Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Tuan Muda Rajasa


__ADS_3

"MANA MANAGER RUMAH MAKAN INI! CEPAT MINTA KOSONGKAN SELURUH RUMAH MAKAN INI KARENA TUAN MUDA KAMI INGIN MENJAMU TAMUNYA!


Semua pengunjung tampak terperanjat lalu tampak raut ketakutan di wajah mereka. Tanpa membantah, satu per satu keluar dari rumah makan. Tersisa Alice dan Saka yang masih duduk dengan santai menikmati pesanan yang baru saja datang.


"Hei kau! Apa kau tuli?" Salah seorang mendekat dan membentak.


Saka dan Alice tetap diam seolah tak mendengar.


Orang itu menjadi murka karena merasa diabaikan.


"Bajingan!"


Brakk!


Meja yang berisi makanan terbelah menjadi dua saat orang itu menggebraknya sekuat tenaga.


Saka dan Alice yang awalnya masih bisa bersabar kini tak lagi bisa menoleransi melihat makanan mereka kini tak berbentuk lagi dan terbuang percuma.


"Katakan! Ingin mati dengan cara apa?" Alice yang sejak tadi diam membuka suara. Suhu ruangan berubah mendingin bersamaan dengan Alice yang mulai bangkit dari duduknya. Pandangan Alice menatap orang yang tadi membelah mejanya dengan tajam. Suhu dingin semakin meningkat membuat orang itu menggigil, bahkan mengundang orang yang awalnya berada di depan pintu untuk datang.


"Dasar tidak becus! Disuruh mengosongkan rumah makan saja tidak bisa! Apa kau tidak tahu kalau aku sedang menjamu tamu penting?"


Seorang Tuan Muda berpakaian mewah masuk ke dalam rumah makan diiringi oleh para pengawalnya. Di belakang Tuan Muda itu, seorang pemuda kekar yang berada di ranah Bumi awal mengikuti.


Wush!


Saat mereka masuk, suhu dingin langsung menerpa membuat mereka langsung melapisi diri dengan energi.


Kraakk!


Pyarr!


Mereka bisa melihat teman mereka yang masuk terlebih dahulu kini membeku lalu hancur berkeping-keping. Mata semua orang di rombongan itu terbelalak.


Pandangan Tuan Muda berpakaian mewah itu kini terpaku pada Alice yang tetap berwajah datar setelah membunuh anak buahnya.


"Oh, Nona cantik, aku tidak tahu jika kamu sedang makan di sini. Maafkan bawahanku yang kurang ajar karena mengganggu acara makan Nona. Jika Nona berkenan, aku Tuan Muda Rajasa ingin mengundang Nona untuk makan malam bersama." Tuan Muda Rajasa itu mendekat dengah senyum mesum. Kecantikan Alice membuatnya tertarik. Ada pun keberadaan Saka, ia tak peduli. Melihat basis kultivasi yang hanya berada di ranah Jenderal akhir, tak membuatnya takut. Tamu istimewanya dari Sekte Bukit Tengkorak berada di ranah Bumi awal, dan salah satu pengawalnya berada di ranah Bumi tingkat akhir. Sebagai Tuan Muda keluarga terbesar di Kota Rogo, Arfan Rajasa memang menerima perlakuan yang istimewa dari keluarganya.


"Tidak sudi," ketus Alice. Ia kemudian menatap Saka. "Sayang, ayo kita pergi saja."

__ADS_1


Saka kemudian mengangguk. Ia paham jika Alice tak lagi selera makan setelah diganggu.


"Nona, apa kau yakin menolak tawaranku? Aku tidak bertanggung jawab jika kau kehilangan suamimu nanti."


Alice menoleh ke arah Arfan Rajasa dengan tatapan sedingin es. "Apa kalian mampu? Dasar semut!"


Mendengar penolakan pedas dari Alice membuat Arfan murka.


"DASAR ******, KAU–"


Belum selesai Arfan bicara, ia sudah membeku setengah badan. Kini Saka yang menatap Arfan tajam. Ia tak terima jika wanitanya dihina.


Saka melangkah perlahan, tetapi bersamaan dengan setiap langkahnya, lantai membeku. Suhu dingin itu bahkan sampai terasa di luar rumah makan membuat semua orang menggigil.


Bahkan murid dari Sekte Bukit Tengkorak dan pengawal yang berada di ranah Bumi tak berkutik dengan rasa dingin yang membuat tubuh mereka kaku. Bahkan melapisi dengan energi pun tak berguna. Rasa dingin ini terasa lebih menggigit daripada saat mereka masuk tadi.


"Aku sudah berbaik hati tidak langsung membunuh kalian dan berniat pergi dari sini, tapi sepertinya kalian memang meminta kematian," ucap Saka dingin dengan mata berkilat tajam.


Seiring ucapan Saka, suhu semakin mendingin hingga semua orang yang ada di ruangan membeku lalu ....


Pyarr!


Sembilan orang langsung hancur berkeping-keping. Saka kemudian menjentikkan jari, lalu api semesta mengubah mereka menjadi abu. Dengan elemen angin miliknya, Saka menerbangkan abu keluar rumah makan melalui jendela.


Di lantai dua, manager restoran melihat semuanya dari ujung tangga. Kakinya bergetar dan jatuh terduduk. Saka menghampiri kasir yang juga gemetar ketakutan, lalu meletakkan sepuluh koin emas sebagai pembayaran dan kompensasi.


