Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Ketahuan


__ADS_3

" Suara apa itu ? " Yudha bertanya dengan gusar. Pandangan matanya mengitari seluruh ruangan.


Seketika semua anak buahnya berpencar mencari sumber suara.


Laras tercekat. Semakin meringkukkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Takut jika tempat persembunyiannya diketahui.


" Suaranya dari sini. " seru salah seorang anak buah Yudha. Tidak jauh dari tempat Laras bersembunyi. Oh tidak ! Laras memejamkan matanya pasrah.


" Apa itu ? " Yudha berjalan menghampirinya.


Degup jantung Laras semakin berpacu kencang.


" Vas bunga Tuan. Terguling di atas meja. " jawab anak buahnya sambil mengembalikan vas itu ke tempat semula.


" Kok bisa terguling ? " hardik Yudha. Serta merta kedua netranya menyorot tajam ke arah kursi di belakang meja. Tepat di hadapan Laras.


Belum sempat anak buahnya menjawab, tiba - tiba seekor kucing melompat keluar dari bawah meja. Naik ke atas kursi dan meloncat menerjang wajah Yudha.


" Bangs** ! Kucing sialan ! Ternyata dia pelakunya. Huh ! " teriak Yudha sambil menepis kucing itu dengan kasar sebelum mengenai mukanya.


" Ayo kita lanjutkan ke dalam ! " serunya lagi setelah kucing itu berlari keluar.


ppfffffffffhhhh.. Syukurlah. Hampir saja !


Eh..tapi..kucing ? Darimana dia masuk ? Perasaan tadi waktu aku sembunyi dia tidak ada di sekitar sini. Tapi syukurlah. Makasih banyak pussy..sudah menyelamatkan aku..


Laras masih tetap meringkuk di bawah meja. Menunggu saat yang tepat untuk keluar dari persembunyiannya.


*****


" Ini ruang kerjanya Tuan. " salah seorang anak buah Yudha yang bertindak sebagai guide menunjuk ke arah pintu ruang kerja Zicko yang tertutup.


Mereka pun masuk kedalamnya. Dua orang tetap berdiri di luar untuk berjaga.


" Hmmm.. Kalian menemukan brankasnya ? " tanya Yudha saat sudah berada di dalam dan menduduki kursi kerja Zicko. kedua netranya memindai seluruh ruangan itu.


" Brankasnya kosong Tuan. "


" Lalu, apa masih ada barang berharganya yang tertinggal ? "


" Ini Tuan. " anak buah Yudha menunjuk sebuah tablet di ujung kanan meja kerja Zicko.

__ADS_1


" Hmmm.. " Yudha mengutak atik tablet itu dan melihat isinya. Berdecak kecewa saat tidak nendapatkan satu hal pun yang penting.


" Dimana brankasnya ? " katanya kemudian.


Anak buahnya berjalan ke salah satu sudut ruangan. Berjongkok di depan lemari kuno yang terbuat dari kayu jati. Dengan sebuah ruang kosong di bagian bawah yang di gunakan untuk menyimpan brankas.


" Ini brankasnya. " menunjuk ke bagian bawah lemari itu. Terlihat brankas berukuran sekitar 50 x 50 x 50 meter dengan pintu yang terbuka.


Yudha berjongkok melihat ke dalamnya. Kembali berdecak kecewa saat tidak menemukan apa - apa. Tiba - tiba matanya menangkap sebuah benda tipis yang terselip di ujung kanan atas bagian dalam brankas itu.


Tangannya menggapai meraihnya. Menyeringai ketika benda itu telah di dapatinya.


" Huh, hanya selembar kertas buram ! " Yudha membuka lipatannya dan terbelalak ketika menemukan sebuah tulisan di dalamnya.


" Tarraaaaa..! Anda kena prank !!! Zonk dong.. !?! sudah pasti semua harta dan berkas - berkas penting dibawa pergi oleh sang pemilik. :-) "


" Yang sabar ya boss.. "


" Bangs** !! "


Yudha sangat geram setelah membacanya. Seketika menarik kuat pintu brankas yang terbuat dari besi itu dengan sekuat tenaga. Tidak berhasil. Akhirnya Yudha melepas sepatunya dan melempar dengan keras penutup atas lemari yang terbuat dari kaca.


PRAAAAAAANG !!!


Sementara itu seseorang yang berdiri di balik dinding pembatas antara ruang kerja dan lorong terdiam cemas dan menunggu apa yang selanjutnya terjadi setelah mendengar suara keributan di dalam.


