Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Alam Kultivator (end)


__ADS_3

Gunung Langit adalah gunung tertinggi di Alam Kultivator yang berada di Benua Selatan. Puncaknya bahkan tidak terlihat karena tertutup oleh awan. Tidak ada yang menjadikan Gunung Langit sebagai tempat bermukim, entah sekte atau pun organisasi, karena tekanan yang sangat kuat di Gunung Langit. Semakin tinggi mereka naik, maka tekanan yang mereka rasakan akan semakin tinggi. Karena itulah, Gunung Langit biasanya hanya dijadikan sebagai tempat latihan untuk menempa fisik. Itu pun tidak pernah ada yang sanggup mendaki hingga tengah gunung. Hanya mereka yang sudah berada di ranah Mahayana ke atas saja yang sanggup menahan tekanan Gunung Langit dan mendaki sampai puncak.


Saka sendiri tak payah mendaki, ia memilih untuk terbang agar cepat sampai di puncak. Hanya dalam waktu lima menit, Saka sudah mendarat di puncak Gunung Langit yang mana sejauh mata memandang di bawah mereka adalah awan. Saka seperti berada di dunia lain yang mana di sekelilingnya adalah awan putih layaknya kapas yang lembut.


"Apakah itu portalnya?" gumam Saka sembari melihat dua pilar rusak yang tepat berada di tengah-tengah puncak gunung.


"Sistem, apakah portal ini bisa diperbaiki?"


[Ding! Bisa, Tuan! Sistem yang memperbaiki, atau Tuan yang memperbaiki, Tuan bisa memilih sendiri]


Sudut bibir Saka berkedut, perasaannya tidak enak. "Berapa bayaran jika kamu yang memperbaiki portal ini?"


[Ding! Kerusakan portal lumayan parah, sistem


membutuhkan waktu selama satu minggu, jadi Tuan hanya perlu membayar 1 miliyar poin sistem saja]


"Sudah kuduga!" Saka menghentakkan kakinya kesal. "Kamu memang berniat merampok," gerutunya tidak puas. Poin sistem memang bisa ia dapatkan dengan mudah selama memiliki koin emas atau pun batu roh, tetapi jika mainnya seperti ini, sebanyak apa pun simpanan Saka, lama-lama akan habis juga.


[Ding! Tidak ada yang gratis di dunia ini, Tuan!]


Saka tersenyum masam meski hatinya membenarkan. Akan ada harga yang dibayar demi mencapai sesuatu, dan itu sudah hukum mutlak di dunia ini atau pun di bumi.


"Jika satu minggu, itu waktu yang cukup sembari menanti semua kloningku kembali. Aku juga bisa kembali ke dunia cincin dan menghabiskan waktu bersama kedua istriku sebelum pergi ke Alam Bintang, hehehe!"


Setelah menimbang beberapa hal, Saka akhirnya meminta sistem untuk memperbaiki portal sementara ia sendiri masuk ke dalam dunia cincin.


Di dunia cincin, sudah terbentuk sebuah kota yang mana penduduknya adalah Pasukan Garuda dan keluarganya. Kegiatan berlangsung dengan sangat harmonis di mana Saka juga sudah mendirikan sebuah mal tingkat lima yang ia isi dengan berbagai barang dari jaman modern sehingga semua orang yang ada di dunia cincin tidak bosan. Di lantai paling atas, ada gymnasium lengkap. Ada juga beberapa pembelajaran tentang beladiri dari berbagai belahan dunia di bumi. Mulai dari Taekwondo, Karate, Pencak Silat, Muay Thai dan lain-lain. Di setiap arena bela diri terdapat layar besar 30 inc yang akan memberikan mereka bimbingan. Konsepnya hampir sama dengan tutorial video di youtube. Kini Pasukan Garuda memiliki hobi baru, yaitu mempelajari berbagai seni bela diri yang sangat baru karena mereka tidak menggunakan energi untuk melakukannya, melainkan cukup dengan kekuatan fisik.


"Istri-istriku, sedang apa kalian?" Saka muncul di belakang Alice dan Sofia yang tampak asyik dengan buku di tangannya.


"Suami, kamu datang?" Dengan antusias, keduanya meletakkan buku masing-masing dan bergelayut di lengan Saka. Karena ketiganya sudah sah menjadi suami istri, Saka dan kedua istrinya sepakat untuk memanggil masing-masing dengan suami dan istri.

__ADS_1


"Hmm, aku punya waktu satu bulan sebelum berangkat ke Alam Bintang," jawab Saka dengan senyuman kecil. Ia kemudian mengecup kedua kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Apa yang kalian baca?" Saka mengalihkan pandang ke dua buku yang sebelumnya dibaca oleh Alice dan Sofia.


"Suami, aku sedang membaca buku karya dian_nurlaili, judulnya Hey, Mama! Di sana anaknya sangat lucu dan pintar. Suami, apakah kamu tidak ingin punya anak?" Mata Sofia berbinar menatap Saka penuh harap.