Kepergian Saka dan Alice diiringi dengan tatapan beragam dari para pengunjung yang tadi keluar dari rumah makan. Setelah Saka dan Alice lumayan jauh dari rumah makan, semua orang berbondong-bondong masuk kembali ke dalam rumah makan untuk melihat apa yang terjadi. Namun, hanya kekosongan dan wajah pucat manager serta kasir.


"Apa yang terjadi, Manager? Kemana Tuan Muda Rajasa dan rombongannya?" Salah seorang pengunjung bertanya karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Dengan bibir gemetar, manager itu menjawab, "mati."


Lantas hembusan napas dingin terdengar dari semua orang. Mereka tidak menyangka jika rombongan Tuan Muda Rajasa yang begitu kuat akan mati tanpa suara dan jasad yang tersisa. Padahal jika mereka menilai, basis kultivasi kedua pasangan remaja itu hanyalah berada di ranah Jenderal.


"Jangan bercanda, Manager! Bagaimana mungkin rombongan Tuan Muda Rajasa yang dua orang berada di ranah Bumi bisa dibunuh tanpa suara oleh remaja yang berada di ranah Jenderal?" Semua orang menganggukkan kepala setuju.


"Apa kau pikir aku bercanda? Kalian sedari tadi berada di luar, apakah melihat rombongan Tuan Muda Rajasa keluar dari sini? Juga, jangan pernah menilai sesuatu dari luarnya, aku yang berada di ranah Langit awal saja tidak berkutik karena aura dari pemuda itu." Manager itu tampak tak terima diragukan. Ia adalah saksi mata yang juga merasakan efek dari tekanan aura milik Saka.


Para pengunjung itu mau tak mau kemudian percaya. Beberapa bahkan bergidik ngeri, jika ranah Langit saja tidak berkutik, lantas sudah berada di ranah apa pemuda itu? Padahal jika melihat dari usia tulang, kedua remaja itu tak lebih dari dua puluh tahun.

__ADS_1


"Aku tidak percaya akan bertemu dengan monster di Kerajaan Victoria ini," gumam sang manager sembari berlalu meninggalkan rumah makan. Ia harus kembali menghadap pimpinan untuk melapor karena nyatanya rumah makan ini adalah salah satu cabang milik Paviliun Bunga Mekar.


Melihat kepergian manager, para pengunjung kemudian bubar karena mereka yakin jika keluarga Rajasa pasti akan membalas dendam untuk kematian Tuan Muda mereka.


*


Di sebuah kediaman mewah yang menjadi tempat Keluarga Rajasa berada, seorang tetua berlari dengan tergopoh memasuki aula utama di mana para patriak dan tetua keluarga tengah berdiskusi dengan utusan dari Sekte Bukit Tengkorak.


"Patriak, berita buruk!" Tetua itu masuk dengan tergesa, tak peduli jika ia akan menerima amukan kemarahan karena berita yang dibawanya jauh lebih penting.


"Tetua, bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak menggangguku untuk hari ini karena ada pertemuan penting?" Aura ranah Langit tingkat tiga bocor menekan tetua yang baru saja masuk hingga tersungkur.


"Pa-triak! Ini ten-tang Tu-an Muda!" jawab tetua itu dengan terbata.


Kerta, sang patriak keluarga Rajasa pun menarik auranya sehingga tetua itu bernapas lega dan langsung berlutut.


"Patriak, giok jiwa milik Tuan Muda dan pengawalnya retak dan mati."


Kerta terperanjat. Hawa membunuh menguar dari tubuhnya. "Siapa ... siapa yang sudah berani membunuh putraku," raungnya penuh amarah.


"Dari rekaman giok jiwa, yang membunuh Tuan Muda dan pengawalnya adalah sepasang remaja, Patriak! Lokasinya di Warung Makan Bunga Mekar," jawab tetua itu dengan sedikit ketakutan.


"Lalu, bagaimana dengan muridku?" Tetua dari sekte Bukit Tengkorak bertanya dengan tegang.


"Tuan Muda Erga juga tewas, Tetua!"


"KEPARAATT! Kerahkan semua orang dan tangkap pembunuh putraku hidup atau mati!" titah Kerta dengan wajah merah padam.


"Patriak, tolong jangan gegabah. Kejadian itu terjadi di Warung Makan Bunga Mekar, di mana manager berada di ranah Langit. Bahkan salah satu pengawal Tuan Muda berada di ranah Bumi, kita belum tahu kekuatan seperti apa yang dimiliki pemuda itu." Salah satu tetua memberi saran.


"PERSETAN! Dia sudah berani menyinggung Keluarga Rajasa dan Sekte Bukit Tengkorak. Apalagi yang perlu kita takutkan?"


"Patriak Kerta benar, Sekte Bukit Tengkorak tidak akan tinggal diam dengan hal ini. Membunuh Tuan Muda sekte kami, pemuda itu hanya akan menemui kematian." Tetua Sekte Bukit Tengkorak itu bertekat.


Tetua yang tadi memberi saran hanya menghela napas panjang. Ia merasakan firasat buruk.


*


Jangan lupa like, komen, vote, subscribe dan sawer jika suka hehehe

__ADS_1


Iklan bentar, yang suka silakan mampir



__ADS_2