
Satu kilometer dari goa, Saka mendapati kumpulan bandit yang tengah memecut beberapa manusia agar berjalan lebih cepat. Saka menggeretakkan gigi menahan geram. Sungguh manusia bajingan, padahal mereka berasal dari ras yang sama, bukannya bahu membahu saling membantu, mereka justru rela menjadi budak ras lain.
"Jalan cepat! Apa kau mau kita lemparkan ke hutan sama menjadi makanan monster dan binatang buas?"
Dua puluh orang bandit ranah Prajurit akhir dan Jenderal awal tengah menggiring sepuluh manusia yang terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan yang hanya berada di ranah Prajurit. Kondisi para tawanan itu sangat menyedihkan. Darah menetes di area yang terluka akibat cambukan dari para bandit. Air mata terus mengalir meski tanpa suara, mungkin mereka sudah terlalu lelah. Namun, mereka harus tetap berjalan jika tidak ingin dicambuk lagi oleh para bandit.
Syuutt! Syuttt! Syuttt!
Tanpa kata, Saka langsung membunuh kawanan bandit itu dengan teknik jari setan dan membakarnya menjadi abu.
Tepat dua puluh hela napas, tak ada yang tersisa dari kelompok bandit, hanya para tawanan yang kini menggigil ketakutan karena tidak tahu, orang yang membunuh para bandit itu kawan atau lawan.
"Tenanglah, kalian sudah aman sekarang!" Saka mendarat perlahan di depan para tawanan. Tangannya melambai dan ikatan para tawanan terlepas. Saka menggunakan elemen cahaya miliknya untuk mengembalikan energi para tawanan meski tak bisa sepenuhnya. Setidaknya, mereka masih sanggup berjalan sampai goa.
"Terima kasih, Tuan! Sudah menyelamatkan kami." Salah seorang pemuda yang berada paling dekat dengan Saka menguasai dirinya lebih awal dan membungkuk dengan cepat.
Saka mengangguk lirih. Mata dewa mulai memindai seluruh orang untuk memastikan tidak ada vampire yang menyamar. Namun di barisan terakhir, terlihat kilat samar di pupil emasnya.
"Yin dan Yang," bisiknya samar. Dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan yang masih berada di ranah Prajurit menengah, berdiri di barisan paling akhir dengan tangan saling menggenggam. Keduanya adalah saudara kembar di mana yang laki-laki memiliki elemen kegelapan sementara yang perempuan memiliki elemen cahaya. Dua elemen langka yang sayangnya belum terbangun di diri mereka.
"Apakah kalian masih sanggup untuk berjalan? Satu kilometer lagi ada goa. Di sana banyak saudara-saudara seperti kalian yang sebelumnya diculik oleh para bandit dan vampire, tapi tenang saja! Semua bandit dan vampire sudah mati. Aku akan mengantar kalian besok untuk pulang ke desa masing-masing. Sekarang sebaiknya kita bergegas ke goa untuk istirahat."
"Terima kasih, Tuan Muda!" Semua orang membungkuk penuh syukur karena nyawa mereka terselamatkan.
Dipimpin oleh Saka, mereka bergegas ke goa.
*
Di dalam goa, semua orang sudah mulai tenang. Mereka tak lagi dalam situasi waspada dan mulai bisa saling bercerita, ada juga yang memilih untuk memejamkan mata. Namun, mereka kembali waspada saat mendengar banyak derap langkah memasuki goa. Beberapa sudah memegang batu dengan erat, siap melemparkan jika yang datang adalah musuh.
__ADS_1
"Ah, kalian sedang apa?" Sebuah suara dan siluet yang mereka kenal masuk ke dalam goa. Semuanya lantas menghela napas lega dan melepaskan batu yang sejak tadi mereka genggam. Sementara Orion yang sejak tadi berkultivasi dan merasakan aura Saka, tak terbangun sama sekali.
"Ternyata Tuan Muda yang datang." Seorang pemuda yang tadi tertidur pun memilih untuk kembali duduk menyandar di dinding goa dan memejamkan mata.
"Mereka siapa, Tuan Muda?" tanya seseorang saat menyadari sekelompok orang yang berjalan di belakang Saka.
"Mereka juga sama seperti kalian. Hanya saja, mereka baru diculik malam ini oleh para bandit dan aku membantu mereka," ucap Saka yang membuat semua orang mengangguk-angguk. "Nah, apakah persediaan makan masih ada?" Saka mengedar pandangan ke sekitar goa.
"Masih banyak Tuan Muda!" Seorang pemuda berinisiatif mengambil sebuah bungkusan di pojok goa dan membawanya ke depan Saka. Terdapat tumpukan burger dan botol cola.
