Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Genting


__ADS_3

Meski tiga bulan telah berlalu, berita tentang Pasukan Garuda masih melegenda. Banyak orang berbondong-bondong mencari markas Pasukan Garuda tetapi semuanya menemui jalan buntu. Hanya satu kesimpulan yang mereka miliki, Pasukan Garuda tidak boleh mereka provokasi atau pemusnahan massal akan terjadi.


Di pagi buta, yang mana matahari bahkan masih enggan menampakkan diri, sepasang remaja melesat meninggalkan Kota Ngiwa yang masih diselimuti embun pagi.


Keduanya adalah Alice dan Saka. Setelah beristirahat selama satu hari di dunia cincin usai kultivasi tertutupnya, Saka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kini, tujuannya adalah Kota Baya, pusat dari Kerajaan Victoria berada. Saka ingin langsung memetakan semua kekuatan dan menggempurnya secara bersamaan. Tanpa Saka sadari, selama tiga bulan dia di dunia cincin, sejumlah besar pasukan dari Kerajaan  Canavero di Benua Tengah mulai bergerak melintasi lautan yang menjadi pembatas antar benua.


"Kamu lelah?" tanya Saka saat mereka melintasi hutan mati yang menjadi pembatas antara Kota Ngiwa dan kota Bitar.


Alice menggeleng. Dengan kecepatan penuh Alice, mereka baru saja terbang selama lima jam tanpa istirahat. Sekitar dua jam lagi, mereka akan tiba di Kota Bitar.


"Lebih baik kita percepat agar segera sampai di Kota Bitar sebelum matahari tepat di atas kepala," ucap Alice yang diangguki oleh Saka.


"Biar lebih cepat begini saja." Saka merengkuh Alice ke dalam pelukan, lalu mengeluarkan sayapnya dan melesat terbang ke arah Kota Bitar. Cara ini sukses memangkas waktu tujuh puluh lima persen. Dari yang sebelumnya membutuhkan dua jam, kini hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di perbatasan Kota Bitar.


Tampak benteng megah mengatari Kota Bitar. Antrian juga lumayan panjang yang didominasi oleh para pedagang. Menghilangkan sayapnya, Saka melayang turun perlahan dengan Alice di pelukannya.


Kedatangan Saka dan Alice mengundang banyak perhatian. Pakaian yang mewah, dan kharisma layaknya penguasa membuat mereka menduga-duga tentang identitas keduanya.


"Mungkin keduanya adalah pangeran dari Kerajaan lain?"


"Jangan bercanda! Lautan yang membatasi antar kerajaan sangat ganas, bagaimana mungkin semuda mereka bisa berpetualang sangat jauh?" Yang lain membantah.


"Mungkinkah salah satu keluarga bangsawan di ibukota?"


"Mungkin saja."


Alice dan Saka mendengar semua bisikan mereka, tapi ia memilih tak peduli. Saat tiba giliran keduanya, dengan menyerahkan token dari Paviliun Bunga Mekar, tak ada halangan yang berarti.


"Kita mampir di rumah makan dulu, ya!" ucap Saka saat keduanya sudah berada di dalam kota.


"Hmm," jawab Alice singkat. Dengan wajah datarnya, Alice hanya menurut saja kemana Saka membawanya.


Setelah berjalan selama sepuluh menit, akhirnya mereka melihat sebuah bangunan rumah makan tiga lantai yang sangat ramai. Papan nama Rumah Makan Bunga Mekar tampak megah diukir menggunakan kayu cendana yang diplitur hingga mengkilat.


Saka memiringkan kepalanya dan membatin, "Sepertinya Bunga Mekar ini sudah ada di setiap kota meski hanya sebatas rumah makan."


Alice dan Saka kemudian masuk dan langsung disambut oleh pelayan.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan dan Nona! Apakah ingin memesan ruang pribadi atau umum?"


"Siapkan ruang pribadi, serta makanan dan minuman terbaik untuk dua porsi," pesan Saka.


"Baik Tuan, Nona! Silakan ikuti saya!"


Saka dan Alice mengikuti pelayan itu menuju lantai tiga, di mana ruang pribadi yang sangat privat berada. Di sini, biasanya hanya keluarga bangsawan yang memesan.


"Bagaimana? Berapa pasukan yang kau kirim untuk membantu kerajaan?"


Telinga Saka siaga mendengar semua informasi dari para bangsawan yang tengah makan di ruangan yang sama. Dengan tingkat persepsi yang tinggi, Saka tak mengalami kesulitan meski mereka hanya bercakap-cakap dengan berbisik.


"Tak banyak pasukan yang bisa kukirim, aku tidak yakin kali ini kita bisa bertahan menahan serangan dari luar dan dalam. Sebanyak seratus juta pasukan dari Benua Tengah ditambah Sekte Lembah Hitam juga menyatakan perang. Meskipun raja terdahulu sudah berada di ranah Saint, aku mendengar kalau pasukan dari Benua Tengah memiliki puluhan orang di ranah Saint. Kita pasti akan dibantai tanpa perlawanan," keluh salah satu bangsawan.


