
Saat ini di Hutan Kematian, di sebuah ruangan gelap dengan aura kematian yang mencekam, duduk beberapa makhluk yang mengelilingi sebuah meja bulat. Vampire, iblis dan manusia bersatu untuk sebuah tujuan yang tentu saja tidak baik.
"Kita terus mengalami pukulan keras, bukan saja gagal menguasai Benua Timur, tetapi istana kerajaan juga berhasil direbut, sejak kapan Alam Kultivator memiliki sosok sekuat itu?" Seorang laki-laki paruh baya dengan satu mata juling bergumam dengan tangan mengetuk meja.
"Menurut mata-mata, mereka hanya dua orang, tapi kultivasinya berada di ranah Mahayana sementara yang satunya tidak terdeteksi. Namun, dia bisa membunuh Zilian dengan sekali serang," ucap perwakilan vampire dengan geram mengingat salah satu temannya mati tanpa bisa melawan.
"Sulit, bukankah anak buahmu mengatakan jika penjagaan di Kota Olos sangat ketat? Bahkan rata-rata kekuatan mereka di ranah Bumi dan Langit saat usia mereka masih sangat muda?" sela laki-laki bertanduk.
Semua orang terdiam dengan pikiran rumit. Mereka pikir menguasai Alam Kultivator akan sangat mudah karena tidak ada kultivator kuat di sini, tapi siapa sangka jika Benua Timur memang sesuai reputasi sebagai benua terkuat. Bukan hanya mampu membantai pasukan gabungan yang sangat kuat, tetapi juga mampu membebaskan Kerajaan Canavero dalam waktu singkat.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Patriak Sekte Racun Iblis bertanya putus asa. Saat peperangan, ia sudah kehilangan banyak anak buah, sekarang bahkan pasukan vampire dan iblis berkurang secara drastis.
"Perintahkan anak buahmu untuk menyelidiki dua orang itu. Perintahkan juga mereka untuk menyusup ke Kerajaan Victoria. Temukan keluarganya, lalu kita bantai. Setelah keluarganya mati, dia akan putus asa dan kita mudah membunuhnya," ucap laki-laki bermata juling.
"Oh, ya? Bagaimana kamu akan menyusup ke Kerajaan Victoria yang dalam keadaan siaga?"
"Tentu saja menya–SIAPA KAMU?"
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung bersatu membentuk formasi saat menyadari entitas lain tak diundang berada di antara mereka.
Saka dan Orion keluar dari kegelapan dengan seringai lebarnya. "Sepertinya pertemuan kalian sangat penting. Maaf telah mengganggu," ucap Saka dengan sopan.
Semua orang menyipitkan mata. Mereka sadar jika dua orang di depan mereka adalah orang yang baru saja mereka bicarakan. Kehadiran keduanya yang tidak terdeteksi, padahal kultivasi mereka terhitung sangat tinggi di Alam Kultivator memberikan ancaman nyata.
__ADS_1
"Kamu yang membantai pasukan kami?" Pria bermata juling bertanya dengan tenang setelah menguasai keadaan.
Saka menjentikkan jarinya. "Binggo! Tak kusangka orang dari Alam Bintang sangat cerdas menebak."
Pria bermata juling itu tersentak, tanpa sadar ia mundur dua langkah. "Bagaimana kau bisa tahu?" Kewaspadaannya semakin meningkat.
Saka mengelus dagunya berpura-pura berpikir. "Emmm ... mau tahu aja, apa mau tahu banget?" goda Saka dengan mata mengerling jahil. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi jelek dari musuhnya. Memang pertanyaan legend yang sempat viral saat di bumi ini berpotensi mengakibatkan darah tinggi.
"Bocah, kamu memang kuat, tetapi kita bertujuh sementara kamu hanya berdua. Yakinlah, kamu tidak akan melihat matahari esok pagi," ucap pemimpin iblis dengan geram.
"Hmmm." Saka bersenandung remeh. "Siapa bilang aku hanya berdua?"
Lalu Saka mengeluarkan Gentala dan Tigra yang sudah merengek ingin ikut bermain karena bosan berada di dunia cincin.
"Sial, kita sudah menyelidiki seluruh Alam Kultivator selama lima tahun terakhir tapi tidak ada berita tentang kekuatan yang begitu besar, apakah mereka ahli dunia tersembunyi?" bisik Pria bermata juling sedikit gentar.
