SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
HAL KECIL


__ADS_3

❄️SNOW FLOWER❄️


EPISODE 35


Kaisar terdiam cukup lama, bibirnya terkatup rapat.Ia masih saja membelai rambut panjang permaisuri yang tengah tertidur saat itu dengan lembut.


Permaisuri begitu terlelap dalam tidurnya, wajah polosnya begitu elegan namun, alisnya yang mengkerut merubah kesannya.


"Bahkan saat tidur ia mengerutkan alis, bahkan dalam mimpimu sendiri kau tak pernah merasa tenang!" pikir sang kaisar menatap teduh permaisuri.


Kaisar menghela napas panjangnya, ia lantas bangun dari duduknya.Berjalan .... hendak keluar dari kamar tidur permaisuri.Dengan langkah kaki yang berat, dan dengan hati yang berat pula ia meninggalkan permaisurinya yang tertidur pulas tersebut.


Ia bisa menerima perlakuan terburuk permaisuri sekalipun, mengingat betapa kasarnya perlakuan dirinya kepadanya.Jika ia tidak meninggalkannya, itu adalah sebuah keajaiban.Mengingat betapa banyaknya luka yang ia torehkan.Walau seburuk apapun tabiat permaisuri yang dulu, ia masih saja tak percaya dengan isu permaisuri yang membunuh beberapa selirnya.Namun .... Hal yang paling ia sayangkan .... permaisuri sendiri tak pernah mencoba membela dirinya, jangankan untuk membela diri ia bahkan tak membuka suaranya sekalipun seolah hatinya telah mantap untuk diam.Tak peduli dengan pandangan orang lain.Di lubuk hatinya yang terdalam ia masih berharap bahwa kaisar setidaknya mempercayainya walau rasa kepercayaannya hanya sebesar sebutir beras.


Kaisar dengan hati hampa kembali ke istananya, ia berniat tidak menggangu permaisuri untuk beberapa hari kedepannya, agar ia bisa tenang terlebih dahulu.


____________________________________________


Beberapa hari kemudian ....


Para selir telah menyelesaikan masa hukumannya dan kembali menjalani aktivitasnya seperti biasanya.Begitu pula selir kehormatan Yun, tekadnya makin bulat untuk membalaskan dendamnya setelah menjalani hukumannya.Seolah dendamnya telah mendarah daging dalam lubuk hatinya, ia tak akan pernah tenang jika belum membuat permaisuri menderita.Seperti biasanya selepas mereka memberi salam kepada permaisuri, para selir akan mengunjungi tempat ibu suri dan menemani beliau setiap pagi.


Kali ini, mereka .... para selir mendapatkan kabar bahwa mereka di bebaskan untuk tidak memberikan salamnya kepada permaisuri karna ia sedang ingin menyendiri.Ya ...., itu memang kerap terjadi.Bukan satu dua kali, bahkan dulunya mereka para selir tak pernah mengunjungi tempat permaisuri.Mereka tak berani mendekat dan berada di pihaknya dikarenakan rumor permaisuri yang telah meracuni beberapa selir sebelumnya.Ia begitu kesepian di istana yang begitu dingin itu.Namun .... itu sudah menjadi takdir yang tak bisa di ubah lagi.

__ADS_1


Di bawah pohon rindang, suara gemericik air yang mengalir, juga angin yang berhembus kencang menerpa wajah permaisuri yang tampak pucat kala itu.Ia diam tak bergeming dengan mata yang terpejam, seperti tengah memikirkan sesuatu.Senyum pahit tersungging di bibirnya membuat kesan yang begitu menyayat.


Tanpa siapapun di sisinya, entah kenapa walau ia terbiasa dengan hal ini di kehidupannya yang sebelumnya, ia seakan tak rela.Apa ini karna ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu, apa ia benar-benar telah jatuh cinta?, seketika itu pikirannya mulai liar.Pria yang tak lain adalah sang kaisar tak mungkin bisa menjadi miliknya seorang, hal yang mustahil baginya jika ia hanya mencintai permaisuri Lan seorang, seyakin apapun dirinya, sebesar apapun kau mencintainya, keraguan pasti akan tetap ada mengingat begitu banyaknya selir di Harem


Ia kembali menghela napas untuk sekian kalinya.Ia mulai pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan, tak lebih dari itu memang bukan kemampuannya.Di sisi yang sama di seberang kolam kaisar tampak tengah berjalan menuju ke arah permaisurinya itu, dengan sergapan ia mulai memeluk permaisurinya dari belakang.Permaisuri masih saja terdiam, kehadiran sang kaisar seolah tak ia sambut.Kaisar melepas pelukannya mengingat masih ada Ye Yin Yanga ada di belakangnya.Dengan isyarat mata sang kaisar memintanya untuk meninggalkan mereka berdua.


