SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
YUMEI


__ADS_3

❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 82


Di paviliun bunga ...


Tian Lan memandang wajahnya yang terpantul di cermin. Selagi menyisir rambut majikannya, Tao bencengkrama dengan Tian Lan. Tak banyak yang mereka bahas, Tian Lan yang biasanya berwatak dingin itu hari ini memiliki suasana hati yang bagus.


"Suasana hati Anda baik hari ini, apa tidur Anda nyenyak Yang Mulia?" tanya Tao, sembari menelusuri rambut Tian Lan yang panjang.


"Aku habis bersenang-senang tadi malam bersama Liliang," balasnya. Jawaban Tian Lan sempat membuat Tao terkejut tak main. "Bersenang-senang?" pikirnya.


Tian Lan mendengus, ia lalu berbalik memandang Tao yang masih memegang sisir rambut di tangannya.


"Iya, jangan berpikir yang tidak-tidak," Tian Lan menyipitkan matanya menatap Tao.


"Aku tidak punya hubungan sedalam itu dengan pria itu, lagian tadi malam aku cuma mampir ke istana dingin melihat sesuatu yang menyegarkan mataku," pungkasnya. Tian Lan berbalik lagi dan melihat ke cermin.


Tao terdiam, ia mengerti apa yang Tian Lan maksud. Ia melanjutkan menyisir rambut majikannya.


.


.


.


Tian Lan berdiri merentangkan tangannya, ia melihat kearah Tao, dan lantas bertanya. "Apa baju ini terlalu mencolok?" tanyanya sembari tersenyum sinis.


Tao menyunggingkan senyum canggungnya. Ia berpikir aneh jika melihat pakaian polos yang dikenakan sang majikan. "Mencolok? yang benar saja!" sahut Liliang dari luar jendela.


Pria itu memejamkan matanya, dan merebahkan tubuhnya di atas dahan pohon persik di luar jendela.


"Cih, aku tidak pernah tahu di istana ini ada yang memelihara kera albino," balas Tian Lan, ia kembali keruang ganti dan mengganti jubah polosnya.


"Kera? Albino?" Liliang bangun dan melihat kedalam kamar Tian Lan. Wanita itu sudah pergi, Tao terlihat menahan tawanya dan memalingkan wajahnya setelahnya.


"Cih, kera albino apanya."


"Aku ini rubah berekor sembilan, Aku adalah dewa malam ... beraninya dia mengataiku kera!" kencamnya. Dari balik sekat ruang ganti Tian Lan melambaikan tangannya tanda tak peduli.


Liliang menghela napasnya, Ia turun dari pohon dan masuk ke kuil yang letaknya berdekatan dengan paviliun bunga.


"Wanita yang aneh, jangan bilang ia benar-benar menghadiri peringatan kematiannya sendiri," Pria itu terkekeh.


Hari ini adalah hari dimana alasan kedatangannya. Hari peringatan kematian permaisuri Tian Lan, kematiannya sendiri.


Tian Lan berjalan berdampingan dengan Feng Huang untuk menghadap makam sang permaisuri. Setelah melewati begitu banyak anak tangga, kini ia sampai didepan makamnya sendiri.


Ia sekilas melihat kesamping. Merah, selir kekaisaran yang satu itu benar-benar berani mengenakan pakaian mencolok di hari peringatan kematian permaisuri.

__ADS_1


Semua perhatian teralihkan kepada selir itu. Hampir tak ada siapapun yang mengenalnya, marga ataupun tingkatannya. Yang jelas, wanita itu bernyali.


"Aiyaaa, saudariku ... kenapa kau memakai pakaian yang begitu mencolok" Salah seorang selir tingkat 3 angkat bicara. Sepertinya dia mereka adalah saudari.


Semua orang lantas mulai membicarakan wanita itu. Dalam sekejap hal itu menyulut amarah dari ibu suri. Wanita paruh baya tersebut lantas menghampiri tempat wanita itu dan hampir menendang wajahnya.


Tian Lan dengan sekejap mata langsung muncul menghadang ibu suri yang amarahnya hampir tak terkendali. "Beraninya kau!" Ibu suri membentak wanita itu dengan suara khas nya yang serak.


"Yang Mulia, Hamba Yumei memohon ampun yang sebesar-besarnya" wanita itu tampak memohon dan berlutut untuk menunjukkan kesungguhannya.


Feng Huang tampak acuh tak acuh, ia melayangkan tatapan mata yang begitu menusuk dan meminta pelayan menyeretnya.


"Sebentar, wajahnya tak asing" Tian Lan merasa familiar dengan wanita itu. Ia sekilas berpikir dan ...


"Dia ... bukannya adik Yuwei yang aku rawat dulu" Tian Lan tersadar.


Semua orang ricuh, banyak dari mereka masih sempat membual dan mengutuk Yumei yang kini dirudung masalah.


"Dia pasti habis kali ini" batin Yuque sepupu dari Yumei.


Ia berjalan mendekat kearah Yuque, lalu menginjakkan kakinya di atas punggung tangan wanita itu.


"Aaaa, sakit" rintihnya, ia mengerutkan alisnya tanda mulai gusar. Tak sadar siapa yang telah menginjakkan kakinya di punggung tangannya.


