
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 80
Tian Lan melangkahkan kakinya masuk kedalam istana setelah melewati gerbang utama. Semua orang memberi salam kepadanya.
"Ck, masih saja munafik!" cetusnya dalam hati. Ia teringat saat ia masih seorang permaisuri.
Sekilas ia melihat ke Feng Huang. Namun, perhatiannya teralihkan kepada Feng Ling. Putranya.
Ia mulai berpikir apa anak itu hidup dengan baik, ia bertanya-tanya apakah seharusnya ia membawanya pergi bersamanya?
Semua orang terkejut tak main. Mereka seolah melihat Tian Lan hidup kembali. Raut wajah Feng Huang yang seolah tak merasa bersalah membuat wanita itu geram.
Feng Ling, anak itu tak kuasa membendung air matanya. Ia seolah melihat ibunda tercintanya dalam diri Tian Lan yang kini dikenal sebagai Da Ziran.
Tak bisa disangkal kalau keduanya memiliki hubungan batin yang kuat, mengingat Tian Lan lah yang mengandung dan membesarkannya walau ia bukan anaknya sekalipun.
Tubuh anak itu ambruk di tempat, membuat semua orang sontak terkejut. Tian Lan tentu tak bisa berdiam diri, ia lantas menghampiri Feng Ling.
___________________________________________
Di kamar pangeran pertama yang berada di istana penitipan ...
Tian Lan membiarkan tabib merawat anak itu. Tubuh anak itu tak akan selemah itu, ia mulai geram.
Amarahnya memuncak ketika tabib mengatakan bahwa Feng Ling hanya kelelahan. Itu alasan yang tak masuk akal menurut Tian Lan.
"Dasar! Kau benar seorang tabib atau apa hah?"
"Lihatlah dia, jelas ada yang tidak beres!" Ia kini benar-benar geram. Tangannya mengepal, ia seolah ingin membunuh tabib itu sekarang juga.
Ia melihat wajah baru, tabib itu sepertinya baru masuk ke istana. Dengan kemampuannya yang tak memadai, jelas bahwa dia dibantu seorang yang berpengaruh untuk masuk ke istana.
Semua orang hanya diam, mereka tak bisa berkata-kata. Ibu suri meminta pelayannya memanggil Tabib Tong.
__ADS_1
Tian Lan yang sudah kehabisan kesabarannya turun tangan sendiri. Ia memeriksa kondisi putranya itu.
Sekilas ia menatap tajam kearah Yun Fei. Wanita itu berkeringat di malam yang jelas dingin kala itu.
"Dia di racuni!" Tian Lan sangat marah, ia tak bisa menahan emosinya lagi.
Daun jendela terbanting begitu pula pintu yang jelas mulanya tertutup. Semua orang lantas berlutut, Feng Huang tetap pada posisinya. Raut wajahnya tampak jelas ia tak tahu apapun.
Sedangkan ibu suri, wanita paruh baya itu berjalan mendekati bibir ranjang dengan tangan yang gemetaran. Ia sungguh tak mengira ada yang berani mencelakai cucunya itu.
"Siapa yang tega melakukan ini?" Ibu suri menggenggam telapak tangan Feng Ling sembari menangis. Orang tua itu hanya bisa menangis.
"Lihatlah betapa malangnya nasibnya, dia kehilangan ibunya karena ayahnya yang tak pecus!" Ibu suri mengeraskan rahangnya, ia sampai sekarang terus menyalahkan Feng Huang atas kematian Tian Lan.
"Ck, pria ini benar-benar membuatku muak!" Tian Lan ikut melontarkan kekesalannya. Ia kini kembali mengalihkan pandangannya ke Feng Ling.
Ia menghela napasnya, lalu berjalan kearah Yun Fei. Ia tak lagi bertele-tele. Ia meminta kepada wanita itu untuk memberikan penawar racun yang dia miliki.
"Berikan penawar racun itu kepadaku sekarang juga!" pintanya, nada bicaranya terdengar menggerikan seperti tengah mengancam.