"Kalian belum makan 'kan? Sebaiknya kalian makan dulu setelah itu istirahat. Kita akan pulang besok."
Senyum merekah dari para pemuda dan pemudi desa itu mendengar kata pulang. Mereka sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga.
*
"Bagaimana dengan pengintaian di Desa Arjo?" Tuan Kota membuka pembicaraan.
"Para penduduk sudah memasuki fase waspada. Tidak ada yang keluar dari rumah setelah malam menjelang. Meski begitu, beberapa bandit tetap datang merampok dan menculik para generasi muda di desa itu."
"Di desa Pringku?"
"Desa Pringku yang paling parah. Tidak ada lagi generasi muda di desa itu. Desa Pringku yang terletak paling dekat dengan Kampung Nelayan, saya menduga markas para bandit itu berada di sekitar sana."
Tuan Kota terdiam dengan alis yang nyaris melengkung. Ia sedang berpikir keras menangani berbagai insiden yang menimpa wilayahnya.
"Tetua Tama, apakah ada saran?" tanya Tuan Kota setelah terdiam sejenak.
Tetua Tama yang sejak tadi terdiam pun menghela napas panjang.
__ADS_1
"Masalah ini tidak sesederhana yang kalian pikirkan."
"Apa maksud Tetua Tama?"
"Sebenarnya ini masih rahasia kerajaan. Beberapa saat terakhir, muncul organisasi yang menamakan mereka klan darah. Pergerakan mereka tidak terdeteksi, terkadang menggunakan para bandit seperti sekarang ini dan menculik banyak generasi muda. Meski kita berhasil menangkap para bandit, tetapi tidak ada yang membuka suara dan memilih mati sehingga kita kesulitan untuk menyelidiki lebih jauh lagi. Mereka hanya bergerak di malam hari, kekuatan dan kecepatan mereka di atas manusia normal meski berada di ranah yang sama."
Beberapa orang tampak mengembuskan napas dingin. Organisasi seperti apa yang memiliki kekuatan dan kecepatan di atas normal seperti itu?
"Sepertinya mereka mulai menyebarkan anggotanya ke seluruh kota. Tidak lama lagi mungkin pihak kerajaan akan membuat pengumuman tentang klan darah ini."
Tuan Kota menghela napas panjang. "Jenderal, perintahkan pasukan untuk menyisir seluruh wilayah dan desa. Temukan markas para bandit, jika memungkinkan, musnahkan saja! Jika tidak, kembali dan tunggu perintah selanjutnya."
"Baik, Tuan Kota!" Keempat Jenderal kemudian pamit undur diri hingga yang tersisa hanya Tuan Kota dan Tetua Tama.
"Tetua Tama, sepertinya masalah ini memang tidak sederhana."
Tetua Tama mengangguk. "Sebenarnya aku dan Kak Rama berniat meminta bantuan dari Saka, apalagi pemuda yang selalu bersamanya sudah berada di ranah yang sangat tinggi. Namun, terlalu sulit menemukannya, apalagi dia sudah keluar dari kediaman Hirawan."
Tuan Kota membenarkan. "Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Tuan Muda Hirawan itu? Aku sempat mendengar jika ia diserang monster di Pegunungan Berkabut dan kultivasinya hancur. Namun yang kulihat kemarin, ia tampak sangat kuat. Ia seperti dewa yang sangat agung."
"Mungkin Saka sedang menjalani takdirnya," ucap Tetua Tama dengan maksud tersirat. "Kalau aku tidak salah, mungkin kita masih punya harapan selama Saka mengetahui tentang hal ini. Terus tingkatkan keamanan saja, jika Saka kembali ke Paviliun, aku akan membicarakan hal ini dengannya. Semoga saja keresahan ini segera berakhir."
"Baiklah, terima kasih Tetua, karena sudah sudi untuk memenuhi undangan saya meski malam sudah larut." Tuan Kota menunduk sopan. Sosok Tetua Paviliun Bunga Mekar tentu saja bukanlah sosok yang bisa ia singgung.
"Tidak masalah, aku tinggal di kota ini, tentu saja masalah keamanan adalah tanggung jawab kita semua. Oh ya, jika aku bisa memberi saran, kumpulkan empat keluarga teratas dan minta mereka bekerja sama. Semakin banyak yang bekerja sama, semakin ringan beban yang kita pikul."
"Tetua, sepertinya Tetua lupa jika sekarang tinggal tiga keluarga saja," ucap Tuan Kota masam.
"Oh, aku lupa!" ucap Tetua Tama dengan wajah datar tanpa dosa.
__ADS_1