Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Akhir Perang


__ADS_3

Saka tidak khawatir dengan keselamatan rekan-rekanya karena ada Paman Gentala dan Orion yang baru saja menembus ranah Mahayana.


Di sisi lain, pemimpin vampire itu menjadi pucat melihat anak buahnya justru menjadi bulan-bulanan. Ia ingin menolong, tapj ia bahkan tak yakin bisa menang melawan pemuda di hadapannya.


"Nak, seharusnya kau tahu batasanmu. Kau masih sangat muda dan berpotensi. Akan sangat disayangkan kalau harus mati di tanganku." Pemimpin vampire itu memanjangkan kukunya sebagai senjata lalu melesat menerjang Saka.


Trang!


Boomm!


Pemimpin vampire itu terdorong hingga puluhan meter saat serangannya ditahan dengan pedangnya.


"Pedang dewa?" Pemimpin vampire tak bisa untuk tidak terkejut mendapati senjata tingkat dewa ada di alam rendah ini. "BAGAIAMANA MUNGKIN?"


"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Saka yang tiba-tiba sudah berada di belakang vampire itu dan menendangnya.


BUKK!


Saka muncul di seberang, menunggu tubuh pemimpin vampire tiba lalu menendangnya lagi. Hal ini terus berulang hingga Pemimpin vampire itu sudah seperti bola yang dioper kanan kiri.


BRAAKK!


Sebagai penutup, Saka menghempaskan pemimpin vampire itu ke tanah hingga membuat sebuah kawah besar.


Tampilan pemimpin vampire itu sangat mengenaskan. Wajahnya bengkak seperti babi dengan memar di mana-mana. Bajunya robek-robek seperti pengemis.


Tak menunggu proses regenerasi vampire itu selesai, Saka meraih kakinya lalu memukulkanya ke tanah.


BANG!


Saka mengulangi lagi.


BANG!


Seperti cucian yang dipukul-pukul untuk membersihkan kotoran, Saka terus melakukan itu hingga beban yang ia rasakan berbeda.


"Kok jadi ringan?" Saka melihat tangannya. "Lah, kakinya lepas?"

__ADS_1


Di tanah, vampire itu sudah pingsan dengan kaki yang tersisa satu.


"Cih, kenapa sendimu sangat lemah? Digituin aja udah lepas?" gerutu Saka sembari menghampiri sang vampire.


"Oi! Bangun! Malah enak-enakan tidur!"


PLAKK!


Tanpa belas kasihan, Saka menampar vampire itu hingga rahangnya miring.


Vampire itu membuka mata dengan berat, mendapati wajah Saka yang tersenyum lebar membuatnya kembali menutup mata, pura-pura mati.


"Nggak mau bangun, rasakan ini!"


Saka meraih kaki yang tersisa, lalu memutar vampire itu seperti kincir angin dengan kecepatan penuh. Hujan lokal karena air liur dan muntahan pun terjadi di sekitar Saka. Beruntung Saka menggunakan perisai energi sehingga ia tetap bersih tanpa sedikit pun tercemar dengan muntahan menjijikkan itu.


BRAAKK!


Puas memutar vampire itu, Saka melemparkannya hingga menabrak array pembatas. Vampire itu menempel seperti cicak sebelum kemudian merosot ke bawah.


Saka mendekat perlahan sembari menepuk tangannya seolah membersihkan debu. Terlihat mata vampire itu mendelik ke atas dan bergetar. Mungkin jika di komik-komik ada bintang tujuh berputar di atas kepalanya.


Meski masih berusaha mengatasi pusing luar biasa, tapi vampire itu masih bisa mendengar ucapan Saka. Ingin rasanya ia mengubur diri sendiri dan merasa sangat menyesal karena bertemu dengan orang gila di hadapannya ini.


Saka melihat pertempuran di luar array sudah hampir selesai. Meski para Jenderal, Thomas dan Alice terlihat kesulitan, tapi dengan bekerja sama mereka bisa mengalahkan lawan yang ranahnya berada di atas mereka. Alice yang sudah menembus ranah Immortal terlihat sedikit demi sedikit mulai membangkitkan potensi fisik khusus miliknya. Sementara untuk Orion dan Gentala, keduanya lebih terkesan seperti kucing yang bermain dengan tikus.


"Baiklah, sepertinya peperangan sebentar lagi selesai, jadi permainan kita akhiri di sini saja."


Saka menatap mata vampire itu, menggali semua memori dan menyalinnya. Beberapa ekspresi ia tampilkan, bahkan hampir saja muntah saat mendapati memori menjijikkan milik vampire itu. Usai mendapatkan informasi yang bernilai, Saka melemparkan setitik api semesta yang perlahan membakar vampire itu mulai dari ujung jari kaki.


