Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Pengintai


__ADS_3

" Paman tahu saja kalau kami sedang dalam kesulitan. " Laras memulai pembicaraan saat sudah berada di dalam mobil bersama Axel di sebelahnya. Mobil itu di kemudikan oleh sopir Axel.


" Pak Ben tadi sempat mengirim kode. " jawab Axel cuek. Netranya fokus menatap layar ponsel dalam pegangan tangannya.


" Seharusnya aku tadi menuruti perkataan pak Ben.. " Laras tertunduk menyesal.


" Oh iya.. bagaimana caranya pak Ben mengirim kode paman..? " lanjut Laras ingin tahu.


" Remote pengunci pintu mobil. Saat tombol pengunci di tekan saat itu juga nada peringatan masuk ke ponsel saya dan tuan Zicko secara bersamaan. "


" Wooww..! " seru Laras takjub. Axel hanya tersenyum sekilas.


Tiba - tiba terdengar nada panggilan dari ponsel Axel. Muncul nama Zicko pada layar panggilan.


[[ " Bagaimana..? " ]] tanya Zicko di seberang sana.


" Sudah beres tuan. Kami saat ini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Anda. " jawab Axel tenang.


[[ " Bagus. Syukurlah. Saya tunggu di ruang kerja. Ada yang mau saya bicarakan. Terima Kasih Axel.. " ]]


" Baik tuan saya langsung ke sana begitu kami sampai. "


[[ " Kamu tahu siapa ternyata mereka..? " ]]


" Menurut pak Ben sepertinya BadBoy tuan. Karena tadi beliau sempat melihat tato lambang tengkorak setengah wajah manusia di tengkuk salah satu anak buah mereka. "


[[ " Hmmm.. anak buah Yudha. " ]] terdengar hembusan nafas gusar. [[ " Baiklah. Aku tunggu di ruang kerjaku. "]] lanjutnya.


" Baik tuan. " Axel langsung menutup panggilan setelah pembicaraan mereka usai.


******


" Sudah jelas kalau mereka mengetahui apa pun yang kita lakukan di tempat ini. " Zicko mulai bicara saat Axel tiba di ruang kerjanya.


" Benar tuan. "


" Aku benar - benar penasaran. Dari mana mereka tahu. Sampai - sampai mereka bisa paham saat Laras pulang sekolah dan mengambil kesempatan saat ada sedikit celah. " lanjut Zicko.


" Sepertinya mereka sudah sejak lama mengintai dan menghapalkan semua kegiatan di rumah ini tuan. "

__ADS_1


Zicko pun teringat rekaman cctv yang dikirim penjaga gerbang belakang kepadanya.


" Ini xel. Kemari.., lihat ini.. " Zicko mengajak Axel untuk mendekatinya. Menunjukkan rekaman cctv yang sudah di salin ke dalam lap top miliknya. Axel mendekat dan memperhatikan setiap detil dalam rekaman itu.


Tak lebih dari tiga rekaman yang sudah mereka lihat dengan seksama. Sesekali Axel mengulang beberapa adegan dalam rekaman itu. Kedua alisnya mengkerut. Begitu juga dengan Zicko.


" Stop ! Berhenti di situ.." Zicko menemukan sesuatu. Axel pun menuruti perintahnya.


" Lihat itu. Tolong sedikit di perbesar. " Axel menekan tombol zoom dan memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Zicko.


" Kamu melihatnya..? "


" Ada kilatan cahaya di dada burung merpati itu tuan. " jawab Axel sambil tetap memperhatikan rekaman itu. Ditekannya lagi tombol zoom dan sedikit mengutak atik agar gambar terlihat jelas tidak pecah.


" Itu dia..!! " seru Axel dan Zicko bersamaan sambil menunjuk arah dada burung merpati dalam rekaman cctv.


" Betul tuan. Ada kamera mini di sana. Sepertinya beresolusi tinggi kalau dilihat dari model dan bentuknya. "


" Hmmm.. Sudah ku duga. Lexi juga sudah curiga dengan burung ini. " Zicko mengusap kasar wajahnya. Menghembuskan nafas kesal dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


" Lexi ? Dia yang mengirim ini tuan..? "


" Sudah pasti dia curiga kalau burung ini bergerak secara monoton setiap harinya. "


" Itulah. Sepertinya burung ini sudah terlatih. " jawab Zicko sambil mendesah kesal.


