
Pria itu menatap Laras dengan tajam. Sementara tangan kirinya masih menggenggam sebilah belati dengan erat.
Sekonyong - konyong pria itu merangsek maju mengarahkan belatinya ke depan perut Laras. Dengan sigap Laras menghindar ke arah kanan, mencekal pergelangan yangan kiri pria itu dan menghantamnya dengan lutut kanannya. Belati itu pun terlepas. Dengan cepat Laras menendangnya jauh lalu memelintir tangan kiri pria itu di tarik balik arah ke belakang tubuhnya.
Pria itu dengan mudah menepis tangan Laras lalu membalikkan tubuhnya dan mendorong Laras dengan keras sampai tubuhnya terhuyung ke arah belakang.
Saat Laras sedang lengah pria itu berlari cepat mengambil belati dan langsung menghujamkan ke tubuh Laras yang saat itu sedang kehilangan keseimbangannya.
Habislah aku.
Laras tercekat. Tidak ada waktu lagi untuk menghindar. Pria itu sangat cepat dan dalam waktu sepersekian detik Laras melihat kilatan belati itu sudah mendekati tubuhnya.
DUAAGGHHKK !!
" Hatch ! Siapa kau ? "
BUUGGHH ! BAAAKK!! DUUGG !!
Laras membuka matanya dan melihat pria itu sudah tersungkur di lantai dengan luka berdarah di ujung bibirnya. Tangannya tidak lagi menggenggam belati.
Di hadapan pria itu berdiri seorang pria tinggi tegap, memakai kaca mata dan masker hitam. Kedua tangannya dalam posisi siap dan mengepal di kedua sisi tubuhnya.
Paman Axel !
Laras mengenali pria berkaca mata hitam itu.
Pria jangkung itupun berdiri dan menyerang Axel dengan pukulan dan tendangan bertubi - tubi namun Axel dengan mudah menangkis dan membalasnya dengan pukulan dan tendangan yang lebih keras.
Merasa kalah pria itu melempar bom asap dan segera berlari menjauhi tempat itu.
" Nona, lari ke arah sini. " Lucas memberi tanda sinar laser merah agar Laras mengikutinya.
Laras berlari sembari menutup hidungnya. Axel segera menutup pintu ruang kerja Zicko saat melihat Laras sudah masuk dan segera membuka dinding penghubung untuk masuk ke dalam lorong.
" Cepat nona. Selagi bom asap itu masih ada. " serunya pelan.
Laras segera masuk ke dalam lorong dan berlari. Axel menyusul di belakangnya setelah menutup kembali dinding itu.
🔙 Beberapa saat sebelumnya
Setelah perdebatan panjang tentang siapa yang akan menyusul Laras, pada akhirnya Axel yang mengajukan diri dan langsung memutuskan untuk menyusul Laras.
Sonya dengan berat hati menyetujuinya setelah di tenangkan oleh Zicko.
__ADS_1
" Nanti saya beri tanda panggilan ponsel jika dalam waktu setengah jam kami belum kembali. " ujar Axel sebelum masuk ke dalam lorong.
Zicko hanya mengangguk menyetujui. " Berhati - hatilah. Yudha sangat berbahaya. " katanya cemas.
Axel pun berlalu dan segera menyusuri lorong sampai ujung, tempat diding pembatas itu berada. Kedua netranya terbelalak saat di lihatnya dinding dan pintu ruang kerja Zicko terbuka lebar.
" Gawat. Bagaimana kalau tiba - tiba mereka datang ? Nona sangat ceroboh sekali. " gumamnya gusar.
Axel masuk ke ruang kerja Zicko. Berjalan keluar melihat ke seluruh ruangan dan arah depan. Sunyi. Namun sesaat kemudian dia mendengar suara orang bercakap - cakap dari arah ruang depan.
Axel menghela nafas mencemaskan keadaan Laras. Dia berjalan mengendap - endap dan mengintip kedalam. Dilihatnya Laras berlari ke meja kerja dan bersembunyi di bawahnya.
Semakin menajamkan pendengarannya, Axel mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian jika nantinya Laras ketahuan.
Saat berjalan ke arah halaman samping Axel hampir tersandung seekor kucing yang tiba - tiba berlari masuk. Dengan cepat di tangkapnya kucing itu dan mengarahkannya untuk masuk ke ruang depan.
Axel berjalan kembali ke ruang kerja Zicko dan menutup pintunya. Tidak langsung beranjak, Axel tetap diam dan memasang telinga untuk mendengar semua pembicaraan dari ruang depan.
Sayup - sayup terdengar sedikit keributan dan suara kucing yang mengeong. Semoga tidak terjadi sesuatu pada nona Laras. Batinnya.
