
Usai membantai rombongan keluarga Rajasa, kini Saka berada di depan gerbang kediaman keluarga Rajasa. Setelah menimbang beberapa saat ia akan menyelesaikan niat awalnya membantai Sekte Bukit Tengkorak lebih cepat, dan menemukan semua portal yang digunakan oleh bangsa vampire untuk datang ke Alam Kultivator.
Bang!
Gerbang megah yang berasal dari batu topaz itu hancur berkeping-keping tak mampu menahan setitik kekuatan Saka dari ujung jarinya.
Ledakan keras itu menewaskan penjaga gerbang dan mengundang tanya dari para penghuninya. Termasuk Kerta dan para tetua keluarga Rajasa.
"Siapa yang berani mencari masalah di kediaman Rajasa?" geram Kerta sembari melesat keluar menuju gerbang.
Saka dan Alice sendiri tetap berdiri tenang di depan gerbang meski kini banyak yang berdatangan, termasuk kultivator bebas yang penasaran dan masyarakat setempat.
Mata Kerta yang melihat keduanya memicing. Setelah melihat rekaman dari giok jiwa, ia tentu mengenali siapa pembunuh putranya, dan hal yang tak ia sangka adalah sang pembunuh itu berdiri dengan percaya diri di gerbang kediamannya.
"Kau-kau yang membunuh putraku?" Kilat kebencian tampak di mata Kerta.
Saka terkekeh. "Jika yang kau maksud adalah pemuda sampah masyarakat itu maka jawabannya adalah ... iya."
"Beraninya ... apa kamu sadar kalau kamu sudah menyinggung dua kekuatan besar. Apa kamu tahu kalau Tuan Muda yang kau bunuh adalah Tuan Muda Sekte Bukit Tengkorak? Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari mereka."
Saka mengangkat sebelah alisnya. "Terus?"
Melihat sikap tak peduli Saka, sedikit gentar muncul di hatinya tapi langsung ia tepis. Kematian sang putra hanya bisa ia terima dengan membunuh sang pelaku dengan tangannya sendiri.
"Maka ... matilah!" Bersamaan dengan ayunan tangan Kerta, energi yang kuat mulai berkumpul di telapak tangannya. Energi ranah Langit menekan semua orang memaksa mereka menjauh. Saka sendiri bergeming. Ia hanya berdiri tegak di depan Alice untuk memblokir dominasi aura yang dikeluarkan oleh Kerta. Meskipun Alice bisa menahan dengan kekuatannya sendiri yang bisa dibilang seimbang karena Alice juga berada di ranah Langit tingkat dua.
Saat energi yang terkumpul besar diayunkan ke arah Saka, Kerta tersenyum puas karena berpikir serangannya sudah mampu untuk membunuh Saka atau paling tidak terluka berat.
Namun matanya membelalak lebar saat melihat Saka yang tak tergores sedikit pun bahkan rambutnya pun tak berkibar.
__ADS_1
"Segini saja?" Saka memiringkan kepalanya dan berdecak kecewa. "Serangan dari seorang Patriak keluarga Rajasa yang katanya keluarga terbesar di Kota Rogo nyatanya tak lebih kuat dari gigitan semut. Bahkan tak mampu menyentuhku," efek Saka dengan seringai miringnya.
"Bajingan! Jangan terlalu sombong bocah! Kamu tidak akan tahu tingginya langit!" sentak Kerta yang membuat Saka terpingkal-pingkal.
"Kenapa kau tertawa, Bocah?"
"Tentu saja aku tertawa. Seharusnya ucapan itu kau tunjukkan pada putra bodohmu itu. Tak selamanya ia bersembunyi dibalik nama keluarga. Ia tak akan pernah tahu bersinggungan dengan siapa." Bersamaan dengan ucapan Saka, aura ranah Immortal meledak dari dalam diri Saka membuat Kerta dan para tetua yang terbang langsung terjun bebas mencium tanah.
Saka sengaja menekan kekuatannya hingga ranah Immortal, karena masih ada leluhur keluarga Rajasa yang pastinya akan datang. Kabarnya, leluhur keluarga Rajasa sudah berada di ranah Immortal lima puluh tahun yang lalu.
"Ba-bagai-mana bi-bisa k-kau di ra-nah Im-mortal?" tanya Kerta dengan terbata. Ia tak bisa mempercayai apa yang dialaminya. Seorang remaja yang belum genap dua puluh tahun sudah berada di ranah Immortal.
