Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Musnahnya Keluarga Caraka


__ADS_3

"Ah, maaf Tuan Kota, aku lupa memintamu untuk menutup mata," ucap Saka merasa bersalah melihat Tuan Kota yang pucat pasi usai mengeluarkan semua isi perut.


Tuan Kota masih terdiam sembari mencerna situasi. Pasalnya, ia diculik tanpa penjelasan sehingga membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk mencermati apa yang telah terjadi. Hal itu digunakan oleh Jenderal Kota untuk berbisik, "Tuan Kota, pemuda yang berada di sebelah Tuan Muda Hirawan berada di ranah Saint King." Jenderal Kota memberi informasi. Ia tak mau Tuan Kota salah mengambil keputusan dan berujung kehancuran. Bahkan leluhur kerajaan Victoria pun tak bisa menghalanginya.


Wajah Tuan Kota yang sudah pucat semakin memutih seolah darahnya terserap habis. Jika tidak memikirkan wibawanya sebagai Tuan Kota di hadapan rakyatnya, Tuan Kota ingin sekali menjatuhkan diri karena tak kuat menahan rasa takut. Sejak kapan monster seperti itu muncul di kota sekecil Tanica?


"Ti-tidak masalah, aku yang terlalu lemah," ucap Tuan Kota dengan lirih. Meski begitu, suaranya masih terdengar cukup kerasa karena ditambah dengan energi.


"Baiklah, Tuan Kota! Aku tidak mau membuang terlalu banyak waktu. Aku ingin  bertanya padamu, jika aku memusnahkan keluarga Caraka, apakah kamu mau ikut campur?" tanya Saka tanpa basa-basi yang membuat semua orang menahan napas ngeri.


"Tidak, tidak!" Tuan Kota dengan cepat menggeleng. "Selama kamu bisa memastikan kalau rakyat tidak akan terkena dampaknya," lanjutnya.


Saka tersenyum puas. "Tentu saja, setelah mengambil kembali semua harta keluarga Hirawan yang dirampok keluarga Caraka, aku akan membiarkan pihak Tuan Kota mengurus harta keluarga Caraka dan dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan."


Ucapan Saka disambut dengan meriah penduduk yang menonton. Berbanding terbalik dengan respon keluarga Caraka yang merah padam. Ingin kabur tapi mereka tak percaya diri, bertahan hanya akan mati.


"Lihat, Indra! Betapa banyak orang yang bersuka cita menyaksikan kehancuran keluargamu. Kamu tidak pernah sadar kalau keluargamu sangat licik, bukan?"


Indra mengepalkan tangan dengan kuat. Niat membunuh begitu kuat keluar dari tubuhnya tetapi Saka tetap tenang. Meski ranah kultivasi Indra berasa lima tingkat di atasnya, tapi Saka masih sangat percaya diri bisa membunuhnya tanpa mengeluarkan keringat.


"Mati!"


Sebuah energi gelap terkumpul di kepalan tangan Indra, tekanan ranah Langit tingkat enam pun mengikuti setiap langkah ia mendekat ke arah Saka.


Saka tetap berdiri dengan tenang tanpa berniat untuk menghindar maupun membuat pertahanan. Semua orang berdebar, Tetua Sana bahkan sudah merangsek maju karena khawatir jika cucunya tidak bisa menangani Indra yang ranahnya jauh di atasnya.


Namun satu detik sebelum energi itu mengenai Saka, sebuah perisai transparan menahan energi itu dan menyerapnya hingga hilang tak bersisa.


"Ba-bagaimana bisa?" Indra tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat serangan skala penuh miliknya hanya seperti mainan anak-anak di hadapan Saka.


"Hanya segini kemampuanmu?" cibir Saka dengan nada kecewa.


"BAJINGAAN! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MATI DENGAN MUDAH!" Indra langsung melesat ke arah Saka, memberikan serangan secara langsung yang diladeni Saka dengan senang hati.

__ADS_1


Keduanya saling bertukar serangan, sementara orang-orang menonton dari jarak yang lumayan jauh agar tidak terkena efek dari serangan.


"Jenderal, apa kamu melihat apa yang aku lihat?" tanya Tuan Kota yang terpaku dengan kemampuan tempur Saka.


"Benar, Tuan Kota! Meskipun tingkat ranah mereka berbeda jauh, tetapi Tuan Muda Hirawan sepertinya tidak menggunakan kekuatan penuh untuk meladeni serangan dari Patriak Indra. Padahal Patriak Indra selalu menggunakan serangan pamungkas miliknya," balas sang Jenderal yang tak henti berdecak kagum melihat kemampuan Saka. Ia sendiri yang hanya berada satu tingkat di bawah Patriak Indra tak akan seyakin itu untuk menang jika bertarung.


Sementara Orion tetap berdiri dengan tenang dan berjaga agar tak mengganggu pertarungan antara Saka dan Indra. Orion tahu jika Saka bisa mengalahkan Indra dengan mudah, dan ia hanya meladeninya untuk bermain.


Wushh!


Clap!


Sebuah serangan sembunyi dari Alisha berhasil digagalkan oleh Orion.


"Siapa pun yang berlaku curang, maka harus mati!" Orion menatap tajam keluarga Caraka sembari memberikan dominasi aura yang menekan mereka hingga berlutut. Untuk yang ranah kultivasi rendah seperti Raden dan Alisha, keduanya sudah muntah darah beberapa kali.


