
Laras memeriksa hasil rekaman suara yang baru saja di dengarnya tadi. Setelah membuat salinan dan mengirimkan ke ponselnya sendiri Laras segera bergegas keluar dari kamarnya.
Belum sempat menutup pintu kamarnya, Laras dikejutkan dengan sosok laki - laki yang berjalan tergesa - gesa ke arah ruangan yang paling ujung. Tangannya menggenggam bungkusan hitam. Ruangan itu remang - remang, membuat Laras tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang baru saja melintas.
Laras menoleh ke sebelah kiri arah pintu masuk, kedua netranya menyipit dan dilihatnya dua orang penjaga sedang tertidur lelap di tempatnya masing - masing.
" Siapa kau ? " Laras sedikit berteriak menegur sosok tersebut dan segera menghampirinya.
Sosok itu pun berhenti seketika tanpa memalingkan wajahnya yang membelakangi Laras.
Hampir saja Laras mendaratkan pukulan ke arah kepala orang itu namun tiba - tiba mulutnya memekik tertahan dan membelokkan arah pukulan ke tempat kosong.
" Paman ? " Laras terkejut karenya ternyata sosok itu adalah Zicko.
" Laras ? Sedang apa kamu ? "
" Harusnya aku yang bertanya, paman sedang apa jam segini tergesa - gesa ke kamar mandi, sakit perut ? " Laras melirik sesuatu dalam pegangan Zicko yang di kiranya sebuah bungkusan ternyata adalah handuk yang di lipat dan di gulung.
" Ehm.., anu.. paman mau mandi, gerah. " jawab Zicko sekenanya.
Laras tidak begitu menghiraukan jawaban Zicko, " paman ada sesuatu yang mau ku sampaikan. "
" Seberapa penting ? Tunggu paman selesai mandi. " sahut Zicko seraya masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Laras yang hanya tercenung menatapnya.
" Ada apa Laras ? " Sonya keluar dari kamar sambil membetulkan tali piyama tidurnya.
" Ada yang harus ku sampaikan. Tapi rupanya paman sedang terburu - buru ke kamar mandi. "
Sonya mengulum senyum. " Kenapa tidak coba sampaikan ke paman Axel ? Apa harus ke paman Zicko.. ? "
" Oh iya tan.. Oke coba aku ke kamarnya. "
" Harus sekarang ya ? "
" Iya tan. Takutnya aku lupa.. " Laras menjawab sambil berjalan ke arah kamar Axel.
Laras mengetuk pintu pelan saat sampai di depan kamar Axel. Kedua penjaga langsung terjaga dan bersikap siaga saat menyadari keberadaan Laras dan Sonya di tempat itu.
" Ya, ada apa nona ? " Axel keluar dari kamarnya.
" Penyadapku sudah memberikan hasil paman.. ! " seru Laras bersemangat membuat Axel langsung memberi isyarat dengan telunjuknya untuk mempelankan suara.
" Baik nona. Apa Tuan Zicko sudah mengetahui ? " Axel bertanya pelan, dalam hatinya merasa tidak enak jika dirinya orang pertama yang mengetahui kabar itu sebelum Zicko tuannya.
" Paman Zicko terburu - buru tadi. Aku sudah tidak sabar untuk menyampaikan berita ini. "
" Katakan saja tidak apa - apa ras. Maaf paman tadi terburu - buru. " tiba - tiba Zicko sudah bergabung di tempat itu dengan penampilan yang lebih fresh. Sonya menatapnya kagum.
" Tapi tidak disini. " tegas Zicko. Dia memberi isyarat kepada ketiga orang itu untuk mengikuti langkahnya.
******
Laras menekan tombol perekam suara dari ponsel khusus pemberian Axel lalu meletakkan ponsel itu di atas meja, di tengah - tengah mereka berempat, Zicko, Laras, Sonya dan Axel yang berkumpul di ruang senjata sekaligus ruang kerja Zicko.
__ADS_1
Ruangan itu sangat luas dibandingkan dengan ruang yang lain sehingga Zicko segera memanfaatkannya untuk multifungsi.
[ " test.., caky dua caky dua.. bbbrrrtttt, ssssskk " ]
Terdengar suara gemerisik seperti yang telah di dengarkan Laras sebelumnya.
[[ " Caky dua, jawab ! " ]]
Diam beberapa saat, semuanya bersabar menunggu kelanjutannya.
[ " Tuan, rumah masih tetap kosong. Gelap dan hanya lampu halaman saja yang menyala. Semua kamera terlihat mati. " ]
[[ " Sudah kamu pastikan juga yang di dalam ? " ]]
[ " Sudah Tuan. Kondisi di dalam masih tetap sama seperti di awal waktu saya menyusup kesini. " ]
[[ " Pasang kamera pengintai di situ. Aku yakin mereka sekali waktu pasti akan datang biarpun hanya sebentar. " ]]
[ " Baik Tuan. Saya pasang di dekat lampu teras. " ]
Setelah itu terdengar sedikit suara gemerisik.
