SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
AWAL PERSETERUAN


__ADS_3

❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 52


Di istana phoenix kediaman sang permaisuri ...


Kini para anggota kekaisaran tengah berkumpul menunggu bangunnya sang ibu negara tersebut.Tak terkecuali para selir di tingkatan rendah sekalipun.Tak luput juga pastinya, Selir Kehormatan Yun yang juga berdiri di tengah-tengah antara kaisar dan yang lainnya.


Raut wajahnya yang datar membuat orang tak mengerti apa ia senang dengan apa yang menimpa wanita itu?


Atau ... ia sedih bisa juga dia tak merasakan keduanya.Ibu suri yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Selir Kehormatan Yun mulai menampakkan raut wajahnya yang masam.


Selepas setelah Qi Shua menyelesaikan pembuatan pil penyembuhan untuk permaisuri.Ia sesegera mungkin menghampiri tempat dimana permaisuri terbaring dan sedikit mendongakkan badannya yang melekat pada kasus lalu membuat wanita itu menelan pil tersebut.


Selepas setelah itu wanita itu membaringkan tubuh permaisuri seperti semula.Wanita itu kini beralih berbalik ke belakang tempat dimana sang kaisar, ibu suri dan yang lainnya berdiri.Sekilas matanya menatap tajam ke arah Selir Kehormatan Yun.Tangannya mulai mengepal, sepertinya ia sebenarnya begitu menginginkan kematian seseorang pada saat itu.


Wanita paruh baya itu kini beralih menuju ke hadapan sang kaisar dan ibu suri, sedikit membungkukkan badannya namun terhalang oleh tangan rapuh milik ibu suri.Selir Yun berdecak pelan, namun agaknya suasana yang begitu sunyi dan senyap itu membuat decakannya terdengar ke telinga semua orang.Raut wajah kaisar langsung saja masam.Namun agaknya pria itu tidak ingin mencari keributan mengingat permaisuri yang belum lagi bangun.


"Apa yang kau minta sebagai imbalan?"


"Mintalah apapun itu, kami akan mengabulkannya!" lanjut ibu suri meremas pelan tangan wanita itu yang sudah agak mengeriput.


Qi Shua menghela napas leganya, dengan antusias ia menjawab"Hamba tidak menginginkan apapun itu, menyembuhkan Permaisuri Lan adalah sebuah kehormatan bagi Hamba, mengingat latar belakang beliau yang bukanlah orang biasa" tukasnya menolak dengan halus.

__ADS_1


Ibu suri sekilas tersentuh, ia merangkul Qi Shua dan mengatakan betapa berharganya Tian Lan untuknya.Ia melirik dengan ekor matanya ke arah kaisar, tatapan mata yang begitu tak mengenakkan, mengingat kegagalannya dalam menjaga wanita yang sudah ia anggap lebih dari putrinya itu.


"Tian Lan begitu berharga untukku, bahkan jika kau meminta imbalan berupa nyawaku aku dengan senang hati akan memenuhinya!"


"Dia sudah lama menderita, selalu ada saja yang iri kepadanya, terkadang aku tidak tenang mengingat begitu banyaknya kejadian buruk yang menimpanya," ibu suri melayangkan pandangannya ke arah permaisuri ia menatap dengan tatapan teduhnya.


Wanita paruh baya tersebut mulai merintikkan air matanya, sedangkan Qi Shua agaknya menatap kilas wajah ibu suri dengan tatapan jijiknya.Tak ada yang menyadarinya, sedangkan kini tatapan matanya beralih kepada Selir Kehormatan Yun.Tatapan serupa ia tujukan kepadanya, ya tatapan jijik dan merendahkan, bibirnya seolah berdecak.


Selepas setelah semua itu ...


