
Lima hari di cermin dimensi, Saka dan Aluce terus melatih kemampuan bertarung melawan banyak monster dengan kekuatan yang berada di atasnya.
Meski memiliki fisik istimewa, saat bertarung dengan monster yang jauh lebih kuat, Alice dan Saka tetap terluka. Hanya saja fisik Saka sedikit istimewa karena memiliki kemampuan regenerasi. Tersisa Alice saja yang berulang kali harus meminum pil penyembuh.
Dalam lima hari, Saka juga telah membantai jutaan monster di cermin dimensi dan berhasil naik tingkat ke ranah Immortal tingkat sembilan. Satu langkah lagi untuk mencapai ranah Saint.
Kedekatan keduanya juga semakin intim dan tak ada lagi kecanggungan.
"Sepertinya latihan kita cukup sampai di sini. Kita harus keluar karena aku mempunyai janji kepada Arunika," ucap Saka saat keduanya selesai makan siang.
Alice mengangguk. Sejak fisik istimewanya bangkit sempurna, gadis itu menjadi sedikit pendiam dan dingin. Meski tak terlalu terlihat jika berinteraksi dengan Saka. Saka pun paham karena itu memang karakteristik pemilik tubuh istimewa.
Saka pun lantas membuat portal dan keduanya keluar dari cermin dimensi. Perbedaan waktu antara cermin dimensi dan dunia cincin membuat Alice dan Saka kembali saat sore menjelang. Padahal jika dihitung, mereka baru memasuki cermin dimensi tadi malam.
Saka dan Alice keluar dari aula, disambut dengan Sinta dan Arunika yang tengah bermain di halaman istana.
Merasakan kedatangan orang lain, kedua wanita berbeda usia itu menoleh, Sinta cukup terkejut melihat perubahan yang terjadi pada diri Alice, sementara Arunika yang bahagia langsung menghambur ke pelukan Saka.
"KAKAK!"
"Alice, ini kamu, Nak?" Sinta ikut mendekat dan berdiri di depan Alice dengan pandangan takjub.
"Kamu sangat cantik," lanjutnya yang membuat Alice tersenyum tipis, hampir tak terlihat.
"Ini Alice, Bu!" jawabnya singkat.
Sinta sedikit terheran melihat Alice yang tak seperti biasa.
"Nanti aku jelaskan, Bu! Kamu istirahtlah! Besok kita keluar, temani aku di dunia luar!" ucap Saka kepada Alice disambut anggukan kecil dan senyum tipis. Di bawah tatapan heran Sinta, Alice pun pergi ke kamarnya.
"Apa yang terjadi dengan Alice? Apakah sesuatu yang buruk menimpanya?" cerca Sinta tak sabaran.
"Tidak ada hal buruk yang terjadi, Bu! Ini semua karena Alice memiliki tubuh istimewa dan baru saja bangkit saat kita berada di cermin dimensi. Namanya Fisik Dewi Es, sementara sikapnya juga mengikuti karakteristis es yang lumayan dingin. Jadi ibu nggak perlu khawatir karena Alice baik-baik saja dan justru menjadi tambah kuat," jelas Saka panjang kali lebar.
Sinta menghela napas lega. "Syukurlah jika tidak ada yang buruk terjadi padanya." Sinta kemudian menatap Saka dalam. "Lalu, kapan kamu akan menikahinya?"
Uhuk!"
Saka yang sedang memeluk Arunika tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan dari Sinta.
"Apa maksud ibu?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti.
"Sudahlah, ibu tahu ada sesuatu di antara kalian. Ibu tidak akan membatasimu, tapi sebagai laki-laki, jadilah orang yang bertanggung jawab," pesan Sinta lalu pergi karena sudah waktunya memasak untuk makan malam.
Saka termangu, tapi sedetik kemudian tersenyum.
"Nah, Aru sudah siap menerima pelatihan dari kakak?" tanya Saka pada Aru yang sejak tadi terdiam.
"Aru siap, Kakak!" jawab gadis cilik itu dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Nah, sebelum Aru mulai berkultivasi, Aru harus menempa kekuatan fisik Aru terlebih dahulu. Ikuti instruksi dari kakak oke?"
Saka kemudian membuat array dengan gravitasi satu setengah kali lipat.
"Sekarang Aru masuk ke sana sambil merangkak."
Aru tak membantah, ia merangkak dengan patuh dan mulai masuk ke dalam array. Terlihat ringisan di wajahnya saat merasakan tekanan gravitasi satu setengah kali lipat, tetapi tak ada rengekan atau pun rintihan.
Saka tertegun melihat tekad dan kekuatan dari adik kecilnya itu.
