
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 85
Tian Lan terdiam di ujung kursi yang ia duduki bersama dengan Feng Huang. Ia diam dengan tampang datarnya. Seolah tak melihat Feng Huang di sisinya, ia pergi tanpa berkata sepatah katapun ataupun melemparkan tatapan kepada pria itu.
"Ck, benar-benar wanita yang angkuh," ucapnya, ia menghembuskan napasnya dengan cepat bersamaan dengan seringai yang mulai tertaut di wajahnya.
Selagi menatap punggung Tian Lan, Feng Huang lagi-lagi teringat akan permaisurinya. Dengan tatapan sayu dia melihat tempat dimana Tian Lan berdiri tadinya. Kini tempat itu kosong setelah Tian Lan menghilang begitu saja dari pandangannya.
Ia merasa hampa, ia mulai bertanya-tanya apakah peri buahnya benar-benar tiada seperti yang orang ketahui. Ia berpikir setidaknya dengan melihat Da Ziran, ia tahu Tian Lan masih hidup dan tengah menjalani hari-hari bebasnya.
Ia berharap Da Ziran adalah Tian Lan, mengingat dirinya bukanlah wanita biasa. Tak sulit bagi Tian Lan memalsukan kematiannya dan identitasnya bukan hanya sebagai permaisurinya, dia juga putri Dewi Bunga dan yang memiliki beberapa identitas lainnya yang tidak orang ketahui.
"Andai benar kau Tian Lan, aku marah setiap kali melihatmu."
"Hanya beranggapan kau adalah Tian Lan, aku merasa di tipu olehmu," Feng Huang memijat pelipisnya. Ia lalu bangun dan bangun dan beranjak dari tempat duduknya.
Sementara itu ...
Di atas bukit pinggir sungai ...
"Feng Huang"
Liliang menatap pria itu dari kejauhan, ia sekilas tersenyum lalu menenggelamkan pikirannya bersamaan semilirnya angin.
_____________________________________________
"Nona, hamba sudah mengemas barang-barang Anda. Mau pergi sekarang?" tanya Tao, dia sudah mengepak barang-barangnya.
Tak banyak, Tao hanya mengemasi pakaiannya dan kebutuhannya yang lain. Sedangkan Tian Lan, wanita itu sudah menyimpan semua yang ia butuhkan di kantong kecil yang tertaut di ikat pinggangnya.
Di jalanan pasar ...
Hari itu turun salju, Tian Lan berjalan menelusuri jalanan pasar. Anehnya ia berpakaian selayaknya seorang pria.
Mengenakan penutup kepala, payung di tangannya dan juga Tao dari belakang mengikuti langkahnya. Tian Lan melihat ke sepanjang toko yang berjajar di pinggir jalan.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Tao mempercepat langkahnya hampir menyamai majikannya.
Tian Lan diam dan TAKKK ...
Seorang wanita dari lantai dua melemparkan sebuah kantong berukuran sedang. Tian Lan menangkapnya dengan satu tangan lalu mendongak melihat ke empu kantong yang ia tangkap.
__ADS_1
"Ah, dia melihat ke arahku," ucap si empu kantong kegirangan.
Ia menggoyang lengan wanita lain yang sedang bersamanya. Tian Lan menyunggingkan senyum paksanya dan memberikan kantong yang ia bawa kepada Tao.
Di sisi yang sama, Xuan Zhanshi mengawasi Tian Lan dari dekat. Ia menyesap tehnya dan memandangi Tian Lan dari kedai teh yang tak jauh dari tempat Tian Lan berdiri.
"Memakai apapun dia selalu menawan," pujinya, pria itu memalingkan wajahnya dan lanjut menikmati tehnya.
Ia tahu, jika memandangi wanita itu lebih lama lagi ... dia pasti menyadari kehadirannya.
"Aku ingin membeli sesuatu," ucapnya tanpa menoleh.
Tao mengangguk dan terus mengikuti Tian Lan dari belakangnya. Mereka mampir ke sebuah tempat batu mulia, ia hendak naik ke lantai atas. Seorang penjaga toko menghentikannya.
"Apa Anda punya kartu anggota?" tanya pria itu sopan.
Tao menyela, ia dengan sergapnya mengatakan. "Kami tidak punya, apa kau akan menghentikan kami?" Tao berbicara tanpa berbasa-basi.
Pria itu awalnya ragu, ia sekilas melihat kearah Tian Lan. Ia agak takut, tapi ia tidak bisa membiarkan Tian Lan ke atas maupun melarang mereka ke atas.
Tian Lan diam, lalu berbalik menekan pria itu dengan auranya. Tao menyela, ia lantas berbalik bertanya. "Jika kami tidak punya, apa kau mempunyai keberanian menghentikan kami?"
Pria itu menyunggingkan senyum canggungnya dan menjawab. "Jika kalian tidak memiliki kartu anggota, maka sesuai peraturan kami tidak bisa mengijinkan kalian ke lantai atas," pungkasnya menjelaskan dengan sopan.
