
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 68
3 tahun kemudian ...
Tian Lan yang selama ini 2 tahun terakhir mendekam di balik dinding istananya sendiri. Wanita itu mulai membuka pelupuk matanya. Dari balik kelambu ranjangnya, tampak Hong Lian yang bersiap untuk menyambutnya. Pagi ini ia mandi dan berdandan. Aneh, sejak beberapa tahun terakhir ia bahkan tak pernah memakai riasan wajah maupun pakaian yang layak.
"Beliau mau kemana?" hal inilah yang pertamakali terbesit di pikiran Hong Lian. Ia menyisir rambut panjang Tian Lan tak sadar dirinya mulai melamun.
Di kediaman ibu suri ...
Tampaklah Yun Fei berlutut di hadapan seorang wanita paruh baya. Ya ... yang tak lain ibu suri sendiri pastinya. Wanita itu meremas telapak tangannya dan menggigit bibir bawahnya menahan amarahnya, mengingat wanita itu adalah ibu suri. Ibu dari sang kaisar.
"Bisa-bisanya, berita tak mengenakkan ini kudengar langsung dari selir utama Kekaisaran Dinasti Han!"
"Kau anggap aku apa, hah?" bentakan keras membuat seisi ruang tamu kediamannya gemetar ketakutan. Wanita itu hampir kehabisan kesabarannya.
"Apa Kau tahu? Lu Bing San adalah putri Kekaisaran Dinasti Han. Dia akan bisa membawa kesejahteraan jika Feng Huang menikahinya sebagai selirnya!"
"Dan kau bilang apa? bisa-bisanya kau mengatai dia 'Mandul' hah."
"Aku tahu jika kau hanya iri kepadanya. Karena kau bukan lagi seorang ibu, aku jadi meragukan mungkin saja putramu itu mati karena memiliki ibu tak pecus sepertimu!" cemoohnya. Ia menunjuk sekilas kearah Yun Fei.
"Mungkin jika bukan karena kasihan, Huang'er tidak akan menjadikanmu seorang selir kehormatan. Jujur saja, Lu Bing San jauh lebih pantas darimu untuk menduduki posisi sebagai kepala selir daripada dirimu!"
__ADS_1
"Jika kau berani menyinggungnya sama saja kau cari mati! coba saja kau menghinanya lagi, kupastikan kau akan terbuang walau kau putri menteri sekalipun!"
Wanita paruh baya tersebut terus mencaci maki Yun Fei, juga membandingkan dirinya dengan selir yang baru saja direngkrut . Sebagai seorang selir, Lu Bing San (Yang kemudian dikenal dengan salah seorang selir kehormatan) yang menyandang gelar 'Rong' kemuliaan, ia adalah wanita yang di muliakan diantara sekian banyaknya selir di harem.
Dari balik pintu, seorang wanita mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam. Masuk di antara kedua wanita yang atmosfernya sudah memanas sedari tadi.
"Yang Mulia permaisuri memasuki ruangan!"
Penyambutan itu sukses merenggut simpati ibu suri. Ia seakan lupa dengan urusannya dengan Yun Fei yang bahkan belum ia selesaikan. Wanita paruh baya tersebut lantas bangun dari duduknya. berjalan cepat menuju Kearah Tian Lan. Ia merentangkan kedua tangannya berniat untuk memeluk menantu kesayangannya itu.
Keduanya saling berpelukan. Dengan tangan yang terasa berat, Tian Lan, wanita itu mengusap punggung rapuh ibu suri dengan telapak tangannya sekilas. Lalu pada detik berikutnya ia melepaskan pelukannya.
Ia sekilas membungkuk dan memberikan salamnya kepada sang ibu suri. "Salam ibu, semoga panjang umur!" lanjutnya. Ia menegakkan kembali punggungnya setelahnya.
Ibu suri menarik tangan Tian Lan kearahnya. Sembari bertukar kabar. Dan mendoakan sesama agar selalu diberkati. Tian Lan kini melirik ke belakang punggung ibu suri. Ia lihatnya Yun Fei yang masih pada posisi yang sama seperti sebelum kedatangannya. Ia tersenyum sinis "Tinggal berapa lama lagi ia harus berlutut?"
