SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
DARAH BURUNG BIRU


__ADS_3

❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 84


Di Taman istana langit ...


"Apa maksudmu Feng Huang mengincar darah burung biru?" Xuan Yu berkerut kening.


Tian Ling menghela napasnya, yang kini ia pikirkan adalah apakah tujuan Tian Lan kembali kesana hanya untuk mencari sensasi atau memberikan darahnya.


Darahnya bisa menyelamatkan Feng Huang dari dampak api kaca yang ada di tubuhnya. Tapi setengah jiwa pemilik darah akan menghilang. Itu sama saja seperti memberikan nyawanya sendiri.


Tian Ling takut kakaknya itu akan bertindak mengikuti kata hatinya dan tak memikirkan dirinya sendiri. Walau ia dendam kepada Feng Huang sekalipun, tak menjamin bahwa dirinya tidaklah masih mencintai pria itu.


"Kau takut kakak mengambil langkah bodoh dan menyerahkan darahnya begitu saja? Yang benar saja," Xuan Yu mengibas-ngibaskan tangannya sembari terkekeh.


"Kau juga sama Ling, bukankah kau telah memberikan darahmu kepadanya? agar dia bisa hidup tanpa rasa sakit yang akan menggerogotinya?"


Raut wajah Xuan Yu berubah sendu, ia melirik kearah Tian Ling. Pria itu tersenyum teduh, senyumannya meninggalkan kesan yang menyedihkan.


Tian Ling mengerenyitkan dahinya, ia melihat kebelakang dan mengedarkan pandangannya menyapu seluruh tempat sekitar. Ia merasakan kehadiran seseorang selain dirinya dan Xuan Yu.


Xuan Yu menepuk pundak Tian Ling, ia menghela napasnya sembari menyunggingkan senyuman sinisnya.


"Xuan Zhanshi," bisik Xuan Yu mendekat ke pendengaran Tian Ling. Wanita itu dengan berkerut kening meninggalkan taman istana dan pergi menuju kediamannya.


Xuan Yu menoleh kebelakang, dia mendongak ke arah atap gazebo dan berkata. "Turunlah, Ling'er sudah pergi," pintanya. Nada bicaranya seolah sedang menertawakan.


Xuan Zhanshi turun dari atas seolah jatuh dari langit, menghampiri sang kakak dan menatapnya dengan tatapan sinis.


"Kenapa melihatku seperti itu? tanganku mulai gatal ingin mencolok matamu!" Xuan Yu memutar bola matanya meremehkan Xuan Zhanshi. "Aku harus menjemput Lan'er," ucapnya bersikukuh.


Xuan Yu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, ia merasa canggung. "I itu ... " jawabnya ragu-ragu.


"Ah ayolah, apa dia bodoh? Bahkan ayah tidak bisa menentang keinginan Tian Lan masa bocah tengik ini memaksa"


Xuan Zhanshi menekuk wajahnya dan menatap sang kakak dengan tampang datarnya. Xuan Yu hanya bisa menghela napasnya dan enyah dari hadapan adiknya yang sedang tak ingin debat.


"Benar-benar keras kepala seperti Tian Lan, tak heran orang gila sepertinya jatuh cinta kepada wanita kejam seperti Tian Lan."


"Jika dia tidak gila seperti bocah itu, hanya orang buta yang masih melihat Tian Lan sebagai wanita," lanjutnya mengumpat.


Xuan Yu hanya bisa tersenyum hambar melihat tingkah adiknya yang keras kepala itu. Sudah tau Tian Lan tidak ingin dia ikut campur urusannya malah makin nekat saja.

__ADS_1


_____________________________________________


Mentari mulai muncul dari balik bukit. Membuat garis cakrawala jingga yang memperindah suasana pagi dari balik daun jendela kamar Tian Lan.


Wanita itu memalingkan wajahnya dari cahaya matahari yang menyelinap masuk kedalam kamarnya, dari sela-sela kelambu ranjangnya.


Tian Lan mulai menggerutu, ia bangun dari tidurnya. Duduk dengan keadaan mata terpejam, ia benar-benar tidak ingin beranjak dari kasurnya yang nyaman.


"Kau sudah bangun?" sahut seorang pria dari balik kelambu ranjangnya. Suaranya terdengar familiar, Tian Lan mengucek matanya dan menyingkap kelambu ranjangnya.


Wanita itu berdesir geram, lantas ia berteriak memanggil Tao dan mengabaikan Xuan Zhanshi yang membawa se baskom air untuk Tian Lan membasuh wajahnya.


Tao dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri majikannya yang berkerut kening. Tian Lan menatap tajam kearah baskom yang Zhanshi bawa, Tao dengan canggung menyunggingkan senyum dan membuka telapak tangannya.


Di ambilnya baskom air tersebut dan ia bawa menuju kehadapan Tian Lan. "Hamba bantu Anda membasuh wajah, Yang Mulia," Tao sekilas menunduk, sembari membasahi handuk yang ada di bibir baskom yang ia letakkan di atas meja.


Tian Lan menyeka wajahnya dengan handuk kering untuk mengeringkan wajahnya. Ia menatap sinis kearah Xuan Zhanshi.


Telunjuknya menunjuk ke arah lantai, mengisyaratkan pria itu berlutut dan memberikan penjelasan.


