Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Aku Bukan Diriku


__ADS_3

Andai saja waktu itu kamu sabar menungguku.., kamu tidak akan secepat itu pergi terlebih dahulu.


Kamu tahu, aku hanya pergi tidak lama..


Bukannya kamu juga berjanji..bahwa kamu akan selalu setia manantikan kedatanganku..


Tapi kenapa....??


Kenapa kamu malah menikah dengan laki laki itu..?


Andai saja dia tidak menikah denganmu..sudah pasti kamu akan baik baik saja sampai saat ini..


Kamu tahu..? Sudah lama aku mencarimu..seluruh ujung bumi sudah ku telusuri..kamu tidak pernah ada dan kutemukan..


Sampai ketika wajahmu hadir di sebuah siaran televisi, yang menyiarkan berita pernikahanmu dengan laki laki baj****n itu hatiku seketika hancur.., karena yang mendampingimu..disisimu bukanlah aku..


Untuk apa aku bertahan dengan semua luka yang kamu beri..?


Biarlah aku hancur bersama hatiku..berkeping keping, berserakan dan akhirnya diterpa angin..hilang..


Aku bukan diriku..


Aku tak ubahnya seekor serigala liar yang selalu melolong di kesunyian malam dan berlari kesana kemari untuk mencari mangsa..hanya untuk memuaskan hatiku..


Tetapi nun jauh didalam sana..terasa kosong dan hampa..


" Hhaaarrrgggghhhkkkkhhh....!!!!!! "


PRRAAAANNNNGGGG...!!!!!!!!


Suara teriakan dan barang jatuh terdengar sangat nyaring di malam itu.


Beberapa orang berbaju hitam sigap berlari menuju ke arah sumber suara.


" Ada apa tuan..? " seseorang diantaranya memberanikan diri untuk bertanya setelah memeriksa ruangan, di ikuti yang lainnya.


" Pergi..biarkan aku sendirian disini.." perintahnya dengan suara yang menahan pilu.


" Te..tapi tuan Yudha.., apa anda baik baik saja tuan..? " tetap kukuh bertanya, saat melihat tuannya tidak bergeming.


" Pergi, aku baik baik saja. " perlahan Yudha membungkuk, mengambil sebuah foto dengan bingkai yang hancur beserta kacanya, terjatuh ketika emosinya meledak sesaat yang lalu.


Matanya menatap dengan seksama sosok wajah perempuan didalamnya. Mengusap sekilas, matanya memerah menahan tangis. Gengsinya menahan untuk tidak meruntuhkan air mata di depan para anak buahnya.


" Bersihkan tempat ini. " Yudha berubah pikiran. Memandang di sekitar tempatnya berdiri yang sudah berantakan akibat ulahnya.


" Baik Tuan.." mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya bersama yang lain.


Yudha berlalu dengan lesu. Selembar foto tampak masih tetap ditangannya. Dilemparnya begitu saja bingkai yang rusak, seolah tak perduli dengan apapun disekitarnya.


*******


《《 Flash Back


" Aku pergi dulu Isya.. Jaga diri baik baik.." Yudha berpamitan.


" Jangan terlalu lama pergi.., aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika tanpamu.."


" Aku harus bagaimana lagi jika itu sudah menjadi perintah ayahku.., bagiku beliau seperti raja yang harus kupatuhi dan kulindungi.. Meskipun berat.." tertunduk Yudha memegang kedua tangan kekasihnya.

__ADS_1


" Sekali ini saja Yud.., tidak bisakah kamu menuruti aku..? Kita pergi berdua ke suatu tempat yang kamu mau.." gadis itu mencoba membujuk. Buliran air mata luruh ke pipinya.


" Maafkan aku Isya.."


" Sekali saja Yudha.. Sebelum semua terlambat dan menjadi penyesalan.." Isya terisak.


" Kenapa aku harus menyesal..? Aku hanya pergi sebentar.." lembut Yudha mengecup pucuk kepala kekasihnya seraya merangkum tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.


Selang agak lama, mereka pun melepaskan pelukannya. Yudha pelan berjalan pergi menuju mobilnya dengan seorang sopir yang sudah menunggu.


" Love you sayang.." seraya melambaikan tangan meninggalkan Isya seorang diri yang hanya menatap sampai dikejauhan dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.


" Silahkan ikut kami nona.."


" Saya Jo.., suruhan Tuan Basira, beliau sudah menggu nona.. " sambungnya.


Isya terkejut dalam diamnya menatap kepergian Yudha, saat seorang lelaki paruh baya datang menghampirinya, mengangguk hormat dan merentangkan tangan kanan mempersilahkan Isya untuk masuk ke dalam mobil.


" Baik pak.." menghela nafas dalam, dan segera masuk ke dalam mobil.


*****


" Tolong pergi jauh, tinggalkan kota ini.. Kalau perlu, keluar negeri lah.. Agar kalian tidak akan pernah bertemu lagi.." Seorang lelaki kebapakan berwajah kaku menatap Isya dengan pandangan benci.


Hanya terdengar sedu sedan dari mulut Isya. Kedua pundaknya naik turun mengikuti tangisnya yang tertahan.


" Kau hanya sampah kecil yang akan menghalangi langkah anak ku."


" Tinggalkan Yudha, hiduplah dimanapun kau mau.." imbuhnya. Tangan kirinya menadah menunggu seseorang untuk meletakkan sesuatu yang ditunggunya.


" Bawa ini semua. Rasanya ini sudah lebih dari cukup. Bahkan mungkin untuk beberapa tahun hidupmu nanti.." melempar bungkusan kertas coklat agak berat yang akhirmya mendarat di hadapan Isya yang berlutut di depannya.