"Ada masalah apa ibu?" tanyanya seolah tak tahu. Ia sebenarnya ingin memanas-manasi wanita yang berlutut di belakang punggung sang ibu suri. Ibu suri menyisih kebibir karpet. Ia membiarkan Tian Lan melihat dengan jelas Yun Fei yang kini tengah berlutut merenungkan kembali kelakuannya dan tabiat dirinya yang begitu buruk.
"Kuakui kau pandai berlagak lemah dan tertindas. Bukankah kau beberapa tahun terakhir ini berusaha mati-matian untuk menjaga sikap dan martabatmu mu dihadapan Feng Huang? Aku tahu itu, mungkin air mata buaya mu itu mempan kepada Feng Huang. Tapi ... itu tidak akan berpengaruh terhadap ibu suri!" Tian Lan memandang rendah Yun Fei. Ia melangkahi wanita itu dan sengaja menginjakkan kakinya dipunggung tangan wanita itu dengan sengaja.
Di belakangnya, ibu suri memberikan pandangan yang tak kalah tajamnya dengan putrinya. Ia sudah menganggap Tian Lan sebagai putrinya. Mengingat ibundanya, Sang Dewi Bunga tiada beberapa tahun silam untuk memberkati Negeri Tang dengan kekuatannya. Mengembalikan masa depan negeri ini dengan menyelamatkan nyawa Feng Huang yang saat itu masih di posisinya sebagai seorang putra mahkota. Yang nantinya menjamin kehidupan negeri ini pada dekade berikutnya.
Yun Fei meringis, ia masih diam tak bergeming. Hingga seseorang yang ia nantikan datang dan melihat perlakuan yang ia terima walau ia menyandang gelar kepala selir. Tak sangka target utamanya untuk saat ini adalah naik pangkat menjadi selir utama.
Seperti yang diketahui, posisi ini tak kalah kuat dengan tahta permaisuri. Dengan kata lain, ia ingin bersaing dengan kekuatan dan pengaruh yang tak kalah besarnya dengan Tian Lan.
__ADS_1
"Apa yang kau tunggu? Feng Huang tidak akan memenuhi permintaanmu untuk datang kemari.
"Kau pikir dirimu lebih penting daripada urusan negara? Yang benar saja, sadarlah ia hanya merasa kasihan namun sayang sekali, Ck. Orang yang ia kasihani hanya memanfaatkannya untuk kepuasan hatinya sendiri!"
Kata-katanya begitu menusuk. Yun Fei mengangkat alisnya mengarahkan pandangannya ke arah Tian Lan yang kini duduk dengan nyamannya di kursi utama bersama ibu suri. Dan mendiamkan dirinya yang sudah berlutut begitu lama.
"Jika kau menganggap aku adalah lawan yang remeh, kau salah besar.
"Jika itu benar sekalipun, kau tak akan bermain trik kotor denganku!"
Tian Lan meneguk secangkir teh yang telah tersaji di hadapannya. Ia mulai berbincang-bincang dengan ibu suri tanpa menghiraukan Yun Fei yang masih ada di antaranya.
Di istana phoenix ...
Istana yang dulunya ramai akan tawa para dayang yang berlalu lalang. Juga tempat dimana orang menjadikannya tempat sebagai pelipur lara. Kini bagai istana dingin yang begitu sepi dan senyap. Kini semua berkumpul di ruang tamu istana menemani permaisurinya menikmati angin kebebasan setelah lama mengurung diri.
Suasana disana begitu tenang, seolah ketenangan itu mengalir begitu saja walau semua itu adalah hal baru. Dulu jika ada waktu seperti ini. Tian Lan akan membuat lelucon kecil atau kekonyolannya yang membuat canda tawa semua orang memenuhi ruangan yang sama.
Tian Lan menatap makanan yang ada di hadapannya. Lama, sangat lama sejak kali terakhir ia memakan makanan yang enak. Makanan enak dari dapur istana.
Wanita itu mengambil sepasang sumpitnya hendak menyantap apapun yang ada di hadapannya sekarang ini. Namun ....
"Yang Mulia kaisar memasuki ruangan!" Penyambutan itu membuat Tian Lan terhenti. Ia meremas sumpitnya hingga terbelah ditelapak tangannya yang putih.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...~❄️我爱你❄️~...