
" Lhoo.., kok malah nangis ? " Sonya mengusap pelan buliran bening di kedua pipi Laras. Tubuhnya bangkit dan menarik Laras untuk bangkit pula bersama dirinya. Sonya merengkuh kepala gadis kecil itu dan meletakkannya di dada dengan penuh perasaan. Tangisan Laras semakin menjadi.
Selama beberapa saat Sonya hanya diam membiarkan gadis itu meluapkan emosinya.
" Hiks.., tan, aku kangen ayah. Aku juga kangen banget sama mama.. Mama cuma sebentar menemaniku waktu itu, kenapa mama tega pergi meninggalkan aku.. hiks.. "
" Sampaikan rindumu itu dengan doa.. Doakanlah ayah dan mama ras, niscaya hatimu pasti akan lebih tenang.. "
" Aku akan tenang kalau aku sudah membalas perbuatan Yudha. " sinis Laras.
" Emmm.., bagaimana caramu membalas ? Dengan apa..? "
" Suatu saat Yudha pasti akan ku tangkap. Akan ku lenyapkan dengan tanganku sendiri. " Wajah Laras merona karena emosi dan amarah yang bergejolak dalam hatinya. Kedua netranya menyipit, memandang tajam ke depan. Sonya sedikit bergidik ngeri melihatnya. " Begitu sakitkah hatimu.., sampai kamu ingin melenyapkan Yudha. "
" Tante yakin, suatu saat nanti kamu bisa mewujudkan cita - citamu dan menangkap Yudha. "
" Sudah.., sebaiknya kita tidur sudah sangat larut. Di simpan dulu kangennya, ingat.. doa dulu ya sebelum tidur biar ndak mimpi yang aneh - aneh. " mengusap rambut Laras pelan sambil tersenyum.
" Tante janji ya, suatu saat nanti bantuin Laras meringkus Yudha. " Laras memohon.
" Tante janji. Tante sama paman akan selalu mendampingi, tenang saja.. " Tersenyum dan menutup pintu kamar Laras dengan pelan. Laras pun tersenyum dan melambaikan tangan.
" Tapi maaf, tidak dengan caramu, karena selama kamu ingin membalas dendam dengan hati yang masih panas semuanya akan menjadi kacau dan runyam. Bisa - bisa kita semua yang celaka.." batin Sonya.
******
Villa Michie & Ruben
" Kamu sudah bilang sama Sonya kalau dalam waktu tiga bulan ini kita tinggal di sini ? "
" Sudah beib. Tapi aku lupa belum kirim alamat. "
" Ya sudah tunggu apa lagi, kirim aja sekarang, mumpung ingat.. "
" Okay Ruben sayaaang.., ini aku kirim. Tumben, bawel banget kamu hari ini. "
" Suami Michelle ini, yang seorang wartawan mana boleh nggak bawel. " dengusnya sombong sambil tertawa. Michelle pun mencubit pipinya karena gemas.
__ADS_1
" Auw, bukannya di cium malah di cubit. " gerutu Ruben.
" Ouuww, sini sini cayaaang, sini aku kiss.. " Michelle meraih kepala Ruben dengan gemas. Sementara mulutnya di majukan mendekati pipi ruben.
Ruben yang merasa jengah memundurkan tubuhnya, tangannya mendorong wajah Michelle yang hanya berjarak sekitar dua centi dari wajahnya. Pergulatan yang tidak perlu itu pun terjadi. Sudah mirip seperti anak kecil saja. Serasa dunia milik berdua, ribut sendiri. Sementara di salah satu sudut ruangan salah seorang pria remaja sedang sibuk menancapkan earphone dalam - dalam ke telinganya sambil menatap jengkel kedua bocah tua yang nakal di hadapannya. Belajarnya sudah terganggu dengan keberisikan mereka.
" Aiiihh, mom.. dad.. , aku ijin keluar dulu ! " teriak salah seorang pria remaja lain yang baru keluar dari kamarnya.
" KEMANA..?? " seru kedua bocah tua nakal itu bersamaan.
" Ke P2TP2A "
" Apa itu ? " masih bersamaan, keduanya pun langsung menghentikan pergulatannya dan duduk menghadap remaja itu.
" Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak. "
" Lha kenapa kesana ? " Michelle bertanya heran.
" Karena sudah dan sedang terjadi KDRT di sini. " remaja itu menjelaskan sambil tertawa. " Berisik ! " Michelle dan Ruben pun ikut tertawa menyadari bahwa putranya hanya bercanda.
" Ckk, kenapa selalu perempuan yang di lindungi. Daddy sebenarnya juga pantas kok di lindungi. " protes Ruben.
" Lagian.. itu bukan KDRT Josh.. Mommy sama daddy kalau bercanda sukanya gitu. "
" Iya mommy.. Josh cuma bercanda. " melenggang menghampiri saudara kembarnya.
