Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Ruang Rahasia


__ADS_3

Zicko dan Axel berlarian kencang menuju arah sumber suara ledakan. Dalam benak mereka memastikan bahwa ledakan itu berasal dari arah depan, sekitar gerbang pintu masuk kediaman Zicko.


Sementara Laras yang saat itu sedang berada di gudang pun terkejut mendengar suara ledakan itu. Dengan segera dan hati hati, benda kecil yang mereka temukan tadi dia sembunyikan di tempat rahasianya. Secepat kilat dia pun berlari menyusul Zicko yang terlihat melewati tempatnya berada.


" Telusuri semua tempat...!! "


Benar saja.Terlihat di sekitar pintu gerbang depan pak Ben sedang sibuk mengatur semua anggotanya. Di hadapannya teronggok sesuatu yang hangus dan terlihat hancur berkeping keping dengan sedikit bara yang tersisa. Sepertinya telah terjadi ledakan keras di tempat itu.


" Apa yang terjadi..? " terengah engah Zicko tiba ditempat itu, melihat sekelilingnya yang berantakan. Sedikit tercium bau hangus di dekat tempatnya berdiri.


" Ada seseorang melakukan bom bunuh diri Tuan. Kami masih menyelidiki apa sebenarnya tujuannya dan juga darimana dia berasal.. "


" Shitttt... !! " Axel yang baru saja datang langsung mengumpat kesal. Sempat di dengarnya ucapan dari pak Ben.


Zicko meremas rambutnya kasar. Hatinya gusar memikirkan segala kemungkinan buruk penyebab semua itu terjadi.


" Kami menemukan ini pak Ben.. " seseorang datang menghampiri sambil menyerahkan gulungan kertas kecil dengan pita merah sebagai pengikatnya.


" Biar saya lihat.. " Zicko langsung saja mengambil benda itu dan segera membukanya.


" Kurang ajaaarrrr.. !!!!! " Zicko membanting benda kecil itu dengan keras ke tanah. Kedua netranya merah. Terlihat begitu gusar dan menahan amarah.


Axel segera mengambilnya dan membaca tulisan di dalamnya.


" Sudah tidak ada waktu lagi. Cepat serahkan anak itu, atau....bukan hanya mayat orang tak di kenal yang hancur itu saja yang akan menghiasi rumahmu..!! HAHHAAHHAAA.. !! "


Terlihat di bagian kanan bawah sebuah gambar berbentuk tengkorak setengah wajah manusia dengan tulang yang bersilang.


Axel pun berdecak geram. Surat kecil itupun bernasib sama dengan sebelumnya, terbanting ke tanah, kali ini dengan bentuk yang lebih mengenaskan setelah tangan Axel meremasnya.


" Si Yudha itu sudah mengetahui tempat ini.. " Zicko berkata lirih.


" Sudah bisa dipastikan begitu Tuan.. "


" Kita harus secepatnya pergi dari tempat ini. "


" Untuk apa pergi dari sini..? Tidak usah jauh jauh. Kita bisa tetap aman di tempat ini. " tiba tiba Laras datang menghampiri Zicko dan memotong perkataannya.


" Apa maksudmu ? Tempat ini sudah diketahui. " Zicko bertanya keheranan sambil menatap tajam ke arah Laras.


" Ada ruang rahasia di rumah paman." Laras mengatakannya dengan pelan dan tersenyum.


" Betul. Ada suatu tempat rahasia yang tersembunyi di salah satu ruangan rumah Anda Tuan. " Axel menyambung dan membenarkan perkataan Laras.


" Oh.. Anda sudah tahu paman Axel..? "

__ADS_1


Zicko menatap dengan penuh tanya di hadapan Laras dan Axel bergantian.


" Dimana itu..? " bertanya tajam kepada Laras.


" Mari aku tunjukkan paman. Ikuti saja.. " Laras pun berlalu dari tempat itu, di ikuti Zicko dan yang lainnya.


" Pak Ben, tolong bersihkan dan periksa lagi di semua tempat. " Axel mencegah dengan halus saat melihat pak Ben dan anggotanya mengikuti.


" Baik Tuan.." seolah mengerti, pak Ben pun menunduk sopan dan segera mengajak anggotanya untuk kembali menjalankan tugas.


" Biar saja mereka ikut Xel.."


" Tidak Tuan, saya tidak mau ambil resiko ada mata mata diantara mereka. "


" Bukankah tadi semua sudah mendengar perkataanmu dan Laras..? "


" Sepertinya mereka tidak terlalu mendengarnya Tuan. Kami tadi bicara dengan pelan di dekat Anda. "


Zicko hanya mengangguk lemah.


Tibalah mereka bertiga di gudang. Sebuah ruangan yang tadi di pakai Laras untuk menyembunyikan benda temuan mereka.


" Bukannya ini gudang..? "


Tiba tiba sebuah lemari buku yang besar, yang penuh dengan kardus kardus bekas di dalamnya pun berderit dan memutar, memperlihatkan ruangan gelap di baliknya.


