Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Kedatangan Yudha


__ADS_3

Bbsssssssttttttt !


Jantung Axel berdesir. Mengintip dari balik tempat persembunyiannya. Melihat siapa lagi yang datang.


" Xel.. "


" Ah tuan Zicko. Hampir saja tadi ketahuan. Untung anda masuk setelah mereka pergi. " Axel menarik nafas lega. Melihat yang masuk ternyata Zicko.


" Aku dengar sedikit tadi. Aku menarik tuas saat sudah terdengar suara pintu ditutup. " Zicko tersenyum.


" Sudah kau dapatkan tablet itu ? " lanjutnya.


" Sudah. Kita harus segera pergi dari sini. Yudha akan kesini, saya takut kalau mereka memergoki kita dan lorong rahasia itu ketahuan.. " Axel segera mengajak Zicko pergi.


" Sebentar. Ini tablet ku.. Biar ku bawa....."


" Lebih baik jangan dulu tuan. Anak buah Yudha sudah mengetahuinya dan mungkin melaporkan kondisi tempat ini secara detail ke Yudha. Jangan sampai mereka curiga jika kondisinya tidak sesuai dengan yang di laporkan. " belum sempat Zicko menyelesaikan perkataannya Axel sudah memotong dan mencegah Zicko untuk mengambil tabletnya.


" Kamu benar.. Ayo cepat keluar dari sini. "


Mereka pun langsung masuk ke dalam lorong. Axel mengembalikan tuas ke tempat semula setelah sebelumnya memeriksa dan memastikan kondisi ruang kerja Zicko tetap seperti semula.


*****


Laras mondar mandir gelisah menunggu kedatangan dua orang laki - laki yang sangat di kaguminya. Sesekali netranya melirik ke arah lorong namun masih tetap kosong. Tidak terlihat tanda - tanda maupun suara langkah kaki yang berjalan.


Sonya hanya menggelengkan kepala melihat anak angkatnya yang begitu tidak sabaran. Sambil menunggu Zicko dan Axel Sonya membuka ponselnya dan memeriksa setiap pesan yang masuk, yang belum sempat di bukanya sejak kemarin.


Netranya membulat saat melihat notifikasi pesan masuk dari sahabatnya.


" Hai Sonya, kami di villa Kosasih daerah Magenta, tidak jauh dari tempat tinggalmu. Pasti kamu tau lah.. "


" Oh iya, kami hanya tiga bulan di sini. Jangan merindukan kami jika sampai saat itu kamu tidak datang kesini sampai akhirnya kami kembali ke Australia. 🙁 "


Sonya terkekeh perlahan membaca pesan dari Michie. Jemari Sonya segera mengetikkan pesan balasan.


" Michie.. Maaf aku baru baca pesanmu. Ada sedikit masalah di tempat tinggal kami. Nanti kalau ada waktu pasti akan ku ceritakan. "


" Aku akan cari waktu untuk mengunjungimu. "


[ Sending massage. ]


Bertepatan setelah itu Zicko dan Axel berjalan masuk dari lorong.


" Bagaimana, semuanya baik - baik saja ? " Sonya menatap keduanya dengan intens.

__ADS_1


" Kami baik - baik saja nyonya.. " Axel menjawab.


" Tidak terjadi apapun tadi. Hanya saja Axel hampir saja ketahuan. Tapi mereka segera pergi. " timpal Zicko.


" Syukurlah kalau begitu. "


Merekapun beranjak dari tempat itu hendak melihat rekaman cctv dalam tablet yang sudah berhasil di ambil oleh Axel.


" Laras apa sudah masuk duluan tadi ? " tanya Zicko seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


" Tadi sih ada bersamaku. " Sonya mengingat - ingat. " Coba aku lihat di dalam kamarnya. " segera berlalu dan membuka kamar Laras.


Sementara Zicko dan Axel sudah disibukkan dengan tablet dalam pegangan Axel.


" Zii.., Laras tidak ada di dalam kamarnya. " seru Sonya tercekat. Zicko dan Axel langsung mengangkat kepala dan menatap Sonya yang sedang panik.


Axel berjalan dan membuka pintu kamar mandi mencari Laras namun kosong. Begitu juga dengan tempat lain.


Wajah Sonya pucat pasi. Sebuah kekhawatiran tiba - tiba muncul dalam benaknya.


" Zii..! " kedua netra Sonya membulat berbarengan dengan netra Zicko dan Axel yang menatapnya. Memikirkan hal yang sama.


" Lorong rahasia ! " ujar mereka berbarengan.


" Siapa yang menutupnya tadi ? "


" **** ! Yudha akan datang. Nona Laras belum mengetahui hal itu. " seru Axel khawatir.


