebagai ungkapan terima kasih.


"Sudahlah, aku hanya tidak bisa saja membiarkan penindasan yang terjadi di depanku, yang aku dengar tadi, ibumu sedang sakit, apakah aku bisa menjenguknya?"


Saka mengubah rencananya yang ingin segera ke rumah makan karena melihat betapa kurusnya pemuda di hadapannya ini. Saka penasaran dengan sisi gelap dibalik megahnya Kota Ngiwa.


"B-benarkah, Tuan Muda! Apakah Tuan Muda bisa mengobati ibuku?" Binar kebahagiaan tampak di mata pemuda itu.


"Aku harus memeriksanya terlebih dahulu baru bisa menilai. Ayo, aku tidak mau membuang waktu!"


Mengikuti langkah pemuda dan anak kecil itu, Saka dan Alice menyusuri gang-gang kecil yang mengarah ke pinggir kota, bahkan hampir mendekati benteng. Lingkungan yang kumuh dengan banyaknya anak kecil kurus kering menyapa indera penglihatan Saka.


"Kakak Ren, apa Kakak Ren membawa makanan juga?" Seorang bocah kecil lainnya menyambut kedatangan mereka.


Pemuda yang dipanggil Ren itu tersenyum pedih. "Maaf ya Arya, Kak Ren belum sempat beli makanan karena Kak Ren mencari obat untuk ibu."


"Ada obat untuk ibu? Berarti ibu akan sembuh?" Bocah cilik bernama Arya itu menyahut antusias. Meski merasakan lapar, tetapi mendengar obat untuk sang ibu membuatnya melupakan rasa lapar yang mendera.


"Kak Ren tidak punya obat, tapi ada Tuan Muda yang bisa menyembuhkan ibu," jawab Ren sambil menoleh ke arah Saka dan Alice yang sejak tadi menyimak. Meski begitu, Saka diam-diam menyebarkan persepsinya ke seluruh daerah kumuh ini. Di mana semua penduduknya mayoritas anak-anak dan lansia.


"Benarkah Tuan ini bisa menyembuhkan ibu?" Mata bulatnya menatap penuh harap ke arah Saka.


"Aku akan berusaha, ayo kita segera melihat keadaan ibu kalian," ucap Saka dengana senyuman.


Ren kemudian membimbing Saka dan Alice untuk masuk ke dalam rumah bobrok yang pintunya diganjal dengan tongkat.


"Maaf Tuan Muda, kediaman kami hanya seperti ini," sahut Ren setelah mereka masuk ke dalam rumah. Di dalam tak terlalu luas, bahkan tak ada sekat antara ruang satu dan lain sehingga Saka bisa melihat tikar yang berjajar di lantai, agak ke belakang terlihat dapur, bahkan tidak ada meja dan kursi membuat Alice dan Saka pun duduk di lantai beralas tikar. Di atas tikar itu pula, terbaring seorang wanita paruh baya yang kondisinya sangat mengenaskan. Sekujur tubuhnya menghitam dengan napas yang tersengal.


Saka duduk di samping wanita paruh baya itu dan mengecek nadinya.

__ADS_1


"Sistem, apa yang terjadi dengan wanita ini?"


[Ding! Wanita ini terkena racun Kalajengking Hitam]


"Adakah pil penawar racun? Aku belum sempat membuatnya."


[Ding! Pil penawar segala racun kualitas sempurna, 100 juta poin sistem, beli?]


"Ya, beli!"]


[Ding! Membeli pil penawar segala racun kualitas sempurna berhasil]


"Bagaimana, Tuan! Apakah ibuku bisa sembuh?" Ren memandang Saka gelisah karena sejak tadi Saka hanya terdiam.


"Ibumu terkena racun kalajengking hitam, jika tidak segera diobati, dia hanya akan hidup dalam dua jam ke depan."


Tangis kedua bocah pecah, sementara pemuda itu menggigit bibir untuk menahan tangisnya.


"Tuan Muda, tolong sembuhkan ibuku, aku rela melakukan apa pun asalkan ibuku sembuh!" Pemuda itu berlutut dan bersujud di depan Saka. Hal itu pun diikuti oleh kedua bocah cilik itu.


"Aku akan memegang ucapanmu," ucap Saka yang ditatap Alice heran.


Saka kemudian mengambil pil penawar segala racun dan memasukkannya ke dalam mulut wanita paruh baya itu, ia juga membantu dengan mengalirkan energi dan sedikit elemen cahaya agar lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.


