
Dari kota Tanica menuju kota Rogo bisa melewati dua jalur alternatif. Jalur yang biasa digunakan oleh para pedagang dan kultivator adalah jalur timur yang memang tidak terlalu berbahaya, akan tetapi jaraknya dua kali lipat lebih jauh. Sementara jalur lainnya adalah jalur utara di mana mereka harus melewati hutan yang penuh dengan monster tingkat tinggi. Melalui jalur utara, jarak akan dipangkas setengahnya.
Hutan itu dinamakan Hutan Jurang. Terdapat sejarah panjang yang konon katanya Hutan Jurang dulunya adalah tempat bertarung dua dewa. Dulu Hutan Jurang merupakan sebuah gunung yang tinggi, tetapi akibat pertarungan itu, gunung menghilang menjadi kawah dalam yang kini disebut jurang. Jika melihat dari ketinggian, Hutan Jurang berbentuk seperti mangkuk. Kebanyakan kultivator yang melewati Hutan Jurang ini akan melewati area tepian, karena banyak kultivator yang masuk ke dalam jurang dan tidak pernah kembali. Rumor tentang adanya monster tingkat Saint di Hutan Jurang sudah menjadi rahasia umum. Hampir semua penduduk kota Tanica mengetahui rumor itu termasuk Saka.
Karena itu, Saka berniat untuk melihat sendiri, misteri apa yang sebenarnya ada di kedalaman Hutan Jurang.
Matahari sudah hampir kembali ke peraduan saat Orion dan Saka mulai memasuki Hutan Jurang. Di area tepian, mereka sesekali menjumpai kultivator dan hewan buas.
"Kak Rion, kita masuk ke dalam jurang, aku penasaran apa yang ada di dalamnya."
"Baik, Tuan Muda!" Tak ada bantahan, Orion akan melakukan apa pun yang diminta oleh Saka.
Semakin masuk ke dalam hutan, topografi tanah semakin menurun. Seolah membentuk lereng tak berujung dengan pohon yang semakin besar dan tinggi. Suasana pun semakin gelap dan mencekam. Saka dan Orion semakin menajamkan persepsi mereka.
Grrrr!
Sebuah geraman menghadang langkah mereka. Saka dan Orion tetap tenang dan waspada. Dari balik semak, muncul kawanan singa yang lumayan banyak.
[Nama : puma]
[Level : 5]
Saka cukup terkejut melihat panel informasi salah satu singa yang paling besar. Daerah ini belum terlalu jauh dari tepian hutan tetapi mereka sudah bertemu dengan hewan buas level lima, yang mana setara dengan ranah Langit. Namun Saka juga bahagia, hewan buas dan monster yang sudah mencapai ranah Langit akan memiliki inti energi yang sangat berguna bagi para kultivator.
"Kak Rion, aku yang akan menghadapi mereka." Melihat poin pengalaman di depan mata, mana mungkin Saka melewatkan begitu saja?
Orion mengangguk, lalu mengambil tempat tak terlalu jauh dari area pertarungan sembari mengamati Saka yang kini tengah menyeringai.
"Poin-poinku, kemarilah!"
Grrr!
Seolah tahu jika tengah diejek, singa berjenis puma itu menggeram marah. Para kawanannya pun menunjukkan taring, tapi bukannya takut, Saka justru kegirangan.
Tak menunggu sampai hitungan kedua, Saka melesat dengan cepat hingga hanya terlihat sebuah bayangan yang melesat kesana kemari diiringi dengan kepala puma yang menggelinding. Tak sampai tiga puluh detik, kawanan puma itu sudah mati dengan kepala terpotong.
__ADS_1
Orion meneguk ludahnya kasar melihat betapa cepat dan kejamnya Saka dalam menghabisi lawannya. Setelah merasa tak ada lagi bahaya yang mengintai, ia mendekat ke arah Saka yang kini sibuk membelah dada puma itu untuk mengambil inti energi.
"Apa kita akan melanjutkan perjalanan setelah ini, Tuan Muda?"
Saka yang sudah selesai mengambil semua inti energi puma itu kemudian melihat matahari yang sudah sepenuhnya tenggelam. Bukan waktu yang tepat jika melanjutkan perjalanan di tengah malam seperti ini. Meski ia yakin dengan kekuatannya sendiri, tapi Saka sendiri tidak dalam kondisi terburu-buru sehingga memilih untuk bergerak di siang hari saja.