Tao mengerenyitkan dahinya, ia lantas membalas. "Mari kita lihat apa kau punya keberanian untuk menghentikan tuanku." ucapnya dengan nada bicaranya yang terdengar begitu sok.
"Apa Anda kenalan Tuan muda?" tanyanya. Pria itu langsung mengalihkan topik pembicaraan.
Tian Lan dengan nada lirih menjawab, "Panggil saja dia!"
Pria itu mengangguk dan beranjak memanggil empu toko. Pria itu bergumam. "Apa dia orang istana? bisa mati kalo aku menyinggungnya."
Tak lama ...
Seorang pria muda berjalan mendekat dan menyapa Tian Lan. Pria itu terlihat berwibawa, parasnya juga melengkapi tampilannya.
"Apa yang Anda perlukan tuan?" tanyanya sopan, sekilas ia melihat wajah Tian Lan dari balik kain tudungnya yang tersibak.
Pria itu terkagum, ia bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana bisa ada pria secantik itu? Bahkan ia lebih cantik daripada wanita sekalipun.
"Bisakah kau membiarkanku naik?" tanya Tian Lan tidak pakai basa-basi.
Pria itu lagi-lagi terkagum, ia baru tahu seorang pria memiliki suara yang jernih. Tanpa sadar ia mengangguk, Tian Lan menoleh ke arah pelayan yang tadinya menyegatnya dan menatap sinis.
"Kalau begitu aku harus naik, pelayanmu sudah membuang waktu berhargaku," pungkasnya, wanita itu akhirnya berjalan melewati pria itu dan mulai menaiki anak tangga menuju ke atas.
__ADS_1
Pria itu berbalik menatap pelayannya, melayangkan tatapan mata yang erat. Di sangkanya si penjaga toko mengira dirinya bakalan dipecat. Ia masih mencoba meyakinkan dirinya sendiri, setidaknya dia tak bersikap kasar kepada Tian Lan.
"Anu, tuan ... " ucapnya gak karuan, keraguan melandanya.
Pria itu tersenyum secerah mentari, lalu menepuk bahu bawahannya dan berkata. "Lain kali biarkan dia naik, biarkan dia mengambil barang ditoko."
"Dilihat dari segi manapun, dia bukanlah orang biasa ... jangan sampai kau menyinggungnya," imbuhnya sembari tersenyum manis.
.
.
.
.
Di lantai atas, pemandangan yang di suguhkan benar-benar membuat mata berbinar. Begitu banyak batu mulia yang begitu menyilaukan mata dan pastinya dengan harga yang melambung tinggi.
Tatapan Tian Lan langsung ditarik oleh sebuah batu kecil berwarna merah muda. Ia berjalan mendekat kearah dimana batu itu di tempatkan.
Seorang pelayan menghampirinya dan mulai melayani Tian Lan yang hendak membeli. "Aku ingin batu ini!" ucapnya enteng, suasana hatinya tengah bagus-bagusnya.
Pelayan itu menyunggingkan senyum canggungnya, dan menjawab. "Maaf tapi batu ini sudah ada yang memesan,"
Tian Lan langsung meluruskan pandangannya kearah sang pelayan. Sekilas mengingatkan pelayan itu agar memberikan apa yang ia mau.
"Apa dia sudah membayar? Kalau tidak biarkan aku memilikinya!" balas Tian Lan ketus.
"Untung saja aku datang lebih awal, atau seseorang akan mencuri milikku," sahut seorang pria, pelayan itu memberi salam kepada pria itu.
Dia terlihat seperti anak seorang pejabat atau semacamnya, dilihat dari raut wajahnya yang angkuh dan dingin pria itu sukses menarik perhatian banyak orang.
"Kau belum membayarnya, bagaimana bisa kau menyimpulkan itu milikmu?" timpal Tao memutar bola matanya meremehkan lawan bicaranya.
Diluar dugaan, siapa sangka cibiran Tao langsung menyulut emosi pria itu. Pria itu mulai menggunakan koneksinya.
"Tetap saja, aku sudah memesannya jauh-jauh hari," ucapnya nyolot.
Tian Lan terkekeh, sepertinya ia terlalu menilai tinggi pria yang tengah ada di hadapannya. "Jauh-jauh hari? Aiyoo berapa lama kau mengumpulkan uang untuk membelinya?"
"Kukira kau hanyalah tuan muda kaya yang sudah biasa menghamburkan uang," ucapnya, lagi-lagi wanita itu terkekeh.
"Alangkah baiknya kau menggunakan uangmu untuk bermain di rumah bordil daripada membeli batu mungil ini," imbuhnya sembari mendekatkan wajahnya ke pria itu.
"Pasti itu lebih menyenangkan bukan?" Tian Lan menyeringai, samar-samar pria itu melihat bibir mungil Tian Lan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...
...❄️我爱你❄️...