"Kita sudah menyelidiki kekuatan di alam ini, yang tertinggi adalah leluhur Kerajaan Victoria, tetapi mereka berempat bahkan lebih tinggi ranahnya dari leluhur Kerajaan Victoria. Sial, jika aku tahu Benua Timur masih memiliki ahli tersembunyi aku tidak akan gegabah bergabung dengan kalian." Patriak Sekte Racun Iblis mulai menyesali pilihannya.
"Hehe, sekarang kau menyesal? Tapi itu tidak akan berguna, karena penyesalan selalu di belakang dan pasti terlambat," ucap Saka sembari terkikik senang.
"Sial, tidak bisa menyerah, maka kita akan bertarung sampai mati!" Raung perwakilan vampire sembari memulai serangan. Di ruangan bawah tanah yang hanya seluas setengah lapangan sepak bola itu hancur karena pertarungan ahli tingkat tinggi. Kini Hutan Kematian yang menjadi arena pertempuran. Ah, bukan pertempuran tapi pembantaian.
Saka, Tigra dan Gentala, masing-masing melawan dua orang, sementara Orion dan Pasukan Garuda melawan Patriak Sekte Racun Iblis dan para muridnya. Hutan Kematian yang luasnya mencapai dua ribu kilometer itu luluh lantak menyisakan lembah-lembah dan mayat murid Sekte Racun Iblis yang bergelimpangan dengan anggota tubuh yang tak lagi utuh.
__ADS_1
Melihat para muridnya yang jatuh satu per satu membuat Patriak Sekte Racun Iblis meradang. Ia ingin membantu, tetapi Orion sama sekali tidak memberikan celah. Perbedaan kekuatan keduanya sangat besar karena Patriak sekte Racun Iblis berada di ranah Saint tingkat sembilan. Namun Saka mendapati keanehan karena melihat Patriak Sekte Racun Iblis dan pemimpin Iblis seolah tak memiliki rasa lelah meski digempur tanpa henti.
Bertarung sembari berpikir, Saka seperti sedang bermain-main sehingga membuat kesal lawannya yang sebenarnya sudah berada di ranah Mahayana.
Bugh!
Karena kurang konsentrasi, sebuah tendangan mendarat di punggung Saka hingga tergerak maju beberapa langkah.
"Sial! Beraninya kaki burik menendang punggungku!" seru Saka dengan kesal lalu dalam sekejap muncul di depan orang yang sebelumnya menendang punggungnya dan ....
Crash!
Kedua kaki orang itu terpotong rapi hingga lutut.
"Nah, begini lebih baik!" ucap Saka sembari menepuk tangannya seolah membersihkan debu. "Ke depannya harap berhati-hati, jangan menendang sembarangan, pamali!" ucap Saka dengan ekspresi serius tapi mengundang tanda tanya dari musuhnya.
"Apa yang kau bicarakan, Bocah! Beraninya kamu memotong kaki temanku," ujar salah satunya dengan geram.
Saka menatap lawan satunya dengan alis terangkat. "Oh, kamu iri? Pengen dipotong juga kakinya? Sebatas mata kaki apa sebatas lutut kayak dia?" tanya Saka tanpa dosa sembari menunjuk ke arah lawannya yang tengah terbaring kesakitan. Pil regenerasi sangat langka, bahkan di satu alam mungkin hanya akan ada satu keberadaan pil yang biasanya adalah peninggalan masa kuno. Sekarang, tak ada yang bisa meniru resep pil regenerasi sehingga jika salah satu anggota tubuh terpotong mereka hanya bisa menunggu sampai kekuatan mereka berada di ranah Abadi yang mana memiliki kemampuan regenerasi alami.
Wajah keduanya menjadi jelek. Perasaan terhina karena dipermainkan oleh pemuda yang umurnya jauh di bawah mereka membuat keduanya tak memikirkan konsekuensi lainnya. Dengan membabi buta, keduanya menyerang Saka yang begitu santai menghindar sembari berpikir.
"Ah, TERNYATA BEGITU!" pekik Saka tiba-tiba yang ajaibnya menghentikan pertempuran secara serentak.
__ADS_1