"Kita beristirahat di sini saja, Kak!" Saka kemudian membuat array pertahanan di sekitar mereka kemudian membawa Orion ke dunia cincin.
"Tuan Muda, ini ...." Orion tak bisa melanjutkan ucapannya melihat istana yang sangat megah di hadapannya, belum lagi energi yang melimpah membuat tubuh terasa sangat segar dan bertenaga.
"Ini dunia cincin, Kak! Kita bisa beristirahat di sini. Kalau kakak mau berkultivasi di sini juga bisa," ucap Saka menjelaskan.
"Tidak, Tuan Muda! Aku akan menemani Tuan Muda di perjalanan." Meski sempat tergoda, tapi tugasnya sebagai bawahan Saka adalah prioritas utama. Ia tak bisa mengedepankan kebutuhannya sendiri.
Saka tersenyum simpul. "Tenang saja, Kak! Waktu di dunia cincin dan dunia nyata sangat berbeda. Aku juga akan beristirahat selama beberapa hari di sini, jadi Kak Rion bisa berkultivasi untuk naik ranah," ucap Saka sambil memberikan pil penaik ranah kepada Orion.
Orion tampak terdiam sejenak, mengamati wajah Saka yang serius, membuatnya menuruti semua ucapan Saka. "Baiklah, Tuan Muda! Aku akan berkultivasi, jika ada hal mendesak, jangan ragu untuk membangunkanku," ucap Orion.
Namun, belum juga Orion melangkah, seekor naga yang sangat besar tiba-tiba sudah melayang di hadapan Orion membuat pemuda itu terkejut dan reflek menyerang.
Sebuah pohon tumbang akibat serangan Orion, sementara naga yang menjadi incaran kini sudah berpindah tempat di belakang Saka.
"Tuan Muda, minggir! Aku akan menghadapi naga itu," seru Orion sembari menyiapkan serangan.
Tak ingin dunianya hancur, Saka harus menghentikan Orion.
"Hentikan, Kak! Naga ini bukan makhluk jahat."
"Tuan Muda mengenalnya?" tanya Orion dengan heran, menatap naga hitam besar yang tengah melayang dengan tatapan mata yang tajam.
Saka mengangguk. "Beliau calon ayahku."
Bukk!
Gentala tanpa belas kasihan langsung menendang bokong Saka hingga pemuda itu hilang keseimbangan.
__ADS_1
"Paman! Berhenti menendang bokongku!" pekik Saka dengan wajah cemberut.
"Yang Mulia, sejak kapan aku menyetujui menjadi ayahmu?" Gentala mendengkus dengan tangan bersedekap.
"Sejak paman menatap ibuku tanpa berkedip. Sudahlah, Paman! Jomlo selama sembilan ratus tahun memang memalukan, tapi paman harus mengambil inisiatif, karena perempuan itu selalu suka memberi kode dan menunggu. Mereka tidak akan berbicara jika paman tidak memulainya." Seolah sudah sangat berpengalaman, Saka memberi saran.
Orion yang melihat interaksi keduanya pun mengerutkan keningnya bingung, tetapi ia tak memiliki niat untuk menginterupsi atau pun mencari tahu jika tidak diberitahu.
"Yang Mulia, apakah yang mulia sudah memiliki calon istri?"
Saka menggeleng.
"Pernah punya pacar?"
Saka kembali menggeleng.
"Pernah menyukai seseorang?"
Lagi, Saka menggeleng.
Gentala tampak mengambil napas panjang, lalu berteriak, "LALU KENAPA KAU SOK TAHU TENTANG HUBUNGAN ORANG DEWASA, BOCAH!"
Saka terkikik melihat Gentala yang emosi.
"Paman, aku hanya membantu."
"Membantu gundulmu! Kamu hanya membuatku malu," sungut Gentala. "Sudahlah! Pergi sana! Sebaiknya kau urus dua cecunguk yang mengompol lalu pingsan saat melihatku."
Saka menaikkan sebelah alisnya. "Raden dan Alisha?" tanyanya.
"Entah, aku belum berkenalan mereka sudah mengompol lalu pingsan. Sudah seharian mereka belum bangun."
"Memangnya paman langsung berubah menjadi naga?" selidik Saka.
Gentala mengangguk tanpa dosa.
__ADS_1
"PAMAN!"