Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Siaga


__ADS_3

Raden dan Alisha sudah sangat kacau di ruang hampa. Dengan kultivasi yang hancur, mereka kembali layaknya manusia biasa. Jika kultivator bisa menahan lapar selama satu minggu, maka manusia biasa akan merasa sangat tersiksa jika satu hari saja tidak makan. Keadaan ini tak jauh berbeda dengan Alisha dan Raden, didukung dengan ruang hampa yang serba putih memberikan rasa tak tenang yang perlahan membangkitkan trauma masing-masing.


Saat Saka masuk, kedua orang itu tengah meringkuk lemas dengan air mata yang menggenang. Melihat Saka, keduanya merangkak, memeluk kaki Saka di masing-masing sisi dan menangis keras layaknya bayi.


"Keluarkan aku dari sini, tolong! Aku tidak mau di sini lagi, Saka! Aku minta maaf." Hilang sudah keangkuhan Alisha.


"Kak Saka, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Raden yang tak kalah kacau sampai ingusnya menetes di celana Saka.


Saka menatap keduanya tanpa ekspresi.


"Lepas!" Suara rendah penuh penekanan membuat keduanya tak berani membantah.


Setelah lepas dari dua orang itu, Saka lantas menutup mata, mengatur dunia cincin seperti yang ia mau. Perlahan, ruang hampa itu mulai terlihat bentuk lain. Gunung, laut, sungai, hutan, langit, dan segala hal yang tampak persis seperti di dunia luar.


Raden dan Alisha memandang semua itu dengan takjub. Sentuhan terakhir adalah sebuah istana yang sangat megah dengan beberapa bangunan kecil di belakangnya. Saat ini, mereka berada di taman dengan hamparan padang rumput dan bunga-bunga yang indah.


Saka tersenyum puas melihat karyanya. Ia juga membangun sebuah kebun eliksir dan menanam semua eliksir yang berada di cincin milik Dewi Cahaya.


Saka menoleh, menatap Alisha dan Raden yang terpaku tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.


"Tugas kalian di sini adalah mengurus kebersihan istana dan menjaga kebun eliksirku. Di masa depan, jika aku membawa orang ke sini, kalian yang bertugas menjadi pelayan, mengerti?!"


"Me-mengerti!" Meski rasa benci masih menggunung, tapi rasa takut lebih mendominasi. Sosok Saka di depan mereka bukanlah orang yang pernah mereka kenal dulu.


Saka kemudian memejamkan mata, perlahan rambutnya memanjang dan berwarna perak. Perubahan fisik Dewa Abadi dilakukan Saka untuk mengatur waktu agar sesuai dengan dunia luar. Perlahan, matahari yang awalnya berada di atas kepala mulai turun digantikan  dengan bulan dan bintang. Sinar emas yang  menyelimuti Saka di udara menjadi cahaya yang begitu indah. Saka juga menambahkan formasi pengumpulan energi sehingga kekentalan energi di dunia cincin dua kali lipat lebih banyak dibanding dunia luar.

__ADS_1


Saka membuka mata sembari turun perlahan. Sinar emas masih menyelimutinya dengan aura yang begitu agung. Alisha dan Raden bahkan berlutut tanpa bisa mereka minta. Tekanan itu sungguh membuat mereka tak berkutik.


"Pergilah ke bangunan di belakang istana. Kalian akan tinggal di sana mulai sekarang," ucap Saka lantas menghilang dari depan keduanya.


Saka muncul kembali di balai desa tepat saat semua persiapan pesta telah selesai. Penampilannya pun sudah kembali seperti semula. Di sebuah lapangan yang besar, semua orang berkumpul. Beberapa meja diletakkan berderet di pinggir yang berisi berbagai macam makanan dan minuman. Semua orang membentuk sebuah lingkaran besar, dipimpin Kepala Desa, semua orang menundukkan kepala dan berdoa untuk saudara mereka yang tidak kembali, dan berharap desa mereka akan aman seperti sedia kala. Tak lupa, ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Saka dan Orion karena telah menyelamatkan penduduk Desa Pringku dari tangan vampire.


