Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Pesan Terakhir


__ADS_3

"Tuan,, beberapa anggota Badboy datang menyerang.. Sepertinya mereka mencari dan menunggu sesuatu dari kita.." sedikit menunduk pengawal itu melapor kepada Zicko.


" Axel, tolong kamu atur.., bereskan semuanya dengan cepat. Aku akan tetap disini menjaga nona Laras dan Tuan Handoko.." perintah Zicko.


" Tinggalkan dua orang bersamaku, untuk berjaga dan membantuku nantinya."


" Ingat Xel.., usahakan pancing agar mereka keluar dari sini. Banyak pasien dan orang orang yang pasti ketakutan. Jangan sampai jatuh korban yang tak berdosa.." sambungnya.


" Baik tuan.." Axel menunduk hormat dan mengajak beberapa pengawal berlari bersamanya. Sesekali intruksi keluar dari mulut Axel, mengatur strategi secara cepat.


Sementara itu di halaman depan rumah sakit terjadi baku tembak dan perkelahian. Petugas keamanan terlihat sangat shock dan hanya bingung ketakutan.


Pada akhirnya seseorang berteriak menyadarkannya untuk cepat bertindak meminta bantuan kepolisian setempat.


Beberapa korban tergeletak tidak bernyawa, lantai dan tanah pun kotor oleh darah saat Axel dan beberapa pengawalnya datang.


Sekilas mata Axel yang jeli melihat seseorang yang selalu berteriak memberi perintah dari pihak Badboy, secepat kilat Axel pun berlari kearahnya. Saat sudah sampai, Axel mengakhiri larinya dengan melompat tinggi, kaki kirinya ditekuk kesamping kiri begitu juga tubuhnya, kaki kanannya lurus mengarah ke tubuh lawan.


Pemimpin penyerangan itu pun kaget, refleks tangannya menahan kaki Axel yang menghujam ke tubuhnya. Namun karena dalam kondisi yang tidak siap, tubuhnya oleng dan jatuh terjerembab ke tanah di ikuti tubuh Axel yang mendarat sempurna di hadapannya.


Tidak menunggu lama, Axel menarik kedua tangan orang itu ke belakang tubuhnya dan membalik badannya dengan keras, mengunci tubuh orang itu diantara tanah dan tubuhnya.


" Ikut aku, cepat berdiri..!! " Axel memberi perintah. Orang itu ditariknya hingga berdiri. Seorang pengawal pun datang membantu Axel, menodongkan pistol ke arah kepala pemimpin itu, yang sedari tadi hanya diam dan menggeram kesal.


" WOOEEYYY BADBOOYY.., jika kalian tak mau pemimpin kalian mati, cepat tinggalkan tempat ini sekarang juga..!!!" Axel berteriak sekuat tenaga agar bisa di dengar oleh semua orang disitu.


" Tuan Kinoo...!! " beberapa anggota BadBoy yang mendengar dan melihat bossnya disandera langsung menghentikan kegiatan mereka.


" CUUIIIHHH...!! Jangan dengarkan dia, lanjutkan saja kesenangan kalian..hhaahhhaaahhaaa..." Kino tertawa keras.


" Kalau kalian mau kami pergi dari sini, lekas serahkan gadis kecil itu.! " sambung Kino.


" Banyak bac*t...!! kalian yang harus pergi dari sini..!!!" bentak Axel.


" Apa yang kamu inginkan dari gadis kecil itu..? " sambungnya.


" Ehhe heee..,, tidak banyak. Hanya boss kami yang benar benar paham dengan apa yang dia inginkan..ahhaahhhaaaaa...!" Kino tertawa puas, sementara otaknya sibuk memikirkan cara agar bebas dari belenggu tangan Axel yang kuat.


Dengan tidak sabar Axel menarik tubuh Kino sampai ke tengah jalan raya di depan rumah sakit. Di ikuti oleh semua anggota BadBoy dan juga anak buahnya. Mereka masing masing hanya diam terpaksa mengikuti kemauan Axel.


