
Zicko terlebih dahulu sampai di pos penjagaan depan. Tangannya bersiap dengan pistol kecil yang selalu dia bawa untuk berjaga jaga. Dengan penuh waspada memandang ke sekelilingnya sembari menekan tombol keyboard komputer di atas meja di depannya mencari rekaman cctv dari lokasi kejadian.
" Apa semua kamera cctv tidak ada masalah dan bisa merekam semua kejadian dengan baik pak.. ? " bertanya ke salah satu penjaga yang tertinggal di tempat itu.
" Bisa Tuan. Kebetulan setiap pagi Tuan Axel selalu mengingatkan untuk mengontrol cctv di semua tempat dan mengganti kalau ada yang kurang baik.. "
" Bagus.., terima kasih. "
" Apa ada kabar terbaru dari Axel.. ? " sambung Zicko.
" Belum ada tuan.., terakhir tiga hari yang lalu tuan Axel hanya kesini sebentar untuk melihat semua peralatan dan perlengkapan kita.. "
" Oke, baiklah.. "
Merekapun meneliti bergantian setiap rekaman kejadian dari sejak kemarin malam. Tidak satupun tanda tanda mencurigakan yang dapat di temukan.
" Boleh aku lihat paman..? " Laras yang baru sampai pun merasa penasaran dan ingin mencoba untuk memeriksa rekaman cctv juga.
" Tidak ada apa apa disitu.. "
" Aku hanya penasaran saja paman.. Boleh ya.. " melempar senyum dan lirikan khasnya yang membuat Zicko langsung mengalah, membiarkan Laras dengan kemauannya.
RRRRRRTTTTT...RRRRTTTTT...
Terdengar bunyi getaran ponsel dari saku celana Zicko.
" Ya, bagaimana.. ? "
[[ " Clear tuan, sudah aman.. " ]]
" Sudah kamu pastikan di semua sisi tempat itu.. ? "
[[ " Sudah tuan. Kebetulan tuan Axel datang bersama beberapa anggota kepolisian dan langsung menyisir tempat ini. " ]]
" Siapa yang menembak..dan ditembak tadi..?" Zicko sedikit mengernyit kebingungan.
[[ " Tuan Axel saat ini sedang menuju ke tempat Anda tuan.. Katanya semua nanti akan disampaikan sendiri oleh beliau.. " ]]
" Oke, terima kasih. " Zicko segera menutup pembicaraan dengan anak buahnya.
Tak berapa lama Axel dan beberapa polisi pun datang menghampiri Zicko yang sudah tidak sabar menunggu. Dalam hatinya sangat khawatir dengan keselamatan Laras. Takut apabila persembunyiannya diketahui oleh Yudha.
" Beberapa kawanan perampok lepas dari tawanan polisi dan berhasil masuk ke wilayah Anda.." Axel langsung saja berbicara setelah sampai di hadapan Zicko. Dua orang anggota kepolisian juga sudah sampai dan berdiri di samping Axel. Mereka mengiyakan ucapan Axel. Sementara Laras masih tetap fokus dengan pengamatannya sambil mendengarkan.
" Dimana mereka ? "
" Ada bersama petugas yang lain Tuan, mereka langsung dibawa ke tempat yang seharusnya. " jawab seorang petugas polisi.
" Apa ada yang terluka? Tadi saya dengar ada suara tembakan.. "
" Salah satu dari mereka terkena tembakan di kaki kanannya saat berhasil merebut pistol dari salah satu anggota kami dan berusaha kabur sampai ke tempat ini.."
Zicko mengangguk angguk kan kepalanya berusaha mengerti. Matanya memandang ke arah Axel yang sedang fokus mengutak atik sebuah tablet berukuran sekitar 8" di dampingi Laras disampingnya.
" Mohon maaf atas kelalaian kami Tuan..dan sudah mengganggu ketenangan Anda.."
__ADS_1
Zicko mengangguk tersenyum dan segera mempersilahkan kedua anggota polisi tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya tetapi mereka menolak karena harus melanjutkan tugas.
Setelah sedikit berbasa basi merekapun berpamitan.
*****
" Sudah kamu selidiki semuanya Xel..? " Zicko berjalan dan duduk di depan Axel di ruang tamu rumahnya.
" Ada yang mencurigakan Tuan.."
" Apa itu..? "
" Saya merasa aneh, ada banyak tempat yang bisa dijadikan pelarian, tapi kenapa harus ke tempat ini.. " kedua alis Axel sedikit bertaut. Sementara kedua tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard laptop yang disambungkan dengan tablet miliknya.
" Bisa saja itu terjadi.., mungkin kebetulan. " Laras yang ternyata ada di dekat situ pun ikut nimbrung dan mendekati keduanya.
" Tadinya saya juga berfikir begitu, tetapi mereka tadi terlihat ngotot sekali menuju ke arah sini padahal sudah di hadang beberapa polisi dan ada dua jalan yang lepas dari pengawasan tapi mereka sedikitpun tidak kesana. Seolah memang tujuannya memang kesini. "
Laras sedikit tercekat mendengarnya, dan segera membuka galeri pada ponsel yang dibawanya.
" Whatt..?? " Axel terkejut dan segera mendekatkan wajahnya ke layar monitor.
" Ada apa ?? "
" I..ini Tuan. Apa saya tidak salah lihat..? " Axel menunjuk ke arah benda kecil berwarna merah yang terlihat diantara rerimbunan semak belukar, di sebelah tiang listrik, di ujung pagar tembok sebelah utara kediaman Zicko.
