
Pagi itu, beberapa orang terlihat sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di halaman belakang kediaman Zicko yang luas. Beberapa tas ransel berukuran besar berjajar rapi, bersandar pada dinding pembatas antara halaman dan ruang dalam. Berdampingan dengan beberapa kardus berwarna coklat yang juga berukuran besar. Di atur sedemikian rupa untuk memudahkan jika suatu saat di pindahkan.
Sementara di halaman depan terlihat pak Ben sedang berbicara serius dengan semua anak buahnya. Beberapa orang sedang mencuci semua mobil dan kendaraan yang di parkir di bagian sebelah kiri halaman depan. Bersebelahan dengan taman yang di tutup dengan pagar tembok di sekeliling rumah dan pintu gerbang dari besi tepat di tengah, lurus dengan pintu masuk ruang utama rumah itu.
Zicko memperhatikan semua kesibukan yang dilakukan oleh semua orang. Kedua tangannya bersidekap di depan dada. Sesekali dia menoleh, memperhatikan arah depan yang di jaga oleh sekitar empat orang bersenjata lengkap di dalam pos penjagaan gerbang utama. Seorang diantara mereka sedang fokus memperhatikan layar komputer yang berisi semua rekaman cctv di seluruh bagian.
" Jo.., apakah mangsa sudah terlihat..? " Zicko menyentuh pelan telinga kirinya yang telah di pasangi earpiece berwarna senada dengan warna kulitnya, bertanya pada seorang penjaga di gerbang utama.
" Masih belum Tuan. Sementara pergerakan masih terlihat seperti hari - hari biasanya. " jawab penjaga itu.
" Oke. Perhatikan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Jika manusia dan kendaraan yang lewat terlihat biasa dan tidak mencurigakan, kamu bisa fokus pada obyek lain yang mungkin bisa mereka jadikan untuk mengintai semua kegiatan kita. " Zicko menjelaskan.
" Siap tuan. "
" Oke, tetap waspada. "
Zicko berjalan memasuki ruang utama. Berbicara sebentar dengan beberapa anak buahnya yang bertugas memasang semua alat penyadap dan kamera tersembunyi di setiap sudut ruangan. Memastikan semuanya dan setelah itu pergi ke arah halaman belakang.
" Lexi, semua aman di gerbang belakang..? " kembali Zicko menyentuh pelan telinga kirinya dan bertanya kepada seorang petugas penjaga di pos penjagaan gerbang belakang kediamannya.
" Sementara ini aman Tuan. Tapi saya melihat ada pergerakan seekor burung merpati yang mencurigakan. " jawab petugas itu.
" Burung merpati..? "
" Iya tuan, merpati berwarna hitam dengan kepala dan dada putih. Beberapa kali terbang dan hinggap tepat di depan gerbang. Posisi agak jauh. Sudah tiga kali merpati itu melakukan hal yang sama dan selalu terbang berkeliling setelahnya. "
" Apakah dia juga terbang di atas rumah ini..? "
" Betul tuan. Saya perhatikan beberapa kali merpati itu terbang memutar di atas halaman dan hinggap di ujung atap rumah ini. "
" Hmmmm.. " Zicko mendengarkan dengan seksama. Sesekali netranya melihat ke sekeliling dan atas atap rumahnya.
" Jika Anda ingin melihat burung merpati itu akan saya kirimkan rekaman cctv nya tuan. "
" Oke. Kirim ke ponsel saya ya.., via aplikasi chatting saja. "
__ADS_1
" Baik tuan. " penjaga itupun dengan segera menjalankan tugasnya.
****
" Pak Ben, aku mau beli bakso dulu dong.. Bisa tolong berhenti sebentar..? " seru Laras ketika melihat penjual bakso di pinggir jalan raya.
" Tapi nona kita di minta tuan Zicko untuk langsung ke rumah kalau nona sudah pulang dari sekolah. " jawab pak Ben.
" Cuma mau beli basonya saja pak. Dibungkus. Plisss..boleh ya.. boleh dong.."
" Sebentar saya tanyakan tuan Zicko dulu.. " pak Ben menepikan mobilnya dan terlihat mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Zicko. Terdengar suara decakan tidak sabar dari mulut Laras yang duduk di sebelahnya.
" Baik nona Laras. Tuan Zicko mengijinkan. Tapi harus secepatnya. Beliau khawatir ada yang membuntuti kita dan akan menculik nona. " pak Ben menjelaskan setelah mendapat ijin dari Zicko
" Yeeaayy.. oke pak. Aku cuma sebentar. " langsung berlari ke arah penjual bakso tanpa menutup pintu mobil. Pak Ben pun hanya menggelengkan kepala.
Selama pulang dan pergi sekolah Laras harus selalu di kawal oleh pak Ben bersama empat orang anak buahnya di mobil terpisah. Pak Ben adalah orang kepercayaan Zicko. Selain karena pak Ben cukup lihai dalam berkendara dia pun sangat lihat dan menguasai ilmu bela diri dan menggunakan beberapa senjata. Setelah mendapat ancaman waktu itu Zicko tidak mau mengambil resiko yang besar untuk keamanan Laras.
" Oke bang.., makasih banyak ya.. Kembaliannya ambil saja. " kata Laras mengulurkan selembar uang kertas untuk membayar baksonya. Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya yang cantik.
" Wah non.. kembaliannya masih banyak ini. "
" Makasih banyak non. " teriak tukang bakso itu melihat Laras yang sudah membuka pintu mobil dan hanya di jawab dengan acungan ibu jari Laras.