" Benarlah Xel ? "


" Iya Tuan. Saya dengar langsung dari salah satu anak buahnya yang masuk ruang kerja tadi. "


" Gawat ! " wajah Sonya semakin pias. Dengan langkah lebar dirinya berlari ke arah peti kayu besar tempat penyimpanan senjata. Mengambil sepasang pistol dan menyelipkan diantara ikat pinggangnya.


" Sonya. Apa yang kamu lakukan ? " tanya Zicko khawatir seraya berjalan mendekati istri tercintanya.


" Menyelamatkan Laras. " lirih Sonya. Netranya menatap tajam ke depan.


" Jangan gegabah. Kita masih belum mengetahui kebenarannya. Bisa saja orang itu bohong agar bisa mengajak temannya pergi dari ruanganku. " menepuk pelan pundak Sonya.


" Tidak. Aku akan tetap menyusul Laras. " tegasnya.


" Nyonya, di luar sana terlalu berbahaya. Kita juga tidak tahu berapa banyak pasukan Yudha yang di ajak. "


" Benar kata Axel. Kamu berjaga disini saja. Biar aku dan Axel yang pergi menyusul Laras. "

__ADS_1


Sonya diam tak bergeming.


*******


Mereka sedang sibuk sendiri dengan tablet itu. Ini kesempatanku untuk masuk ke dalam lorong dan memasang kamera cctv ini di halaman depan. Aku tidak puas jika hanya mendengar suara saja. Akan lebih baik jika ada kamera, agar kami tahu wajah para anak buah Yudha baj****n itu.


Laras mengendap perlahan mendekati pintu lorong yang masih terbuka, di saat ketiga orang dewasa itu sedang membicarakan masalah tablet dan cctv.


Pelan - pelan di tekannya tuas penutup pintu lorong. Dan menutupnya perlahan. Tersenyum puas dan segera berlari ke ujung lorong. Mencari tuas untuk membuka dinding.


Laras melihat jamur kecil dan mencoba menariknya. Jamur kecil diantara beberapa tonjolan yang mirip jerawat besar. Perlahan dinding pun terbuka menampakkan ruang kerja Zicko dengan pencahayaan yang terang. Laras tertawa lebar telah berhasil menemukan kuncinya.


Sejak di tinggal waktu itu kediaman Zicko memang sengaja tidak di biarkan gelap di beberapa ruang.


Laras berjalan mengitari ruangan itu. Menemukan celah dan menempelkan sebuah alat penyadap di dalamnya. Sepertinya mereka sering ke tempat ini. Aku harus tahu apa yang sebenarnya mereka cari.


Setelah selesai Laras langsung membuka pintu dan keluar perlahan. Melihat sekitar dan berjalan mengendap ke arah depan rumah.


Kediaman Zicko yang begitu luas lumayan memakan waktu. Laras melihat arloji di tangannya. Tidak sesuai dengan ekspetasiku. Ku kira waktu setengah jam cukup untuk keluar dan memasang kamera ini, setelah itu kembali.


Saat sampai di pintu utama Laras mendengar suara orang bercakap - cakap di luar. Sedikit menepikan tubuhnya dan mengintip dari balik kaca jendela.


Kedua netranya membulat saat dilihatnya seseorang yang sangat dia benci selama ini berjalan bersama beberapa orang anak buahnya yang berbadan tegap, berjalan dari gerbang depan ke arahnya. Yudha ! Si baj****n itu, pembunuh ayahku..


Tidak ada waktu lagi untuk kembali. Laras mencari tempat untuk bersembunyi di dekatnya. Ada sebuah meja besar di ujung ruangan. Di baliknya terdapat ceruk kosong. Meja yang sering dibuat Axel bekerja membuat laporan.


Tanpa pikir panjang Laras segera masuk ke dalam ceruk itu. Lumayan muat untuk tubuhnya yang langsing. Meringkuk dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jantungnya berdebar tak karuan. Astaga.., pintu ruang kerja paman masih terbuka dan aku belum menutup dinding lorong itu ! Ya Tuhan bagaimana ini..


Ceklek !


Pintu utama terbuka, terdengar langkah - langkah memasuki ruangan itu.


" Apakah tempat ini sudah di periksa ? " tanya seseorang dengan suara beratnya.


Suara itu.. Suaranya !


" Sudah Tuan Yudha. Beberapa kali kami memeriksa tempat ini. Begitu juga ruangan yang lain. " jawab seorang anak buahnya.


Klothakkk !


" Suara apa itu ? "


Laras terkesiap.


******

__ADS_1


》 Bersambung


__ADS_2