Zicko segera mendekati Axel dan melihat yang ditunjukkan oleh tangan kanannya itu. Tidak ketinggalan Laras pun ikut mendekat.
Kedua mata Zicko menyipit saat hanya melihat sesuatu yang kecil berwarna merah di layar monitor itu.
" Apa itu, bom..?? " Zicko mendelik melihat ke arah Axel.
" Bukan hanya bom tuan, ada sebuah kotak hitam juga disana.. "
" Disebelah mana ini Xel..? "
" Persis di sekitar kedua perampok tadi ditangkap. Di utara rumah ini. "
" Betul paman, masih ada dua kotak hitam disebelahnya.." serta merta Laras menunjukkan rekaman video yang rupanya tadi sempat dia salin ke ponselnya.
Melihat hal itu Zicko pun segera menghubungi pak Ben dan semua anak buahnya.
" Tunggu apa lagi..?? Cepat..kita harus kesana.! "
Tak menunggu lama Zicko dan Axel segera berlari ke tempat itu. Zicko mengambil ponselnya dan segera menghubungi semua orang yang tinggal di kediamannya untuk waspada.
" Awas,, jangan disentuh Tuan. " Axel berseru saat melihat Zicko hendak mengambil sebuah benda yang terlihat dari rekaman cctv itu.
Zicko pun terkesiap dan sedikit menjauh dari benda itu.
" Itu jenis bom yang dirakit khusus dan akan langsung meledak saat ada tangan yang menyentuh dan menggerakkannya. "
Mulut Zicko pun ternganga saat mendengarnya. Tubuhnya sedikit gemetar dan segera melihat ke sekeliling tempat itu.
" Apa ada lagi..? "
__ADS_1
" Tidak ada Tuan. Saya sudah memeriksa semua tempat dari rekaman cctv tadi dan hanya ini yang ditemukan. "
" Axel,, timernya terus bergerak. Kamu bilang akan meledak kalau disentuh atau digerakkan. Lha ini kok ada timernya..? "
" Iya Tuan, bom itu sudah di setting apabila tidak ada yang menyentuh sudah pasti akan meledak dengan sendirinya sesuai timer yang dipasang. "
" Gawat,, tinggal empat puluh menit tiga puluh detik lagi akan meledak..! " pucat pasi seketika wajah Zicko.
Axel terlihat berfikir keras. Mencari cara yang paling aman untuk ditempuh. Pada akhirnya diapun mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
" Sekitar lima belas menit lagi ada tim gegana yang akan datang dan mengatasi bom itu Tuan. "
" Syukurlah.." sedikit bernafas lega. Kedua tangannya meremas rambut dan mengusap kasar wajahnya.
" Ada sesuatu yang tertinggal di sini.. " tiba tiba Laras menyela dan berbicara dengan hati hati. Jari telunjuk tangan kanannya menempel di depan mulutnya sambil memandang Axel dan Zicko bergantian.
Axel yang mengerti maksud kode dari Laras segera membungkam mulut Zicko dengan tangannya sambil membisikkan sesuatu saat Zicko hendak bertanya kepada Laras.
Zicko pun mengerti dan menatap Laras dengan penuh tanya.
Laras mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di kolom massagenya.. :
" ada semacam alat perekam atau pelacak atau apalah itu, terselip diantara tembok dan tiang listrik di depanku."
Zicko dan Axel secara bersamaan memusatkan perhatian ke arah yang ditunjukkan oleh Laras.
" kita harus berpura pura seolah tidak melihatnya. Dan tolong lakukan sesuatu untuk itu paman.., aku nanti mengikuti saja."
Kedua lelaki itu pun mengerti maksud Laras.
" Kalau misalnya alat itu diambil dan dipindah tempat, apakah ketahuan nantinya?" Zicko bertanya dengan mengetikkan di ponselnya.
" Kalau dilihat dari bentuknya, sepertinya tidak ada resiko untuk ketahuan, asal berhati hati mengambilnya." kali ini Axel yang menjawab, secara pengalaman, Axel memiliki banyak hal yang telah dilaluinya berkaitan dengan hal itu.
Mereka pun melanjutkan dengan percakapan ringan, agar tidak mencurigakan sambil memikirkan cara untuk mengambil alat itu sebelum di dahului oleh tim gegana.
" Rumput ini akan aku buang kesana paman.." tiba tiba Laras memakai sarung tangan karet yang ditemukannya tidak jauh dari tempat itu lalu dengan perlahan mengambil alat pelacak dengan sangat hati hati.
" Jangan sembrono kalau membawa rumput itu. Bisa bisa rontok dijalanan. " dengan cemas Zicko menatap Laras yang berjalan perlahan membawa alat tersebut pergi dari tempat itu.
Bahasa "rumput" dan "rontok" sengaja mereka pakai untuk menggantikan maksud yang sebenarnya.
" Sepertinya BadBoy sudah mencium keberadaanmu Tuan.." Axel berkata dengan cemas setelah Laras sudah cukup jauh dari tempat itu.
" Pastinya.."
" Saya yakin penjahat yang ditangkap tadi adalah suruhan Yudha yang sengaja diarahkan kesini untuk memasang semua ini Tuan. " geram.
Zicko menggeram kesal. Bagaimanapun juga Yudha tidak bisa dianggap remeh dalam hal ini.
BBLLUUUAAARRRR..
Tiba tiba terdengar suara ledakan dari kejauhan.
~♡♡♡~
__ADS_1
》》Bersambung