Kaisar menghela napas beratnya, ia balikkan tubuh wanita yang ada di hadapannya dan menatapnya dalam-dalam.


"Apa kau sudah baikan?"


"Apa hatimu sudah tenang sekarang?" kaisar bertanya untuk sekian kalinya namun ... permaisuri tetap diam, cukup lama ia terdiam, membuat sang kaisar menunggu begitu lama untuk mendengar balasannya.


"Aku baik-baik saja, hanya ...." jawabnya ragu.


"Hanya apa? timpalnya.


"Akhir-akhir ini entah kenapa suasana hatiku begitu racau, begitu banyak beban membuatku semakin jenuh!" serunya, mengutarakan isi hatinya.


Kaisar tampak diam saja tak menanggapi penjelasan yang permaisuri berikan.Ia mengusap dagunya, tampaklah ia tengah menimbang-nimbang pikirannya hingga ....


"Bagaimana kalau kita menikmati pemandangan musim semi di Jian Nan?, bukankah kau sangat ingin ke sana?"Tanya kaisar, ide cemerlang baru saja terbesit di pikirannya.


Sekilas permaisuri tercengang, ia senang namun ....

__ADS_1


"Jika kita keluar pasti harus membawa begitu banyak pasukan, persiapan pasti harusnya juga sangat matang dan memakannya waktu yang cukup lama!"


"Musim semi akan segera berakhir, mungkin kita takkan sempat menikmati pemandangan musim semi tahun ini" lanjut permaisuri dengan tatapan mata teduh.


kaisar tercengang, memang benar apa yang di katakan oleh permaisurinya itu.Tak ada satu katapun yang salah dari perkataannya.Kaisar terdiam sejenak, ia melirik ke arah permaisuri sesaat ia sedang berbicara.


"Ada kalanya kita harus menyampingkan keinginan kita, kita tidak bisa memaksakan kehendak diri kita sendiri!" permaisuri menatap langit-langit dengan tatapannya yang masih tampak redup, jelas dimatanya ia kecewa, namun ia lebih memilih untuk diam.


"Tahta .... tahta ini merenggut kebebasan kita, mematahkan sepasang sayap kita hingga hanya kesepian yang tersisa!" kaisar mengeluhkan isi hatinya, menjadi kaisar bukanlah keinginannya.


Permaisuri mengalihkan pandangannya selekas setelah kaisar menyelesaikan perkataannya.Terpampang jelas di matanya ia memang tak pernah ingin bertahtakan sebagai sang kaisar, jelas baginya seberapa banyak hal yang harus ia korbankan, seberapa banyak hal yang harus ia sesalkan.Pada dasarnya ia tak mampu, hanya karena peri buahnya ia masih mampu bertahan hingga sekarang ini.Kaisar termenung cukup lama, membuat permaisuri tak enak hati dengan apa yang telah terucap dari bibir mungilnya.


"Walau begitu, bisakah kau menemaniku minum teh kali ini?" tanyanya menarik tangan kaisar di dekapannya.


Kaisar mengangguk cepat mengiyakan permintaan sang permaisuri, ia hampir saja lupa, dulu setiap hal kecil begitu berharga baginya.Hal terkecil sekalipun.Ia selalu senang hanya karena hal kecil yang kaisar lakukan untuknya.Ia tak pernah mengeluh, seolah kegusaran tak pernah tertampang di wajahnya yang rupawan itu.


"Kali ini kau harus menebus malam itu dengan menemaniku minum teh hari ini!" permaisuri meraih tangan kaisar dan menempatkan telapak tangannya di pipinya.


Kaisar lantas mengangguk cepat, kegelisahan yang telah melandanya beberapa hari terakhir telah sirna di ganti dengan hal kecil yang terasa begitu manisnya.


BERSAMBUNG .....


......~❄️我爱你❄️~......

__ADS_1


__ADS_2