Something Wrong With...

Something Wrong With...
# Urung Ditangkap


__ADS_3

" Diam di tempat. Kalian sudah di kepung..! " Salah seorang petugas kepolisian menodongkan pistol kearah pak Ben dan anak buahnya. Beberapa mobil polisi pun sudah berdatangan dan berhenti di depan dan di belakang pak Ben. Keluar dari mobil dan serempak menodongkan pistol ke arah mereka.


Pak Ben dan anak buahnya hanya diam dan mengikuti perintah petugas polisi tersebut. Tangan mereka diangkat ke atas kepala, tanda menyerah. Sekilas pak Ben melirik ke dalam mobil melihat kondisi Laras dan mengangguk perlahan, memberi tanda agar Laras tetap tenang di dalam mobil.


Laras hanya diam dan memperhatikan semuanya dengan jantung berdebar. Khawatir kalau ternyata malah mereka lah yang ditangkap oleh polisi.


Seorang perugas kepolisian itu pun maju menghampiri pak Ben di dampingi empat anggota lainnya dengan tetap mengarahkan ujung pistolnya ke wajah pak Ben.


" Anda berhak hak untuk tetap diam. Apa pun yang Anda katakan dapat dan akan digunakan untuk melawan Anda di pengadilan". ujar polisi tersebut seraya menangkap dan memasang borgol ke tangan pak Ben dan yang lainnya.


" Anda berhak mendapatkan pengacara. Jika Anda tidak mampu membayar pengacara, satu akan disediakan untuk Anda. Apakah Anda memahami hak yang baru saja saya bacakan untuk Anda? Dengan mengingat hak-hak ini, apakah Anda ingin berbicara dengan saya?” lanjut petugas itu.


Pak Ben hanya menggeleng, " saya akan pakai pengacara saya. " jawabnya singkat.


Pak Ben dan yang lainnya berjalan mengikuti para petugas kepolisian dengan tenang. Mereka yakin tidak berada dalam bahaya. Tiba - tiba pak Ben teringat sesuatu.


" Ehm.. sebentar pak. Di mobil ada anak majikan saya. Dia tidak bersalah dan hampir menjadi korban penculikan. " kata pak Ben.


Petugas itupun sedikit kaget. " Penculikan..? Bisakah Anda tunjukkan buktinya..? "


" Ada dalam rekaman cctv di salah satu kancing kemeja saya. " jawab pak Ben tetap tenang.

__ADS_1


" Baik nanti bisa Anda jelaskan semuanya saat sudah sampai di kantor. Sementara ini Anda dan yang lain silahkan ikut kami. "


" Baik pak. "


Petugas itu melihat ke salah satu rekannya dan memberi kode untuk mengajak Laras ke kantor polisi juga. Pak Ben segera membuka kunci otomatis dari remote di sakunya.


THHIIINNN..THIINNN..!


Suara klakson mobil terdengar bersamaan dengan keluarnya seseorang dari dalam mobil itu. Sosok pria yang tinggi tegap, berkulit putih, memakai setelan jas hitam dan berkaca mata berwarna senada jelas sangat dikenali oleh pak Ben dan anak buahnya. Senyuman miring pun keluar dari bibir pak Ben.


" Tunggu sebentar..! " seru pria itu sambil berjalan tenang menghampiri mereka. Kedua tangannya berada di dalam saku celana di masing - masing sisi.


Melihat pria itu seorang petugas polisi itu pun berjalan menghampiri. " Siap. Kami sedang bertugas. Baru saja terjadi keributan di tempat ini. " katanya kepada pria itu sambil memberi hormat dengan tangan kanannya. Seperti sudah paham siapa sebenarnya pria itu.


" Mereka rekan saya. Tolong lepaskan.. " lanjutnya.


" Tapi tuan.. " jawab petugas itu bingung.


" Saya yang akan bertanggung jawab. Ini semua hanya salah paham. Kamu bisa konfirmasi ke atasanmu, tuan Syaifullah Hanafi. Dia sudah paham semuanya. " katanya menjelaskan.


" Baik tuan, sebentar saya hubungi beliau dulu. " jawabnya. Pria itu hanya mengangguk, tersenyum memandang Laras dan pak Ben bersama anak buahnya.

__ADS_1


" Siap. Laksanakan..! " seru petugas setelah mengakhiri pembicaraan dengan atasannya. Petugas itu pun tersenyum kemudian memberi aba - aba kepada semua rekannya. " Aman. Lepaskan mereka semua. "


" Saya benar - benar minta maaf atas semua kesalah pahaman ini tuan.." katanya kepada pria itu sambil sedikit membungkukkan badannya.


" It's ok. Silahkan lanjutkan tugasmu. Terima kasih atas kerja samanya. " pria itu tersenyum dan menepuk pelan pundak petugas itu, menenangkan.


" Siap tuan. Terima kasih. Kami pergi. " pamitnya.


" Silahkan. "


Semua petugas kepolisian itu pun beriringan pergi dari tempat itu dengan kendaraan masing - masing tanpa membunyikan sirine karena situasi sudah aman.


Serta merta Laras pun segera keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri pria itu.


" Waaahh.. Paman Axel benar - benar top ! " katanya sambil mengacungkan kedua ibu jari di hadapan pria itu yang ternyata adalah Axel, asisten Nicko. " Sudah mirip kayak film - film mafia.. " lanjut Laras sambil cengar cengir bangga.


Axel hanya tersenyum dan mengacak rambut Laras dengan gemas.


" Nona Laras, Anda ikut mobil saya saja. Biar pak Ben sama yang lain. " tegasnya seraya memberi kode kepada pak Ben dan yang lain untuk melanjutkan perjalanan.


" Oke paman. " Laras pun nerlari masuk ke dalam mobil yang di tumpangi oleh Axel.

__ADS_1


****


__ADS_2