Tiba - suara terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Axel segera berlari masuk ke dalam lorong dan menutup dinding pembatas. Lalu tetap diam di baliknya.
Terdengar Yudha memerintah anak buahnya dan tak lama kemudian suara berisik pecahan kaca dan teriakan Yudha yang sepertinya sedang gusar. Axel sempat mendengar Yudha mengajak anak buahnya pergi dari tempat itu.
Sesaat kemudian sunyi. Tidak terdengar lagi suara - suara dari dalam ruang kerja Zicko. Axel masih menahan diri, tidak mau gegabah untuk membuka dinding.
Namun beberapa saat kemudia dia mendengar suara Laras berteriak. Dengan khawatir akhirnya Axel menarik tuas dan membuka dinding lalu masuk perlahan setelah menutup kembali dinding itu.
Saat keluar dari ruang kerja Zicko dilihatnya seorang pria jangkung sedang menghujamkan belati ke tubuh Laras yang oleng dan hendak jatuh ke arah belakang.
Dengam sigap Axel berlari dan menyerang pria itu dengan tendangan terbangnya. Lalu memutar badan menghantam pria itu dengan beberapa pukulan dari arah belakang. Belati itupun terlepas seketika dari tangannya.
Axel membalikkan tubuhnya dan memukul keras wajah pria itu yang akhirnya jatuh terpelanting ke atas lantai, tidak jauh dari Laras.
Mereka pun saling menyerang dengan pukulan dan tendangan namun berakhir dengan kekalahan pria jangkung itu yang lalu melempar bom asap dan menghilang.
Axel segera mengajak Laras untuk kembali.
*********
" Kamu baik - baik saja Ras ? " Sonya bertanya dengan tatapan khawatir sesaat setelah Axel berhasil membawa kembali Laras ke rumah rahasia.
Laras hanya tertunduk diam. Sementara Axel sedang diam berdiri dengan kedua tangannya di dalam saku celana di masing - masing sisinya. Khas gaya Axel.
__ADS_1
Zicko menatap Laras tajam.
" Untung saja Axel tepat waktu datang menyelamatkanmu. Jika tidak.., aku tidak tahu apa yang nantinya terjadi padamu ras. " gumamnya kesal.
Seorang asisten rumah tangga datang dan menaruh beberapa teh hangat di atas meja lalu kembali pergi dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sonya mengambil segelas teh hangat itu dan memberikan kepada Laras yang masih saja terdiam.
" Minumlah. Tenangan diri dulu. Lain kali jangan lagi sembrono seperti itu. Kami semua mencemaskanmu. "
Laras patuh dan meminumnya dengan pelan. Wajahnya masih sedikit pucat mengingat serangan yang tiba - tiba tadi.
Axel menceritakan semuanya pada Zicko dengan menghilangkan bagian ketika Laras lupa menutup dinding dan pintu ruang kerja.
" Kamu tahu siapa pria itu ? " tanya Zicko pada Axel penasaran.
" Kino. Tangan kanan Yudha. Orang kepercayaannya. "
" Untung saja kamu tadi bisa mengatasinya. Padahal biasanya dia sangat berbahaya dan sulit dikalahkan. "
" Kebetulan dia sedang dalam posisi tidak siap. Mungkin tadi dia mengira nona Laras sedang sendirian. "
Zicko manggut - manggut dan menghela nafas lega.
" Apakah mereka tidak curiga saat mengetahui kalian muncul secara tiba - tiba ? Sedangkan mereka tahu sekeliling area ini sudah di kepung oleh anak buah Yudha. " tanya Sonya tiba - tiba.
" Tentu saja mereka pastinya bertanya - tanya, darimana kami masuk. Tapi kemungkinan kecil jika mereka akan menemukan jalan rahasia itu. " jawab Axel.
Zicko menoleh dan menatap Laras.
" Sebenarnya apa tujuanmu tadi masuk kesana secara diam - diam ras ? "
" Paman, aku hanya ingin memasang cctv mini di depan pintu utama. Aku fikir tadi aman - aman saja. Aku tidak tahu kalau ternyata mereka akan datang. "
" Lain kali jangan di ulangi lagi. Bahaya di luar sana. Apa kamu tidak ingin membalas kematian ayahmu ? " uajr Zicko gusar yang langsung di tenangkan oleh Sonya.
Bbrrrrtttttttt...bbbrreeetttt...sssrrrrkkkkk..!
Tiba - tiba terdengar suara gemerisik dari salah satu ponsel di atas meja.
Laras tercekat. Teringat sesuatu saat mendengar suara itu.
*********
__ADS_1
》 Bersambung