Pada akhirnya Axel berhasil memancing semua orang untuk menjauhi area rumah sakit, seperti pesan Zicko.

__ADS_1


Suara sirine mobil polisi terdengar dari kejauhan. Semua anggota BadBoy pun gelisah, mengingat ketua mereka masih disandera Axel, sedangkan polisi sudah hampir sampai ke tempat itu.


Kino yang cemas melihat celah bebas di bawahnya segera menginjak kaki kanan Axel dengan keras. Tangannya yang terlepas saat musuhnya berteriak kesakitan pun dengan cepat pula mengarahkan siku ke ulu hati Axel.


Axel yang jeli dengan sigap memiringkan tubuhnya menghindar. Kedua tangannya menggenggam pundak Kino yang sedikit terbungkuk karena menyikut ruang kosong, kaki kanannya mengarah dengan keras ke bagian perut Kino dengan lutut, membuat musuhnya seketika memuntahkan darah dan jatuh tersungkur saat Axel melepaskannya.


" Jangan bergerak,, angkat tangan dan diam ditempat..!! " beberapa polisi pun berlarian datang mengarahkan senjata ke semua yang ada disitu.


" Mundur..berpencar..!! " Kino berteriak keras ke semua anggotanya yang masih tersisa. Beberapa terlibat duel dengan seorang petugas polisi dan berlari setelah berhasil melumpuhkan.


Kino berlari mendekati mobilnya dan masuk dengan cepat. Memegang kemudi dan segera menjalankan mobilnya, melesat menjauhi tempat itu.


" Tuan Axel.. " seorang petugas polisi menghampiri dan menyapa, tangan kanannya memberi hormat seperti kepada atasan.


" Apa yang terjadi ? Mengapa terlambat sekali memanggil kami Tuan..? "


" Gawat pak, Yudha lagi lagi berulah. Tuan Handoko dan putrinya hari ini menjadi korbannya. " jawab Axel, tangan kanannya pun sama, memberi hormat kepada petugas kepolisian.


" Maaf pak, kami panik dan baru terfikir untuk menghubungi Anda.." sambungnya.


" Baik, kami akan segera tangani.. Tolong nanti anda datang ke kantor untuk membuat laporan.."


Beberapa anak buah Zicko terlihat membantu para petugas kepolisian membersihkan tempat itu. Tidak seorang pun dari anggota Badboy yang tertangkap, hanya tertinggal mereka yang tidak bernyawa.


Setelah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, merekapun pergi dengan beberapa wartawan yang ternyata sudah ada bersamaan dengan kepolisian tadi. Beberapa keterangan telah disampaikan dan mereka diminta untuk memberitakan semuanya dengan bijak dan berhati hati mengingat Badboy yang sangat berbahaya.


*****


" Laras..." Handoko perlahan membuka matanya, selang infus menghiasi tangan kirinya. Tubuhnya terasa kaku dan sakit saat akan digerakkan. Dia memperhatikan seluruh ruangan yang berwarna putih, aroma obat obatan pun tercium, dilihatnya seorang perawat memeriksa cairan infus dan akhirnya tersadar bahwa dirinya saat ini berada di rumah sakit.


Sejak operasi selesai dan melakukan perawatan intensif, Handoko dipindahkan ke ruang perawatan VVIP.


Zicko yang berjaga di dekat Handoko segera menghampiri.


" Handoko..., syukurlah, kamu sudah sadar.." memegang erat tangan Handoko dan tersenyum.


" Zicko..dimana Laras..? "


" Laras baik baik saja, masih tertidur setelah diberi obat penenang.. Tenanglah..dia ada di sebelah ruangan ini.."


" Apa dia benar baik baik saja, tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya..? " khawatir Handoko.

__ADS_1


" Iya, dia baik baik saja.. " Zicko mengangguk pasti.


" Aku sudah kehilangan istriku saat melahirkan dia.. Aku tidak mau kehilangan lagi.. "


" Kau tidak akan kehilangan lagi.., aku sendiri yang akan membantumu untuk menjaga Laras dengan baik.." Zicko mempererat genggaman tangannya, menenangkan.