Semua orang berkumpul di aula utama istana phoenix, kaisar dan ibu suri yang menempati kursi utama, sedangkan yang lain duduk di kursinya masing-masing.Tatapan sinis ibu suri kini melayang ke arah Selir Kehormatan Yun.Ia mulai mendengus pelan"Ck, terus saja kau bersandiwara peduli akan kondisi permaisuri!!" sembari berdecak wanita paruh baya tersebut menghentakkan gumpalan tangannya di meja.


Sontak saja semua orang menatap ke arah ibu suri dengan perasaan yang tidak nyaman.Kaisar terdiam hingga Selir Kehormatan Yun sendiri angkat bicara"Apa kesalahan Hamba Yang Mulia?" tanyanya berdalih, wanita itu kini mengerutkan keningnya tanda mulai gusar.


Sedangkan kaisar yang melihat salah seorang selirnya berani beradu mulut dengan ibundanya mulai gusar sendiri"Selir Kehormatan Yun, begitukah caramu berbicara dengan ibu suri?" tanyanya menyela keduanya dengan raut wajah yang tak kalah masam dengan ibunya.


"Aku dari tadi menahan ini, jagalah sopan santunmu agar martabatmu tetap terjunjung tinggi!" kaisar yang hampir tak bisa menahan amarahnya mulai menaikkan nada bicaranya.Sembari menunjuk-nunjukkan jari telunjuknya ke arah Selir Kehormatan Yun.


Melihat amarah sang kaisar, wanita itu lantas berlutut di hadapannya.Ia memohon ampunan atas kelancangannya.Sedangkan sang kaisar hanya menghela napas panjangnya melihat tingkah laku selirnya itu.


"Sekarang aku berpikir mungkin apa yang dilakukan oleh Permaisuri memang benar, ia perlu mengingatkan dirimu akan posisimu!"


"Sudah berapa kali kau melampaui batas kekuasaannya(permaisuri)?" tanya kaisar menekankan nada bicaranya.

__ADS_1


Suasana aula istana begitu senyap, para selir hanya diam tak berkutik.Mereka sebenarnya ingin sekali menertawakan wanita itu, bukankah dirinya bangga akan kasih sayang yang kaisar berikan untuknya? ... sekarang ia tak lebih dari bahan lelucon!


Ibu suri mulai mengeluarkan seringainya, ia tak percaya putranya itu membelanya bahkan membenarkan tindakan permaisuri yang tampak begitu menentang apapun yang berkaitan dengan Selir Kehormatan Yun.


Ia terlalu bangga akan dirinya, hingga tak sadar ia hanya seorang bebek yang tidak akan pernah berubah menjadi angsa.


"Aku pikir ia harus lebih banyak belajar dari permaisuri!" timpal ibu suri memijat pelipisnya.


Kaisar menoleh ke arah dimana sang ibu berada, ia lantas mengiyakan perkataan ibundanya itu.Ia berpikir untuk memerintahkan Selir Kehormatan Yun untuk belajar dari permaisuri.


"Untuk beberapa bulan kedepannya kau harus sering-sering mengunjungi istana phoenix, untuk mendapat didikan dari permaisuri langsung saat dia sudah pulih sepenuhnya!"


"Mengingat kau adalah pimpinan para selir, jika kau tidak mau aku bisa memberikan posisimu sebagai pimpinan selir kepada orang yang lebih layak menyandangnya!"


Seketika itu wajahnya memucat, yang benar saja lagi-lagi?


Lagi-lagi wanita itu menang darinya, tak sangka kejadian ini malah membuat kaisar makin memantapkan hatinya berpihak kepada permaisuri.Ia begitu geram, tangannya yang tertempel di karpet mulai mengepal, ia masih duduk berlutut di hadapan semua orang.


"Awas saja kau!"


"Lagi-lagi kau menang dariku!"


"Tapi apa kau tahu? ... seperti yang kau katakan, yang tertawa di akhir adalah pemenangnya dan aku pastikan kau akan menyesal telah mengibarkan bendera perseteruan denganku!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...


__ADS_2