Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Suara dari Halaman depan


__ADS_3

" Zii.....hmmhh... " tubuh Sonya mengejang saat hendak merasakan pelepasannya.


" Tunggu sayang.., aku masih belum.. " Zicko mengulum dan mencecap bibir Sonya dengan gemas. Kedua tangannya bermain di semua area sensitif wanita yang berada di bawah tubuhnya.


Sesaat kemudian Zicko melepas miliknya dari tubuh Sonya, duduk bersimpuh dan sekali sentak tangannya yang kuat membalikkan posisi tubuh Sonya menjadi tengkurap, Zicko pun segera menyerang Sonya dari arah belakang. Kedua tangannya menyelusup dan bermain di kedua bukit kenyal.


Sonya memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang diberikan Zicko kepadanya. Hentakan - hentakan keras dari arah belakang membuat dirinya menggila dan menahan semua ******* kenikmatannya karena kondisi ruangan yang tidak ada peredam suara dan berdempetan dengan ruang yang lain. Hanya suara nafas memburu dan tubuh berbenturan yang terdengar teratur berirama.


" Sonya.. " Zicko mengerang dan mencapai klimaksnya berbarengan dengan istrinya. Tubuh keduanya mengejang saat mengalami pelepasan.


" Kamu luar biasa.. " Zicko terengah, membalikkan kembali tubuh Sonya dan mencium dahinya yang berkeringat setelah pertempuran hebat mereka. Setelah itu merebahkan diri masih tetap di atas tubuh polos wanita yang sangat dicintainya.


Sonya tersenyum mengusap - usap kepala Zicko dengan penuh perasaan. Rasa terima kasih dan syukur yang teramat dalam bergejolak dalam hatinya. Sudah lebih dari sepuluh tahun usia pernikahan, mereka masih belum dikaruniai seorang anak karena kondisi Sonya yang tidak memungkinkan. Kendati begitu Zicko masih tetap menerimanya dan malah semakin mencintainya.


Zicko selalu mendampingi dan menguatkan hatinya. Dan saat ini mereka merasa sudah cukup karena sudah ada Laras yang sudah di minta untuk menjadi anak mereka.


Sonya mengarahkan pandangan matanya ke seluruh ruangan yang mereka tempati sekarang. Biarpun dinding kamar itu hanya di lapisi cat berwarna putih biasa sudah cukup nyaman untuk di tempati.


Dengan gerakan perlahan Sonya mengambil ponsel dari atas nakas tepat di samping kirinya. Dilihatnya angka digital yang tertera pada layar dan sedikit berdecak. " Ternyata masih jam dua dini hari. Tapi aku sama sekali belum merasa mengantuk.. " gumamnya pelan.


Masih terbayang jelas pertempuran panas yang baru saja mereka lakukan. Bagaimana ekspresi wajah Zicko yang begitu puas dengan dirinya. Dalam hatinya benar - benar begitu sangat mencintai Zicko.


" Zii.., mandi dulu. Nggak enak banget tidur dengan kondisi begini. "


" Mmmmm.. " Zicko hanya mengerang malas.


" Zii.., gerah, lengket semua badan aku.. " Sonya sedikit mendorong tubuh Zicko.


" Jangan bergerak.., nanti itu bangun lagi. " goda Zicko.


" Sudah ah.., cape. Sudah dua kali, masa masih kurang.. " Sonya balas menggoda sambil tersenyum mencubit pipi Zicko. Dengan malas Zicko pun bangkit dari tubuh istrinya dan berjalan pelan ke arah pintu.

__ADS_1


" Eh.. Zii, mau kemana ? " seru Sonya tertahan.


" Ke kamar mandi, katanya di suruh mandi " sahut Zicko masih malas. Sonya pun langsung tertawa melihat ulah Zicko.


" Masa begitu sayang ? Kamu polosan, nggak tertutup apapun.., sedang di luar ada penjaga. " bisik Sonya sambil menutup mulutnya menahan tawa. Nicko menatap heran seraya memperhatikan tubuhnya yang ternyata masih polos tanpa tertutup selembar benang pun lalu memukul pelan dahinya saat menyadari bahwa dirinya masih telanjang.


" Ini kamar baru Zii.., bukan kamar kita seperti biasanya yang kamu bisa seenaknya keluar masuk ke kamar mandi. Kalau disini kamar mandinya di luar. " kata Sonya pelan.


" Aku lupa sayang.. " Zicko pun segera berpakaian sekenanya, menyambar perlengkapan mandi dan segera keluar dari kamar itu meninggalkan Sonya yang masih tertawa dan menggeleng - gelengkan kepalanya.


******


Bbrrrrssskkkk..! Bbrrrsssskkkk..!