Saka tersentak lalu terkekeh kecil. "Apakah kamu benar-benar siap menjadi seorang ibu?"


Sofia mengangguk mantap. "Akan sangat menyenangkan jika kita punya bayi, bukan begitu Saudari Alice?"


Alice yang sejak tadi terdiam pun mengangguk. "Aku juga tidak akan menolak jika suami menginginkan bayi," ujar Alice.


Saka hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Bahkan ia baru berusia delapan belas tahun, apakah ia akan menjadi ayah muda? Apakah keputusannya mengisi perpustakaan istana dengan berbagai novel dari bumi adalah hal yang benar?


"Sayang, tapi ada hal yang tidak aku mengerti." Alice mengernyitkan kening sembari mengambil bukunya yang berjudul Reinkarnasi Dewa Es di Dunia Modern karya dian_nurlaili.


"Apa yang tidak kamu mengerti, istriku?"


Saka terdiam sejenak. "Tentu saja ada. Bukankah kalian berdua sudah melihat mall yang aku bangun? Barang-barang yang ada di sana adalah barang-barang dari dunia modern."


"Lalu, dari mana kamu mendapatkan semua barang itu, Suami?" Ini adalah poin penting yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Sofia dan Alice meski pun harus menggunakan pertanyaan pembuka sebagai pancingan.


"Itu ... rahasia!" jawab Saka dengan kerlingan jahil sembari mengacak rambut keduanya.


"Ih, suami!" Sofia yang sering mendapat jawaban seperti itu dari Saka sangat kesal. Sementara Alice yang lebih pendiam dan berpikir dewasa tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Saka dengan senyuman tipis.


"Aku tidak akan bertanya lagi karena semua orang memiliki rahasia. Asalkan suami baik-baik saja itu sudah cukup," jawab Alice dengan bijaksana.


Saka tersenyum, ia tak menyangka pemikiran Alice akan sangat dewasa dan bijaksana. Sifat Alice dan Sofia bertolak belakang, tapi keduanya saling melengkapi untuk mendampingi sang suami.


"Terima kasih, dan maaf karena belum bisa menceritakannya sekarang, tapi suatu saat tidak menutup kemungkinan kalian akan aku aiak ke dunia modern itu."

__ADS_1


"Benarkah?" Raut antusias tampak di wajah keduanya.


"Tentu saja, asalkan kalian sudah berada di ranah Dewa, kita bisa pergi ke sana. Untuk sekarang ... aku lapar," ucap Saka dengan wajah memelas.


"Tunggu, Suami! Kita akan memasak untukmu!" Sofia dan Alice bergegas bangkit untuk memasak.


"Tidak perlu!" Saka menahan pergerakan kedua istrinya. "Karena makanannya ada di sini," lanjut Saka dengan gairah yang tak ia tutupi.


Rona merah menjalar di wajah cantik Sofia dan Alice saat memahami kata 'lapar' yang dimaksud oleh suaminya.


Kemudian terjadilah perang besar selama tujuh hari tujuh malam yang membuat kedua wanita itu terkapar kelelahan sementara sang pemenang tersenyum puas.


Hari demi hari dilalui oleh Saka dengan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya dan memantau perkembangan dari Pasukan Garuda. Hal yang paling membuatnya tercengang adalah kecepatan kultivasi Arunika yang kini sudah berada di ranah Saint tingkat satu. Gadis kecil itu selain giat berlatih juga senang berkebun. Ia memiliki kebun bunga yang sangat luas dan cantik karena bunga jenis apa pun akan mekar saat mendapat sentuhan dari Arunika.


"Tidak heran karena dia adalah reinkarnasi Dewi Bunga," gumam Saka sembari menatap Arunika dan Sinta yang bermain di kebun bunga.


[Ding! Perbaikan portal telah selesai, Tuan]


Notifikasi sistem terdengar. Saka yang memang sudah memperhitungkan waktu selesainya perbaikan portal, tak merasa kaget. Bahkan ia juga sudah berpamitan kepada keluarganya sehingga ia bisa langsung keluar dari dunia cincin.


Muncul kembali di Gunung Langit, seribu klon Saka sudah menunggu di sana dengan kedua pilar yang berdiri kokoh tanpa kerusakan sedikit pun.


"Kalian kembalilah!" perintah Saka kepada seribu klonnya yang kemudian menghilang dan melebur di tubuh aslinya.


Saka kemudian mengeluarkan batu roh tingkat surgawi untuk mengaktifkan portal.


Wuungg!


Portal bergetar sesaat sebelum kemudian muncul pusaran biru. Saka berbalik badan, memandang sekali lagi Alam Kultivator yang sebentar lagi ia tinggalkan.


"Selamat tinggal, Alam Kultivator!" gumamnya sebelum masuk ke dalam portal tanpa ragu.

__ADS_1


__ADS_2