" Tanpa kau paksa aku pasti akan pergi " desisnya.


" AAHhhaahhaaaa..bagus..! Rupanya kau cukup tahu diri juga heh.." tersenyum menyeringai. Kakinya sedikit maju dan bergerak menggeser bungkusan tadi mendekat ke arah Isya.


Tanpa berpamitan Isya segera berlalu meninggalkannya. Tak sedikitpun dia menyentuh bungkusan darinya. Hatinya penuh dengan amarah yang tertahan.


Kau pikir aku semurah itu kau ukur dengan hartamu yang kau dapat dari memeras orang kecil..cuiiihhh..!


Baiklah aku pergi..tetapi suatu saat kau akan terima balasannya..meskipun bukan aku..tapi darah dan keturunanku kelak yang akan memusnahkanmu maupun keturunanmu yang jahat.


Setengah berlari dia pergi meninggalkan rumah itu. Air matanya berlinang menunjukkan kepedihan hatinya. Hatinya telah penuh dengan sakit hati dan dendam.


" Mari nona..saya antar.." bapak sopir yang tadi menawarkan diri.


" Tidak usah pak, saya bisa sendiri." ketus Isya


" Tapi nona.., tempat ini sangat jauh dari tempat tinggal nona. Apakah nona paham jalan menuju kesana..?"


" Saya diminta Tuan besar untuk menghantar Anda.., maka ijinkanlah saya menghantar nona. Kalau tidak nyawa saya akan terancam.." pak Jo menunduk menjelaskan.


"Baiklah pak.." Isya pun mengalah setelah memikirkan resiko yang mungkin nantinya akan dihadapi bapak itu.


" Terima kasih nona. Mari silahkan.." membukakan pintu belakang mobil.


Isya hanya diam membisu. Duduk dibelakang menatap ke samping yang bertolak belakang dengan rumah besar tempat tinggal keluarga Yudha. Hatinya sudah enggan untuk melihatnya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Menyibukkan diri dengan fikiran masing masing. Sesekali pak Jo melirik spion hanya untuk sekedar melihat kondisi Isya yang saat itu terlihat melamun dan menangis dalam diam.

__ADS_1


Jauh disudut hatinya sangat menyayangkan kenyataan bahwa Isya adalah kekasih Yudha, tuan mudanya.


Sesekali dia menghela nafas berat, mengingat perbedaan sifat dari kedua majikannya. Yudha dengan temperamennya yang lembut, sopan dan ceria. Bertolak belakang dengan sifat ayahnya yang egois, kejam dan sangat pemarah.


Jika sekali waktu ayahnya mendapati sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya tidak segan dia akan memusnahkannya.


Seperti saat ini yang terjadi, ayahnya bertindak diluar sepengetahuan Yudha. Sejak lama ayah Yudha mengetahui tentang hubungan mereka berdua. Setelah menyelidiki asal usul dan kondisi keluarga Isya yang hanyalah keluarga petani, ayah Yudha langsung murka dan menganggap bahwa keluarga Isya hanya penghalang bagi masa depan Yudha.


Dengan dalih masalah genting dalam bisnis di Singapura yang membuat Yudha harus pergi meninggalkan Isya.


" Apa nona tidak lapar..? Sepanjang kita berangkat tadi sampai sekarang..nona belum makan sama sekali.."


" Saya tidak lapar..." lirih Isya menjawab.


" Nona.., sejak kemarin malam saya belum makan. Maukah nona menemani saya makan siang..?" bujuknya, berusaha agar Isya menyetujui.


Hening......


" Tolonglah nona.., saya tidak mungkin sepanjang waktu mengendarai mobil ini dengan perut kosong.."


Hembusan nafas berat terdengar dari arah belakang. Pak Jo melirik spion, melihat Isya yang perlahan bergerak merapikan duduknya.


" Baiklah pak, saya temani.." jawabnya lemah.


Pak Jo pun tersenyum atas keberhasilannya. Padahal sebenarnya dia sudah makan, bahkan pagi tadi pun juga.


Tidak menunggu lama, mereka berhenti di sebuah kedai masakan tradisional.


Isya menurut saja saat bapak itu menuntunnya mengajak masuk.


" Mau makan apa nona..? Ini ada daftar menunya, dipilih saja yang nona ingin makan.." menyodorkan lembaran kertas berlaminating.


" Saya minuman hangat saja pak.." Isya menepis halus daftar menu itu lalu bersandar dengan lesu. Tidak bernafsu untuk makan.


" Saya pesankan yang sama dengan saya nona..plus minuman hangat."


" Terserah.." lirih saja Isya menjawab.


Pak Jo menuliskan pesannya dan kemudian diserahkan ke petugas yang sudah menunggu di dekat mereka.


" Makan yang banyak nona, ada sesuatu yang akan saya sampaikan perihal anda dan tuan muda. "


" Jangan sampai tuan muda kecewa saat melihat nona dengan kondisi begini. Beliau tidak akan suka. " imbuhnya.


" Saya tidak mau lagi mendengar tentang Yudha pak.." jawab Isya, masih dengan posisi bersandar, bermalas malasan. Seolah enggan untuk melakukan apapun.


" Yakin.., nona benar benar tidak ingin tahu..? "


" Sudahlah pak.., saya tidak mau lagi berurusan dengan Yud.."


" Tuan muda tidak mengetahui kalau ayahnya ingin nona menjauhinya.." potong pak Jo.


" Jika Tuan muda berkeras tidak pergi, maka nyawanya yang jadi taruhannya.." pak Jo menjelaskan, seketika mata Isya membulat.




》》 **Bersambung**...

__ADS_1


__ADS_2