
❄️SNOW FLOWER❄️
EPISODE 45
Dari balik tirai putih, angin berhembus dengan kencangnya menerpa wajah Selir Kehormatan Yun, ia tengah berpikir keras hingga selarut ini?.Sejak bebas dari hukuman ibu suri, dia tak pernah menampakkan batang hidungnya itu.
Bahkan tak memberi salam kepada permaisuri juga ibu suri tiap pagi hari.Ibu suri hanya diam, acuh tak acuh ia tak merasa rugi jika wanita busuk itu tak lagi menyapanya, ia malah senang takkan ada lagi yang merusak pagi indahnya di masa tuanya ini.
Selir kehormatan Yun mendesah, menyesalkan sikapnya akhir-akhir ini yang mengacuhkan masalah Harem, ia berpikir jika dia terus begini, maka keinginannya untuk melengserkan permaisuri dari tahtanya akan menjadi angan-angan saja.
Ia membuang mukanya dari balik tirai, ia berjalan ke arah ranjangnya dengan langkah kaki yang berat.Matanya sayu ia mulai berpikir entah berapa lama lagi?
Permaisuri mulai bangkit dan mulai mengumpulkan dukungan kaisar dan lainnya yang akan selalu mengiringinya di setiap langkahnya.Sedangkan dirinya, ia masih saja terkunci di dalam istananya yang hampir menjadi istana dingin.Ia bahkan sudah hampir kehilangan pengaruhnya setelah ibu suri menjatuhkan hukuman kepadanya.
"Wanita tua itu harus segera di singkirkan!, aku tidak sudi jika seorang wanita tua bangka sepertinya menjadi batu penghalang bagiku!"
Namun, sesaat ia tersadar.Jika dia bisa menjatuhkan dua burung dengan satu batu ... kenapa ia tak melakukannya?
Ide busuk apa yang terbesit di pikiran wanita itu?
__ADS_1
Tidak, tidak ada yang tahu! apa yang tengah di pikirkan oleh wanita itu!
Sedangkan di halaman paviliun bunga kediaman Master Liliang ...
Angin yang sama berhembus kencang ... menerpa rambut panjangnya yang indah bagai benang perak itu.Dengan di temani sang purnama, ia memainkan suling bambunya dengan nada yang merenyuhkan hati siapapun yang berlalu lalang di sekitarnya.
Di tengah sepi dan heningnya malam, di kala suasana yang begitu renyuh ini permainan serulingnya begitu menenangkan hati dan pikiran.Sesaat ia terhenti, pria itu mendesah"Ah, penantian ku ini memang seharusnya terbalaskan!"
"Walau kau bersandar kepada sang kaisar, aku harap kau masih mau bersandar kepadaku pula!"
Liliang menatap jauh ke arah bulan, dia memang bisa mengendalikan malam namun ... untuk perasaannya yang hampir tak tertahankan itu, mungkin akan sulit untuknya.Ia rela meninggalkan tahtanya, ia rela meninggalkan kehidupannya yang sempurna tanpa celah tersebut hanya untuk seorang gadis polos yang kabur dari dunianya.
Sesaat ia pikir akan membawa gadis itu kembali, atau membiarkannya menjalani kehidupan yang menurutnya bisa membuatnya bahagia.Namun ... menyadari pada kenyataannya ia hanya akan mendapatkan penderitaan yang tak berujung membuat hatinya pilu.
Liliang melihat bayangan Tian Lan di bulan, di tengah bintang-bintang, di tengah gemerlapnya malam.Ia bagai Dewi yang cacat, walau semua kesucian masih melekat erat pada dirinya, wajahnya yang sayu memperlihatkan sisi gelap darinya yang begitu menusuk hati.
Dalam wajah tanpa ekspresi ini, Liliang lagi-lagi mendongakkan kepalanya jauh memandang ke arah langit yang gelap.Ia menyesalkan dirinya yang tak bisa menjaga tawa gadis pujaannya itu.Remang-remang wajah Tian Lan mulai memudar dari pandangannya.Ia mulai memejamkan matanya, menghela napas dan berkata"Dunia baru menantimu gadis kecilku!"
Di sisi lain di dunia yang berbeda ...
__ADS_1
Di balik cermin air, alam bunga yang sebelumnya menjadi tempat bernaung Sang Dewi Bunga dan gadis kecilnya.Bunga-bunga yang sudah lama mengering kembali merekah, angin panas yang berhembus entah sejak kapan bisa menyejukkan hati.Tampak peri bunga agung yang tengah terduduk di bawah naungan pohon rindang, tempat dimana Lan kecil bergelayutan dan tempat dimana ia menghabiskan waktu sepanjang harinya.
Sudah lama mereka berteduh di bawah pohon itu, pohon itu adalah satu-satunya yang tak mengering saat kematian putri Sang Dewi tersebut.Pertanda pemimpin mereka suatu saat akan terlahir kembali.Jiwa yang telah menyatu telah mengembalikan alam bunga sama seperti saat pertama kali kelahirannya.
"Tian Lan telah kembali!" seru mereka.
Dengan deraian air mata mereka bersujud mengutarakan tanda terimakasihnya yang mereka tujukan kepada kaisar langit.Juga tak luput Sang Dewi Bunga yang sudah lama pergi meninggalkan mereka.
Mereka bersyukur setelah sekian lama, ke-enam alam telah kembali utuh, dengan kembalinya sang penguasa alam bunga ini, bahkan tanpa kehadirannya di tanah ini, ia memberikan kehidupan yang telah lama hilang di alam yang hampir mati ini.
Senyuman mulai terukir di bibir penghuni alam bunga ini, jiwa yang telah lama hilang telah kembali, alam bunga mulai terhiasi dengan beribu-ribu bunga yang mekar di akhir musim semi tahun ini.Kembalinya Tian Lan berdampak besar bagi mereka yang telah sekian lamanya hidup di dunia yang serasa mati ini.
"Tian Lan!, kau kembali, aku tak salah jika beranggapan kau bisa mendengar deru alam bunga yang telah lama berada di ambang kehancuran ini," dengan segenap hatinya ia mendongak dan menatap ke arah langit yang begitu luasnya, menyerukan ungkapan hatinya yang telah lama terbendung.
Sekian lamanya penantian panjang mereka, akhirnya mereka mendapati kehidupan barunya.Mereka berharap bisa bertemu dengan Dewinya namun ... sadar alam dewa-dewi dan manusia sangatlah berbeda.Dewa-Dewi pada dasarnya tempatnya di 5 alam, sedangkan manusia tempatnya adalah dunia fana.Bumi tempat dimana para manusia bertahan hidup.Sedangkan di alam ini dewa-dewi hidup dengan tujuan menyelaraskan kehidupan di enam alam ini.
Siapa sebenarnya Tian Lan?
Apa hubungannya dengan alam bunga?
__ADS_1
BERSAMBUNG ...
...~❄️我爱你❄️~...