" Tian, ayo aku bantu mengerjakan tugasnya. " katanya kemudian.
" Sudah brother, ini cuma tinggal dua soal saja. Kalau saja mereka tidak berisik pasti sudah selesai dari tadi " menghembuskan nafas kasar. Josh hanya tertawa menanggapi.
*****
" Dari mana saja, kok lama ? "
" Dari kamar Laras. Dia kangen sama kedua orang tuanya. " Sonya melangkah masuk setelah menutup pintu kamarnya. Melepaskan pakaian yang di kenakan lalu menaruhnya di keranjang pakaian kotor. Zicko hanya menatap Sonya yang begitu cuek melepas pakaiannya di hadapan Zicko.
Biasanya posisi itu agak jauh dari pandangan mata Zicko karena kamar mereka yang luas. Namun karena kondisi darurat mereka harus menempati kamar yang hanya berukuran sekitar tiga kali empat meter saja. Zicko menatap Sonya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
__ADS_1
" Kenapa melihatku seperti itu ? " tanya Sonya tiba - tiba saat menyadari bahwa Zicko sedang menatapnya.
" Aku rindu.. " jawab Zicko singkat.
" Rindu ? Bukannya kita setiap hari bertemu ya ? " Sonya tertawa sambil tangannya sibuk merapikan piyama yang baru di pakainya.
" Jangan di talikan. Biarkan begitu .. " perintah Zicko. Dia pun kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Sonya. Tawa Sonya berhenti seketika.
Sonya menatap Zicko heran. Namun saat di dapatinya kedua netra suaminya yang sedikit memerah menatap ke arahnya Sonya pun paham dengan apa yang di inginkan Zicko. Dadanya seketika berdesir saat merasakan kehangatan tubuh Zicko yang sudah sampai di hadapannya.
" Sonya... " Zicko mendekatkan wajahnya. Netranya menatap sayu. Direngkuhnya erat tubuh Sonya yang baginya begitu nyaman untuk di peluk.
Zicko mengarahkan bibirnya untuk bertemu bibir Sonya yang merah dan ranum. Mengulumnya perlahan. Sementara tubuh mereka sudah begitu erat melekat satu sama lain.
Gerakan bibir yang perlahan dari keduanya perlahan semakin cepat. Saling memagut. Menautkan cinta yang masih begitu membara dalam hati mereka. Lirih suara Sonya tertahan saat ciuman Zicko semakin liar, lidahnya menyusuri rongga mulutnya. Sunyi, hanya suara desah dan kecipak saliva yang saling menukar di dalamnya.
Zicko yang tak kuasa menahan hasratnya memutar tubuh Sonya dan mendorongnya perlahan ke atas ranjang sambil tetap mencium Sonya. Kini tubuhnya sudah berada di atas Sonya.
" Zii... "
" Merindukanku..? "
" Sangat.. Belakangan ini kita di sibukkan dengan urusan teror dari Yudha. "
" Jangan sebut nama itu, nanti hilang semangatku.. " Zicko menghentikan ciumannya. Melihat hal itu Sonya segera mencium kembali bibir Zicko dengan lembut dan sedikit menggerakkan bagian bawah tubuhnya memancing pergerakan Zicko.
" Mmmhh.. Mulai nakal.. Biasanya cuma diam, menerima. Eh sekarang sudah berani memancing.. " erang Zicko saat salah satu tangan Sonya berusaha membuka resleting celananya membuat isi di dalamnya seketika penuh sesak dan menggeliat dengat semangat di dalam bungkusnya. Sonya hanya tersenyum dan memandang Zicko dengan tatapan memohon.
Zicko ******* bibir ranum itu dengan rakus. Kedua tangannya bergerilya ke semua tempat dan melempar piyama yang di pakai Sonya, meninggalkan tubuh polos di bawahnya. Zicko menatap dengan penuh gairah.
" Shiit.. ! " Zicko mengulum salah satu puncak bukit kenyal, sementara salah satu tangannya meremas di satu sisinya. Menghisapnya seperti bayi yang sudah sangat kehausan. Tubuh Sonya menggelinjang.
" Zii.. "
Pakaian Zicko terlempar begitu saja. Hanya tinggal kain penutup bagian bawahnya yang masih menempel dengan sesak terdorong oleh sesuatu di dalamnya yang begitu menonjol. Seolah tak sabar, Sonya mengangkat salah satu kakinya, menjepit penutup bawah Zicko dan menariknya. Bergantian dengan kaki satunya dan akhirnya sesuatu itupun keluar, melesak dan menekan diantara kedua paha Sonya.
Gerakan Sonya membuat Zicko semakin menggila.
__ADS_1
******
》 Bersambung