
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 64
Tian Lan meringis, kewanitaannya terasa berkedut. Matahari sudah menyingsing sedari tadi. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamarnya. Tak ada seorangpun, bahkan Feng Huang sepertinya sudah pergi sedari tadi untuk menghadiri rapat dewan.
Wanita itu menuju ke bibir ranjang, lama ia duduk diam di sana. Menengadahkan dan menyapukan pandangannya menatap ke atas langit-langit kamarnya.
"Cih, sepertinya aku harus mandi sekarang. Mengingat tadi malam membuatku jijik!" cetusnya, ia menggosok-gosok badannya yang terdapat beberapa tanda kepemilikan yang Feng Huang buat. Wanita itu menggosoknya dengan kasar, tak peduli jika itu menyakitinya.
___________________________________
Ia berendam cukup lama di dalam bak berisikan air hangat di kamar mandinya. Ia cukup menikmati apa yang ia lakukan sekarang ini. Wanita itu memejamkan matanya lalu berulang kali menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam air. Ia mengucek matanya membiarkan pandangannya mulai kembali jelas, ia sudah mulai bosan.
Sebulan kemudian ...
Di istana utara, kediaman Pangeran Hui. Sore kala itu begitu ramai, wajar bukan pesta kalau tidak ramai. Feng Hui menghela napasnya, ia kini begitu bosan setelah menyaksikan beberapa kelompok penari yang secara khusus di undang untuk memeriahkan pesta ulang tahunnya. Setelah lewat tarian ke empat, ia berdiri dari tempatnya. Semua orang lantas terkejut, Kini semua pandangan tertuju kearahnya.
"Ada apa?" Tanya Feng Huang yang tempat duduknya bersebrangan dengan pria itu.
Feng Hui diam sejenak, ia melihat keluar ruangan. Dan ia pun menjawab. "Aku ingin keluar sebentar, kakak lanjutkan saja minumnya," jelasnya, selepas setelah menyelesaikan perkataannya, pria itu berjalan keluar dari aula istananya menjauhkan dirinya dari kerumunan.
"Aaaaaaaaaaaaaaa, kalau aku tak segera pergi wanita tua itu (ibu suri) akan menjodohkanku entah dengan gadis mansion mana lagi. Kenapa wanita itu begitu cepat menemukan gadis lagi setelah aku menolaknya kali terakhir," Feng Hui mengacak rambutnya kesal.
Pria itu berjalan cukup jauh, ia baru sadar bahwa dirinya memasuki kebun persik di perbatasan antara istana utara dan harem kaisar. Sesaat pria itu merasakan ketenangan hingga suara seruling bambu yang begitu menenangkan hati menariknya berjalan di jalanan tepi sungai.
Seketika itu matanya terbelalak, ia lihatnya sesosok wanita berpakaian selayaknya warna bunga persik. Wanita yang tak lain Tian Lan itu berada di antara pepohonan persik yang hampir tak berbunga, semuanya sudah gugur, bunga itu berguguran di depan mata wanita itu hingga kelopak bunga yang terakhir.
__ADS_1
Feng Hui sesegera mungkin menghampiri wanita yang begitu menyegarkan indra penglihatannya, ia berjalan setengah berlari menuju ke arah Tian Lan sebelum wanita itu beranjak dari tempatnya lebih jauh lagi. "Tunggu!" sahutnya tak jauh jarak diantaranya.
Tian Lan berbalik menoleh ke belakang, ia dapati seorang pria yang rupawan. Dalam sekali tatapan wanita itu tahu dia bukanlah orang biasa. 'Mungkin pejabat?'
Feng Hui berjalan maju mendekat kearahnya. Pria itu tak memalingkan tatapannya dari Tian Lan hingga tersisa jarak yang tak jauh lagi diantaranya. "Kita bertemu lagi, Xin Tian!" pria itu masih saja mengingat nama itu setelah setengah tahun yang lalu.
Sekilas Tian Lan kebingungan "Xin Tian?" ia sejenak berpikir. Begitu sialnya ia bertemu dengan pria itu sekali lagi. Mengingat pertemuan sebelumnya ia pergi secara diam-diam saat kaisar menghampirinya (Di episode 12 "PANGERAN HUI").
