
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 71
Tian Lan sekilas berpaling kebelakang. Ia mengalihkan pandangannya tak lama setelahnya. "Aku tahu, seharusnya aku membuat keputusan ini sejak dulu.
"Aku begitu penakut. Aku juga seorang ibu, aku tidak bisa meninggalkan putraku begitu saja" jelasnya. Ia kecewa pada dirinya sendiri.
Peri Bunga Agung mendongakkan kepalanya. menengadahkan wajahnya menatap punggung Tian Lan. Ia melihat punggung yang rapuh. Tatapan mata Tian Lan yang merenyuhkan hati.
"Lantas kenapa tidak membawa pangeran bersama Anda?" tanyanya. "Kami akan merawat pangeran dengan baik di sini daripada di bawah sana," lanjutnya. Tian Lan membalikan badannya melihat yang lain mulai mengangguk mengiyakan perkataan Peri Bunga.
"Dia punya kewajiban disana." Tatapan Tian berubah sendu. Ia juga punya seorang ayah disana, Ia memaksakan diri agar tidak bersikap egois.
Seketika keheningan melanda. Peri Bunga Agung menatap kembali ke wajah Tian Lan yang sayu. "Kami begitu bersyukur Anda sudah kembali!" tukasnya. Walau begitu tetap saja putri mahkota mereka sudah kembali. Sejak kepergiannya alam ini serasa mati. Putri kedua (Tian Ling) juga memutuskan berguru kepada putra mahkota kerajaan langit.
Selama ratusan tahun, alam bunga mengalami kekosongan tahta. Peri Bunga Agung selaku pemegang jabatan tertinggi mau tak mau harus menggantikan Tian Lan. Namun wanita itu lebih memilih untuk menunggu Tian Lan yang hampir tak ada harapan baginya untuk kembali.
"Maaf, mungkin aku akan mengecewakan kalian untuk kesekian kalinya!" Semua orang heran dengan apa yang keluar dari bibir mungil Tian Lan.
"Aku akan memulihkan kekuatanku. Untuk saat ini aku bahkan tak bisa melindungi diri sendiri apalagi alam bunga. Beri aku sedikit waktu!" tuturnya. Lama semua orang terdiam hingga persetujuan dari semua orang mulai terdengar ke telinganya.
_________________________________________
Di akademi Langit Biru ...
Di atas medan tempur, semua orang berkumpul menunggu ketiga master senior datang membuka pertarungan di awal musim semi tahun ini. Seorang wanita bertudung putih melangkahkan kakinya yang jenjang diantara kerumunan.
BRUKKKKK
"Apa kau tak punya mata? hah?" hardik seorang pria. Pria itu membersihkan pakaiannya dan meninggalkan wanita yang ia tabrak begitu saja.
__ADS_1
"Lihat master sudah datang bersama guru besar!" sorak semua orang melihat secercah cahaya menyambut kedatangan segerombolan orang itu.
"Ah, nona Anda baik-baik saja?" tanya Tao pelayan yang ia bawa dari kediamannya.
Tao mengulurkan tangannya kepada majikannya dan membantunya untuk berdiri. Wanita itu tersenyum samar, menerima uluran yang tersodor kearahnya.
Aura yang terpancar dari master senior begitu kuat. Tao yang kekuatannya tak sampai ke tahap terampil pun kesakitan. Ia meringis namun tetap menyunggingkan senyumnya kepada nonanya.
Aura mencekam menyelimuti atmosfer kala itu. Tian Ling yang ada di antara master itu menyadari kehadiran sosok yang lebih kuat darinya. Ia mempercepat gerakannya dan mendarat di atas medan.
Ia melihat ke sekelilingnya. Pandangannya tertaut lengket kepada sesosok wanita bertudung putih yang tampak menjauh dari kerumunan.
"Salam Guru Besar!" serempak semua murid akademi Langit Biru memberikan salamnya menyambut kedatangan Tian Ling.
Semua orang membungkuk terkecuali wanita bertudung putih tersebut. Seorang master melihatnya, ia geram sekaligus menyombongkan dirinya sendiri. "Hei, gadis bertudung putih di barisan belakang, Beraninya kau tak menyambut Guru Besar!"
"Kau hanya gadis kecil. Jika kau berlaku seperti itu apakah sikap aroganmu sepadan dengan kemampuan yang kau miliki?"