Saka menunggu Aru sampai bisa menakhlukkan array itu sambil mengkonsumsi buah persik abadi. Ia berniat terus menambah energi mental dan jiwanya sehingga teknik Hukum Ruang dan waktu miliknya serta teknik ilusi akan semakin kuat. Ini juga menghindari tubuhnya direbut oleh roh kuat yang mungkin saja ditemuinya nanti.
[Ding! Tuan masih mempunyai satu kotak hadiah emas dan dua kotak hadiah berlian, apakah Tuan tidak ingin memeriksanya?]
Tengah merenung, suara sistem tiba-tiba terdengar.
"Kok dua? Kapan aku mendapatkan kotak hadiah berlian yang satunya?"
[Ding! Saat Tuan berhasil membangkitkan Fisik Dewi Es]
"Kenapa tidak ada notifikasi?"
[Ding! Notifikasi sistem hanya akan mengganggu Tuan yang sedang enak-enak]
Saka hampir saja menyemburkan buah yang sedang dikunyahnya saat mendengar jawaban dari sistem.
[Ding! Membuka kotak hadiah emas]
[Selamat Tuan, mendapatkan armor tingkat dewa, bisa melindungi serangan di bawah ranah dewa]
[Selamat Tuan, mendapatkan 1 juta pil roh kualitas langit]
[Ding! Membuka kotak hadiah berlian]
[Selamat Tuan, mendapatkan inti api semesta]
[Selamat Tuan mendapatkan esensi darah phoenix suci]
[Selamat Tuan mendapatkan esensi darah kura-kura suci]
[Selamat Tuan mendapatkan teknik perubah wujud]
[Selamat Tuan mendapatkan jiwa semesta]
Mulut Saka menganga lebar melihat banyak hadiah menakjubkan yang didapatkannya.
"Sistem, inti api semesta dan Api Naga Abadi lebih kuat mana?"
[Ding! Inti api semesta Tuan, karena api ini tercipta bersamaan dengan terciptanya semesta]
__ADS_1
Alis Saka naik sebelah. "Lalu kenapa dulu kamu bilang kalau Api Naga Abadi adalah tingkatan api tertinggi?"
[Ding! Karena level sistem masih rendah Tuan, sehingga informasi sistem pun terbatas]
"Jadi informasimu akan semakin luas jika upgrade ke level yang lebih tinggi?"
[Ding! Benar, Tuan]
"Lalu, sebenarnya kamu dari mana, dan kenapa kamu ada di dalam diriku?"
[Ding! Sistem ada untuk membimbing Tuan menjadi penguasa semesta, sedangkan dari mana sistem berasal, belum saatnya Tuan tahu]
Haihh!
Saka mengembuskan napasnya kasar. Berbicara tentang semesta membuatnya sakit kepala. Dulu waktu belajar tentang alam semesta terlalu banyak teori dan hafalan yang akhirnya tak pernah masuk ke dalam otaknya yang malas untuk berpikir. Saka adalah orang yang unggul dalam bidang fisik, itulah mengapa ia masuk ke dalam militer.
"Kakak, aku sudah bisa duduk, lihatlah!"
Saka mengalihkan pandang ke arah Arunika dan terlihat gadis kecil itu sudah bisa duduk meski tak bisa bergerak.
"Waaah, Aru hebat!" seru Saka bersungguh-sungguh. Ini baru dua jam berlalu dan Arunika sudah mampu untuk duduk. Sebuah perkembangan fisik yang sangat pesat.
"Apa mungkin sebelumnya Aru bekerja berat?" gumam Saka mengingat gadis itu yatim piatu.
Dua jam kemudian saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Arunika mulai bisa berdiri.
"Saka, ajak adikmu untuk makan malam." Sinta berseru dari dalam istana. Meski tak terlalu keras, tapi Saka memiliki persepsi yang kuat.
Ia lantas menghilangkan array itu dan terlihat Arunika yang tampak girang.
"Kakak, aku merasa badanku sangat ringan. Uwooo kakak, aku merasa ingin terbang!" pekik Arunika sembari berjalan oleng karena tekanan gravitasi yang tiba-tiba hilang.
Saka terkekeh lalu melesat menggendong Arunika lalu terbang.
"Lihat! Aru memang terbang!"
Arunika berseru riang. Kedua tangan gadis cilik itu merentang lebar saat pinggangnya di pegang erat oleh tangan kanan Saka, sementara tangan kirinya menjadi tempat duduk gadis cilik itu.
"Huwaaaa! Kita terbaaaang!"
Kedua orang itu tampak begitu ceria bermain di udara, sebelum kemudian terdengar teriakan Sinta.
"SAKA, AJAK ADIKNYA MAKAN, TURUN SEKARANG!"
***
Bahh, kapok aku nulis adegan enak-enak wkwkwk
Nggak lolos review ternyata padahal bahasa dah alus macam pantat bayi 🤣🤣
__ADS_1