
Tangis seorang gadis berusia dua belas tahun pecah diatas pusara ayahnya. Diselingi teriakan teriakan kemarahannya atas apa yang terjadi pada ayahnya. Kedua telapak tangannya mengepal, dipukul pukulkan di atas tanah merah yang masih penuh dengan bunga segar dari para peziarah.
Handoko Prawira adalah seorang ayah yang sangat baik baginya. Sosok kebapakan berusia 43 tahun, yang selalu tidak segan berbuat baik kepada semua orang. Seorang yang sangat sederhana dibalik kesuksesannya sebagai seorang pengusaha garmen.
Dari pernikahannya, dia dikaruniai seorang putri yang sangat cantik, diberi nama Larasati Prawira, parasnya perpaduan antara dirinya dan istrinya.
Namun sayang, wanita yang dicintainya meninggal pada saat melahirkan Larasati dikarenakan penyakit gagal ginjal yang di deritanya.
Tahun demi tahun berlalu, Handoko merawat dan mendidik putrinya dengan sabar. Dua belas tahun sudah dia lewati bersama putri tercintanya, yang selalu mengingatkan kepada sang mendiang istrinya.
Handoko begitu setia, seluruh perhatiannya dicurahkan hanya untuk Larasati.
Tidak sedikit wanita yang mencoba mendekatinya namun berakhir dengan penolakan secara halus.
Kini di usianya yang masih terbilang muda, dia harus berpulang, menyusul istrinya dan meninggalkan seorang putri yang sangat dia cintai.
" Laras.., hari sudah sangat terik.. Ayo kita pulang, istirahatlah..setidaknya itu yang sangat kamu butuhkan saat ini nak.." Zicko menekuk tubuhnya, menyamakan posisi dan mengusap lembut pundak gadis kecil itu.
" Sebentar paman.., aku masih belum ingin pergi meninggalkan ayah.." Larasati terisak, menolak ajakan Zicko.
" Laras.., kamu tidak ingin ayahmu bersedih bukan..? Ayo pulang nak.., beliau pasti tidak suka melihatmu selemah ini.. Jangan terlalu banyak menangis sayang.., nanti kamu sakit, pulang yuk.." Sonya, istri Zicko ikut mencoba membujuk Larasati dengan penuh kasih sayang. Dia dan Zicko tidak bisa mempunyai keturunan, maka mereka selama ini menganggap Larasati seperti anaknya sendiri.
" Baik tante.. " jawab Larasati setelah beberapa saat memikirkan perkataan tante Sonya.
Iring iringan mobil hitam menghantar Zicko dan keluarganya pergi dari lokasi pemakaman. Suasana duka masih terasa.
*******
" Paman.., aku boleh pulang kerumahku..? " Larasati bertanya kepada Zicko.
" Kamu yakin mau pulang ke rumah itu..? "
" Iya paman.. Aku ingin tinggal beberapa hari, setelah itu aku mungkin akan pergi.."
" Mau kemana..? Kondisi masih belum aman nak.. " Zicko bertanya dengan sabar.
" Aku gak tau paman.. Mungkin aku tinggal sama teman sekolahku yang sering sendirian dirumahnya.., kalau di ijin kan sama papah mamahnya.."
Zicko mendengarkan sambil sesekali menghela nafas berat. Perasaan khawatir menyelimuti hatinya. Sesekali diliriknya Laras yang duduk di belakang dari kaca spion. Sementara Sonya hanya diam mendengarkan.
" Laras.. Apa tidak sebaiknya kamu tinggal dirumah paman saja biar lebih aman. Kamu bisa menenangkan diri.."
__ADS_1
" Iya Laras.., tinggal sama tante dan paman ya.., biar kami tidak kesepian. Kami mau jadi orang tuamu.." Sonya menambahi perkataan Zicko sambil menoleh ke belakang, melihat Laras dan menunggu reaksinya.