"Siapa sebenarnya pria ini, jika aku ketahuan mungkin aku di kira selingkuh dengannya"
"Kenapa sih pake acara ngenalin diri pake nama itu. Kenapa kagak bilang aja kalo aku Tian Lan. permaisuri!"
Tian Lan terus menggerutu, tak sadar Feng Hui yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Sekarang baginya, yang paling terpenting adalah, bagaimana cara agar segera lepas dari pria yang satu ini. Lebih anehnya lagi, disaat-saat seperti ini, otaknya sama sekali tidak bisa di ajak kerjasama.
Detik, demi detik. Beberapa menit telah berlalu dan Tian Lan masih diam tak bergeming. Ia berbalik hendak meninggalkan pria itu sendirian namun ... GRAAAPPP ... Tangan kekar pria itu dengan sergapnya menarik tubuh jakungnya kembali. Kini wajah Tian Lan terbenam di dada bidang milik Feng Hui
Wanita itu sontak terkejut dengan apa yang ia lihat. Mulutnya ternganga dan tatapan matanya mengikuti Feng Hui yang mendarat di atas tanah.
"A ... a apa yang kau mau? kenapa kau ... " ucap Tian Lan terbata-bata.
Kini langkah kaki Feng Hui makin tak berjarak dari Tian Lan. Wanita itu hanya diam, ia tak tahu apa niat pria yang ada di hadapannya itu.
Feng Hui berlutut di hadapannya, bukan untuk memberi salam maupun menghormati Tian Lan yang bertahtakan sebagai permaisuri di dinasti ini. Lebih tepatnya pria itu berlutut untuk menyatakan cintanya. Ya cinta.
Bagaimana reaksi Tian Lan, yaaa wanita itu pastinya terkejut. Apa kalian bakalan sama kayak Lan?
Bagaimana perasaan kalian jika ada seorang pria yang nembak kalian secara langsung, tapi kalian gak punya perasaan yang sama. Tolak atau terima. Atau juga ... kalian minta waktu buat berpikir?
__ADS_1
Komen dibawah ok!
Kembali ke cerita!
Tian Lan tak bisa berkata-kata. Kini ia diam memandangi wajah rupawan Feng Hui yang identitasnya sebagai seorang pangeran belum ia ketahui. Wanita itu hendak menolak. Namun ... sepertinya pria itu tak menerima penolakannya.
Feng Hui nekat, ia kini menarik Tian Lan kedalam dekapannya. Wanita itu lagi-lagi tak bisa berbuat? banyak. Ia menyesal untuk kesekian kalinya karena tak membawa pelayan bersamanya.
Namun dari kejauhan ... Selir kehormatan Yun tampak begitu bahagianya seolah ia telah berhasil menyingkirkan batu sandungannya. "Feng Hui!" kaisar dengan raut wajahnya yang mengerikan itu berjalan dengan langkah cepatnya. Feng Hui melepaskan pelukannya, kini ia dengan raut wajahnya yang berseri itu menyapa sang kakak.
"Apa ini?" tanya Feng Huang dengan nada bicaranya yang rendah namun penuh dengan tekanan. Auranya menjadi begitu mencekam.
"Ini gadis yang aku ceritakan kepadamu! yang aku lihat di pasar ibukota!" jelasnya. Pria itu kini memandang aneh sang kakak. Sedangkan Tian Lan, wanita itu sebenarnya takut tapi lebih memilih untuk tidak memperlihatkannya.
Kaisar kini berjalan mendekati istrinya, Ia belainya wajah mulusnya itu dengan punggung jemarinya. Hal yang pertamakali terbesit di pikiran Feng Hui. "Menjijikkan, beraninya ia menggoda wanitaku" gerutunya.
Feng Huang menoleh ke belakang menatap rendah ke arah adiknya yang kini berwajah masam itu. "Wanitamu? Coba kau tanya kepadanya, siapa prianya!" goda Feng Huang, kata-katanya itu membuat Tian Lan makin terpojok.
Feng Hui menatap Tian Lan dengan tatapan penuh harapan. Namun raut wajah wanita itu kini menggambarkan kecemasannya.
"A, a .... a aku ..."
"Dia adalah permaisuriku, dan apa kau bilang dia wanitamu?" sela kaisar yang hampir kehilangan kesabarannya.
"A, apa ..."
BERSAMBUNG ...
__ADS_1
...~❄️我爱你❄️~...