Dalam sepuluh hela napas, bulu mata milik wanita paruh baya itu bergerak. Ketiga anaknya tampak menunggu dengan was-was, hingga mata dengan sorot lembut itu terbuka sepenuhnya, ketiga anaknya langsung menghambur ke pelukan.


"IBUU!"


Saka mundur sejenak, tidak ingin mengganggu momen haru dari ibu dan anak itu.


Setelah puas dengan apa yang mereka lakukan, sang pemuda dan dua bocah cilik itu serempak menghampiri Saka lalu berlutut.


"Terima kasih, Tuan Muda! Terima kasih telah menyembuhkan ibu kami" ucap pemuda itu. "Sesuai dengan janjiku, aku rela melakukan apa pun untuk Tuan Muda!"


"Tuan Muda, terima kasih telah menyembuhkanku, tapi tolong jangan membahayakan anak-anak, aku rela menukarnya dengan nyawaku sendiri." Wanita paruh baya itu ketakutan sendiri begitu mendengar ucapan dari anak tertuanya itu.


Saka tersenyum tipis di balik topengnya.

__ADS_1


"Tenanglah, aku tidak akan membahayakan anak-anakmu. Sebaiknya kamu beristirahat untuk memulihkan kondisimu," ucap Saka lalu berdiri dari duduknya.


"Nah, Ren! Tadi kamu bersedia melakukan apa pun kan? Aku mempunyai tugas untukmu." Saka terdiam sejenak, melihat respon pemuda bernama Ren itu, yang terlihat tetap teguh dan penuh keyakinan. "Tolong kumpukan semua penduduk yang ada di daerah ini, bilang saja jika akan dibagi-bagi makanan," lanjutnya.


"Makanan? Benarkah akan ada makanan?" Kedua bocah cilik itu tampak bahagia mendengar kata makanan.


"Tentu saja! Jadi, segera laksanakan tugas dan kita akan makan besar hari ini!"


Tak hanya Ren, kedua bocah cilik itu pun melesat keluar untuk membantu.


Saka tertawa kecil, sementara Alice mengulum senyum.


"Bibi, apakah aku boleh menata makannya di sini?" Saka meminta izin sembari menunjuk tikar di hadapannya


"Silakan, Tuan Muda! Jangan terlalu sungkan, maaf karena keadaan sangat terbatas." Bibi itu merasa sangat tidak enak.


"Bibi yang jangan terlalu sungkan. Sebaiknya bibi juga segera makan agar cepat pulih." Kali ini Alice berbicara sembari memberikan satu kotak makanan beserta minumannya.


Saat ini di lantai sudah penuh dengan tumpukan kotak makan yang mana di dalamnya berisi nasi uduk dengan lauk ayam bumbu rujak. Lengkap dengan minuman kemasan botol. Saka tak takut mencemari lingkungan karena sistem akan mendaur ulang secara otomatis.


Tak membutuhkan waktu lama, kerumunan orang mulai berkumpul di depan rumah. Saka dan Alice keluar dari rumah dan menyapa semuanya dengan hangat.


"Halo, kita tunggu semuanya berkumpul, ya! Tolong berbaris yang rapi!" Ucapan Saka ditanggapi dengan baik. Semua orang yang tadinya berkumpul beraturan kini berbasis membentuk dua baris yang mana sebelah kanan kumpulan anak-anak dan sebelah kiri kumpulan orang dewasa.


Setelah semua berkumpul, Saka dengan cepat membagikan nasi kotak yang disambut dengan gembira. Rata-rata semua orang takjub karena kemasan yang begitu asing untuk mereka, tapi melihat makanan yang ada di dalamnya, mereka enggan memikirkan hal lainnya. Semuanya makan dengan lahap dalam diam.


"Setelah selesai makan, tolong sampahnya dikumpulkan, ya!"


"Baik, Tuan Muda!"


Saka tersenyum tipis menatap kerumunan di depannya.


"Sistem, menurutmu apa yang harus aku lakukan dengan mereka?"


[Ding! Memicu misi jangka panjang! Bentuk pasukan terkuat di Alam Kultivator sehingga nama Tuan tersebar dan dikenal di seluruh penjuru Alam!]


[Hadiah : Kotak Semesta]

__ADS_1


[Hukuman : Kultivasi turun ke ranah Prajurit]


[Batas waktu : 10 tahun]


__ADS_2