Semua orang mendorongnya bahkan menyeretnya maju. Wanita itu tetap diam namun tak lagi saat segerombolan pria disana mulai menarik tubuhnya.
Ia sekejap berada di depan Tian Ling, dengan kemampuannya untuk teleport. Semua orang terkejut jika ia ada di tingkatan rendah tak mungkin bisa melakukan hal semacam teleport ataupun yang lainnya.
"Siapa kau?" tanya Tian Ling. Rasa penasaran mulai menggerogotinya.
Wanita itu tetap diam tak bergeming, ia masih pada posisinya yang tegap. Ia seolah tak menghiraukan orang yang bersorak menuntutnya untuk berlutut di hadapan guru besar mereka.
"Nona!" sahut Tao, ia sedari tadi berusaha menerobos menyusul nonanya.
"Tao?" Tian Ling tersontak kaget. Ia lantas beralih memandang kearah wanita bertudung putih dihadapannya yang kini berlutut. Seorang master menendang bagian belakang betisnya untuk membuatnya terduduk.
"Minta maaflah sekarang juga!" titah Wei Keran wanita yang tadinya menendangnya. Tian Ling punya perasaan tak enak. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri. Diluar dugaan wanita itu benar-benar menerima uluran tangan Tian Ling
__ADS_1
Hawa dingin mulai dirasakan Tian Ling sesaat setelah tangannya bersentuhan. Perasaan tak asing, 'Begitu familiar!'
"Dewi, Anda tidak apa-apa?" tanya Tao, gadis itu lantas langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Dewi?"
"Aduh, mulutku ini bagaimana bisa kelepasan!"
Tian Ling langsung membuka tudung wanita itu, ia lihatnya tatapan mata yang begitu ia dambakan. Tian Ling langsung terduduk, ia berlutut dihadapan Tian Lan sang kakak yang sudah lama tak ia beri salam.
"Maaf atas kelancangan Ling!" ucapnya mengiringi gerakan kakinya.
Suasana menjadi hening seketika. Banyak dari mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita itu. "Salam, kakak. Dan selamat datang.
"Maaf, baru datang kakak malah mengalami kejadian kurang mengenakkan seperti ini!" Tian Ling menundukkan kepalanya. Ia masih tak sanggup menatap wajah Tian Lan.
Semua orang geger, 'Kakak?' Hal itulah yang pertamakali terbesit di pikiran semua orang tentang Tian Lan. "Kau berdirilah!" titah Tian Lan kaku, ia bahkan tak mengulurkan tangannya untuk membantu adiknya itu bangun tidak seperti yang Tian Ling lakukan tadi.
Tian Ling bangun dengan keadaan kepalanya yang masih tertunduk. "Aku datang untuk pertama kalinya ke akademi ini. Apa kau tidak memanduku untuk berkeliling?" tanyanya, Tian Lan tengah mencairkan suasana kala itu.
"Yang Mulia, biar hamba lihat dulu luka Anda!" tegas Tao, mengingat junjungannya menerima perlakuan yang kasar dari Wei Keran. Tian Ling sekilas melirik kearah wanita itu. Tatapan tajamnya mengatakan 'Minta maaf sekarang juga atau aku akan membunuhmu!'
Wei Keran lantas berlutut meminta kemurahan hati Tian Lan agar berkenan memaafkan kelancangannya. Tia Lan berpaling darinya. "Siapkan satu kamar yang jauh dari kerumunan untukku!" titahnya, Ia pergi setelahnya.
"Seperti yang kakak katakan, akan segera adik siapkan!" jawabnya, ia tetap menjawab meski tahu kakaknya itu tidak akan menghiraukannya.
Tangannya melambai mengisyaratkan bawahannya untuk menyiapkan keperluan Tian Lan. Sedangkan yang lain masih saja diselimuti rasa takut. "Jika kalian masih sayang dengan nyawamu maka 'Jangan sekali-kali menyinggung nyonyaku!" Hamba undur diri putri!" Tao beranjak dan menyusul langkah Tian Lan yang sudah berada agak jauh dari tempat ia berdiri.
"Walau kau kembali bersikap dingin kepadaku, setidaknya kau akan lebih tegar akan kemalangan yang menimpamu di dunia fana"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
...~❄️我爱你❄️~...