
" Koran..koran.. " seorang penjual koran menjajakan dagangannya dengan mengendarai sepeda kayuh datang dan berhenti tepat di gerbang utama. Seorang pria berusia sekitar empat puluhan tahun, berpenampilan sederhana dengan postur tubuh yang tegap menghampiri petugas keamanan dan menawarkan koran kepada mereka.
" Koran hari ini tuan. Berita besar.. berita besar.." serunya yang sontak mencuri perhatian ke empat petugas keamanan di tempat itu dan menatap curiga kepadanya.
" Maaf pak, kami sudah ada koran di sini. Lain kali saja ya. " kata salah seorang petugas keamanan menolak dengan halus.
" Ssstt .. Tolong jangan melakukan gerakan yang mencurigakan. Berbuatlah seolah - olah kalian membeli koran ini. Saya utusan tuan Zicko dan tuan Axel. " kata penjual koran itu sedikit berbisik dan memberikan beberapa eksemplar koran kepada mereka.
" Siapa nama Anda, biar saya sampaikan dulu ke tuan Axel. " kata salah seorang petugas sambil membuka halaman demi halaman koran. Mencoba bersikap biasa.
" Katakan saja pesanan Tuan Zicko datang. " jawab penjual koran itu singkat sambil memilah koran - koran yang di bawanya.
" Baik, sebentar. " petugas keamanan itu pun berjongkok agar tidak terlihat dari luar dan mengambil ponsel dari dalam laci, membuka layar lalu menekan tombol panggilan.
" Pesanan Anda datang tuan. " katanya kemudian setelah panggilannya terjawab.
[[ " Dari ? " ]]
" Seoran penjual koran. "
[[ " Oke. Biarkan dia masuk. " ]]
" Siap tuan. " jawab petugas itu seraya menutup panggilannya.
" Mari saya antar ke dalam. Anda sudah ditunggu. " kata petugas itu kemudian.
Penjual koran itupun segera memarkirkan sepedanya di pinggiran pos penjagaan. Mengambil setumpuk tebal koran dan membawanya di atas kedua tangannya seperti sedang membawa nampan, berjalan masuk dengan langkah tegap seperti sedang baris berbaris dan bersenandung pelan. Membuat ketiga petugas keamanan yang berjaga di situ menggelengkan kepala dan tertawa geli melihat tingkahnya.
" Silahkan pak. Langsung saja lurus ke depan, ruang kedua di sebelah kanan. " jelasnya sembari menghentikan langkah saat mereka sudah sampai di depan pintu utama.
__ADS_1
" Baik. Terima kasih. " penjual koran itupun menghentikan sikap konyolnya dan berjalan dengan langkah sigap ke arah yang sudah di tunjukkan.
" Anda sudah datang. Silahkan masuk.. "
Penjual koran itu terkesiap saat tiba - tiba seorang pria muncul dari dalam ruang kedua yang ditunjukkan oleh petugas keamanan tadi. Namun sesaat kemudian dia tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya di depan pria itu.
" Baik tuan Axel. " jawabnya sambil tersenyum miring. Dia pun melangkah masuk dengan ringan. Dilihatnya Zicko sedang konsentrasi mengetikkan sesuatu pada keyboard lap top di depannya. Sementara Axel melihat sebentar ke arah depan lalu masuk dan menutup pintu rapat.
" Anda sudah datang sepagi ini Tuan O. Ide yang sangat brilian dengan menjadi seorang penjual koran. " Zicko bangkit berdiri dari duduknya. Tersenyum menyalami penjual koran yang ternyata adalah Tuan O yang sedang menyamar dan mempersilahkannya duduk di kursi tamu yang berada tepat di tengah - tengah ruangan itu di depan meja kerja Zicko.
" Bukankah saya harus ber hati - hati Tuan. Kemarin Tuan Axel sudah menceritakan semuanya. " kata Tuan O sembari meletakkan setumpuk tebal koran yang di bawanya ke atas meja.
" Bagaimana penampilan saya..? " lanjutnya bertanya sambil menatap Zicko dan Axel bergantian. Senyuman miring tersungging di sudut bibirnya.
Zicko dan Axel menatapnya takjub. Wajahnya benar - benar terlihat seperti orang lain dan bukan wajah Tuan O yang mereka kenal. Zicko berjalan mengitari Tuan O dan berdecak kagum.
Tiba - tiba tangan Tuan O menggerakkan kedua tangannya. Meraba wajah dan berakhir di bawah lehernya. Ujung jari kedua tangannya mencungkit lembaran tipis dan menariknya perlahan, dengan sangat hati - hati.
