Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Dua


__ADS_3

Pesta berlangsung selama tiga hari tiga malam. Selama itu pula, Saka tak lagi bertemu dengan Alice maupun Sofia. Hal itu dikarenakan Saka terus kedatangan orang-orang besar yang bermaksud menjilat atau sekedar menyanjung Saka. Tidak ketinggalan Raja Dharma dan Thomas yang tak mengijinkan ia pergi.


Saat tengah malam, barulah pesta selesai. Semua orang mulai kembali ke kediaman atau penginapan untuk beristirahat.


Saka yang tidak tidur selama empat hari sudah sangat merindukan kasur. Ia sendiri diberikan sebuah kediaman besar oleh Raja Dharma. Begitu sampai di kamar, bahkan Saka tak ingin repot membersihkan diri dan langsung terlelap.


Keesokan harinya saat matahari sudah setinggi galah, Saka membuka matanya dengan enggan. Ia ingin mengucek matanya tapi merasakan kedua tangannya sangat berat. Ia bahkan tak bisa bergerak dan merasakan tubuhnya ditindih sesuatu.


Saka melebarkan mata saat mendapati dua sosok yang tak asing tengah memeluknya erat di kiri dan kanan.


"KOK BISA?" pekik Saka tanpa bisa ditahan hingga membangunkan keduanya.


"Ada apa, Sasa?" tanya Alice dengan suara serak khas bangun tidur. Sofia menatap Saka dalam diam meski ia sedikit banyak tahu apa yang kini menggelayuti pikiran Saka.


"Ini ... Sofia, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Saka langsung setelah bisa mengatasi rasa terkejutnya.


Sementara Sofia yang mendengar nada suara Saka yang sedikit dingin menundukkan kepalanya takut. Sejak tiga hari yang lalu saat keduanya terlibat pembicaraan antar perempuan, terjalin sebuah kesepakatan tanpa diketahui oleh Saka. Namun tetap saja, Sofia takut jika kehadirannya akan ditolak.


"Sasa, aku yang mengajak Sofia ke sini." Alice membuka suara saat melihat Sofia ketakutan.


"Kenapa?" tuntut Saka sembari menatap Alice tajam.


Alice yang ditatap seperti itu bukannya takut, justru tersenyum lembut. "Mulai hari ini, aku dan Sofia akan menjadi saudari. Kamu harus memperlakukannya dengan baik, seperti kamu memperlakukanku."


Saka termangu dengan tatapan tak percaya. "Kamu tidak marah kalau aku dengan wanita lain?" Sebagai makhluk bumi di mana poligami masih sangat jarang, Saka tentu saja sedikit shock. Ini bukan dirinya yang mencari, tapi justru disodori.


[Ding! Terima saja, Tuan! Nona Sofia ini memiliki fisik khusus yang hanya satu tingkat di bawah tubuh semesta milik Tuan, Nona Sofia memiliki Fisik Dewi Alam]


Mata Saka membulat. "Yang benar? Lalu, tubuh khusus apa yang dimiliki oleh Sofia? Kenapa baru sekarang kamu bisa mendeteksinya?"


[Ding! Dulu versi sistem terlalu rendah untuk mendeteksi fisik khusus Nona Sofia]


"Terus kenapa kultivasinya lambat jika dia memiliki fisik khusus?" tanya Saka karena dibandingkan dengan anak buahnya yang yang memiliki fisik khusus, kultivasi Sofia sangat lambat, saat ini hanya berada di ranah Jenderal awal.


[Ding! Karena energi di Alam Kultivator terlalu tipis untuk membangkitkan fisik  Dewi Alam milik Nona Sofia]


"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk membangkitkan fisik khusus miliknya?"


[Ding! Tuan bisa membawa Nona Sofia ke dunia cincin yang lebih tebal energinya, lalu Nona Sofia harus berendam di air pelangi tujuh warna]


Kening Saka berkerut. "Di mana aku bisa mendapatkan air pelangi tujuh warna?"


[Ding! Tidak tahu, Tuan!]


Saka menghela napas, rupanya membangkitkan Fisik khusus milik Sofia lebih sulit dibandingkan milik Alice.


Alice yang melihat Saka terus diam pun membuka suara, "Sasa, aku tidak mungkin bisa mengatasimu sendirian di masa depan," ucapan Alice membuat Saka merona. Ia paham ke mana jalur pembicaraan Alice.

__ADS_1


"Tapi–"


"Hal normal untuk orang kuat memiliki wanita lebih dari satu. Aku juga tahu dari awal jika aku tak bisa memilikimu sendirian. Asalkan kamu memperlakukan kita semua dengan adil."


Saka terdiam dengan pikiran rumit. Ia kemudian menatap Sofia yang tertunduk dam hampir menangis. Teringat Sofia yang dulu selalu marah-marah saat ia goda dan ekspresinya selalu sangat lucu. Tanpa sadar, Saka merengkuh Sofia dalam pelukannya.


Hiks!


Tangis terdengar dari Sofia, Alice melotot, menyalahkan Saka yang di awal bersikap dingin dan akhirnya membuat Sofia menangis. Saka hanya tersenyum tak berdaya sembari menepuk pelan punggu Sofia.


"Sudah jangan menangis, aku hanya terkejut saja tadi. Tapi, apa kamu yakin dengan itu?" tanya Saka sedikit canggung. Ia yang sebelumnya jomblo sampai mati, saat ini mungkin akan memiliki dua istri.


Sofia mengangguk dalam pelukan Saka. "Aku tidak mau berpisah lagi darimu," ucapnya sembari mengeratkan pelukan.


Saka tersenyum tak berdaya, ia juga membuka tanga dan menerima Alice dalam pelukannya. Pagi hari itu, ketiganya berpelukan cukup lama di atas ranjang.