Belum lagi Laras masuk ke dalam mobil tiba - tiba munculah sebuah sepeda motor yang dipacu dengan kencang dari arah samping kanan belakang mobil yang ditumpangi Laras. Melesat cepat merangsek ke trotoar di sebelah kiri mobil Laras. Seorang penumpang motor itu terlihat bersiap dan menghadap ke arah Laras yang sedang bersiap untuk masuk ke dalam mobil.
Dengan instingnya yang kuat akan bahaya yang datang, pak Ben pun langsung bergerak cepat. Berlari memutar dari arah depan mobil menghampiri Laras, memegang pintu mobil dan sedikit mendorong paksa tubuh Laras agar segera masuk ke dalamnya. Laras menjerit kaget.
Pengendara motor itu pun nekat mendekati pak Ben bermaksud untuk menabraknya dan mengincar keberadaan Laras. Dengan sigap pak Ben segera menutup pintu mobil dan segera berpijak diatas kaki sang pengendara motor dan melompat ke atas mobilnya.
Melihat hal itu ke empat anak buah pak Ben, Jo, Lay, Son dan Mat yang berada tidak jauh dari tempat itu langsung bergerak cepat. Keluar dari mobil dan berlari menghampiri. Mat sang sopir tetap tinggal di dalam mobil dan segera menghubungi Zicko.
Dari arah depan mobil muncul beberapa motor lengkap dengan dua orang pengendaranya. Mereka berputar putar mengelilingi pak Ben dan Laras. Pak Ben segera menekan salah satu tombol pada remote, mengunci pintu mobil. Tubuhnya bersiap untuk menghadapi mereka.
Ketiga anak buah pak Ben sampai di tempat itu. Bersiap dengan tangan kosong, berkumpul di tengah - tengah lingkaran tepat di sebelah mobil pak Ben. Menatap tajam ke arah mereka dan memperhitungkan kekuatan apabila terjadi penyerangan. Sementara para pengendara motor itu masih berputar mengelilingi mereka seolah menunggu waktu untuk menyerang.
__ADS_1
Tiba - tiba gerakan mereka semua berhenti. Masih tetap mengelilingi pak Ben dan anak buahnya. Salah satu dari pengendara motor turun dan berjalan beberapa langkah di depan pak Ben.
" Hmmmm.. " tersenyum mengejek. " Cepat serahkan gadis itu. " katanya kasar.
" Langkahi dulu mayat kami. " pak Ben berdiri siaga menghadap orang itu.
" Hhaahhaaahhh..!! Cecung** ini sok jagoan. Ciih..! " membuang saliva di hadapan pak Ben.
Pak Ben hanya diam. Kedua netranya menatap tajam.
" Cepat serahkan atau kami akan memakai kekerasan..! " lelaki itu memberi kode kepada anak buahnya. Dua orang dari antara mereka turun dari motor dan melangkah maju. Sebilah pisau tajam terlihat pada genggaman masing - masing.
" Sial. Aku terkunci dari luar. " Laras menggumam geram melihat apa yang terjadi di hadapannya. Bakso yang sudah di belinya tadi urung di makan dan berceceran di bawah kakinya.
Sekonyong - konyong salah seorang diantara mereka berlari mendekati pak Ben dan menahan tubuh pak Ben dari belakang. Salah satu tangannya menghunuskan pisau di leher pak Ben dan tangan lainnya mengunci kedua tangan pak Ben di belakang tubuhnya.
Jo segera berlari mengarahkan kakinya ke tubuh pria yang menahan pak Ben. Namun segera di tangkis dengan tendangan kaki juga oleh salah satu dari mereka yang bisa membaca pergerakan Jo.
Pertarungan pun terjadi. Ketiga anak buah pak Ben berusaha keras melawan delapan orang dari mereka.
" Mark.., cepat paksa keluar gadis itu..! " lelaki yang tadi berbicara dan ternyata pimpinan dari kelompoknya berseru memerintah anak buahnya yang menahan pak Ben.
Seseorang yang dipanggil Mark itu pun menarik tubuh pak Ben arah mobil. Sambil tetap mengarahkan pisau ke leher, pria itu memaksa pak Ben untuk membuka pintu mobilnya.
Tanpa pikir panjang, tangan kanan pak Ben bergerak seolah akan membuka pintu mobil tetapi dengan cepat berpindah menahan lengan kanan Mark yang memegang pisau. Kaki kanannya menginjak keras ujung kaki Mark, membenturkan kepala belakangnya ke wajah Mark dan mendorong tangan kanan Mark untuk menjauh dari lehernya, memilin tangan itu dan memutar paksa tubuh Mark menghadap mobil dengan tangan kanan yang ditarik pak Ben dan di kunci di belakang tubuh Mark.
Mark berteriak kesakitan tidak menyangka akan serangan mendadak yang dilakukan pak Ben. Pisau di tangan kanannya jatuh terlepas.
Pak Ben sedikit memutar tubuhnya menghadap ke belakang, melayangkan kaki kanannya ke udara dan menendang seseorang yang ingin menyerangnya. Dilihatnya ketiga anak buahnya sudah terdesak. Sedikit panik pak Ben melumpuhkan Mark, dengan pukulan di tengkuk dan membuatnya pingsan. Memutar tubuhnya, memukul beberapa orang di hadapannya dan segera membantu anak buahnya.
Dari kejauhan terdengar raungan sirine polisi. Mat keluar dari mobil dan segera bergabung dengan pak Ben dan rekan - rekannya.
Mendengar hal itu kelompok pengendara motor itu pun segera pergi menjauhi tempat itu dan menghilang. Pak Ben sempat menghapalkan nomor polisi salah satu motor yang mereka kendarai.
" Diam ditempat. Kalian sudah di kepung..!! "
__ADS_1
*******
》》 Bersambung