Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Tigra, Harimau Suci


__ADS_3

"Kucing kecil, berani sekali kamu menyerangku diam-diam," sungut Saka saat mendapati seekor harimau putih yang baru saja hampir mengoyak tubuhnya. Saka cukup terkejut mendapati seekor binatang spiritual suci di alam rendah seperti Alam kultivator ini.


Grrr!


Seolah tak terima dirinya dinamakan kucing kecil, harimau itu menggeram ganas dan memamerkan gigi-gigi runcingnya.


"Sudahlah! Aku akan memaafkanmu kali ini kucing kecil, pergi saja dari sini dan jangan sekali-kali keluar dari hutan ini karena binatang spiritual suci seperti dirimu rawan diburu oleh para kultivator di luar sana," ucap Saka sembari menepuk-nepuk pantatnya, membersihkan debu karena ia duduk tanpa alas saat menyerap inti es semesta.


Geraman harimau itu berhenti, tetapi matanya menatap Saka tajam. Gerak-geriknya berubah menjadi sangat waspada.


"Siapa kau manusia? Seharusnya di alam rendah ini tidak akan ada yang mengenaliku sebagai binatang spiritual suci," ucap harimau itu yang sama sekali tidak membuat Saka kaget.


"Tidak perlu tahu siapa aku, tapi aku tidak mengganggumu, jadi jangan menggangguku jika tidak mau kujadikan harimau suwir," ucap Saka sembari mengeluarkan aura miliknya untuk menekan harimau itu.


Tak seperti yang diduga oleh Saka jika ia akan sedikit berolahraga melawan harimau putih di hadapannya ini, justru harimau itu tiba-tiba berlutut.


"Penguasa, maafkan hambamu yang berani bertindak lancang."


Saka tergagap. Situasi ini berada di luar skenario yang ia kira.


"Apa yang terjadi?" tanya Saka karena ia pun tak bisa bertanya kepada sistem sebelum proses upgrade sistem selesai.


"Penguasa, aura Anda adalah pemimpin dari kami semua binatang spiritual suci, terimalah hormat dari hambamu ini, Penguasa Yang Agung." Di luar dugaan Saka, harimau itu berubah menjadi seorang pemuda tampan yang langsung bersujud di hadapan Saka.


"Eh, berdirilah! Kelak jangan bersujud lagi di depanku."


"Titah diterima, Penguasa!"


Huft!


Saka mengembuskan napas kasar. Entah kenapa ia merasakan kejanggalan karena selalu menemukan keberuntungan, seolah semua yang ia temukan memang disiapkan untuknya.

__ADS_1


"Ah, entahlah! Bukankah dengan begini semua lebih baik? Semakin aku kuat, maka kemungkinan aku mati konyol di dunia ini semakin sedikit," gumam Saka.


"Sekarang jelaskan apa yang terjadi, kenapa kamu bisa ada di sini? Apa yang terjadi dengan Alam Primordial?" tanya Saka kemudian.


"Penguasa, setelah perang besar antara ras naga dan phoenix, ras iblis dari Neraka Kuno mulai menginvasi Alam Primordial. Saat itu baru diketahui kalau ras phoenix dan ras naga diadu domba oleh ras iblis. Awal mula perang antar kedua ras itu terjadi saat pangeran dari ras phoenix ditemukan mati di wilayah ras naga. Setelah perang besar yang membuat penguasa kedua ras menghilang, kami ras harimau, kura-kura dan qilin mencoba untuk kembali menyeimbangkan Alam Primordial, tapi di saat-saat kritis, tiba-tiba iblis dari Neraka Kuno menyerang alam primordial dengan pasukan berskala besar. Setelah bertahan selama sepuluh tahun, akhirnya kami terdesak dan memutuskan untuk melarikan diri dari Alam Primordial," terang harimau itu.


Saka tampak mengerutkan keningnya. "Kenapa semua makhluk kegelapan seolah menampakkan diri?"


"Jika di Alam Kultivator ada vampire dari Nuvoleon, di Alam Primordial ada iblis dari Neraka Kuno, apakah alam yang lain juga mulai diinvasi oleh makhluk kegelapan?"


"Hamba juga kurang tahu Penguasa, selama ini hamba hanya bersembunyi di sini dan menunggu Penguasa."


"Eh, kenapa kau seolah-olah tahu jika aku akan muncul?" Saka benar-benar kebingungan, ia membutuhkan sistem, tetapi sialnya saat seperti ini malah upgrade.