" Yudha sangat keterlaluan.." Handoko mendesah kesal. Menoleh ke bagian kanan tubuhnya, meringis kesakitan saat mengingat luka di dadanya.


" Zicko.. Ambil ponselmu dan rekam semua perkataanku. Waktuku sudah tidak lama lagi.. Aku titip Laras, tolong jaga dan didik dia untuk menjadi kuat.. " meminta kepada Zicko.


" Tidak..! Kau berkata apa Handoko, jangan sembarangan ! Dokter bilang kau baik baik saja.. " menahan tangis, berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa sebenarnya Yudha telah membubuhkan racun pada peluru yang ditembakkan ke tubuh Handoko. Mungkin juga di semua senjata yang dia pakai untuk membunuh musuhnya. Hanya dalam hitungan jam, setiap orang yang terkena racun itu akan mengalami sesak nafas dan hawa yang sangat panas di dalam tubuhnya sebelum meregang nyawa.


" Dengar baik baik Zi.., cepat lakukan permintaanku..! "


" Suster..tetaplah disini sebentar.." sambungnya dan meminta seorang perawat untuk tetap tinggal disitu.


Zicko pun tak kuasa menolak sahabatnya. Dengan hati yang gusar dan air mata yang menetes, dia pun segera mengambil ponsel dari saku celananya, mengarahkan ke wajah Handoko dan menunggu untuk merekam semua pesan Handoko dengan hati tersayat.


" Laras.., ayah akan segera pergi nak.. Tetaplah baik dan menjadi seorang yang kuat kelak.. " dengan nafas yang sedikit terputus, Handoko berusaha keras untuk melanjutkan kata katanya.


" Jaga diri baik baik nak.. Patuhlah kepada paman Zicko yang akan merawat dan selalu menjagamu.. Hhhh.. Hhhhh..hhaaahh.. " nafas Handoko semakin berat.


" Handoko..sudahlah..." tak kuasa menahan perih dalam hatinya, Zicko menangis dan mencoba menghentikan Handoko yang menjawabnya dengan gelengan kepala. Wajahnya memerah karena berusaha keras menahan nafasnya agar bisa menyelesaikan keinginannya.


" Laras.., jangan pernah melakukan apapun dengan amarah atau dendam dalam hatimu.. Tetap hadapi apapun dengan kepala dingin.. Kamu telah melihat perlakuan Yudha dan anak buahnya terhadap ayah.., terserah padamu kelak nak.., apapun yang kamu lakukan doa ayah akan selalu menyertaimu.. Hanya satu permintaan ayah.., tetaplah kuat dan ikhlas akan apapun yang terjadi kelak.., besarkan hati untuk selalu memaafkan.." Handoko berhenti sejenak, terengah engah dan meminta air minum kepada perawat di sampingnya.


" Selamat tinggal nak.., maafkan ayah yang tidak bisa menemanimu sampai akhir kelak.. Ayah hanya sampai disini.. Ayah sudah ti..dak..kuat lagi nak.. Tetaplah ingat apa yang sudah ayah aa..jarrkkaannn.. Masuk ke kamar ayah, bukalah kotak kayu bertuliskan " LIFE " didalam ru..ang rraa...hh..a..sia a...yah..hhh.." Handoko terbatuk..nafasnya tersengal, tidak kuat lagi melanjutkan.


Zicko meraung..menyaksikan dan mendengar semuanya, air matanya deras mengaliri wajahnya. Dia pun segera mematikan ponsel dan menyimpan disakunya.


Perawat yang menahan tubuh Handoko pun tak kuasa menahan tangisnya. Perlahan diusapnya bahu Handoko. Seolah kepada ayahnya sendiri.


" Zi..ckoo..., jaga La..rrraasss.. Haahh..panaass.." tubuh Handoko sedikit mengejang, nafasnya semakin berat dan akhirnya pun menghembuskan nafas yang terakhir.


" Tidaaakkkk..Handokoo.. !!!"




》》 ***Bersambung***..

__ADS_1


__ADS_2