Zicko terpana menyaksikan hal itu. Sementara Axel hanya diam, melihat dan memperhatikan semua gerakan Laras.


" Tarrraaaaaaaa..., silahkan masuk.. " dengan ceria Laras mempersilahkan kedua pria tampan yang dikaguminya itu untuk memasuki ruangan gelap yang sudah terbuka sebagian.


Zicko berjalan melewati Laras, di usapnya dengan gemas rambut gadis itu.


" Ckk... Mainanmu hal hal yang berbahaya Laras. Kamu harus berhati hati .."


" Siap paman..! " Laras memberi hormat ke arah Zicko lalu berjalan mengikuti. Sementara Axel hanya diam mengikuti mereka.


Setelah berada di dalam, mereka menemukan tangga dan berjalan turun mengikuti arahnya. Laras menyalakan beberapa obor kecil yang tertempel di dinding dengan korek api yang sudah dibawa sebelumnya. Dihadapan mereka terlihat beberapa ruangan berpintu yang berhadapan, dibatasi lorong kecil sekitar satu setengah meter lebarnya. Di ujung lorong ada sebuah ruangan terbuka, bisa dikatakan seperti ruang keluarga yang lumayan luas. Di sambung dengan beberapa ruang kecil setelahnya dan di akhiri dengan satu ruangan lagi yang agak besar.


Zicko dan Axel memandang takjub sekeliling mereka. Meskipun kurang pencahayaan ternyata masih ada ventilasi dari beberapa celah berlubang di bagian atas ruangan itu yang berfungsi sebagai saluran udara agar di dalamnya bisa di huni.


" Paman.., ruangan ruangan yang berhadapan ini bisa dijadikan kamar.. Yang di ujung kiri sana itu kamar mandi dan dapur. Yang di sebelah kanan bisa dijadikan gudang senjata pengganti yang di rumah inti.. "


Zicko berdiri diam memikirkan sesuatu. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Axel berjalan mengelilingi seluruh tempat itu, melihat dengan teliti di setiap sudut.


" Oke,, untuk sementara mungkin kita bisa aman di tempat ini. Tapi bagaimana dengan pak Ben dan yang lainnya..? "

__ADS_1


Laras terdiam mendengar perkataan Zicko. Dia belum siap dengan jawabannya karena memang belum sempat memikirkan. Setelah menemukan ruangan rahasia itu sebenarnya Laras berniat untuk mencari kemungkinan adanya ruang rahasia lagi di rumah Zicko.


" Pak Ben dan yang lain juga masih bisa aman bersama kita. " tiba tiba Axel menjawab dari dalam ruangan yang akan dipakai untuk gudang senjata.


Zicko dan Laras pun berjalan menghampiri dan melihat Axel sedang berdiri dan meraba dinding sebelah kanan ruangan itu. Axel mengetuk ngetuk beberapa bagian dinding dan berakhir di ujung kanan bawah.


Tiba tiba dinding itu bergeser pelan kesamping kiri dan terlihat ruang gelap lagi dibaliknya. Laras dan Zicko pun bengong melihatnya.


" Hmmm.., benar dugaan saya Tuan. "


" Wooww.., ternyata benar ada ruang rahasia lagi di tempat ini. Anda hebat paman Axel. " Laras bersorak dan mengacungkan jempol ke arah Axel dan dibalas dengan senyuman.


" Hanya kebetulan saja nona. Saya sudah menemukan ruang rahasia lain dari gudang senjata Tuan Zicko. "


" Kemungkinan besar masih terhubung dengan tempat ini. " sambungnya.


" Kemungkinan besar memang begitu, kalau dilihat dari arahnya. " Zicko mengangguk sependapat.


" Aku tidak pernah berfikir kalau di rumah ini ada ruang rahasianya. "


" Saya hanya kebetulan dan secara tidak sengaja jatuh, menendang dinding di gudang senjata Tuan. Dan akhirnya menemukannya. "


" Aku juga kebetulan kok paman. Awalnya aku hanya ingin mengganti bola lampu dinding di gudang karena mati dan gelap. Gudang itu mau aku pakai untuk menyimpan beberapa barangku dan ternyata aku menemukan ruangan ini. "


" Baiklah.. Kita briefing dulu dengan yang lain. "


" Tolong panggil pak Ben dan tantemu Laras.."


" Baik paman. "


Laras pun pergi menjalankan tugasnya.


" Kita harus memikirkan cara agar Yudha tidak mengetahui keberadaan kita. " Zicko berkata pelan seolah kepada dirinya sendiri.


" Saya ada ide Tuan. Nanti saya sampaikan saat semuanya berkumpul. "


" Hanya kita berlima saja. Aku, kamu, Laras, Sonya dan pak Ben. Setelah itu kita fikirkan lagi bagaimana untuk mengatur semua anggota. "


" Siap Tuan. "




》》 **Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2