Laras tersentak dari tidurnya. Lamat - lamat di dengarnya suara bergemerisik. Di kerjap - kerjapkannya matanya untuk mengambil penglihatan yang lebih jelas dan memasang telinga untuk memastikan bahwa suara itu berasal dari dalam ruangannya.


Sepersekian detik kemudian suara itu terdengar lagi. Laras bangkit perlahan, mengucek matanya dan sedikit meregangkan tubuh lalu berjalan ke arah meja di sudut ruangan. Semula dia mengira suara itu dari ponselnya yang di atas meja, namun ternyata di layar hanya menunjukkan gambar wallpaper kesukaannya.


Laras berdecak kesal. Dilihatnya jam dinding menunjukkan waktu masih pukul setengah dua dini hari. Karena masih mengantuk Laras berjalan kembali ke tempat tidur dengan sedikit menyeret langkahnya.


[ " test.., caky dua caky dua.. bbbrrrtttt, ssssskk " ]


Laras menghentikan langkahnya saat terdengar suara aneh, menajamkan pendengarannya dan mencari keberadaan sumber suara.


[[ " Caky dua, jawab ! " ]] suara itu muncul lagi.


Tiba - tiba Laras membuka laci mejanya yang sedikit terbuka. Merasa yakin bahwa suara itu berasal dari sana. Kedua netranya fokus menatap ponsel pemberian Axel. Terlihat sebuah notifikasi bertuliskan " Suara halaman depan ". Serta merta diambilnya ponsel itu, menggeser layar, menekan notifikasi dan sedikit menambah volume audio.


[ " Tuan, rumah masih tetap kosong. Gelap dan hanya lampu halaman saja yang menyala. Semua kamera terlihat mati. " ]


[[ " Sudah kamu pastikan juga yang di dalam ? " ]] seseorang yang di panggil bos membalas dengan tegas. Mendengar suaranya saja Laras langsung paham siapa seseorang itu.

__ADS_1


[ " Sudah Tuan. Kondisi di dalam masih tetap sama seperti di awal waktu saya menyusup kesini. " ]


[[ " Pasang kamera pengintai di situ. Aku yakin mereka sekali waktu pasti akan datang biarpun hanya sebentar. " ]]


[ " Baik Tuan. Saya pasang di dekat lampu teras. " ]


Tidak ada percakapan lagi setelahnya, hanya terdengar suara gemerisik seperti memasang sesuatu yang Laras yakini sedang memasang kamera pengintai sesuai perintah tuannya. Laras menatap layar ponsel dan memastikan bahwa semuanya sudah di seting otomatis merekam setiap suara yang masuk.


Sementara itu di suatu tempat terlihat Yudha sedang menatap ponselnya dengan gusar. Jari - jari tangannya mengetuk permukaan meja dengan keras. Di hadapannya duduk seorang pria jangkung berwajah kaku dan garang. Hanya diam memperhatikan tuannya yang sedang berfikir dengan gusar.


" Kamu yakin sudah kehilangan jejak mereka Kin ? "


" Yakin Tuan. Mereka menggunakan jenis mobil yang sama. Setelah setengah perjalanan tiba - tiba datang menyusul beberapa mobil yang sama juga lalu membaur bersama mereka. Kami sempat tidak mengenali mobil mana yang di tumpangi gadis kecil itu. "


" Kenapa kamu tidak mengambil gambar saja ? Dari situ kita bisa lihat nomor plat mobilnya. " Yudha mengerutkan kedua alisnya.


" Sudah Tuan. Kelompok Caky satu sudah memotret nomor mobil itu. Tetapi sepertinya ketahuan karena tiba - tiba dua mobil mereka yang berisi beberapa orang pengawal berhenti dan menghadang mereka. "


" Lalu ? "


" Mereka sepuluh orang berkelahi melawan caky satu yang hanya enam orang. Caky satu kalah dan ponsel mereka di hancurkan. "


" Bangs** !! " Yudha menggebrak meja berang.


" Saat sampai ke lokasi, caky satu sudah dilumpuhkan dan tidak bisa berbuat apa - apa. Mengetahui hal itu saya suruh caky satu mundur dan kami masih tetap lanjut mengejar mobil mereka. Tapi lagi - lagi ternyata perhatian kami telah di alihkan, mobil mereka menyebar, melaju cepat dan berpencar. Mobil utama sudah tidak terlihat. " Jelas Kino, orang kepercayaan Yudha.


" Bagaimana soal drone ? Bukankah drone itu mengikuti mereka ? "


" Hancur Tuan. Axel sepertinya menyadari keberadaan drone itu dan langsung menembaknya. Salah satu anak buah kita melihatnya. " jawabnya dengan wajah khas yang tanpa ekspresi sama sekali.


" Bangs** !! Kalian pikir aku bodoh dan membiarkan semua ini begitu saja ? Tunggu sampai aku menemukan kalian ! "

__ADS_1


********


》 Bersambung


__ADS_2