Saka menegang. Firasatnya tak salah. Jika pihak musuh memiliki puluhan ranah Saint, berarti portal yang ada di Benua Tengah sudah sempurna. Tanpa bantuannya, pasti Kerajaan Victoria hanya akan menjadi nama.


"Sistem ...."


Saka mengurungkan ucapannya saat mendapati pelayan yang datang membawa pesanannya.


"Mari kita makan dengan cepat, keadaan darurat," ucap Saka yang diangguki oleh Alice dengan patuh.


[Ding! Membutuhkan satu juta poin sistem untuk memetakan seluruh Kerajaan Victoria, Y/N]


"Lakukan!"


Sebuah layar virtual kemudian terlihat, menampakkan Benua Timur di mana peta Kerajaan Victoria berada.


Usai makan, Saka meletakkan setumpuk koin emas di meja. Dengan menggunakan peta dari sistem untuk titik koordinat, Saka merobek ruang menuju area dekat ibukota. Keduanya menghilang dalam sekejap tanpa seorang pun yang menyadarinya.


*


Di sebuah hutan yang hanya berjarak satu kilometer dari benteng ibukota, tampan distorsi ruang yang kemudian memunculkan sepasang remaja. Keduanya adalah Saka dan Alice.


Tak menunggu lama, keduanya segera melesat menuju gerbang. Usai pemeriksaan, barulah Saka kebingungan.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menerobos ke istana bukan ide yang baik. Apalagi tiba-tiba menawarkan bantuan tanpa memiliki satu pun kenalan. Bisa-bisa ia dianggap pembuat onar.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alice yang menyadari kebingungan Saka.


"Kita ke mana sekarang? Tidak mungkin langsung ke istana karena kita hanya rakyat biasa," ungkap Saka.


"Kenapa tidak ke Paviliun Bunga Mekar saja? Kita bisa meminta tolong mereka sebagai perantara," usul Alice yang membuat mata Saka berbinar.


"Nahh bener, aku juga baru ingat kalau aku memiliki token keluarga Wiraga dari Kakek Tama." Saka menepuk kepalanya sendiri karena kepikunan yang terlalu dini.


[Ding! Penyakit yang mengkhawatirkan, Tuan! Sesuai saran sistem, Tuan harus mengkonsumsi vitamin otak, tersedia di toko sistem]


"Diam! Kamu nggak diajak," sentak Saka kepada sistem yang tiba-tiba nimbrung.


Setelah beberapa pertimbangan, Saka akhirnya memutuskan untuk ke Paviliun Bunga Mekar, sekaligus mencari informasi terbaru tentang perang yang akan terjadi.


Memang keberuntungan, baru saja masuk ke Paviliun, Saka berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya.


"Kakek Rama!"


Tetua Rama yang baru saja bersiap untuk pulang terkesiap kaget saat seseorang memanggilnya. Lebih kaget lagi, ternyata yang memanggilnya adalah seseorang yang selama ini ditunggu oleh Sang Raja.


"Nak Saka!" Raut lesunya berbinar. Datangnya ratusan juta pasukan perang dari kerajaan tetangga dengan kekuatan mengerikan sungguh memberikan tekanan mental bagi penduduk Kerajaan Victoria. Belum lagi pernyataan perang dari Sekte Lembah Hitam, sudah dipastikan semua petinggi Kerajaan Victoria hampir gundul kepalanya.


"Kakek Rama! Aku mendengar kabar buruk dalam perjalanan ke sini, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Saka langsung.


Tetua Rama menghela napas panjang. "Ayo masuk ke ruangan, akan aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Saka, Alice dan Tetua Rama yang batal pulang pun kembali masuk ke ruangan. Setelah duduk, Tetua Rama pun membeberkan keadaan genting Kerajaan Victoria yang akan digempur dari dua arah.


"Selama ini pihak kerajaan juga mencarimu, tapi berbulan-bulan berlalu kami bahkan tak mendapati jejakmu sama sekali," ucap Tetua Rama dengan hembusan napas panjang. Matanya yang tua tampak sayu.


"Kenapa pihak kerajaan mencariku?" tanya Saka heran.


"Kenapa lagi? Memangnya siapa yang mendapat julukan Pendekar Saka dan pemimpin Pasukan Garuda?" tanya balik Tetua Rama sembari terkekeh geli.


Saka mengusap tengkuknya sembari tersenyum malu. "Aku tidak menyangka akan seterkenal ini," ujarnya yang mengundang tawa Tetua Rama.


"Nah, karena kamu ada di sini dan waktu masih siang, bagaimana kalau kita ke istana? Kami benar-benar mengharapkan bantuanmu, Nak Saka!" Tetua Rama memohon dengan setulus hati.

__ADS_1


"Kakek Rama! Tentu saja aku akan membantu. Tidak sudi aku melihat para penghisap darah itu mencapai tujuannya," ucap Saka dengan tegas.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang dan jangan membuang waktu!"


__ADS_2