" Dalam beberapa kejadian memang ada beberapa burung merpati yang di pakai sebagai alat pengintai. " Axel berbicara pelan. Tangan kanannya mengusap - usap dagunya sambil berfikir.


" Dengan begitu mereka bisa mengetahui gerak gerik kita dan memperhatikan waktu - waktu kapan kita pergi dan pulang ke tempat ini. Sial..! " kata Zicko jengkel.


" Kita bisa manfaatkan merpati itu untuk menjalankan strategi tuan. " kata Axel tiba - tiba. Terlintas ide dalam benaknya. Zicko menoleh menatap Axel tajam, menunggunya untuk melanjutkan perkataannya.


" Biar saja merpati itu tetap menjalankan tugasnya. Kita tinggal menentukan waktu kapan untuk menjalankan rencana kita. " lanjut Axel.


" Bagaimana dengan tuan O..? Apakah tugasnya sudah selesai..? Ini masih dua hari dari sejak dia kesini waktu itu. "


" Kebetulan kemarin malam beliau menghubungi saya dan menunjukkan hasilnya. Sudah sekitar sembilan puluh persen proses pekerjaannya berjalan. Kemungkinan besar siang ini selesai dan akan ditunjukkan kepada Anda tuan. "


" Hmmm.., baiklah. Semoga secepatnya kita bisa jalankan strategi. "

__ADS_1


" Kalau memang hari ini selesai dan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka besok kita bisa jalankan rencana kita tuan.. "


" Betul juga. Coba kau hubungi tuan O dan tanyakan padanya. "


" Baik tuan. " Axel pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi tuan O.


*****


Sementara itu Laras terlihat sedang asyik bercerita kepada Sonya di kamarnya perihal kejadian yang mereka alami saat perjalanan pulang dari sekolah.


" Kamu baik - baik saja kan..? Tidak ada yang terluka? " tanya Sonya. Tangannya sibuk meraba pergelangan tangan Laras dan memeriksa seluruh tubuh anak perempuan itu.


" Aku baik - baik saja kok. Jangan berlebihan. " kawab Laras jengah dengan perhatian Sonya.


" Hanya lengan kananku sedikit sakit karena tadi pak Ben terpaksa mendorongku masuk ke dalam mobil. " lanjut Laras sambil memperhatikan lengan kanannya yang terlihat sedikit memar.


" Syukurlah. Yang penting kamu selamat. " jawab Sonya.


" Tadi nyaris saja kami semua di bawa ke kantor polisi. Untung paman Axel cepat datang. "


" Lhoo.. seharusnya kan kita ini korban. Kamu nyaris di culik. Kenapa malah mau di bawa ke kantor polisi ? " tanya Sonya heran.


" Mungkin karena hanya tinggal kami di tempat itu tante.. Dan menurut kabarnya mereka mendapat laporan dari penduduk setempat kalau terjadi perkelahian di tempat itu. "


" Ckk.. Kenapa tidak bertanya dulu apa masalahnya. " kata Sonya kesal.


" Entahlah tan.. " Laras hanya mengedikkan kedua bahunya dan berjalan ke arah nakas di samping tempat tidurnya. Mengambil segelas air putih yang baru di letakkan di situ oleh Sonya dan meneguknya. Sonya hanya diam menatap Laras khawatir.


" Lalu bagaimana setelah ini..? Tante benar - benar khawatir.. "


" Paman Zicko sekarang sedang meeting sama paman Axel. " jawab Laras cuek sembari menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Sebuah ponsel sudah berada dalam genggaman tangannya.


" Meeting..? "


" Iya tante. Tadi waktu di perjalanan paman Zicko bilang kalau paman Axel di tunggu di ruang kerjanya. Ada yang mau di bicarakan katanya.. Berarti kan di ajak meeting tan.. " Laras menjelaskan sambil tetap cuek dan mulai sibuk memainkan game online di ponselnya.


" Kamu ini. Serius dikit kenapa.. " Sonya mengacak rambut Laras dengan gemas seraya pergi dari tempat itu meninggalkan Laras yang tetap fokus pada game online nya.


*****

__ADS_1


__ADS_2