Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Tindakan Spontan Sofia


__ADS_3

Keesokan harinya, pasukan kerajaan pulang ke istana diiringi dengan sorakan kemenangan dari para penduduk yang sengaja menunggu di tepi jalan. Memang, berita tentang akan adanya serangan dari Benua Tengah bukan lagi rahasia. Hal itu juga yang membuat penduduk cemas bukan main. Takut jika kerajaan kalah karena pasukan musuh yang sangat kuat. Mereka hampir saja putus asa. Namun, berita kemenangan tak hanya terdengar dari satu wilayah. Usai menang berperang melawan Sekte Lembah Hitam, kini mereka mendengar lagi kemenangan pasukan kerajaam melawan Benua Tengah.


Sebuah keajaiban. Sama sekali tidak ada yang mengira jika mereka akan menang, bahkan untuk para prajurit sendiri yang turun ke medan perang.


Satu hari satu malam mereka terus berjalan tanpa henti hingga saat matahari mulai terbit, gerbang Kota Baya mulai terlihat. Tampak ratusan orang berdiri di pinggir jalan sembari bersorak menyambut datangnya prajurit yang pulang membawa kemenangan. Saat para pasukan lewat, semua orang serentak membungkuk sebagai bentuk terima kasih karena telah berjuang mempertahankan tanah air. Saka yang duduk di salah satu kereta kuda karena paksaan dari Thomas pun hanya mengulum senyum. Ia bisa melihat binar kebanggaan rakyat Victoria kepada para pasukan.


"HIDUP VICTORIA!"


"HIDUP VICTORIA!"


"HIDUP RAJA DHARMA!"


"Kakek, butuh berapa lama untuk sampai di istana?" tanya Saka yang sudah merasa bosan. Jika ia nisa pergi sendiri, maka hanya membutuhkan waktu kedipan mata untuk sampai di istana.


"Mungkin dua batang dupa lagi kita akan tiba di istana," jawab Thomas sembari tersenyum kecil. Ia tahu jika Saka tengah bosan.


"Tidur aja dulu, nanti aku bangunka kalau sudah sampai," ucap Alice lembut.


Karena gerbang kereta yang besar dan panjang, muat untuk seseorang tidur terlentang. Saka pun tak sungkan mengambil posisi berbaring berbantalkan paha Alice. Ia sangat menikmati bagaimana tangan Alice yang lembut mengusap kepalanya.


"Huh, menyesal aku satu gerbong dengan mereka berdua," gumam Thomas sembari tersenyum kecut.


*


Di halaman istana, telah berbasis rapi Raja Dharma dan keluarga serta jajaran petinggi. Tak ketinggalan pula, keluarga besar dan sekte yang membantu mengirimkan pasukan untuk membantu. Pasukan Garuda juga terlihat bebaris di tempat khusus. Mereka semua tengah menunggu datangnya pasukan yang pulang dari medan perang. Senyum tak pernah surut dari wajah semua yang hadir. Tentu saja ini adalah keajaiban di mana mereka masih sanggup bertahan bahkan memenangkan peperangan padahal digempur dari luar dan dalam.


Raja Dharma dan permaisuri duduk dengan penuh wibawa di kursi tertinggi, sementara di sebelahnya putra mahkota serta putri bungsu yang terlihat tidak sabar menunggu.


Tak lama menunggu, mereka kemudian mendengar gemuruh sorak sorai kemenangan yang membuat Raja Dharma dan keluarga berdiri dari duduknya.


Saat gerbang dibuka, terlihat di barisan paling depan adalah Thomas, sang Raja terdahulu bersama dengan Saka dan Alice. Di belakang mereka berjajar para Jenderal.


Formasi ini tentu membuat mereka yang belum mengenal Saka mengernyitkan dahi. Di barisan para bangsawan, seorang pemuda tampak membelalakkan mata melihat seorang yang sangat dikenalinya berdiri sejajar dengan sosok terhormat Kerajaan Veronica.

__ADS_1


"Ba-bagaimana bisa?"


"Kamu mengenalnya, Ansel?" tanya Damar Orlando, ayah dari Ansel Orlando.


"Ayah, dia pemuda yang aku ceritakan itu," bisiknya dengan penuh kebencian.


Dahi Damar terlipat. Sebelumnya ia setuju membiarkan anaknya yang ingin membalas dendam, tetapi melihat kenyataan yang ada, Damar tak ingin bertindak gegabah.


"Jangan gegabah, kita harus melihat situasi terlebih dahulu," tegas Damar memperingati Ansel yang menatap Saka tajam seolah ingin mencincangnya sampai halus.


Ansel hanya menggeretakkan gigi. Ia benci mengakui fakta jika dirinya tak berdaya.


