SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
LIANG YUE


__ADS_3

❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 79


Seisi restoran itupun menghentikan semua yang mereka lakukan. Salah seorang pria yang duduk tak jauh dari tempat Tian Lan mulai membela pelayan itu.


"Nona tolong jangan membuat masalah, dia cuma berusaha menangkap pencuri," ucapnya, ia mulai kasihan dengan pelayan yang sekarang tengah Tian Lan tindas.


"Kamu tahu kan restoran ini adalah milik putra Menteri Liang. Kuharap kau mengerti" balas seorang wanita yang tampaknya rekan sepekerjaannya


Dari pintu masuk seorang wanita membenarkan ucapan wanita itu. Dia Liang Yue, putri Menteri Liang yang akan di ambil untuk menjadi selir kekaisaran.


"Benar sekali, apa aku boleh memberikan saran?"


"Lain kali jangan biarkan orang miskin ini masuk ke restoran kakakku!" imbuhnya. Secara langsung wanita itu menghina Tian Lan hanya dengan melihat tampilannya.


Tak lama setelah itu ...


"Apa yang terjadi?" Menteri Liang masuk dan melihat langsung wajah putrinya yang babak belur.


Tao menghentikan aksinya. Kali ini Tian Lan membiarkan pelayannya itu mengatasi kegatalannya.


Tian Lan tetap duduk dengan tenang, menyeruput secangkir teh dan menatap Liang Yue yang kini duduk tersungkur menghadap kakinya.


Semua orang membungkuk menyambut Menteri Liang yang menghampiri tempat putrinya tersungkur. Ia mulai melangkahkan kakinya setelah semua orang memberi jalan kepadanya.


Samar-samar ia melihat wajah Tian Lan, Ia langsung datang mengumpat.


"Bedebah mana yang berani melakukan ini kepada putriku?" Dengan arogannya dia berbicara. Ia lantas kaget melihat wajah Tian Lan.


"Yang Mulia!" Menteri Liang lantas berlutut di hadapan Tian Lan.


Semua orang kaget setengah mati dengan apa yang pria paruh baya tersebut lakukan.


"Aiyaaa, Feng Hui mengatakan bahwa majikanku akan disambut dengan baik mengingat beliau adik mendiang permaisuri" Tao langsung melontarkan opininya.

__ADS_1


Tian Lan terdiam, ia dengan santainya melahap kue mawar yang ada di atas meja yang tak jauh dari sisinya.


"Maaf Anda harus mengalami hal yang kurang mengenakkan ini!" Menteri Liang duduk memperbaiki posisinya.


Pelayan yang semulanya mengusik Tian Lan itupun gemetar ketakutan. Tak terkecuali juga Liang Yue, wanita itu mulai malu dengan kondisi wajahnya.


"Oh, sepertinya aku yang datang tergesa-gesa ya!" Tian Lan membersihkan remah yang menempel di telapak tangannya.


"Aku harap Feng Huang menyambutku dengan rasa bersalahnya atas kematian kakakku!" lanjutnya, nada bicaranya terdengar ngeri.


"Aku sangat suka hidangan restoran keluargamu. Tapi pelayan yang tak beretika itu membuat selera makanku jadi hilang" imbuhnya berterus terang mengatakan segalanya.


Sepertinya ia mencari tontonan baru yang bisa memperbaiki suasana hatinya. Ia sengaja melebih-lebihkan masalahnya.


"Hamba akan mengurusnya untuk Anda. Hamba akan memberi kabar terlebih dahulu ke istana" Menteri Liang mencoba mempermudah masalah.


"Aku masih punya satu permintaan ... lebih tepatnya titah. Cari kakak beradik yang tinggal di belakang restoranmu ini!"


"Antarkan makanan kepada mereka setiap harinya. Jika kalian lengah ... " Tian Lan bangun dari duduknya, berjalan melewati Menteri Liang.


Ia menambahkan peringatan kepada pria paruh baya tersebut. "Jika kau tidak melakukannya, siap - siap saja kau menggantikannya jatuh miskin"


Ia menekan kakinya hingga wanita itu merintih kesakitan. "Setelah ini pandang sendiri wajahmu di depan cermin, jangan terlalu kaget jika wajahmu bengkak seperti babi," ledeknya.


"Tao, kuharap tanganmu baik-baik saja!" Tian Lan berbalik memandang Tao. Tao menunjukkan ekspresi puas membuat Tian Lan menyunggingkan senyum sinisnya.


"Menampar wajahnya yang begitu tebal mungkin membuat tanganmu kesakitan. Tapi sepertinya aku salah."


"Kau sangat menikmatinya bukan?" Tian Lan terkekeh melihat ekspresi wajah puas yang Tao sunggingkan.


Tian Lan, beranjak pergi. Dia berbalik sekilas dan berkata "Aku mau jalan-jalan dulu. Jangan buat seisi istana heboh dulu akan kedatanganku!"


Ia pergi begitu saja. Dihitung-hitung ia bahkan belum membayar makanannya. Ia juga tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk mengganti makanan yang tercuri seperti apa yang ia janjikan.


Di sisi lain masih di restoran Keluarga Liang ...

__ADS_1


Menteri Liang hanya bisa menghela napasnya. Ternyata bukan hanya sekedar rumor. Da Ziran memang wanita yang kejam.


"Untung saja kau tak sampai kelewatan!" Menteri Liang mengisyaratkan putrinya untuk bangun.


"Ayah ... " rengeknya.


"Wajahku ... bagaimana aku bisa menghadap ke kaisar dengan wajah ini,"


Menteri Liang hanya diam. Ia mengartikan peringatan yang Da Ziran berikan sebagai kebenciannya, mengingat kakaknya adalah permaisuri Feng Huang. Wajar jika ia tidak menyukai putrinya mengingat adanya kabar bahwa dia akan diambil untuk dijadikan selir.


"Untung saja dia tidak menebas kepalamu!" bentak Menteri Liang, ia tak ingin memikirkan masalah ini lagi.


"Lebih baik kau pulang dan merenungi perbuatanmu! "


"Dan juga, pecat pelayan yang tak sopan kepada Dewi!" imbuhnya, semua orang kini tahu walau tak tahu jelas Dewi alam mana Tian Lan itu.


___________________________________


Suara seruling beriringan dengan semilirnya angin. bulu mata yang panjang dan lentik menghiasi matanya yang terpejam.


Sayang sekali alunan seruling yang indah itu tak berlangsung lama. Tian Lan menghela napasnya sembari membuka pelupuk matanya.


"Pada akhirnya aku kembali lagi, walau dengan identitas baru," Ia menghela napasnya lagi. Lalu bangun dari duduknya dan berjalan ke ujung tebing di pinggir kota.


Ia membiarkan angin berhembus menerpa tubuhnya. Dari Sana ia bisa melihat seluruh penjuru kota.


Seringai mulai tertaut di bibirnya. Kali ini, jati dirinya tak bisa di remehkan. Mungkin ini saat terbaik menggulingkan Yun Fei dari kedudukannya sebagai selir kekaisaran.


Dimata semua orang 'Tidak suka' sudah menjadi alasan yang jelas kenapa Da Ziran mempersulit bahkan menghabisinya sekalipun.


"Permainan yang sungguh menarik, kenapa juga aku harus melewatkannya."


"Rugi sekali kalau melewatkan hal yang begitu menarik ini."


"Tian Lan mungkin bisa kau kalahkan. Tapi tidak untuk Da Ziran yang sama sekali bukan lawanmu!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...


__ADS_2