
❄️SNOW FLOWER❄️
EPISODE 49
Subuh ..., angin yang berhembus masih saja dingin, wanita itu mengerenyitkan alisnya.Ia gosok-gosokkan pahanya pada sebuah benda tempat ia membenamkan wajahnya.Entah kenapa wanita itu merasa nyaman-nyaman saja.Secuil kesadarannya mulai terkumpul, ia berpikir entah sudah lama ia tak memeluk gulingnya.
Ukuran yang hampir seukuran dengan tubuhnya, walau sedikit lebih besar, membuat wanita itu mulai merasakan kenyamanan.Kini tangannya yang sudah hampir membeku menyelinap ke dalam selapis kain yang membungkus kulit hangatnya.
Merasa ada hawa dingin yang merasuk ke tubuhnya kaisar tersadar.Ia mengucek- ngucek matanya ... hingga pandangannya semakin jelas.Kini pria itu menatap sesosok wanita yang tubuhnya sepucat, seputih dan sedingin mayat, yang tidak lain adalah istrinya sendiri.Sekilas pria itu tersenyum, ia raihnya tengkuk wanita itu dan menggesernya agar lebih mendekat ke arahnya.Wanita itu kini begitu nyamannya berada di dekapan hangat sang kaisar.Ia menggesekkan area wajahnya yang lembut itu ke dada bidang milik sang kaisar.
"Sepertinya kau benar-benar kedinginan"
"Maaf, jika aku tak mengunjungi dirimu akhir-akhir ini!"
Mendapati permaisurinya tengah tertidur pulas sang kaisar memilih untuk kembali tidur.
.
.
.
.
Angin malam berhembus kencang seperti biasanya, membawa hawa dingin yang membuat permaisuri tersadar akan tubuhnya yang mulai menggigil.Ia mendengus pelan.Lalu menoleh dan mendapati sang kaisar yang tertidur pulas di atas kasur yang sama dengannya.
Dengan begitu hati-hati dan waspada ... wanita itu membuka selimutnya yang sedari tadi membungkus tubuhnya dengan kehangatan dari dinginnya angin malam.Kaki polosnya kini menuruni ranjangnya, dengan langkah kaki pelan wanita itu memakai pakaian yang agak tebal dan diam-diam keluar dari kamarnya.
KRIEEET ...
TAP TAP TAP TAP ...
__ADS_1
Suara langkah kaki pelan yang berdecit itu mengiringi kesunyian, hari mulai subuh namun ... suasana sekitar masih begitu gelapnya seperti tengah malam.Kaki wanita itu kini mengarah menuju ke arah istana bambu.Dengan mengendap-endap ia melangkah mendekati pintu hendak masuk ke dalamnya.
KRIEEET ...
Kini biji mata permaisuri menatap lekat ke arah Yumei, adik pelayan pribadinya, dan di sisinya pula tampak Nu Shen dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri tempat dimana permaisuri berdiri untuk menyambut kedatangannya.
"Salam Yang Mulia!"
Permaisuri terdiam, ia melirik ke arah Yumei yang masih terbaring di atas kasur.Nu Shen mengikuti pandangan wanita itu dan mendapati tatapan mata sang permaisuri tertuju kepada adiknya yang tengah tertidur.Tanpa basa-basi lagi Nu Shen berlutut dan berkata"Maaf Yumei tidak bisa menyapa Anda Yang Mulia, mohon maafkan ketidak berdayaannya!" timpal Nu Shen gelagapan.
Permaisuri menghela napas panjangnya, lalu menjulurkan telapak tangannya sebagai tumpuan untuk Nu Shen berdiri.Nu Shen dengan ragunya menerima uluran tangan permaisuri dan bangkit dari posisinya.
"Untuk apa?, dia tidak perlu memberikan salam ataupun menyapaku!"
"Aku datang untuk melihat keadaannya!, dan berbicara denganmu juga!" lanjut wanita itu menjelaskan.
Nu Shen terkesan, entah seberapa besar kasih sayang yang ia tujukan kepada pelayannya ini.Dia agaknya tidak pernah di perlakukan seperti ini, terlintas di pikirannya perlakuan Selir Kehormatan Yun yang begitu jauh berbeda dengan permaisuri.Wanita itu kini berpikir memang tak salah jika wanita bertabiat seperti permaisuri ini pantas menjadi ibu negara ketimbang Selir Kehormatan Yun yang bertindak sembrono itu.
