
" Kenapa harus nyawa Yudha yang jadi taruhannya..? " Isya membelalak, memajukan tubuhnya semakin mendekati pak Jo yang duduk di hadapannya.
" Karena Tuan Basira tidak suka ada yang menghalangi kemauannya, biarpun itu putra satu satunya, darah dagingnya sendiri.." pak Jo menjelaskan sembari menyeruput lemon tea hangat yang sudah di hidangkan.
" Orang tua gi*a..!! " geram, Isya memukulkan tangannya di atas meja di depannya. Menimbulkan suara yang cukup keras, untung saja sedang sepi pengunjung. Beberapa hanya menoleh sekilas dan melanjutkan kegiatannya kembali setelah tidak terjadi sesuatu.
Pak Jo hanya mengedikkan bahunya. Salah satu sisi alisnya terangkat keatas. kedua tangannya memainkan selembar tissu dan diakhiri dengan remasan keras.
" Kenapa...? Kenapa bapak menceritakan semua itu kepada saya..? "
" Agar nona bisa mengambil sikap dan keputusan yang tepat.."
" Untuk...? "
" Untuk masa depan nona yang lebih baik. Jauh dari jangkauan Tuan Basira. " kembali menyeruput teh. Meneguk perlahan seolah menikmati aroma dan rasanya.
" Sebelum ini bukankan Tuan Basira sudah mengirim pesan kepada Anda nona..? Pesan untuk pertemuan tadi.. Beliau sudah mempersiapkan semua.." sambungnya sembari melonggarkan dasi.
Isya hanya menggangguk mengiyakan. Karena memang dua hari sebelumnya, ayah Yudha mengirim seseorang untuk menyampaikan pesan itu kepadanya.
" Mungkin nona juga tidak tahu kalau tuan Yudha selama keberangkatannya akan selalu diawasi.. Bom waktu akan meledak kapan saja jika tuan Yudha berubah pikiran.." menunduk sedih.
Sejenak sunyi.
" Apa dia yang menyuruh bapak untuk menceritakan semua ini kepada saya..? "
" Tidak nona, ini semua atas inisiatif saya sendiri.. " tersenyum memandang Isya.
" Apa untungnya buat bapak.., bukannya anda orang kepercayaannya..? "
" Tidak ada. Saya hanya ingin nona baik baik saja.. Biar bagaimanapun nona adalah wanita kesayangan tuan Yudha. " kembali tersenyum.
" Dan satu hal yang perlu nona pahami, saya orang kepercayaan dan mendukung tuan Yudha.. "
Isya mengangguk sedih. Tak sedikitpun dia mengira bahwa ayah Yudha adalah seorang yang kejam.
" Nona.., saya mohon terimalah ini.." pak Jo menyodorkan sebuah amplop coklat panjang agak sedikit tebal, meletakkan perlahan di hadapan Isya.
" Dan ini juga nona.., tadi tuan Basira menyuruh saya mengambil dan menyampaikan ini untuk nona.." sambungnya sambil memberikan bungkusan coklat yang tadi dilempar ayah Yudha di depan Isya.
" Apa ini pak..? " Isya bertanya sambil mengacungkan amplop coklat tadi.
" Itu catatan dari saya nona.., banyak hal yang saya tuliskan disana. Perlahan tapi pasti nona akan mengerti. "
Isya menggangguk dan menyimpan amplop itu kedalam tasnya.
" Saya tidak mau terima yang ini pak..!" dengus Isya sambil mendorong perlahan bungkusan coklat dari ayah Yudha. Sepertinya dia menyadari bahwa bungkusan itu berisi uang yang banyak. Mungkin lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya. Tapi cintanya lebih mahal dari apapun.
Pak Jo tersenyum, mengangguk sopan dan mengambil kembali bungkusan itu.
Keduanya sama sama diam, sampai pada akhirnya dua orang pelayan datang dan menghidangkan pesanan mereka.
**********
" Pak Jo..!! "
" Tuan Yudha, Anda sudah datang..." pak Jo membungkuk hormat saat Yudha memanggil dan menghampirinya di garasi.
" Iya pak.., sehat ya pak.., satu tahun tidak bertemu pak Jo ternyata saya bisa kangen hehheee.." Yudha menepuk perlahan bahu pak Jo dan sedikit melempar candaan.
__ADS_1
Pak Jo hanya tertawa menanggapi candaan Yudha.
" Waaah pak Jo.., mobilnya mengkilat sekali.. " mata Yudha berbinar melihat salah satu mobilnya yang sedang di bersihkan pak Jo tadi.
" Iya Tuan, biar silau semua yang melihatnya heheee.. Lumayan juga buat cewek cewek yang suka bercermin Tuan.." meringis menahan geli.
" Pak Jo bisa saja.. " sedikit terbahak, Yudha ingat saat ada seorang gadis dengan gaya gemulai bercermin di mobilnya, berputar putar mematut gayanya. Sementara di dalam mobil Yudha dan pak Jo hanya melongo dan tertawa terbahak bahak saat melihat tingkah gadis itu.
Dalam hati pak Jo sedikit berdebar saat memikirkan jawaban apabila Yudha bertanya tentang Isya.
" Papa kemana..? Saya sudah berkeliling mencari, tidak ada seorang pun di dalam. Biasanya ada Harley, tangan kanan ayah diruang kerjanya.."
" Tuan besar pergi tuan.., sudah satu minggu. Apa tidak mengabari..? "
Yudha hanya mencibir dan menggelengkan kepalanya.
" Saya istirahat dulu pak.." tersenyum Yudha berpamitan.