" Tenanglah boss. Diam dulu. Apa yang membuat Anda marah ? "


" Kino, kita pergi dari sini. "


" Kenapa boss, masih ada beberapa tempat yang belum kita periksa. "


" Kita pergi. Sekarang !! " teriak Yudha gusar lalu melenggang pergi dengan langkah besar - besar. Hatinya benar - benar panas hanya gara - gara membaca surat itu. Sementara Kino hanya menggeleng - gelengkan kepalanya setelah ikut membaca surat itu.


******


Laras terdiam cemas dalam persembunyiannya. Punggungnya terasa kaku. kedua kakinya kesemutan setelah di tekuk beberapa lama. Masker yang dipakainya sudah dari tadi dia lepas. Rasanya sudah tidak tahan. Sampai berapa lama mereka di dalam ? Rumah ini sangat besar..Ck..


Tiba - tiba Laras mendengar suara kaca pecah dari arah dalam.


Astaga.. Apakah mereka sudah tahu kalau ada lorong rahasia di situ ? Bagaimana ini ? Apakah mereka saat ini sedang berkelahi dengan anak buah paman..?

__ADS_1


Segumpal kekhawatiran bercokol dalam benak Laras. Saat hendak melongokkan kepalanya melihat keadaan sekitarnya tiba - tiba terdengar suara langkah kaki yang di hentak - hentakkan dari arah dalam. Laras kembali meringkuk di dalam meja.


" Ayo cepat ! Lama sekali kalian di dalam !! "


Deg ! Laras mendengar Yudha menghardik dengan anak buahnya dengan suara menggelegar.


Terdengar suara derap kaki berlari menyusul langkah Yudha yang sudah mendahului ke depan.


Beberapa saat kemudian tidak terjadi apa pun di rumah itu. Sunyi. Laras melihat arlojinya dan menunggu sampai sepuluh menit barulah dia berniat keluar.


Sementara seseorang yang berada di balik dinding, di dalam lorong, menempelkan telinganya ke dinding. Masih di dengarnya suara seseorang sedang membersihkan pecahan kaca. Diapun menghembuskan nafas kesal.


Setelah sepuluh menit Laras perlahan keluar dari bawah meja. Mendorong pelan kursi di depannya. Kedua netranya memindai seluruh tempat itu. Sunyi dan lengang.


Laras berjalan ke arah pintu utama yang sudah tertutup. Mengintip keluar dari jendela dan memastikan sudah tidak ada seorangpun disana.


Setelah merasa aman Laras segera berlari ke halaman depan. Mencari celah tersembunyi untuk menyelipkan kamera cctv mungil berbentuk bulat seperti kancing baju.


Laras menemukan tempat yang pas. Dia pun menarik sebuah kursi yang biasanya dijadikan tempat santai dan mengobrol di depan lalu menaikinya dan memasang cctv itu dengan hati - hati.


Laras tersenyum lega karena niatnya sudah berhasil di jalankan. Dia pun segera mengembalikan kursi itu ke tempatnya semula lalu berlari masuk setelah sebelumnya menutup pintu utama.


Saat berlari menuju ruang kerja Laras terhenyak dan terpekik kaget ketika berpapasan dan bertabrakan dengan sosok seorang pria.


Laras membalikkan tubuhnya, memperhatikan sosok itu yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya.


" Siapa kau. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya ? " tanya Laras memberanikan diri.


Sosok pria bertubuh tinggi dan kurus itu hanya diam menatap Laras. Beruntung Laras memakai masker. Dan tubuhnya yang bongsor sedikit menyamarkan usianya.


" Jawab ! Kenapa diam ? Dan kenapa menyusup ke rumah ini hah ? "


Sosok itu tetap diam dan tiba - tiba melesatkan pukulan dengan tangan kanannya ke wajah Laras.


Laras yang jeli dengan sigap mencondongkan tubuhnya ke samping kanan dan menepis pukulan itu dengan tangan kirinya sekuat tenaga.


Sosok itu oleng karena pukulannya menemukan tempat kosong. Laras bersiap dengan kuda - kuda menatap waspada musuh di depan matanya.


Sosok itu menyeringai buas dan menunjukkan senyum smirknya. Bekas luka di pipi kirinya menambah seram bentuk wajahnya. Dia sudah bersiap menyerang Laras dengan belati di tangan kirinya.


Gawat aku ketahuan, harus bagaimana ini ? Sepertinya dia sangat berbahaya. Paman Zicko..tante Sonya..tolong aku..

__ADS_1


********


》 Bersambung


__ADS_2