Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Dunia baru Larasati


__ADS_3

Setelah beberapa hari tinggal di rumah almarhum ayahnya, ditemani Zicko dan Sonya, hati Laras pun berangsur tenang.


Setiap hari Sonya dengan telaten menemani, menghibur dan memberikan pengertian kepada Laras tentang semua hal yang telah terjadi. Dan juga mengatakan kepada Laras untuk tidak berputus asa.


" Kita berangkat sekarang sayang.., dimana Laras..? " sambil melihat sekitar.


" Ada di teras depan Zii.. "


Sonya berjalan ke depan dan menghampiri Laras yang duduk diam, termenung menatap kejauhan.


" Laras.., kita berangkat yuk.., semuanya sudah siap. " lembut Sonya merangkul pundak Laras. Mengajaknya pergi dari tempat itu dan berpindah kerumahnya.


Laras hanya diam mengikuti kemauan Sonya. Sementara Zicko hanya tersenyum memandang mereka berdua.


" Pak Ben, tolong.. " Zicko menyerahkan beberapa koper besar ke depan pak Ben dan beberapa anak buahnya yang berdiri disitu untuk membantu berkemas.


Segera pak Ben memberi kode dan semua pun bergerak cepat membersihkan tempat itu. Beberapa orang membawa koper2 besar keluar untuk diletakkan ke dalam mobil box yang sudah disiapkan di luar.


Zicko berjalan pelan beriringan dengan Laras dan Sonya. Kedua tangannya di dalam saku celana. Santai dia berjalan, matanya tegas menatap ke depan, seolah siap dengan apapun yang akan terjadi nantinya.


" Handoko.., tenanglah disana.. Aku dan Sonya akan selalu menjaga anakmu, kami bertekad akan menjadikannya wanita yang kuat seperti harapanmu. Tunggu saja nanti saat dia sudah beranjak dewasa, kau akan lihat..betapa dia sangat tangguh dan membanggakanmu.. "


*****


" Arahkan langsung tepat ke sasaran.. " Zicko memberi aba aba, bersiap dengan busur dan anak panah di tangannya mengarah lurus ke depan, di sampingnya Larasati dengan sabar mengikuti semua gerakan yang dilakukan Zicko.


" Lepas..! "


Kedua anak panah pun melesat, menerobos angin dan akhirnya menancap tepat di titik tengah sasaran.


Zicko tersenyum puas melihat perkembangan Larasati yang begitu pesat. Dia sendiri dan Sonya yang turun tangan mengajarkan semuanya, dengan alasan agar bisa lebih dekat dan memahami sifat Laras.


Hari - hari Laras selalu di isi dengan belajar dan selalu berlatih katangkasan. Di usianya yang terbilang masih relatif muda, Laras sudah menikmati kerasnya kehidupan, yang mendorong jiwanya untuk terus berlatih, dengan harapan bahwa suatu saat dia akan membalas kematian ayahnya.


Selain memanah, Larasati lumayan mampu berkuda dan sedikit pelajaran menembak di dampingi oleh Sonya.


" Bagus Laras.., kamu boleh istirahat setelah ini. "

__ADS_1


" Sebentar paman, aku masih ingin berlatih menembak.."


" Oke.., biar paman temani.."


" Tidak usah.. Aku ingin berlatih sendirian paman.. " tolak Larasati secara halus dengan pandangan mata memohon.


" Baiklah.. Tapi kamu harus selalu hati hati. Senjata - senjata itu sangat berbahya. Berlatihlah sesuai dengan apa yang sudah diajarkan.. "


" Siap paman.." kegirangan Larasati mengangguk dan segera berlari ke sisi lain halaman belakang rumah Zicko yang memang digunakan sebagai tempat berlatih bersama para anak buahnya.


Zicko hanya tersenyum gemas dan menggelengkan kepala melihat tingkah laku Laras.


Dari atas balkon rumah Zicko yang menghadap halaman belakang, Sonya yang sejak awal memperhatikan mereka berdua sedang latihan, hanya bisa tertawa bahagia. Dalam hatinya sangat bersyukur melihat kesehatan Laras yang sudah semakin membaik dan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Dibantu oleh dokter Hans, mereka dengan telaten merawat Laras.


Tiba - tiba Sonya teringat pesan terakhir Handoko. Diapun segera pergi meninggalkan tempat itu dan menghampiri Zicko yang kini sudah berada di ruang makan.