Zicko dan Axel semakin takjub ketika secara perlahan lembaran yang berbentuk tipis dan berwarna seperti kulit manusia itu terangkat dan memunculkan wajah Tuan O di baliknya. Lembaran tipis itu menyerupai wajah manusia lengkap dengan rambut di kepalanya.
" Ini salah satu contoh hasil pekerjaan saya Tuan. " katanya kemudian setelah menaruh dengan hati - hati topeng yang baru saja dia lepas ke atas meja.
Zicko dan Axel tertawa bersamaan. Menggeleng - gelengkan kepala seolah tak habis - habisnya rasa takjub mereka kepada Tuan O.
Tangan Zicko bergerak perlahan meraba seluruh permukaan topeng itu. Terasa sangat halus dan dingin. Bukan sekedar topeng biasa, karena dipakai untuk menutupi seluruh kepala pemakainya bukan hanya wajah saja. Zicko memperhatikan setiap detil bentuk wajah dan kepala yang tergambar di topeng itu.
" Luar biasa. " desisnya kagum.
" Ini koleksi saya yang sering saya pakai ketika sedang menjalankan tugas pengintaian. " Tuan O menjelaskan. " Dan masih banyak lagi koleksi yang lain. " lanjutnya.
__ADS_1
" Pernahkah Anda ketahuan saat memakai penyamaran seperti ini Tuan..? " tanya Zicko ingin tahu.
" Pernah saat di awal - awal saya bertugas. Waktu itu saya sedikit ceroboh melakukan sesuatu yang membuat kulit topeng tergores agak lebar dan menampakkan kulit asli saya. Dan itu membuat curiga musuh saya kala itu. "
" Tuan O waktu itu hampir mati karena ketahuan dan sempat di keroyok. Tapi untung saja kami sempat menemukan jejak yang beliau tinggalkan. Kami segera mengikuti jejak itu dan sampai tepat waktu berhasil menolong beliau dan menangkap sebagian dari mereka. " Axel menjelaskan sambil mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang mereka alami saat bertugas bersama menguak sebuah kasus pembunuhan. Tuan O tersenyum hangat memandang Axel dengan penuh rasa berterima kasih.
" Entah bagaimana nasib saya waktu itu kalau tidak ada Tuan Axel. " katanya pelan. Menghembuskan nafas lega. Sementara Axel hanya tersenyum, berjalan ke arahnya dan menepuk pelan pundaknya.
" Bukankah itu sudah menjadi kewajibanku Tuan..? Karena Anda sudah menyelamatkan hidupku sebelumnya. "
" Ah sudahlah. Bisa - bisa kita menangis bombay disini kalau mengingat - ingat kisah lama kita.. " katanya sambil tertawa. Menepuk pelan tangan Axel yang juga tertawa mendengar perkataannya.
Zicko hanya diam dan tersenyum mendengarkan kisah mereka berdua. Dalam hatinya merasa bangga karena sudah mengenal orang - orang hebat seperti mereka.
" Baiklah Tuan kita langsung saja. " Tuan O membuka pembicaraan langsung kepada intinya.
" Ini pesanan Anda. " lanjutnya sambil membuka selembar koran pada tumpukan tebal di atas meja. Terlihat sebuah garis berbentuk persegi panjang berwarna abu - abu garis tepinya menjorok ke dalam sekitar empat centi dari keliling pinggiran koran.
Tuan O menggosok permukaan persegi panjang itu dengan telapak tangannya.Terlihat warna coklat menggantikan warna abu - abu yang ternyata bentuknya menyerupai debu yang berfungsi untuk menutupi warna aslinya. Terdapat tuas tipis di ujung sebelah kiri. Tuan O menarik tuas itu ke arah kanan dan terlihat bentuk ruangan di dalamnya setebal tumpukan koran kira - kira sekitar dua puluh centi tingginya, berbentuk seperti kotak peti kecil di dalam tumpukan koran.
" Wow.. ! " Zicko berseru takjub. Dilihatnya di dalam kotak itu beberapa topeng mirip seperti yang dipakai Tuan O untuk menyamar tadi.
" Ini sesuai dengan pesanan Anda. Silahkan di cek dulu. " Tuan O mengambil satu persatu topeng dari dalam kotak tersembunyi itu dan meletakkan di hadapan Zicko.
" Hmmm.. this is really smart work and very genius thing that i have ever seen. " Zicko mengangguk yakin akan pekerjaan Tuan O.
" Dengan begitu semuanya sudah siap untuk dijalankan Tuan.. " Axel menyambung perkataan Zicko sambil menyalakan rokok yang sudah tersemat di bibirnya.
******
__ADS_1