"Apa maksudmu?" Yun Fei melupakan sesuatu. Ia bicara dengan lantang seolah membalas Tian Lan. Ia lupa yang ada di hadapannya sekarang adalah Da Ziran.
Seketika itu wanita itu sadar, tubuhnya mulai bergetar dengan hebatnya. Ia terus menyangkal ucapan Tian Lan yang mengatakan bahwa dirinya memiliki penawar racun itu.
"Apa alasanmu menuduh Selir Kehormatan Yun, Ran?" tanya Feng Huang. Ia bereaksi biasa saja seolah tak bersemangat menanggapi Tian Lan.
"Hei sejak kapan kita akrab? jangan panggil aku dengan sebutan itu!"
"Walau racunnya tak berbahaya, itu membuat tubuh Ling melemah hingga akhirnya mematikannya secara perlahan."
"Dan hal kotor seperti itu hanya terbesit di pikiran Yun Fei!"
"Yang Mulia, kenapa Anda menuduh Hamba seperti itu tanpa ada bukti?" Yun Fei merubah gaya bicaranya. Ia terdengar seperti orang yang takut tertindas.
"Kenapa Anda begitu membenci Hamba?" tanyanya sekali lagi, gaya bicaranya yang sok lemah dan sandiwaranya benar-benar membuat Tian Lan muak.
__ADS_1
"Aku bukannya menuduhmu tanpa alasan. Ada banyak alasan kenapa aku ingin membunuhmu sekarang juga ..."
"Aku tidak menyukaimu, kupikir itu alasan yang paling jelas," Tian Lan tersenyum sinis. Ia menggoreskan pedangnya di leher Yun Fei.
"Ambil botol dengan tali merah di dalam peti yang ada di bawah ranjangnya dan bawa kemari, sekarang juga!" titahnya, tatapan matanya masih melekat kepada Yun Fei.
Feng Huang mendorong Tian Lan menjauh dan melempar pedang Tian Lan hingga terhempas ke lantai. "Kita lihat saja. nanti!" Feng Huang memapah tubuh wanita itu. Yun Fei yang masih takut kedognya terbongkar itupun masih gemetar ketakutan.
"Cepat ambilkan aku penawar itu!" Tian Lan begitu geram, ia mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah Tao.
______________________________________
Di halaman istana penitipan pangeran dan putri ...
Suasana menjadi sangat hening. Feng Huang duduk di kursi dengan tangan terlipat, ia menunggu penjelasan dari Yun Fei.
Wanita itu duduk terdiam, ia kehabisan kata-kata. Ia bingung bagaimana lagi ia menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah. Ia terus mengelak jika ia yang meracuni Feng Ling.
Tian Lan berdesir kagum, ia hampir merasa puas. "Kau tidak punya anak, dan putra musuh bebuyutanmu adalah putra mahkota ..." ucapnya menggantung. Ia berjalan mendekat, ia berjongkok mendekatkan wajahnya kearah Yun Fei.
"Bagaimana bisa wanita busuk sepertimu membiarkan anak kakakku yang jelas-jelas kau benci itu naik tahta" bisiknya. Tian Lan lalu mendorong bahu wanita itu hingga tubuhnya roboh.
Tian Lan bangun dari posisinya berjalan melewati Yun Fei dan dengan sengaja menapakkan kakinya di atas punggung tangan Yun Fei.
"Jangan sampai aku turun tangan menghukum wanita itu!"
"Jika aku sampai turun tangan ... tidak mungkin kalau dia tak berakhir tragis di tanganku!" kencamnya. Seringainya membuat bulu kuduk Yun Fei berdiri.
Ia beranjak menjauh dari semua orang, sekilas berbalik melihat kebelakang. "Tao, ikut aku!"
"Mungkin Feng Ling sudah siuman," lanjutnya. ia mengalihkan pandangan kedepan lagi sesaat kemudian.
"Jangan panggil aku Da Ziran jika tak bisa menyingkirkan mu, Yun Fei"
Dengan langkah cepat dan wajah penuh kemenangan ia berjalan meninggalkan halaman istana.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...
...~❄️我爱你❄️~...