Zhanshi hanya bisa menurut, pria itu berlutut dan memberikan salamnya kepada Tian Lan.


"Salam Yang Mulia," ucapnya memberi salam.


"Kenapa kau kemari? Apa aku memintamu?" tanyanya sekaligus. Wanita itu sungguh tidak sabaran.


Sembari berkerut alis Tian Lan menunggu jawaban Xuan Zhanshi yang sedari tadi terdiam tanpa sepatah katapun. Tian Lan bangun dari duduknya, lantas berjalan ke pintu dan hendak keluar dari kamarnya.


Ia sejenak berhenti di ambang pintu, wanita itu tengah memperingatkan pria itu untuk kesekian kalinya. "Aku tidak akan menyerahkan diri begitu saja, Feng Huang harus kehilangan banyak hal untuk merenggutnya dariku," Tian Lan berbicara tanpa melihat kebelakang.


Ia pergi begitu saja, sedangkan Tao masih terpaku hingga punggung Tian Lan mulai menjauh dari pandangannya.


Ia menghela napasnya, lalu berjalan kearah Zhanshi dan menawarkan uluran tangannya. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Pria itu tak menghiraukannya dan bangun dari posisinya dengan tenaganya sendiri.


"Aku akan menjaga Yang Mulia, Anda bisa kembali!" Tao menarik uluran tangan yang tadinya ia berikan dengan raut wajah yang aneh.


Xuan Zhanshi menatap sendu kearah mentari yang sudah naik. Ia teringat saat-saat yang ia habiskan bersama Tian Lan. Walaupun itu sudah lama berlalu, pria itu berandai-andai.


Jika saja, jika saja waktu bisa diulang kembali. Andai waktu tak begitu cepatnya berlalu dan meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam waktu sesingkat itu.


"Andai saja."


"Biarkan aku tetap disini, aku tidak akan sering muncul dihadapannya," pintanya, ia lalu pergi dengan wajahnya yang muram.

__ADS_1


Tao hanya bisa diam menatap punggung bidang Xuan Zhanshi menjauh dari jangkauannya. Tak sadar air matanya mulai merintik. Raut wajahnya yang datar tak bisa menjelaskan keadaannya.


Air matanya membuat kesannya makin rumit, Tidak ada yang lebih mengerti daripada dirinya sendiri apa yang Tao rasakan.


"Bagaimana bisa Yang Mulia menerima perlakuan cinta pria yang begitu adiknya cintai?" Air matanya mengering, akan tetapi gadis itu masih terpaku di tempat ia berdiri.


Di sisi lain ...


Di tengah hamparan air tawar, Tian Lan menginjakkan kakinya di bebatuan sungai. Ia memainkan seluringnya dengan nada sendu. Alunannya merenyuhkan hati dan mengalir di pikiran siapa saja yang mendengarnya.


Tak sadar, air mata menggenang di sudut matanya. Ia hampir saja menahannya, tapi kali ini tangisannya benar-benar tak bisa di tahan lagi. Ia menjauhkan seluringnya dari bibir mungilnya.


"Sebenarnya apa yang kuinginkan? Apa yang kudapat dengan kekejamanku?"


"Saudariku menyukainya, lagi-lagi karena ku," umpatnya, ia tengah mengumpat dirinya sendiri.


Tian Lan menatap jauh keatas, menatap langit yang mendung. Ia masih berusaha menahan air matanya, walau tahu itu tidak ada gunanya.


"Haruskah kau menyerahkan darahmu untuk menyelamatkan pria itu?"


"Aku tahu kau hanya wanita bodoh, tapi haruskah kau melakukan ini? Tidakkah kau lebih menyayangiku daripadanya?" Tian Lan melihat kebawah, ke arah pantulan wajahnya di atas air. Wanita itu menangis lagi.


Tian Lan sadar, tak peduli seberapa kerasnya dirinya terhadap Tian Ling ... dia tetaplah adiknya. Separuh kekuatannya, jiwanya bahkan waktu hidupnya ia korbankan atas nama cinta.


Xuan Zhanshi membuatnya teringat akan apa yang Tian Ling alami dalam ingatannya. Itulah alasan mengapa dirinya merasa marah jika melihat pria yang merampas kehidupan adiknya.


Tian Lan berdiri sangat lama, bersamaan dengan air, angin hampir mendinginkan tubuhnya. Ia berdiri di tengah hujan melanda. Mencoba menyamarkan air matanya dengan air hujan.


Terlarut, ia mulai terlarut kedalam kesedihannya. Wanita itu kembali terpuruk setelah berusaha menguatkan hatinya.


Wanita kejam berdarah dingin yang dikenal semua orang, pada dasarnya hanyalah seorang wanita dengan hati yang rapuh dan kurang kasih sayang.


Dari belakang kesedihan juga melandanya. Feng Huang membawa payungnya menghampiri tempat Tian Lan berada.


Ia berniat menghalau air yang terus-menerus menerjunkan dirinya ketubuh Tian Lan.


Tian Lan menoleh kebelakang, ia lihatnya wajah sendu Feng Huang. "Kau ..."


Feng Huang tersenyum hangat. ia berkata "Menangis lah jika itu bisa mengurangi bebanmu, Dan cobalah tersenyum demi orang yang kau sayangi!"


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...

__ADS_1


__ADS_2