Keterkejutan tak hanya dirasakan oleh keluarga Rajasa, tetapi juga para kultivator yang juga merasakan energi ranah Immortal menerpa mereka meski hanya terkena sedikit biasnya saja.
"Bagaimana bisa bocah sekecil itu sudah berada di ranah Immortal? Jika aku tak melihat dan merasakan energinya, aku tak akan pernah percaya." Salah satu kultivator berkomentar.
Saka mendengar semua komentar itu, tetapi tak ambil pusing. Dengan lambaian tangannya, ia memanipulasi energi angin menjadi bilah-bilah pisau tajam yang melayang tepat di depan wajah patriak dan tetua keluarga Rajasa. Hanya butuh jentikan jari saja sebelum energi angin itu menusuk kepala dan meledakkannya.
Klik!
Boom!
Pemandangan mengerikan di mana kepala dari patriak dan tetua Keluarga Rajasa meledak menjadi kabut darah membuat keluarga Rajasa yang lain meraung marah dan ketakutan.
"Kenapa? Kenapa kau membunuh suamiku?" Luda, istri dari Kerta meraung bengis ke arah Saka.
"Kenapa? Bukankah sudah jelas? Keluarga kalian berniat menjalin kerja sama dengan aliran hitam yang menjadi bawahan para vampire? Apa kalian berniat mengkhianati kaummu sendiri?"
Raut wajah Luda memucat. Kerjasama mereka untuk memberikan tempat para vampire sementara di kota Rogo tidak ada yang tahu kecuali keluarga inti. Jadi, dari mana pemuda di hadapannya ini tahu?
__ADS_1
"Omong kosong! Kamu hanya memfitnah keluarga Rajasa! Kamu biadab! Iblis! Kamu membantai keluargaku tanpa alasan!" Luda terus meraung mencoba meraih simpati dari para warga dan kultivator yang sedari tadi menjadi penonton.
Saka sendiri terkekeh. Ia merasa sangat lucu melihat bagaimana Luda begitu naif ingin memanfaatkan orang-orang di sekitarnya. Apa wanita ini pikir semua orang masih akan memikirkan hati nurani saat sudah merasakan tekanan ranah Immortal yang tak akan bisa merek hadapi meski memiliki jumlah ratusan kali lipat?
"Tingkahmu sangat lucu, aku lumayan terhibur," ucap Saka sembari menuding Luda. "Tapi aku memiliki bukti tentang keterlibatan keluargamu dalam menyembunyikan keberadaan vampire."
Saka kemudian membuat gerakan tangan yang langsung ia arahkan ke sudut selatan kediaman Keluarga Rajasa.
Kraak!
Pyaarr!
Seperti kaca yang pecah, pemandangan tak biasa kini terlihat di depan mata semua orang. Sebuah bangunan berlantai dua terlihat di mana sekarang sebuah pemandangan mengerikan terlihat. Array sebelumnya yang dipecahkan oleh Saka adalah array tingkat dua yang bisa membuat ilusi dan menahan cahaya matahari. Saat array itu hancur, matahari yang sedang berada di atas kepala langsung menimpa para vampire yang bergulingan di lantai dengan tubuh berasap lalu melebur menjadi debu yang kemudian tertiup angin.
Para warga yang awalnya tak percaya dengan keberadaan vampire, kini ternganga dengan kenyataan yang ada di depan mata. Mereka kemudian menatap benci pada anggota keluarga Rajasa yang tersisa. Beberapa kultivator bebas juga langsung melampiaskan kemarahannya dengan membantai seluruh anggota keluarga Rajasa yang tersisa dan menghancurkan bangunannya.
"Paman, sebaiknya segera kabari Tuan Kota untuk tindak lanjut, di bawah bangunan itu, ada penjara bawah tanah di mana orang-orang yang diculik berada, meski beberapa sudah tak bisa diselamatkan," ucap Saka pada seorang pria paruh baya yang terlihat belum terlalu bisa menguasai diri.
"Ba-baik, Tuan Muda!" Dengan tergagap, pria paruh baya itu melesat pergi untuk melapor pada Tuan Kota.
"Ayo kita pergi," ajak Saka kepada Alice yang sejak tadi diam.
Keduanya pun kembali ke kota dan mencari penginapan. Sebelum pergi ke Ngiwa, Saka penasaran dengan turnamen dan ingin menyaksikannya.
**
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!!!
Bagaimana dengan kalian? sudah merdeka atau masih berjuang??
__ADS_1