
Dua hari waktu digunakan oleh Saka untuk menempa tubuh Arunika sebelum kemudian memberikan teknik kultivasi yang cocok untuknya. Hasilnya pun tak mengecewakan. Baru satu hari berkultivasi, Arunika mampu mencapai ranah Prajurit tingkat akhir, selangkah lagi mencapai ranah Jenderal.
Saka juga membantu membangkitkan elemen cahaya milik Vega, sementara untuk elemen kegelapan milik Venus, Saka masih belum tahu bagaimana cara membangkitkannya karena ia sendiri tidak memiliki elemen kegelapan.
Penghuni dunia cincin sibuk berkultivasi, sementara Saka juga masuk ke ruang kultivasi miliknya.
Di depannya kini melayang setetes esensi darah milik phoenix suci. Tanpa kata, ia langsung menelannya.
Proses yang hampir sama ia lalui saat menyerap esensi darah naga, garuda, dan harimau. Karena sudah terbiasa, ia tak terlalu merasakan sakit, hanya sedikit kewalahan menghadapi energi membeludak yang membuatnya naik ke ranah Saint tingkat dua.
Tak membuang waktu, ia mengambil esensi darah kedua milik kura-kura suci.
Duaarr!
Duaaar!
Ranah Saint tingkat empat.
Saka membuka mata lalu mengembuskan napas keruh. Ia bisa merasakan energi kuat yang meluap-luap di tubuhnya.
"Ranah Saint memang mengagumkan," gumamnya lirih.
Ia kemudian menatap dua hadiah lainnya. Jiwa semesta dan Api semesta.
"Sistem, gabungkan Jiwa semesta dan Api Semesta."
[Ding! Menggabungkan Jiwa Semesta dan Api Semesta]
Saka merasakan tubuhnya seperti dibakar hidup-hidup dari luar dan dalam. Setelah proses itu selesai terdengar ledakan teredam menandakan ia naik ranah. Saka juga mengalami penyiksaan jiwa saat menggabungkan Jiwa Semesta. Proses ini memakan waktu sedikit lebih lama. Apalagi Saka juga harus melewati berbagai ujian dalam bentuk ilusi untuk menempa jiwanya sampai maksimal.
Satu minggu kemudian, Saka membuka mata.
"Ranah Saint tingkat tujuh dan Jiwa Semesta, dengan ini aku bisa menggerakkan dunia cincin ini dari dalam sesuai kemauan," gumam Saka sembari tersenyum puas dengan pencapaiannnya.
Saka menyadari kultivasinya dan segera keluar. Hari masih siang dan semua penghuninya sibuk berkultivasi. Saka mengedarkan persepsinya untuk menemukan Alice. Ia berencana mengajak Alice keluar menemaninya.
"Ah, ternyata ada di kamar," gumam Saka.
Tak ada satu detik, Saka muncul di depan kamar Alice.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Sebentar!" Sebuah seruan terdengar dari dalam. Tak lama, pintu terbuka menampilkan Alice dalam balutan gaun biru muda yang begitu cantik.
"Sayang, kultivasinya udah selesai?" sambut Alice dengan wajah datarnya.
Saka hanya mengangguk. Meski agak tak terbiasa, tapi ia mencoba untuk tak peduli. Ini memang resiko dari fisik istimewanya.
"Aku akan keluar dari dunia cincin, apakah kamu ingin ikut?"
Sedikit binar antusias tampak di mata Alice. "Benarkah? Aku boleh ikut?"
"Tentu saja, karena Alice sudah lumayan kuat jadi Alice bisa menemaniku berpetualang."
Alice mengangguk dengan senyum tipisnya.
Saka kemudian mengirim pesan telepati kepada semua orang, bahwa ia ingin keluar ditemani Alice dan menyerahkan pelatihan Arunika kepada Orion.
Saka dan Alice muncul di tempat semula. Di luar, waktu sudah berlalu selama dua hari. Dengan merengkuh pinggang Alice, Saka melesat ke arah kota Rogo setelah sebelumnya memasang array agar terpaan angin tidak menyakiti Alice yang belum bisa mengimbangi kecepatannya.
Hanya dalam waktu tiga puluh menit, Saka sudah tiba di hutan yang tak jauh dari kota. Bahkan dinding benteng pun sudah terlihat.
Saka kemudian membawa Alice turun. Ia menekan kultivasinya hingga ranah Jenderal menengah, sementara Alice juga menekan ranah hingga Jenderal awal. Saka tidak ingin terlalu mencolok, tapi juga tidak ingin terlalu ditindas. Jika ia memilih menghilangkan aura kultivasi, maka ia hanya akan menjadi sasaran empuk untuk dibully.
"Kita jalan saja dari sini," ucap Saka yang hanya diangguki oleh Alice.
Tak seperti saat di kota Tanica yang diperbolehkan terbang bebas, di kota Rogo, semua harus masuk melalui gerbang. Antrian tampak mengular panjang saat Saka dan Alice mendekat.