Isak tangis tertahan terdengar dari gadis itu. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya meremas ujung jaket yang dia kenakan. Melihat hal itu, ingin sekali Sonya menghampiri dan memeluknya erat. Hatinya ikut teriris sedih melihat kenyataan yang dihadapi gadis itu. Zicko menghembuskan nafas berat.
" Kamu boleh tinggal dirumahmu.., tapi kami juga ikut tinggal..menemani kamu.." Zicko mencoba mengambil keputusan, yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Laras dan Sonya.
********
" AAAAAARRGGHH..,, ayaaahh..!! " tiba tiba terdengar suara teriakan di ruang kerja almarhum Handoko. Mengejutkan Sonya yang sedang membersihkan taman di sebelah ruangan itu.
" Laras..!! " dia menghentikan kegiatannya dan berlari menghambur ke arah Laras yang berteriak teriak kesetanan di ruangan ayahnya.
" Sayaang..tolong.." serunya memanggil Zicko.
" Pak Ben, tolong panggilkan suami saya.." suara Sonya panik meminta tolong seorang kepala asisten rumah tangga yang ikut berlari masuk ke tempat itu. Laras meronta ronta, tangan nya menggapai gapai, membentur dan memporak porandakan barang barang diatas meja kerja mendiang ayahnya.
" Baik nyonya.." dia pun segera pergi mencari Zicko.
Tak berapa lama Zicko pun datang, membantu Sonya menahan Laras.
" Pak Ben, cepat panggil dokter Hans..! "
" Baik Tuan.." pak Ben segera mengambil ponsel di sakunya dan langsung menekan nomor dokter pribadi keluarga itu.
*******
" Boleh saya tau apa yang sebenarnya terjadi..? " imbuhnya.
Zicko pun menceritakan semua kejadian yang dialami laras, sampai ayahnya meninggal. Dokter Hans mendengarkan dengan seksama dan mengangguk angguk kan kepala tanda mengerti penyebab penderitaan Laras. Dia pun terkejut saat mendengar kabar bahwa tuan Handoko yang sangat dekat dengannya sudah meninggal. Bibirnya terkatup geram saat mengetahui bahwa Yudha lah biang keladi dari semua kejadian itu.
Sesaat semuanya terdiam, hanyut dengan fikirannya masing masing.
" Untuk sementara waktu.., nona Laras akan berada langsung dibawah pengawasan saya.." Dokter Hans memecah kesunyian.
" Saya akan mengirimkan dua perawat kesini untuk membantu nona Laras.., dan tiap dua hari sekali saya akan cek kondisi nona.. Biar bagaimanapun juga, saya berhutang budi kepada almarhum tuan Handoko.., beliau sudah menyelamatkan hidup saya, jadi tolong...ijinkan saya membalas semua kebaikan beliau dengan menyembuhkan nona Laras.." berkaca kaca dokter Hans menyampaikan isi hatinya.
" Baik dokter.., bagaimana baiknya saja. Kami percayakan Laras ditangan Anda.." Zicko menjawab sambil tersenyum.
" Baik..terima kasih Mr. Zicko.. Saya sarankan, akan lebih baik jika nona Laras tidak tinggal dirumah ini. Hal itu akan semakin memperparah kondisinya karena semua kejadian waktu itu adalah di tempat ini.."
" Saya sudah sarankan untuk tinggal dirumah saya dok.., tapi Laras selalu berkeras untuk tinggal disini.."
__ADS_1
" Baiklah..saya akan coba membantu untuk membujuk nona saat kondisinya sudah mendingan.. "
Dokter Hans pun berpamitan setelah selesai dengan urusannya. Resep sudah dipersiapkan dan diserahkan ke Sonya untuk mengurusnya.
Sepeninggal dokter Hans, Zicko termenung menatap wajah Laras yang pucat. Dia teringat pesan dari Handoko yang sudah direkam dan masih disimpan. Zicko berfikir akan menyampaikan hal itu saat kondisi Laras sudah sehat dan dalam kondisi siap untuk menerima semua pesan ayahnya.