Di arena, Saka mulai bosan bermain-main dan segera memberikan serangan ke titik-titik vital Indra yang membuatnya terhempas beberapa kali lalu memuntahkan seteguk darah. Ada raut tak percaya di wajahnya karena ia dikalahkan oleh pemuda dengan tingkat ranah di bawahnya.


"Kamu ... aku akan memanggil leluhur keluarga Caraka dan kalian tidak akan pernah lolos!" Indra langsung memecahkan slip jade untuk memanggil leluhur keluarga Caraka.


Tak menunggu lama, udara terasa semakin berat. Dua sosok pria tua datang dengan tekanan ranah Langit puncak yang setengah langkah lagi akan menembus ranah Immortal.


"Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga Caraka?" Suara berat penuh amarah terdengar bagai melodi kematian. Beberapa orang yang melihat perlahan mundur semakin jauh.


Keluarga Caraka yang semula putus asa pun menampakkan wajah bahagia.


"Leluhur, Anda di sini!"


"Salam, Leluhur!"


"Leluhur, tolong tegakkan keadilan untuk keluarga Caraka!" Indra berakting seperti orang yang paling tersakiti sedunia.


Saka mengembuskan napas malas melihat drama keluarga yang kurang bermutu di depannya.

__ADS_1


"Kak Rion, habisi dengan cepat! Aku tidak mau semakin membuang waktu di sini."


Orion mengangguk, lalu mengalihkan dominasi auranya kepada dua tetua dari keluarga Caraka. Akibat dari dominasi aura milik Orion, kedua tetua yang terbang dengan penuh wibawa langsung melesat jatuh bak burung mati. Wajah keduanya pucat dan langsung muntah darah. Karena Saka menginginkan proses cepat, maka Orion menggunakan aura puncaknya sehingga kedua tetua itu tak sanggup bertahan setelah muntah darah berkali-kali. Pemandangan itu membuat keluarga Caraka semakin putus asa. Harapan terakhir musnah sehingga akhir dari mereka sudah pasti kematian.


"Nah, tetua kalian sudah mati, apa yang akan  kalian lakukan?" tantang Saka yang membuat keluarga Caraka sangat marah tapi tak berdaya. Alisha bahkan sudah menangis.


"Saka, bisakah kamu melepaskan kami? Bukankah kamu mencintaiku? Ayo kita mulai semuanya dari awal." Dengan takut-takut, Alisha mendekat, berharap dapat meluluhkan hati Saka mengingat betapa dulu Saka sangat mencintai dan memanjakannya.


Saka mengernyit menahan mual. Alisha adalah wanita paling tidak tahu malu yang pernah ia lihat.


Tak mau menanggapi ucapan Alisha, Saka justru mengeluarkan revolver miliknya dan membunuh semua keluarga Caraka kecuali Raden dan Alisha..


"Nah, Alisha! Kamu terobsesi untuk menjadi kuat, 'kan? Bahkan kamu tidak keberatan bertunangan dengan saudara tirimu sendiri. Bagaimana rasanya berhubungan dengan saudara sendiri? Apakah menyenangkan? Atau itu orientasimu sebenarnya?" Ucapan Saka jelas menjadi tamparan bagi Alisha yang kini hanya mampu menangis dan menatap Saka penuh benci.


"Kak Saka, bukankah kita tumbuh bersama begitu lama, tidak bisakah kau mengampuniku?" Raden merangkak dengan kondisi yang tak kalah berantakan. Bahkan celananya sudah basah dengan bau busuk yang menyengat.


Saka mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan remeh.


"Mengampunimu? Bukankah kamu orang yang paling bahagia saat aku menjadi sampah dengan kultivasi hancur? Bagaimana kalau aku membuatmu di posisi yang sama?" Saka menyeringai sembari berjongkok di hadapan Raden. Sosok Saka bagaikan psychopath yang bahagia melihat korbannya menderita.


Raden menggeleng-gelengkan kepala sembari beringsut mundur, bermaksud menjauh dari Saka. Ia sangat ketakutan saat melihat senyum Saka yang begitu mengerikan. Namun, Saka tak memberi kesempatan Raden kabur, ia langsung menghancurkan dantian Raden sampai terdengar suara pecah yang membuat Raden meraung kesakitan.


Kini, perhatian Saka beralih kepada Alisha yang perlahan mundur.


"Ja-jangan mendekat!"


Saka menyeringai sinis, dan dalam satu kedipan mata, Saka sudah berada di depan Alisha lalu melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Raden.


"Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri. Kematian adalah hal paling mudah untuk kalian. Aku akan menjadikan kalian pelayan tanpa kultivasi. Benci aku sepuasnya dan lihatlah aku yang hidup bahagia." Saka lantas melambaikan tangan, dan muncul sebuah pusaran energi. Tak menunggu lama, Saka langsung melemparkan Alisha serta Raden ke dunia cincin miliknya yang belum ia bentuk. Saat ini, kondisi di dunia cincin layaknya ruang hampa yang keseluruhannya berwarna putih.


Saka hanya menyeringai setan membayangkan betapa frustasinya kedua orang itu nanti.


"Masalah keluarga Caraka sudah selesai. Kak Rion, ayo kita pergi!"

__ADS_1


"Tunggu!"


__ADS_2