Para prajurit yang memang belum tahu siapa sejatinya Klan Darah pun kaget. Mereka hanya diminta untuk mencari markas Klan Darah dan memberantas para bandit. Namun, mereka sama sekali tidak menyangka jika organisasi yang akan mereka hadapi adalah makhluk penghisap darah.


"Kepala Desa, benarkah semua yang kalian ceritakan?" Sang Komandan kembali meminta kepastian.


"Komandan, kami semua adalah saksi. Kami melihat bagaimana mereka berubah menjadi vampire dengan mata merah dan taring yang panjang," ujar Kepala Desa.


"Itu benar, Komandan! Saya adalah salah satu korban yang melihat sendiri bagaimana saudara kami mati mengering saat para vampire itu menghisap darah mereka." Salah satu pemuda bersaksi.


Muka sang Komandan menjadi pias. Ia tak menyangka jika insiden ini akan begitu serius.


Kemudian seekor merpati putih dengan sebuah surat terikat di kakinya, terbang menuju Istana Kota.


Acara dilanjutkan dengan makan-makan. Semua hidangan dicicipi satu persatu. Harus Saka akui, semua makanannya enak-enak. Memang tidak akan ada yang bisa mengalahkan  masakan rumahan. Tak hanya rasa , tapi juga sensasi 'pulang' yang dibalut dengan rindu.


Saka menghela napas panjang. Ia rindu dengan bumi. Ia rindu dengan semua rekan-rekannya, meski beberapa telah gugur bersamanya.


"Tuan Muda, apakah Tuan Muda ingin istirahat?" Orion merasa ikut sedih melihat raut sendu tuannya.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit rindu dengan kampung halaman," jawab Saka dengan senyum tipis, mencoba mengurangi kekhawatiran Orion.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita langsung pulang saja besok," sahut Orion yang disambut dengan tawa kecil Saka. Tidak tahu saja makna kampung halaman bagi Saka bukanlah kediaman Hirawan atau pun Pegunungan Berkabut.


*


Saat matahari perlahan merangkak naik, seekor burung merpati putih hingga di lengan Tuan Kota yang sudah bangun dari tidurnya.


Ia membuka ikatan surat dan membacanya dengan setengah hati. Ia sebenarnya masih sangat mengantuk saat ini. Namun, setelah selesai membaca suratnya, sisa-sisa kantuk hilang seketika. Tubuhnya sedikit bergetar dengan tangan yang terkepal erat.


"Jenderal, datanglah ke kediamanku saat ini juga!" Sebuah transmisi suara menggema di Istana Kota. Keempat Jenderal pun bergegas datang sesuai perintah.


Hanya dalam sepuluh hela napas, keempat Jenderal sudah berdiri tegak di hadapan Tuan Kota.


"Tuan Kota, apakah ada sesuatu yang mendesak?" Seorang Jenderal bernama Alan langsung bertanya saat melihat wajah Tuan Kota yang begitu serius.


"Situasi sangat mendesak. Jenderal Alan, pergilah ke Paviliun Bunga Mekar, cari Tetua Tama dan Tetua Rama, minta mereka untuk datang, katakan ada hal mendesak yang harus segera dibicarakan.


"Jenderal Nion, pergilah ke tiga keluarga besar dan minta Patriak mereka untuk datang ke sini. Sementara Jenderal Iwa dan Jenderal Oni pergilah ke Sekte Mata Phoenix dan sekte kecil lainnya, serta cari senjata yang berbahan perak dalam jumlah banyak. Katakan kepada Patriak Sekte Mata Phoenix jika ini adalah situasi darurat." Tuan Kota langsung memberi perintah kepada empat Jenderalnya.


Keempat Jenderal masih tampak bingung, mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan Kota, apa yang sebenarnya terjadi?" Jenderal Iwa tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Tuan Kota tampak terdiam sejenak. Raut wajahnya masih tegang dan serius.


"Alam kita kedatangan makhluk vampire, klan darah adalah organisasi mereka."

__ADS_1


Keempat Jenderal pun menghela napas dingin.


__ADS_2