"Beraninya kau!" bentakan itu mengukir senyuman sinis dibibir Tian Lan


Ia terlalu sibuk menikmati tontonan yang telah ia buat. Dalam sekali tatap Tian Lan tahu isi hati Yuque. Sedangkan Yuque sendiri tak sadar ia mendorong dan membentak Tian Lan.


"Kalian!" Tian Lan menatap kedua Kasim yang hendak menyeret Yumei.


Keduanya melepaskan lengan Yumei dan menghadap kehadapan Tian Lan dengan kepala tertunduk. Tian Lan menatap Yuque dengan tampang dinginnya dan berkata. "Bawa wanita ini dan beri beberapa pukulan, terserah kalian mau pukul berapa banyak!" titahnya, semua orang lantas terkejut dengan apa yang Tian Lan katakan.


"Jika wanita itu menyinggungnya dan pelayan tidak menghukumnya dengan benar apa yang akan terjadi?"


"Cih, biarkan saja!"


"Dia begitu sombong, dia pantas menerimanya."


"Dia kena karmanya."


Banyak dari para selir menggerutu puas. Terutama selir tingkat rendah, mereka hampir gila menghadapi wanita yang kurang waras itu.


Kedua Kasim itu masih ragu. Tian Lan mengerutkan alisnya tanda kegusarannya. "Lakukan atau aku yang akan memukulmu!"


Kasim itu saling bertatapan memberikan isyarat. "Jika dia memukul kita, aku jamin nyawa kita akan melayang saat itu juga,"


"Mari lakukan!"


Kedua Kasim tersebut menyeret Yuque menyingkir dari pandangan Tian Lan. Ibu suri hanya bisa diam melihat Tian Lan ikut campur tangan dalam urusan ini.

__ADS_1


Tian Lan berjalan melewati barisan selir dan mengulurkan tangannya kepada Yumei. Semua orang terkejut tak main, wanita rendahan itu bagaimana bisa menarik simpati Da Ziran yang terkenal dingin dan bengis.


"Apa ini, kenapa kau menyelamatkannya?" Feng Huang dengan berkerut kening bertanya dengan nada rendah.


Tian Lan tak menggubris perkataan Feng Huang, ia sibuk membantu Yumei bangun dari posisinya.


"Mendiang kakakku menyukai wanita ini," jelasnya, semua orang hampir tak menyangka.


"Apa maksudmu?" timpal ibu suri.


Tian Lan berjalan maju memapah tubuh Yumei yang masih lemah. Dan membawanya kehadapan Feng Huang dan ibu suri mengikuti mereka dari belakang.


"Ini adalah nyawa yang diselamatkan oleh kakak, jika membiarkan dia mati di harem mu seperti kakakku dia akan sedih" jelasnya, ia tampak sengaja melebih-lebihkan apa yang dirinya lakukan hanya untuk menyembuhkan Yumei.


"Adik seorang dayang Selir Kehormatan Yun yang diselamatkan oleh Tian Lan, permaisurimu." Secara tak langsung Tian Lan menyalahkan Feng Huang atas kematian dan penderitaan yang ia alami.


Feng Huang kini mengingatnya. Ia hanya diam dan tak bisa berkata-kata lagi. Dan memutuskan tak menjatuhi hukuman yang tadinya ia perintahkan.


"Apa kau masih tidak rela?" tanya Tian Lan melihat ekspresi wajah Ibu suri.


Ibu suri hanya diam, wanita renta itu tak berani berkata banyak di hadapan Da Ziran.


"Wanita yang aku hukum tadi sengaja menyuruh Yumei memakai pakaian seperti ini," Tian Lan masih bisa membela Yumei.


"Bukannya mengingatkan selir baru hal yang dilarang di istana ini malah mengajarinya hal yang sesat" cetus Tian Lan mulai kesal. Ia merubah ekspresinya saat menatap wajah Ibu suri lebih dekat.


"Senyumannya begitu menggerikan" batin ibu suri saat Tian Lan menyunggingkan senyumannya kepadanya.


Tian Lan berjalan melewati wanita paruh baya tersebut dan upacara peringatan pun di langsungkan sesuai rencana awal.


Setelah upacara selesai ...


Di paviliun selir ...


Yumei menjadi topik pembicaraan setelah Tian Lan menyelamatkannya. Tak ada yang menyangka wanita yang selalu berada di belakang punggung Yuque adalah wanita yang pernah mendapat perlakuan khusus dari permaisuri.


Yumei terdiam di penghujung taman paviliun. Lama wanita itu termenung, ia merasakan sensasi yang begitu familiar. "Da Ziran ..." gumamnya. Tak sadar senyum manis terukir indah dibibir wanita itu.


Ia termenung cukup lama dan ...


"Yang Mulia kaisar tiba!" Penyambutan itu membuyarkan lamunannya. Seorang pelayan berlari kearahnya dan berkata.


"Yang Mulia kaisar mencari Anda, Nona," ucapnya, ia hampir kehabisan napasnya.


"Mencariku?"


"Untuk apa?"


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


...~❄️我爱你❄️~...


__ADS_2