Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Kediaman Zicko


__ADS_3

Semuanya berlalu begitu cepat. Tak terasa setahun sudah Laras hidup bersama Zicko dan Sonya. Banyak hal telah mereka lakukan bersama hingga pada akhirnya Laras sudah bisa berlatih semuanya sendirian tanpa didampingi.


" Laras.., ada satu hal yang ingin paman sampaikan sama kamu. " Zicko berjalan perlahan mendekati Laras yang sedang asik dengan beberapa buku tentang berkuda kesukaannya.


" Ya paman.., katakan saja.. " hanya menoleh sebentar sambil tetap memilah milah buku didepannya.


" Laras..., sebenarnya ada sesuatu yang harus paman berikan padamu dari almarhum ayahmu.. " Zicko berhenti sejenak, menunggu reaksi Laras yang ternyata masih tetap sibuk dengan kegiatannya.


" Kamu tidak ingin dengar sesuatu tentang ayahmu nak.." Zicko mencoba memancing perhatian.


" Tidak paman.. Sudah cukup aku dengan kesedihanku selama ini. Aku ingin bangkit, dan berusaha untuk melupakan semuanya.., tentu saja kecuali segala sesuatu yang berkaitan dengan Yudha.." menghela nafas panjang.


" Tapi aku sudah berjanji bahwa itu harus ku sampaikan.. " mendekati laras sembari duduk berhadapan di lantai beralas karpet merah yang memang sering dipakai Laras di tempat itu.


" Lupakan saja paman.. Tidak akan ada masalah dengan itu.. "


" Tidak Laras. Itu adalah amanat terakhir ayahmu. " Zicko menegaskan. Diambilnya perlahan buku yang dipegang oleh Laras.


" Tolong beri waktu sebentar untuk mendengarnya.. " Zicko mengambil sebuah ponsel dari dalam saku samping celananya, memegang tangan kanan Laras, membaliknya perlahan hingga menghadap keatas kemudian meletakkan ponsel itu diatasnya.


" Ini amanat terakhir beliau. Lihat dan dengarkan baik baik.. "


Laras terpaku memandang ponsel yang biasa dipakai oleh ayahnya itu. Sekian detik bayangan kenangan dirinya bersama Handoko melintas. Seketika dadanya sesak. Air matanya perlahan luruh satu persatu, menetes diatas ponsel yang kini berada dalam genggaman tangannya tepat di depan dadanya.


Ayah...


" Kk..kapan ayah memberikan ponsel ini paman..? "


" Di saat saat terakhir beliau akan berpulang.." Zicko menjawab pelan saja. Seketika hatinya di selimuti kesedihan yang sangat dalam ketika mengingat peristiwa waktu itu.


Laras menghela nafas panjang. Dikuatkannya hatinya untuk menyalakan ponsel itu. Kedua tangannya gemetar dan rasa hatinya mendadak tidak karuan.


Laras mengingat betul kata sandi ponsel itu. Karena ayahnya selalu memakai inisial nama dan usianya. Setiap tahun selalu berganti kode.


Setelah sandi terbuka, perasaan Laras semakin was was. Kegalauan menyelimuti hatinya. Perlahan dia menyentuh dan menggeser beberapa aplikasi yang terpampang di layar ponsel itu sampai pada akhirnya dia menemukan galeri yang berisi sebuah rekaman video satu satunya disitu. Ujung jarinya menekan perlahan dengan gemetar.


●》


" Laras.., ayah akan segera pergi nak.. Tetaplah baik dan menjadi seorang yang kuat kelak.. "


" Jaga diri baik baik nak.. Patuhlah kepada paman Zicko yang akan merawat dan selalu menjagamu.. Hhhh.. Hhhhh..hhaaahh.. " nafas Handoko semakin berat.


" Handoko..sudahlah..."


" Laras.., jangan pernah melakukan apapun dengan amarah atau dendam dalam hatimu.. Tetap hadapi apapun dengan kepala dingin.. Kamu telah melihat perlakuan Yudha dan anak buahnya terhadap ayah.., terserah padamu kelak nak.., apapun yang kamu lakukan doa ayah akan selalu menyertaimu.. Hanya satu permintaan ayah.., tetaplah kuat dan ikhlas akan apapun yang terjadi kelak.., besarkan hati untuk selalu memaafkan.."


" Selamat tinggal nak.., maafkan ayah yang tidak bisa menemanimu sampai akhir kelak.. Ayah hanya sampai disini.. Ayah sudah ti..dak..kuat lagi nak.. Tetaplah ingat apa yang sudah ayah aa..jarrkkaannn.. Masuk ke kamar ayah, bukalah kotak kayu bertuliskan " LIFE " didalam ru..ang rraa...hh..a..sia a...yah..hhh.." Handoko terbatuk..nafasnya tersengal, tidak kuat lagi melanjutkan.


●《《■》


Seketika tangisan Laras pecah. Ponsel ayahnya terlepas. Tubuhnya lemas, kepalanya tertunduk. Kedua tangannya mengepal dihantamkan ke lantai, masih dengan posisi duduk. Kedua bahunya turun naik seirama dengan sedu sedan tangisnya.

__ADS_1


Zicko ikut hancur perasaannya melihat kesedihan Laras. Duduk bersila dihadapan Laras, menangis, kepalanya menunduk, kedua tangan menutup wajahnya. Namun dia segera tersadar. Dirinya tidak seharusnya ikut terhanyut, seharusnya dia terlihat kuat agar Laras tidak semakin lemah.


Sonya yang berdiri di dekat pintu, tidak jauh dari situ pun terlihat lemas. Air matanya deras diwajahnya. Rupanya sejak awal dia sudah berada disitu. Melihat dan mendengarkan semuanya.