" Silahkan tuan.." membungkuk hormat lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
******
" Apa tidak ada yang mau menjelaskan tentang Isya..??? " setengah berteriak Yudha bertanya di depan beberapa orang pengawal dan pelayan dirumahnya.
Semuanya diam. Hanya menunduk ketakutan.
" Pak Jo..!!! " berteriak Yudha memanggil, mengedarkan pandangannya ke segala arah.
" Saya Tuan.., " pak Jo berlari masuk dari arah depan.
" Apa pak Jo tahu, kenapa rumah Isya kosong..? "
" Maaf tuan.., saya tidak tahu.." menunduk, menahan debaran jantungnya. Khawatir jika tidak bisa menjaga rahasia Tuan Besarnya.
" Papa kemana pak..? Sudah tiga hari sejak saya datang belum pulang. Berkas berkas di ruang kerjanya juga tidak ada.. " Yudha berbicara mengetatkan bibir menahan emosi. Dia merasakan sesuatu hal yang aneh dan berhubungan dengan semua itu.
" Emm..maaf tuan, kemarin malam suruhannya menyampaikan pesan kepada saya, Tuan Besar akan menetap di Amerika dalam waktu yang lama. " pak Jo menjawab lemah. Memahami bahwa jawabannya pasti sangat mengecewakan tuannya.
" Kenapa tidak menyampaikan langsung kepada saya hahhh..?? " tanya Yudha gusar.
" Maaf tuan.., saya tidak tahu.." pak Jo lagi lagi tertunduk.
" Kalian semua pergilah..! " bentak Yudha.
Pak Jo terkejut menatap Yudha. Tidak biasanya tuannya ini berbicara kasar atau pun membentak seseorang. Sementara yang lain segera berlalu dari tempat itu, berharap segera terhindar dari ketegangan suasana.
" Tuan...."
" Pergi pak Jo...!!! "
Pak Jo pun perlahan segera meninggalkan tempat itu.
******
" Sudah berbulan bulan aku mencarimu.. Isya kamu dimana?? "
Putus asa Yudha duduk bersimpuh di depan foto Isya yang dia pajang dikamarnya. Wajahnya sendu menatap wajah kekasihnya. Air matanya pun luruh perlahan di pipinya.
Wajahnya terlihat kusam dengan jambang dan kumis yang menebal seiring waktu yang telah dilaluinya untuk mencari Isya.
__ADS_1
Hingga suatu saat seorang bawahannya datang membawa kabar besar yang merubah hidup Yudha sepenuhnya.
" Tuan..." membungkuk hormat.
" Ada apa..? " tanya Yudha sambil menenggak minuman keras dari botol di tangan kanannya.
" Seseorang di depan ingin menyampaikan sesuatu kepada tuan, perihal nona Isya. "
Seketika Yudha melempar botol minuman kerasnya. Matanya berbinar, berharap bahwa Isya telah di temukan oleh seorang mata mata suruhannya.
" Biarkan dia masuk.."
" Baik tuan.." pengawal itu pun pergi.
Yudha beranjak dari duduknya, berjalan ke meja kerjanya, membuka laci dan mengambil amplop berwarna coklat lalu diletakkan diatas meja.
Tetap berdiri, kedua tangannya di saku celana, menatap pemandangan dikejauhan dari jendela. Bibirnya tersenyum bahagia, hatinya buncah dengan segenggam harapan.
" Permisi.., tuan Yudha " seseoran datang dan mengetuk pintu pelan.
" Masuklah.. "
Orang itu pun masuk dan segera duduk perlahan di depan meja kerja Yudha.
" Bagaimana hasil kerjamu Kent..? " ikut duduk di kursinya, kedua tangannya di gosok gosokkan, seolah sudah tak sabar menunggu.
" Ini tuan.." tidak banyak bicara, Kent menyerahkan beberapa lembar foto ke hadapan Yudha.
Mata Yudha membelalak. Kaget melihat semua gambar yang terpampang di dalam foto itu.
" Appaaa ini..??? " seraya berdiri, menggebrak meja dengan keras, seketika hatinya gusar.
" Iya tuan, nona Isya sudah menikah beberapa bulan yang lalu." jawab Kent tenang. Sambil menyulut rokok, matanya menatap Yudha.
Hhhaaaarrrggghhh...Isya...!!! Kenapa..????
Hancur hati Yudha mendengar dan melihat kenyataan yang dia hadapi. Matanya merah, mengusap kasar wajahnya dan menjambak rambutnya sendiri.
" Dimana dia sekarang..? " Yudha bertanya dengan lemah.
" Ada di kota X di daerah Kalimantan.. "
Yudha berteriak keras. Kakinya menendang apapun yang ada di depannya.
" Ini bayaranmu..! " mengambil amplop dan melemparnya di hadapan Kent.
" Kerja bagus. Suatu saat pasti ku panggil lagi.." terduduk lemas.
" Baik, terima kasih tuan."
Kent pun pergi dengan tenang, memasukkan amplop ke dalam saku jaket dan melenggang sambil bersiul.
Sejak saat itu Yudha semakin beringas. Sifatnya yang baik telah hilang dan berubah drastis.
Seolah tidak puas dengan kenyataan, Yudha ikut menjalankan bisnis gelap ayahnya dan merampas banyak harta dari para klien bisnis maupun dari para pengusaha kaya yang di incarnya.
Sampai suatu ketika Yudha berhasil merampas segalanya dari ayah Zicko. Dan berujung penyerangan pada keluarga Handoko.
__ADS_1
》》**Bersambung**