" Zii.., bagaimana dengan pesan terakhir Handoko. Apa kamu sudah menyampaikan semuanya kepada Laras..? "


" Belum.., aku menunggu waktu yang tepat.. " meneguk air putih dalam botol yang diambilnya dari lemari es.


" Aku juga memikirkan hal itu.. " Sonya berjalan mendekat ke arah Zicko.


" Aku harap..Laras akan benar - benar pulih. Baik secara fisik maupun kejiwaannya.. " sambungnya sedih.


" Dokter Hans sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Kamu lihat sendiri kan.., setiap dua minggu sekali dia datang bersama psikiater terbaik di tempat kerjanya. Dan mereka selalu memberikan terapi yang sangat baik untuk Laras.. " menarik salah satu kursi makan dengan perlahan dan kemudian duduk bersandar, menghela nafas panjang.


" Aku yakin dalam waktu dekat kondisi Laras akan stabil.. " kata Sonya penuh harap.


" Ada yang mau aku siapkan buatmu Zii..? "


" Tolong buatkan aku kopi terbaikmu.." tersenyum Zicko mengedipkan sebelah matanya ke arah Sonya.


" Baik Tuan Besar.. " sambil tersipu Sonya segera menyiapkan permintaan Zicko.


Zicko bersandar dengan malas. Sebelah tangannya mengusap kepala dengan kasar. Matanya menerawang menatap lembaran surat kabar di atas meja makan. Headline surat kabar memberitakan bahwa kelompok Yudha sudah benar - benar keterlaluan dan membuat masalah di banyak tempat. Hatinya sedikit gusar, khawatir kalau suatu saat Yudha dan anak buahnya menemukan tempat tinggalnya saat ini.


" Minumlah Zii.. " Sonya meletakkan kopi ke atas meja di depan Zicko sembari duduk di samping Zicko, mengusap lembut pundaknya.

__ADS_1


" Terima kasih.. "


Sonya tersenyum memandang suaminya. Dari dulu Zicko selalu sopan dan penuh perhatian. Tidak pernah sekalipun Zicko menuntut anak darinya sejak mengetahui bahwa mereka tidak akan bisa mempunyai keturunan karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Dia benar - benar merasa sangat beruntung menjadi istrinya.


" Ada apa memandangiku seperti itu..? " Zicko tersenyum melirik Sonya disampingnya, sambil sesekali menyeruput perlahan kopinya.


" Aku sangat beruntung Zii.., mendapatkan kamu sebagai suamiku.. "


" Terus.. ? "


" Ya tidak ada terusannya.. Cukup begitu saja.. " Sonya mengusik rambut Zicko dengan gemas. Zicko kembali tersenyum memandang wajah Sonya yang sangat dekat dengannya. Serta merta diapun segera memegang lembut kepala Sonya, menariknya perlahan ke arah wajahnya. Dikecupnya pelan bibir istrinya dengan penuh perasaan. Zicko tidak bisa membayangkan kehidupannya jika tidak ada Sonya disampingnya.


Sonya memejamkan matanya, menikmati kecupan lembut suaminya. Meskipun sudah bertahun - tahun mereka menikah, masih saja debaran jantungnya selalu memburu ketika mendapat perlakuan mesra dari Zicko.


" Maafkan aku Zii.., aku tidak bisa memberimu keturunan.. " terengah Sonya berkata dengan lirih. Sambil tetap meladeni Zicko.


" Ssshhh.., sudah ada Laras... " Zicko segera menutup mulut Sonya dengan bibirnya seolah tidak ingin mendengar kata - kata apapun dari Sknya.


Zicko menarik tubuh Sonya, mengajaknya berdiri lalu merengkuh tubuh Sonya ke dalam pelukannya. Bibir mereka masih tetap berpagutan saling mengulum dengan penuh hasrat.


Zicko mendorong perlahan tubuh Sonya dengan tubuhnya, menekannya ke dinding di dekat mereka. Kedua tangan tangan Sonya melingkar di pundak Zicko. Pasrah dengan semua kemesraan Zicko.


" Tu.... " pak Ben yang tiba - tiba datang ingin menyampaikan sesuatu, mengurungkan niatnya saat melihat kedua majikannya sedang bermesraan. Sedikit berdehem diapun segera pergi dari tempat itu.


Bodoh sekali aku ini..langsung masuk begitu saja tanpa tahu kalau mereka berdua sedang....


Ish..ceroboh.., bagaimana kalau sampai mereka tahu ada aku..?


Pak Ben pun segera melanjutkan kembali pekerjaannya.


**********




》》 **Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2