Zicko dan Sonya mengerutkan keningnya berfikir sedangkan Axel tetap tenang, kedua tangannya berdiam di dalam saku celana di masing - masing sisi.
" Sudah ku duga mereka pasti akan melakukan sesuatu di situ dan untungnya sudah ku pasang penyadap. " Laras memecah kesunyian.
" Kira - kira ada berapa orang yang menyusup barusan di rumahku ? " Zicko menggumam pelan.
" Akan saya lihat dari kamera cctv Tuan. " sahut Axel yang mendengar dengan jelas perkataan Zicko.
" Apakah cctv kita semua masih berfungsi ? " tanya Zicko heran.
" Masih Tuan. Saya bersama beberapa ahli telah merubah letak lampu indikatornya dan membuatnya agar tidak menyala meskipun cctv sedang aktif. " Axel menjelaskan.
" Lalu tablet itu ? "
" Command center itu sudah kami modifikasi untuk bisa disambungkan dengan tablet khusus yang sudah saya rancang dan tersinkronisasi dengan semua cctv di rumah Tuan. "
" Woooww.., lagi - lagi paman Axel keren ! " ucap Laras kagum.
" Tinggal bagaimana cara kita mengambil tablet itu.. " kata Zicko lemah.
" Saya akan mengambilnya Tuan. " sahut Axel.
" Bagaimana caranya ? Sepertinya anak buah Yudha sudah di tempatkan di sekitar wilayah ini. " kali ini ganti Sonya yang bertanya.
" Saya akan masuk ruang kerja Tuan Zicko dari sini. " Axel berkata tenang dan berjalan beberapa langkah lalu berjongkok di ujung bawah sisi tembok di belakang Laras.
Semuanya memperhatikan Axel dengan penuh tanda tanya.
Axel mengetuk pelan dinding itu dan tiba - tiba
Bbbsssstttttttttt..!
__ADS_1
Dinding itu bergeser pelan menampilkan ruang gelap di baliknya. Sonya menatap terpana.
Axel berjalan memasuki ruang gelap itu, tangannya meraba tembok di sisi kanan tubuhnya dan menekan sesuatu berbentuk lingkaran berwarna hitam.
Klik
Beberapa lampu berbentuk obor kecil seketika menyala bersamaan menampakkan sebuah lorong sepanjang kira - kira enam meter dan terdapat belokan di ujungnya.
Semua orang segera berjalan mendekati Axel.
" Aku ikut paman Axel, siapa tahu bisa membantu paman nantinya.. " Laras menawarkan diri.
" Tidak perlu nona. Biar saya sendirian saja kesana. " jawab Axel sopan. Laras cemberut di buatnya.
" Saya pergi dulu Tuan. Jika dalam waktu sepuluh menit saya belum kembali....... " Axel tidak melanjutkan perkataanya. Kedua netranya menatap Zicko penuh arti.
" Oke. Jika dalam waktu sepuluh menit kamu belum kembali aku akan pergi menyusulmu. " jawab Zicko paham dengan maksud tatapan mata Axel kepadanya.
Axel tersenyum lalu mengangguk dan segera melangkah perlahan memasuki lorong itu.
*****
Ujung lorong di hadapannya berbelok ke arah kanan. Axel berjalan mengikuti alur. Cahaya redup dari lampu - lampu berbentuk obor lumayan membantu penglihatan matanya.
Axel merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel lalu menekan tombol mengaktifkan mode silent, tidak ingin mengambil resiko jika ponselnya sewaktu - waktu berbunyi.
Axel iseng menghitung langkahnya menyusuri sepanjang lorong yang berbelok ke kanan tadi. Setelah sekitar tiga puluh langkah lorong itu berbelok ke kiri lalu ke kanan lagi sekitar tiga meter dan akhirnya berujung lurus tanpa ada belokan.
Tidak ada lagi belokan di lorong itu. Di hadapan Axel sudah buntu. Hanya ada dinding yang berdiri kokoh.
Saat sedang meraba mencari sesuatu tiba - tiba telinga Axel mendengar suara di balik dinding itu.
" Tidak ada apa - apa disini. Ayo pergi ! Nanti boss marah kalau tahu kita masuk kesini diam - diam. " terdengar sebuah suara.
" Tenang saja. Boss tidak akan tahu ! " sahut suara kedua.
Axel berdiam diri mendengarkan.
" Wah, tablet ini bisa kita jual ! " seru suara kedua.
" Jangan lancang ! Cepat kembalikan atau aku akan bilang boss ! " suara pertama memperingatkan.
" Alaaaah bego luh ! Cuma satu ini saja nggak bakal ketahuan. " suara kedua tetap ngotot.
Kedua alis Axel bertaut, cemas saat membayangkan jika tablet yang mereka maksud adalah tablet yang ingin di ambilnya.
Klothaakk !
Tanpa sadar kaki Axel menyenggol sebongkah kayu yang di atur berdiri menyandar ke dinding itu. Jantung Axel berdegup kencang.
" Suara apa itu, sepertinya dari ruangan ini.. "
******
__ADS_1
》 Bersambung