"Permisi, Paman! Kenapa antrian ini sangat panjang? Apakah ada acara?" tanya Saka kepada salah satu kultivator yang telah mengantri terlebih dahulu.
"Apakah kau tidak tahu Anak Muda? Kota sekarang dalam masa genting karena rumor vampire yang beredar, sehingga Tuan Kota ingin mengumpulkan semua kultivator kuat menjaga kota. Tuan Kota juga mengadakan turnamen untuk memilih para jenius kota Rogo yang akan diberikan sumber daya yang banyak untuk menjadi ujung tombak saat melawan para vampire," jelas kultivator itu panjang lebar.
Saka menganggukkan kepala ringan, meski begitu ia cukup terkejut karena berita tentang vampire sudah menyebar.
"Bagaimana semua orang tahu tentang vampire?" selidik Saka.
"Anak Muda, sepertinya kamu tertinggal berita. Di kota Tanica, sudah banyak penduduk yang menyaksikan kemunculan para vampire itu, tetapi untung saja ada Pendekar Saka. Semua vampire yang ada di kota Tanica akhirnya dibasmi oleh Pendekar Saka. Tuan Kota ingin meniru apa yang dilakukan oleh kota Tanica sehingga melakukan turnamen ini."
Sudut bibir Saka berkedut mendengar nama Pendekar Saka. Bahkan namaku terdengar sampai di sini?
"Baiklah, terima kasih, Paman!" ucap Saka sembari memberikan satu koin emas kepada kultivator yang ia tanyai.
"Tuan Muda, ini terlalu berlebihan," ucap kultivator itu dengan nada gemetar. Ia bahkan tanpa sadar mengubah nama panggilan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Paman! Itu adalah rasa terima kasihku karena paman sudah mau menjawab pertanyaanku dengan rinci."
"Kalau begitu terima kasih, Tuan Muda!"
Tak lama mengantri, akhirnya giliran Saka datang.
"Tanda pengenal!" todong penjaga gerbang.
Saka menyodorkan lencana Paviliun Bunga Mekar. Melihat lencana di hadapannya, penjaga gerbang pun mengubah sikapnya menjadi lebih sopan.
"Silakan masuk, Tuan! Mohon maaf untuk sambutan kami yang kurang sopan," ucap penjaga itu sembari membungkuk meminta maaf.
Perilaku dadi penjaga gerbang pun menuai banyak pertanyaan dari orang-orang yang mengantri di belakang Saka dan Alice.
"Tidak apa-apa, Paman! Kami masuk dulu!" pamit Saka sembari menggandeg tangan Alice yang sejak tadi seperti patung hidup.
Suasana kota Rogo sangat ramai. Banyak kultivator petualang dan murid sekte yang datang untuk berpartisipasi.
"Kita makan dulu, ya!" ajak Saka sembari mengedarkan persepsi mencari rumah makan.
Lagi-lagi, Alice hanya mengangguk.
Saka kemudian membawa Alice ke sebuah rumah makan paling besar yang ada di Kota Rogo. Rumah makan itu sangat ramai, Saka dan Alice hampir tak mendapat meja.
"Silakan masuk! Mau pesan apa Tuan, Nona!" sapa pelayan dengan ramah. Ia melihat pakaian milik Saka dan Alice sangat mewah, belum lagi paras Keduanya yang rupawan sehingga ia tak berani berbuat tidak sopan.
"Bawakan saja makanan dan minuman terbaik di sini, Nona! Tapi jangan mengandung arak," ucap Saka.
"Baik, Tuan! Mohon ditunggu pesanan akan segera dibuatkan!"
Sembari menunggu pesanan datang, Saka menggunakan waktu untuk mendengarkan semua percakapan para pengunjung.
"Menurutmu rumor tentang vampire itu benar atau tidak?" Seorang pengunjung bertanya pada temannya. Mereka satu meja berlima.
"Aku tidak percaya," timbal teman yang satunya. "Ini pasti hanya rumor yang digunakan agar kita waspada dan tidak menyalahkan pemerintah karena ketidakmampuan mereka dalam memberantas Klan Darah yang semakin merajalela," lanjutnya.
"Saudaraku yang ada di Desa Pringku melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana vampire itu berubah," Seorang temannya yang berkepala botak menyela.
Saka terus mendengar semua obrolan dari para pengunjung berharap mendapatkan informasi terbaru sebelum ia berangkat ke Ngiwa untuk memberantas Sekte Bukit Tengkorak.
Braakk!
__ADS_1
Saka dan Alice mengalihkan pandang ke arah pintu rumah makan yang digebrak oleh seseorang.
"MANA MANAGER RUMAH MAKAN INI! CEPAT MINTA KOSONGKAN SELURUH RUMAH MAKAN INI KARENA TUAN MUDA KAMI INGIN MENJAMU TAMUNYA!