Puas berpelukan, Saka pun mengurai pelukannya.


"Sofia, apakah kamu sudah berbicara tentang hal ini kepada orang tuamu?" tanya Saka.


Sofia menggeleng dan Saka tersenyum masam.


"Baiklah, setelah sarapan, kita akan bertemu orang tuamu. Bagaimana pun aku akan pergi berpetualang dan kemungkinan untuk kembali sangat rendah."


Sofia sempat sedih sesaat sebelum kemudian membulatkan tekad. "Tidak apa, aku akan tetap mengikutimu."


"Hehehe, bukankah dulu kau bilang tidak akan mengikutiku?" goda Saka yang membuat wajah Sofia memerah malu.


Saka hanya menggelengka kepalanya, tapi tak urung senyumnya merekah.


"Senangnya dalam hati, euy!"


"Kalau beristri dua ...."


Saka bersenandung pelan sembari masuk ke kamar mandi.


*


Sesuai rencana, kini Saka, Alice, dan Sofia tengah berkumpul bersama orang tua Sofia, putra mahkota dan juga Thomas. Saka mengutarakan apa yang menjadi kesepakatan mereka bertiga. Kilat keterkejutan pun tampak di wajah mereka.


"Nak, apa kau yakin?" tanya Rainsya, sang permaisuri.


"Ibu, aku tidak ingin berpisah lagi dengan Saka," ucap Sofia dengan yakin.


Berbeda dengan reaksi kedua orang tua Sofia, Thomas justru terkekeh.


"Ohoho, Nak Saka! Tak kusangka kau bahkan sanggup meluluhkan hari cucuku yang sekeras batu itu," celetuknya dengan kekehan kecil.

__ADS_1


Saka tersenyum masam. "Kakek, jangan menggodaku."


Thomas semakin tertawa lebar. "Nak Saka, memang orang kuat akan selalu dikelilingi oleh banyak wanita, tapi satu pesanku tolong jangan sakiti cucuku." Di akhir ucapan, nada Thomas berubah serius.


"Tentu saja, Kek! Aku akan menjaga keduanya dengan nyawaku," jawab Saka tegas yang membuat semua orang tersenyum puas.


"Adik ipar, aku sudah mendengar banyak cerita tentangmu. Kau sangat kuat, bisakah kita saling bertukar serangan jika sempat?" Alvaro, sang putra mahkota angkat bicara.


"Putra Mahkota–"


"Panggil saja aku kakak ipar," potong Alvaro yang membuat wajah Sofia memerah.


"Baiklah, Kakak ipar! Kita bisa melakukannya nanti," jawab Saka dengan senyuman tipis.


Raja Dharma melihat semua interaksi itu dengan senyuman lebar. Ia tak keberatan menyerahkan putrinya kepada pemuda sekuat Saka. Ia juga sudah mendengar semua sepak terjang Saka melalui cerita dari Thomas atau pun Jenderal yang ikut di medan perang. Hal paling mengejutkan adalah saat mereka menunjukkan artefak tingkat dewa yang diberikan oleh Saka seolah barang itu tak berharga. Sedikit iri muncul, tetapi Raja Dharma bukanlah orang picik yang akan merebut barang yang bukan untuknya.


"Nak Saka, jika memang begitu aku tak keberatan, hanya saja bolehkah aku minta satu permintaan?"


"Yang Mulia, aku akan menerimanya jika itu bisa aku penuhi."


"Permintaanku tidak berat, menikahlah dengan keduanya sebelum kamu berpetualang. Aku sangat ingin menyaksikan putriku menikah."


Saka sempat membeku sejenak. Ia kemudian teringat Sinta yang juga memintanya untuk segera menikahi Alice.


"Baiklah, Yang Mulia! Aku akan menikahi Alice dan Sofia sebelum memulai petualangan." Saka menyanggupi.


Senyum keluarga kerajaan semakin melebar.


"Baiklah, sudah ditentukan! Kalian akan menikah dua minggu lagi. Untuk persiapannya, serahkan saja pada kami, dan juga panggil kami ibu dan ayah," ucap Rainsya dengan penuh antusias. Meski ia agak sedih karena akan berpisah dengan putri tercinta, tetapi mendapat calon menantu yang sangat kuat akan membuatnya lega.


"Baiklah, Bu! Tapi bolehkah aku membawa seseorang untuk membantu pernikahanku?"


"Tentu boleh, apakah orang tuamu?"


Saka menggeleng lalu mengangguk, yang membuat semua orang bingung.


"Beliau sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri, tapi aku sudah tidak memiliki keluarga karena aku sudah keluar dari keluarga Hirawan. Untuk saat ini, aku menggunakan marga Dirgantara, apakah ayah bisa membantuku untuk membuatkan identitas Dirgantara?" tanya Saka sembari menatap Raja Dharma.


Raja Dharma tampak tertegun sesaat. "Ten-tentu saja, sebelum pernikahan, identitas akan segera jadi."


"Terima kasih, ayah!" ucap Saka dengan senyuman tulus. Ia kemudian melambaikan tangan dan keluar seorang wanita paruh baya yang sangat cantik.


"Nak Saka, ada apa?" Sinta langsung bertanya.


"Ibu, aku akan menikah, tolong urus persiapan pernikahanku bersama ibunda permaisuri," pinta Saka.


Sinta tersenyum lembut. "Akhirnya kau memutuskan untuk menikah?" Ia kemudian melihat satu gadis lagi di sebelah Saka. "Apakah pengantin wanitanya ada dua?"

__ADS_1


Dengan kikuk, Saka mengangguk.


"Bocah nakal!"


__ADS_2