"Penguasa, setelah pertempuran besar jutaan tahun yang lalu antara sang Penguasa Alam dan Raja Iblis Azazil yang melibatkan seluruh alam di Semesta Bima Sakti, membuat sang Penguasa Alam akhirnya mengorbankan diri untuk menyegel makhluk kegelapan di alamnya masing-masing. Sebelum Penguasa Surgawi hilang dalam ketiadaan, beliau berkata jika akan muncul penerusnya, dan memiliki aura yang sama dengannya."


Saka tercenung. Otaknya masih terlalu kecil untuk mencerna semua informasi dari harimau itu, meski begitu ia bisa menarik sebuah kesimpulan di mana segel yang dibuat oleh Penguasa Alam sebelumnya telah melemah dan membuat makhluk kegelapan kembali berulah.


"Sistem, apakah tugasku selanjutnya adalah menyegel kembali makhluk kegelapan di alamnya masing-masing?" tanya Saka yang tentu saja tidak ada jawaban dari sistem.


"Nama saya Tigra, Penguasa!"


"Baiklah, Tigra! Perjalananku masih panjang, apakah kamu mau menemani perjalananku?"


"Sudah menjadi tugas hamba, Penguasa!" Tigra menangkupkan tangannya sembari berlutut dengan satu kaki.


Saka menghela napas, sepertinya kebiasaan berlutut sangat susah dihilangkan di alam ini.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan," ucap Saka sembari melangkah menuju pintu goa. Saat ini hawanya sudah tidak sedingin sebelumnya.


"Tunggu, Penguasa!" Tigra menghentikan langkah Saka.

__ADS_1


"Ada apa, Tigra?"


"Tigra tidak menjawab, tetapi ia justru mengambil sikap lotus, hingga tak berapa lama kemudian tubuhnya bercahaya dan dari keningnya muncul setetes darah yang perlahan terbang ke arah Saka.


"Penguasa, ini adalah esensi darah hamba, jika Penguasa menyerapnya, kekuatan Penguasa akan bertambah sehingga Penguasa bisa secepatnya pergi ke Alam Primordial."


Saka termangu sejenak kemudian mengangguk. Tentu saja ia tak akan menyiakan kesempatan untuk bertambah kuat lebih cepat. Ia sudah bisa merasakan jika tanggung jawab yang dipikulnya akan sangat berat.


Menelan esensi darah harimau putih milik Tigra, Saka kemudian mengambil sikap lotus sementara Tigra berjaga di pintu goa. Karena ini adalah esensi darah ketiga yang ia serap, Saka tak terlalu kesulitan meski masih merasakan sakit yang teramat sangat. Tiga hari kemudian, Saka mengakhiri penyerapannya setelah ledakan beruntun yang membuatnya naik ranah ke Immortal tingkat tujuh.


Saka menghembuskan napas keruh dan merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di setiap sel tubuhnya.


"Selamat, Tuan! Sekarang Tuan sudah naik tingkat," ucap Tigra.


Saka tersenyum singkat. "Terima kasih, Tigra! Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan mumpung masih siang!"


Saka dan Tigra kemudian keluar dari goa. Sudah banyak binatang buas dan monster yang mulai masuk ke pusat Hutan Jurang, tetapi tidak ada yang berani mengusik Saka karena keberadaan Tigra.


"Setelah inti es semesta menghilang, Hutan Jurang tidak lagi seberbahaya dulu," ucap Tigra sembari mengawasi para monster dan hewan buas yang berbondong-bondong ke area pusat.


"Berarti selama ini yang menakutkan dari Hutan Jurang adalah inti es itu, ya?"


"Benar, Penguasa! Awalnya hamba yang menjaga inti es semesta itu meskipun hanya dari jauh karena hamba tak sanggup mendekatinya. Karena itulah hamba langsung menyerang Penguasa karena berani mengambil inti es semesta, maafkan hamba, Penguasa!" Tigra merasa menyesal karena tingkah bodohnya yang langsung menyerang tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Sudahlah, Tigra! Kedepannya, jangan lagi memanggilku Penguasa, dan jangan memanggilmu sendiri hamba, anggap saja kita adalah teman seperjalanan, jadi panggil saja aku Tuan Muda!"


Tigra mengangguk. "Baik, Penguasa!"


Ah, sudahlah!


Mulai hari ini up 1 bab per hari ya, soalnya tabungan bab udah habis wkwkwkk

__ADS_1


Nih bonus visualisasi si ganteng Arsaka Dirgantara



__ADS_2