Diapun segera berlari menghampiri mereka. Tak kuasa menahan sedih, Sonya menangis, menghambur dan memeluk Laras erat. Seolah ingin mengambil semua beban dan kesedihan Laras.


" Laras... " sedikit gemetar Zicko mencoba memanggil Laras. Sedikit takut apabila Laras krmbali shock seperti sebelumnya. Dia pun segera memajukan tubuhnya perlahan mendekati Laras, meraih pundaknya dan memeluk dengan penuh kasih sayang. Sonya sedikit mundur, memberi kesempatan kepada suaminya.


******


" Paman.., bisa antar aku ke rumah ayah..? " beberapa waktu setelah Laras kembali tenang.


" Baiklah.., sebentar paman ambil kunci mobil dulu.. "


" Aku ikut. Ini kunci mobilmu.. " Sonya berjalan mendekati mereka dari arah kamarnya.


" Terima kasih sayang.. " Zicko menerima kuncinya dan segera berjalan keluar di ikuti Sonya dan Laras.


" Tuan.., biarkan saya yang menyetir.. " Pak Ben berlari menghampiri mereka.


" Tidak usah pak, biar saya saja.. "


" Tapi tuan.., diluaran sana ada banyak anak buah Yudha yang berkeliling.. Menurut informasi, sedang mencari nona Laras.. "


Zicko terkejut memandang pak Ben. Mereka pun segera menghentikan langkahnya.


" Mencari Laras..? "


" Untuk apa..? "


" Saya masih belum tahu tuan, maaf.. Tetapi orang kita sedang menyelidikinya saat ini. "


Zicko berfikir keras. Menimbang semua kemungkinan yang terjadi jika mereka bertemu anak buah Yudha nantinya.


" Apakah mereka mengetahui semua mobil kita..? "


" Sepertinya begitu tuan. Dan mereka sudah mengetahui juga nomor plat mobil kita. "


" Bagaimana mereka bisa tahu..? "


" Yudha mempunyai anak buah yang sangat menguasai dunia IT. Mereka adalah seorang hacker, dan salah satunya pelarian dari Amerika. " berhenti sebentar, pak Ben mengeluarkan buku catatannya, " Dari empat mobil kita yang keluar dalam seminggu ini, tiga diantaranya selalu saja dihadang anak buah Yudha. Padahal sudah melewati rute rahasia kita. "


Zicko mendengarkan dengan seksama. Dalam benaknya sudah terfikirkan bagaimana sepak terjang Yudha saat ini.


" Pak Ben,, sampaikan ke semua sopir dan penjaga di tempat ini. Perketat keamanan. Tambah orang untuk berjaga di gerbang depan dan belakang. "


" Baik Tuan.. "


" Perintahkan untuk mengganti semua warna cat mobil kita dan memasang plat nomor palsu. Aku akan berbicara langsung ke pihak kepolisian untuk meminta ijin sementara dengan tujuan untuk keamanan.. "


Pak Ben hanya mengangguk dan menulis semua perintah Zicko.

__ADS_1


" Paman, kita jadi ke rumah ayah atau.. ? " Laras ragu bertanya.


" Kita tunda dulu sementara, sampai mobil paman berganti warna dan plat nomor. Kamu tidak keberatan kan..? "


" Baik paman... " Laras mengangguk setuju.


" Kenapa tidak memakai saja yang sudah seharusnya..? Biarkan saja jika anak buah Yudha tahu. Kita sekalian memancingnya untuk keluar dari sarangnya.. " dengan penuh kebencian Laras menyampaikan isi hatinya.


" Kita masih belum siap untuk semua itu Laras.. Tunggu beberapa waktu lagi kita akan segera menangkap mereka.. "


Laras menghembuskan nafas kasar. Hatinya merasa kesal dan dendam kepada Yudha.


" Pak Ben, jalankan semuanya mulai saat ini juga.. "


" Baik tuan.. " pak Ben segera pergi dari tempat itu untuk menjalankan perintah Zicko.


DOORRRR...!


DOOORRRRR.. !


Tiba tiba terdengar suara tembakan dari arah samping, sebelah utara kediaman Zicko.


Mereka pun segera berlari masuk kedalam rumah dan bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.


Zicko mengambil ponsel dari dalam sakunya, menggeser dan menekan sebuah nomor.


" Periksa sebelah utara rumah.. "


[[" Sudah tuan.., kami sudah di lokasi. " ]]


" Oke, tetap hati hati.. Di gerbang depan ada berapa orang berjaga.. ? "


[[ " Maaf tuan, karena panik spontan saja kami langsung berlari kesini. " ]] menghentikan sebentar bicaranya dan melihat seluruh teman yang ikut dengannya. [[ " Di depan tersisa dua orang tuan.., maafkan saya.. "]] wajahnya terlihat menyesal.


" Oke, saya akan ke depan. "


Zicko berlari ke gerbang depan dengan membawa segala perlengkapan untuk berjaga jaga. Pak Ben segera menyusul bersama lima orang anak buahnya.


" Tambah orang di gerbang belakang. Satu kelompok jaga nona Laras dan nyonya Sonya di dalam.. " Pak Ben memberi perintah lewat ponselnya.


Betapa terkejutnya dia saat memasukkan ponsel ke dalam sakunya, dilihatnya Laras telah berlari mendahului. Ditangannya menggenggam pistol Desert Eagle kesayangannya. Pak Ben pun menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


Tidak jauh di belakangnya Sonya pun turut berlari bersama sekelompok anak buahnya yang sudah ditunjuk pak Ben untuk menjaganya. Sekali lagi pak Ben menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


" Begini kalau punya boss jagoan semua.. "




》》 **Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2