Tak luput juga wanita itu kini mengeluarkan sebuah kantong pengharum dari lengan bajunya, ia serahkan pula itu kepada pelayannya.Wanita itu mengulurkannya seraya berkata"Ini juga!, letakkan di dalam perunggu dupa!"
"Aku harap adikmu ini cepat sembuh!" lanjut wanita itu, kini biji matanya menatap teduh ke arah Yumei yang masih terbaring lemas di kasur lantai.
Sekembalinya dari istana bambu ...
Permaisuri duduk di pinggir kolam, ia membawa semangkok makanan ikan dan menaburkannya di permukaan air.Sejenak ia termenung, lalu menatap langit yang masih gelap.Mungkin sekitar 2 jam lagi matahari baru terbit.
Ia memandang bayangan dirinya yang terpantul di atas air, sekilas ia mengagumi tampang wajah permaisuri yang tertampang di atas air ini.Walau bersanding dengan lotus merah yang mengambang di sisi yang sama.Wajah wanita itu agaknya pada dasarnya mengibaratkan seluruh keindahan hingga apapun yang bersanding dengannya seolah tak bisa di bandingkan dengannya.
"Aku akui wajahmu ini memanglah sangat indah!" gumam wanita itu ...
Srakkk ... Srakkk ...
__ADS_1
Dari balik pepohonan, seorang berjubah hitam dengan cadar di wajahnya melompat dari satu pohon ke dinding-dinding istana.Wanita yang menyadari adanya pergerakan itupun lantas langsung berbalik dan bangun dari posisinya untuk mencari sumber suara itu.
Di bandingkan sebelumnya ... saat ia pertama kalinya memasuki raga permaisuri, ia belum bisa merasakan Indra yang wanita ini miliki.Hingga saat ia siuman kini, ia seperti orang yang berbeda.Perbedaan itu tak hanya di rasakan oleh orang lain tak luput pula dirinya juga.
Pandangannya begitu luas mencapai cakrawala, pendengaran yang begitu baik, bahkan ia bisa merasakan pergerakan dari tempat yang terbilang cukup jauh dari tempat ia berdiri.Wanita itu berjalan menyamarkan langkah kakinya menuju perbatasan istananya.Dengan wajahnya yang serius, ia berjalan mendekati sumber suara.
Settt settt ...
Biji mata wanita itu bisa melihat dengan jelas sesosok orang berjubah hitam berlalu lalang di sekitarnya dengan kecepatan yang hampir membuatnya tak terlihat saat melintas.Namun agaknya permaisuri bisa melihatnya dengan jelas.Wanita itu mengerutkan alis dan menyipitkan matanya agar pandangannya semakin jelas, kini ia berteriak"Siapa di sana?"
"Cepat tunjukkan dirimu kedepan hadapanku!" Bentaknya sekali lagi.
Sesaat pria itu mendarat dari atas genteng, ia mulai melangkahkan kakinya mendekati permaisuri, dari balik punggungnya permaisuri merasakan adanya pergerakan pun membalikkan badannya dan ...
Syuuuut ...
Suara pisau bintang yang melesat ke arah permaisuri, dengan sergapnya wanita itu menghindar namun di saat yang bersamaan ...
Srinngg ... Jblebb ...
Di saat bersamaan pria berjubah hitam itu melesatkan beberapa pisau bintangnya secara bersamaan tak sampai sedetik setelah ia meluncurkan pisau bintangnya yang pertama.
"Stttt" permaisuri memegangi lengannya yang tergores lalu beralih pula ke dadanya tempat dimana pisau bintang tertancap, wanita itu meringis menahan rasa sakitnya.
Dengan nada bicaranya yang gemetaran permaisuri masih saja melontarkan pertanyaan yang sama"Siapa kau sebenarnya!!" dengan nada rendah namun penuh tekanan dan tatapan matanya yang menusuk wanita itu bertanya sekali lagi"Siapa kau?, apa mau mu?"
Pria itu menatap permaisuri dengan tatapan merendahkan dan tanpa berkata sepatah katapun ia terbang melesat ke atas genteng dan pergi meninggalkan permaisuri yang duduk tersungkur.
Wanita itu mencabut pisau yang melekat di dadanya dan melemparnya tak jauh dari tempat ia berada.Darah mulai mengalir, pandangannya kini mengabur bersamaan kepalanya juga terasa berat dan berangsur-angsur pandangannya menghitam.
BRUKKK ...
__ADS_1
BERSAMBUNG ...