Teriakan terdengar tapi Saka memilih tak peduli. Ia menghilangkan array dan menatap pertarungan di depannya yang hampir mencapai akhir.


Tepat saat matahari tenggelam, semua vampire telah terbunuh.


Mereka lalu memanggil kembali para prajurit dan bersama-sama mengumpulkan semua mayat untuk dibakar.


Sorakan kemenangan berkumandang. Meski baru saja bertempur, para prajurit tidak merasakan lelah sama sekali berkat kemenangan yang mereka raih. Apalagi saat mereka mendapati banyaknya pasukan vampire dengan ranah yang tak bisa mereka bayangkan ada di Alam Kultivaor ini.

__ADS_1


Sementara itu Saka, Alice, Thomas dan para jenderal berkumpul di dalam tenda untuk membahas rencana selanjutnya. Orion dan Gentala tak ikut berkumpul dan memilih untuk kembali ke dunia cincin.


"Apa Nak Saka ada saran?" tanya Thomas.


"Kita sudah meraih kemenangan, tapi tak berarti ancaman berakhir sampai di sini. Kecuali Benua Timur, seluruh benua di Alam Kultivator sudah diinfasi oleh orang vampire, bahkan dibantu oleh beberapa iblis."


Mendengar kata iblis, semua orang bergidik ngeri.


"Kalian tentu tahu bagaimana korosifnya energi iblis bagi jiwa manusia. Jadi setelah ini aku sarankan untuk menempa jiwa para pasukan. Jangan lupa juga menyisir seluruh wilayah untuk menemukan sisa-sisa para vampire dan menghancurkan portal-portal mereka." Saka kemudian mengeluarkan sebuah gulungan.


"Agar lebih mudah, aku sudah menandai lokasi mereka semua. Termasuk keluarga yang diam-diam membantu para vampire di belakang layar," lanjutnya yang membuat semua orang membuka mulut dengan takjub.


"Lalu bagaimana dengan benua lain?"


"Untuk saat ini fokus kita adalah pembersihan dan perketat keamanan, jangan sampai ada pasukan dari benua lain yang menyerang. Untuk urusan benua lain, serahkan saja padaku! Setelah ini aku akan ke benua tengah dan menyelesaikan kekacauan di sana."


"Tuan Muda, lalu bagaimana dengan artefak ini?" tanya salah satu Jenderal yang terlihat sangat enggan untuk mengembalikan.


Saka tersenyum. "Aku akan menghadiahkan artefak itu untuk kalian, asal kalian berjanji untuk tetap menjadi pilar pelindung bagi kerajaan dan selalu berada di sisi yang benar."


"Kami berjanji dengan nyawa kami untuk terus berjalan di jalan yang benar dan mengabdikan hidup kami kepada kerajaan, Tuan Muda!" ucap mereka semua serentak.


CTARR!


Seolah menjawab sumpah mereka, petir menyambar di malam hari yang cerah.


"Bagus! Sekarang mari kita istirahat dan besok pulang!"


Semua orang kemudian bubar kembali ke tenda masing-masing. Tersisa Alice, Saka dan Thomas.


"Kakek, ini hadiah dariku. Dengan pil ini, kakek mungkin bisa naik dua tingkat, jika beruntung tiga tingkat sekaligus. Ada juga pil penguat pondasi yang nanti akan membantu kenaikan tingkat kakek," ucap Saka sembari memberikan dua botol giok berisi pil pendobrak kultivasi dan pil pondasi.


Mata Thomas terbelalak. Meski tak dibuka, dari warnanya saja Thomas bisa melihat jika keduanya berada di kualitas sempurna. Kualitas pil yang bahkan beluk pernah terlihat di Kerajaan Victoria ini.


Ingin rasanya Thomas tak percaya, tetapi ia kemudian ingat dengan artefak tingkat dewa yang begitu mudahnya dibagi-bagikan oleh Saka. Meski bukan miliknya, entah kenapa hati Thomas yang berdarah. Ia merasa harta pusaka, jika di hadapan Saka tak lebih dari seonggok sampah tak berguna.


"Baiklah terima kasih, tapi kamu ikut pulang dulu ke istana bukan?" Thomas menerima tanpa bertanya karena ia paham semua orang mempunyai rahasia.

__ADS_1


"Tentu saja, pasukanku juga baru pulang dari perang, hehe!" Senyum Saka semakin lebar melihat poin pengalaman yang naik berkat semua senjata miliknya dan juga kontribusi pasukannya. Meski belum bisa membuatnya naik ranah, tetapi tinggal sedikit lagi. Mungkin jika ia bisa membunuh 10 makhluk ranah Mahayana, ia bisa menembus ranah Mahayana.


__ADS_2