Saka yang notabene memiliki persepsi luas pun merasakan hawa membunuh yang sempat terarah padanya meski tak lebih dari sedetik. Ia kemudian menoleh, menatap seorang pemuda yang mencoba menyembunyikan diri di belakang ayahnya.


Saka tersenyum miring.


'Apa kabar Tuan Muda Gemar Sembunyi? Sepertinya kamu sedang ketakutan?'


Melalui telepati, Saka bertanya. Dapat ia lihat jika Ansel terkejut luar biasa dan semakin ketakutan.


Halaman istana yang tadinya ramai dengan sorakan kemenangan kini hening. Bahkan suara tarikan napas pun sangat lirih.


Bagaimana tidak? Kini di hadapan semua orang, putri bungsu Raja Dharma tengah memeluk seorang pemuda yang berada di sebelah Raja terdahulu, yang mana beliau adalah kakeknya.


"Sofia!" Saka terkejut luar biasa menerima pelukan tiba-tiba dari gadis yang sempat dekat dengannya dulu. Ia juga tak menyangka jika identitas Sofia sangat istimewa.


"Jahat!" Satu kata dari Sofia terdengar. Bukannya melepaskan, justru pelukan itu semakin erat membuat Saka terdiam canggung.


Ia menatap Alice di sebelahnya yang tengah menatapnya seolah meminta penjelasan. Lalu menatap Thomas yang mengangkat sebelah alisnya heran. Kemudian Raja Dharma serta anak sulung dan istrinya yang tampak sangat shock melihat kelakuan putri bungsunya.


"So-sofia, ada banyak orang," bisik Saka yang tak tahan dengan keheningan aneh ini.


"Biarin! Aku nggak mau tahu," ucap Sofia yang justru semakin mengubur wajahnya di dada Saka.

__ADS_1


Saka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kakek, Yang Mulia, maaf sepertinya aku akan menyusul untuk pertanyaan," ucap Saka meminta ijin untuk pergi.


Raja Dharma yang masih kaget hanya bisa mengangguk.


"Baiklah, Pendekar Saka! Ambil waktumu!" ucap Raja Dharma sekaligus mengkonfirmasi identitas Saja yang membuat semua orang di sana kaget untuk ke sekian kalinya.


Saka yang sudah mendapat ijin, lantas memeluk Alice dan Sofia lalu ketinganya menghilang dari sana.


Lagi-lagi, semuanya kaget luar biasa.


"Ehem! Baiklah, kita mulai saja pesta kemenangan kita! Namun, ini semua tak akan terjadi jika tidak ada ikut campur semua pihak yang membantu. Saya pribadi sebagai Raja Kerajaan Victoria, mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua yang membantu. Terima kasih yang tak terhingga juga kepada Pasukan Garuda dan Pendekar Saka, karena dengan andil merekalah kemenangan kita menjadi pasti." Raja Dharma membuka acara. Tentu saja diselingi dengan pemberian hadiah kepada para pihak yang membantu.


Pesta itu tampak sangat meriah.


*


Sementara di sebuah taman yang terdapat danau kecil, duduk tiga orang remaja. Satu laki-laki dan dua perempuan. Ketinganya membisu sejak kedatangan mereka di sana.


"Baiklah, aku yang akan bertanya terlebih dahulu." Saka membuka percakapan.


"Sofia, aku tidak menyangka identitasmu sangat istimewa, tapi aku juga heran dengan tindakanmu yang tiba-tiba. Bisakah kau jelaskan?"


Sofia yang sejak tadi tertunduk dengan tangan saling bertaut. Setelah melepaskan pelukan Saka, ia seperti baru saja sadar dengan apa yang ia lakukan. Apalagi saat melihat kehadiran perempuan lain yang sepertinya memiliki hubungan dengan Saka.


Sofia sendiri tak mengira jika dirinya akan spontan berlari ke dalam pelukan Saka saat melihat sosok pemuda itu. Namun jujur saja, ia sangat merindukan Saka.


"Saka, maaf!"


Mata jernih Sofia tampak mengembun, siap meneteskan bulir-bulir air mata. Saka hanya menghela napas panjang, kemudian menatap Alice.


"Sayang, bisakah kamu berbicara berdua dengan Sofia? Sepertinya dia malu untuk berbicara denganku."


Alice mengangguk. Karena sama-sama perempuan, sedikit banyak Alice paham dengan tindakan spontan Sofia.

__ADS_1


Saka kemudian bangkit dari duduknya dan memilih untuk kembali ke pesta, meninggalkan dua perempuan untuk saling berbicara dari hati ke hati. Tanpa Saka sadari, jika langkahnya akan membawa nuansa berbeda dalam rumah tangganya.


Yah, hanya rencana sih, soalnya Saka belum menikah dengan Alice meski sudah kebablasan.


__ADS_2