" Zii.., aku tidak tahan melihat kondisi Laras..." Sonya sedikit terisak menyampaikan suara hatinya. Bulir air matanya jatuh perlahan. Matanya sayu menatap Laras yang terbaring lemah.
" Begitu juga denganku Sonya.., andai saja waktu itu aku tidak terlambat..."
" Sudahlah Zii.., jangan terlalu menyalahkan dirimu. Semuanya adalah takdir.. Mungkin Tuhan ingin kita menjadi orang tua dengan cara seperti ini.. Yaahh..meskipun berat dan sangat menyakitkan, aku tetap bersyukur Laras baik baik saja sampai saat ini.. " Sonya menenangkan hati suaminya.
Zicko mengusap kepala Laras dengan lembut. Penyesalan itu selalu ada dalam hatinya.
" Sonya.., kita akan merawatnya sampai akhir. Kita akan mendidik Laras, mengajarkannya banyak hal seperti pesan Handoko.. " diam sebentar.
" Siapkah kamu untuk semua ini dalam waktu yang lama sayang..? Kamu tahu musuh kita adalah Yudha.. "
" Aku siap sejak Handoko menitipkan Laras kepada kita Zii.. Dan aku sudah mempersiapkan semua hal yang nantinya pasti akan dibutuhkan untuk Laras. " Sonya mengangguk menegaskan.
********
Zicko dan Sonya adalah sepasang suami istri yang tangguh, dengan latar belakang keluarga yang baik, sukses dan menguasai beberapa ilmu beladiri. Memiliki banyak anggota dan anak buah yang sangat patuh dan setia.
Kedua orang tua mereka sangat dihormati disegani oleh penduduk setempat di sekitar tempat tinggalnya.
Hingga pada suatu ketika Yudha menghancurkan semuanya dengan cara yang licik dan kejam. Kedua orang tua Zicko dan Sonya adalah rekan bisnis. Yudha menghancurkan bisnis mereka dengan merusak sistem keamanan dan membobol semua data perusahaan melalui tangan seorang hacker. Menjebak mereka dengan halus dan pada akhirnya perusahaan jatuh ke tangan Yudha. Kedua orang tua Sonya meninggal sesaat setelah Yudha berhasil meminta tanda tangannya atas perpindahan kepemilikan perusahaan dengan cara menyandera istrinya dan membunuhnya setelah kemauannya tercapai.
Beruntung saat Yudha ingin meminta tanda tangan ke ayah Zicko, Handoko yang kebetulan datang untuk mengajak kerja sama ke perusahaannya, berhasil membantu ayah Zicko mengusir Yudha dan anak buahnya. Handoko yang kuat bertarung sendirian melawan Yudha dan dua orang anak buahnya.
Namun mereka tidak bisa menyelamatkan perusahaan. Istrinya yang juga disekap oleh Yudha pada akhirnya dibunuh juga dengan keji.
Melihat banyaknya luka disekujur tubuh ayah Zicko, Handoko langsung membawanya ke rumah sakit. Menghubungi Zicko dari ponsel yang dia temukan di dalam saku ayahnya. Namun karena Zicko sedang menyelesaikan beberapa urusan yang genting di Amerika, membuatnya tidak bisa datang saat itu juga.
Beberapa hari Handoko menemani dan merawat ayah Zicko sampai sembuh. Membawanya untuk tinggal dirumahnya. Karena Handoko hanya tinggal bersama putri satu satunya yang masih balita, dengan terpaksa ayah Zicko pun mau untuk tinggal.
Demikianlah, perusahaan ayah Zicko dan semua asetnya telah dirampas oleh Yudha. Handoko meminta Zicko untuk membatunya di perusahaan garmen yang dia kelola sampai akhirnya bersama sama mencapai kesuksesan. Dan Yudha dengan kecanggihan teknologi dan hacker yang dimilikinya mencium keberadaan mereka dan melihat peluang untuk merebut semua yang dimiliki Handoko.
__ADS_1
》》 **Bersambung**..