
Happy reading.. ♡
🌹 Pembaca yang budiman, jangan lupa klik jempol sama hati nya ya.. Biar othor lebih semangat.. Makasih buat yang sudah like n fav novel ini 🌹
_________
" Suara itu dari sini. " kasak kusuk suara mereka. Terdengar suara langkah mendekat ke arah balik dinding tempat Axel berdiri diam.
" Sepertinya tadi suara barang terjatuh. Cepat kau periksa sebelah sana ! " suara satu memerintah.
" Di sini tidak ada apa - apa. "
Klothaakk..!
Axel terkejut di balik dinding begitu juga dengan kedua orang di ruangan itu.
" Oalaaah.. Ternyata ini. Sial, kirain apa..ternyata cuma tongkat kayu tak berguna, huh.. ! " suara kedua terdengar lega.
" Aku kira tadi ada yang memergoki kita di sini. "
" Sudah. Ayo cepat pergi, buruan..! Tinggalkan tablet itu, kembalikan ke tempat asalnya atau aku laporkan ke boss ! "
" Oke..oke.. Sudah ! "
Setelah perdebatan itu terdengar suara langkah menjauh dan pintu yang di kunci dari luar. Axel nenghembuskan nafas lega.
Setelah menunggu beberapa saat sampai kondisi benar - benar sunyi, Axel kembali meraba seluruh permukaan dinding di depannya.
Nihil.
Merasa tidak menemukan apa yang di cari Axel mengedarkan pandangannya ke dinding di sebelah kanan kirinya. Diperhatikannya mendetail setiap sudutnya.
Axel merasa aneh dengan sebuah jamur yang tumbuh sendirian pada dinding batu tepat di ujung kanan. Posisinya agak sedikit di atas Axel. Setelah berfikir beberapa saat Axel meraih jamur itu pelan. Dan mencoba untuk menariknya ke arah bawah.
Bbsssssstttttt !
Dinding di hadapan Axel terbuka secara perlahan, bergeser ke arah kiri. Axel tersenyum karena sudah menemukan tuas kuncinya.
Axel berjalan memasuki ruangan namun kemudian berhenti seperti sedang nemikirkan sesuatu. Dan akhirnya melepas cincin di jari tengah tangan kanannya kemudian berjalan kembali ke dalam lorong, menggantungkan cincin itu pada tuas berbentuk jamur yang tadi sudah di tariknya.
Jika terjadi sesuatu padaku Anda akan tahu bahwa ini kunci untuk membuka dinding dan masuk ke ruang kerja Anda Tuan.
Axel mengembalikan tuas berbentuk jamur itu ke arah sebelumnya. Dinding bergeser kembali perlahan ke arah kanan hendak menutup. Dengan segera Axel masuk ke ruang kerja Zicko.
__ADS_1
******
" Paman lama sekali.. "
" Sabar Laras. Mungkin paman Axel sedikit berhati - hati saat berjalan kesana. " Sonya menepuk pelan pundak Laras, menenangkan.
Sementara Zicko berdiri dengan gelisah. Sebentar - sebentar dia melihat arloji pada pergelangan tangannya.
Masih lima menit. Kenapa rasanya seperti sudah begitu lama..
" Paman, sepertinya paman Axel dalam kesulitan. " kata Laras tak sabaran.
" Ini masih lima menit sejak Axel masuk. Kita tunggu lima menit lagi. "
Mereka bertiga gelisah memandang ke ujung lorong.
Sementara itu Axel memeriksa ruang kerja Zicko. Memperhatikan tablet yang mungkin menjadi bahan perdebatan kedua orang tadi.
Hhuuuuffftthh.. Syukurlah bukan tablet yang ku maksud.
Axel berjalan ke arah sofa. Ruang kerja Zicko cukup luas, di lengkapi dengan meja dan sofa untuk di gunakan jika ada rekan bisnis yang datang berkunjung.
Axel berjongkok di samping sofa single yang biasa dia duduki saat mendampingi Zicko membicarakan masalah bisnis dengan koleganya. Tangan Axel meraba bagian bawahnya dan menarik sesuatu berwarna hitam.
Axel bangkit berdiri, netranya berbinar menatap benda itu yang adalah tablet yang mau di bawanya ke markas rahasia mereka yang baru.
Ceklek !
Tiba - tiba pintu ruang kerja Zicko terbuka dari luar. Dengan sigap Axel bersembunyi di balik tirai penutup jendela sembari merapikan bajunya dengan perlahan.
" Dikiranya aku bodoh ? Hahaha, aku kembali kesini setelah dia berjalan cukup jauh. Huh ! Tablet itu sangat bagus, pasti mahal harganya.. " seorang pria memasuki ruang kerja Zicko sambil menggerutu.
" Ini dia. Lho eh.., kenapa letaknya seperti ini ? Perasaan tadi tidak seperti ini, kok agak miring ? Hmmm.. "
Axel yang mendengar suara gumaman orang itu menahan nafas, jantungnya berdebar - debar. Sial, dia teliti sekali..
" Ah sudahlah. Mungkin Jay tak sengaja menyentuhnya tadi sebelum pergi. " katanya pelan.
Pria itu mengutak atik tablet yang di bawanya sambil berjalan dan duduk di atas sofa panjang. Matanya terpana saat berhasil membuka kode sandi tablet itu.
" Ck, cuma begitu saja ? Gampang sekali ! " sinisnya meremehkan.
Axel hanya diam, dalam hatinya khawatir jika Zicko tiba - tiba masuk ke tempat itu dari lorong. Bakal gawat karena otomatis nantinya pintu rahasia itu akan ketahuan. Dahi Axel mengernyit berfikir keras mencari cara agar tidak ketahuan jika Zicko datang.
__ADS_1
Sementara itu Zicko kembali melihat arlojinya.
" Sudah sepuluh menit. Aku akan masuk menyusul Axel. " katanya pelan. Mengambil sebuah pistol kecil dan di selipkan di ikat pinggangnya.
" Hati - hati Zii.. " Sonya memperingatkan. Yang di balas dengan anggukan kepala oleh Zicko.
" Aku ikut paman. "
" Kamu disini saja Laras, temani tantemu. Kalau ada apa - apa nanti paman kabari. "
" Ok paman. " jawab Laras kecewa. Mana mungkin paman bisa kasi kabar, ponselnya di tinggal di sini. Batin Laras saat memandang ponsel dan berganti menatap Zicko yang berjalan berbelok di ujung lorong. Huft , aku bukan anak kecil lagi. Kenapa mereka menganggapku seolah - olah aku masih kecil..?
*****
" Ternyata isinya cuma begini saja. " desah pria penyusup itu kecewa. " Apa ini, cuma aplikasi fotografi, foto - foto keluarga, foto editor.. Ck..! " gumam pria itu sambil tetap menggulir layar tablet melihat semua aplikasi.
" Hmmm.., tidak ada yang istimewa. Ku kira ada berkas rahasia masalah pekerjaan atau apa pun yang terlihat penting dan bisa ku jual, ternyata zonk..! " katanya lagi sambil meletakkan tablet itu di atas sofa di sampingnya.
Pria itu menguap sebentar dan mengedarkan matanya melihat seluruh isi ruang kerja Zicko. Pandangan matanya berhenti pada satu titik, menatap foto Zicko dan seorang pria. Kedua alisnya bertaut seperti sedang mengingat - ingat sesuatu.
" Bukankah dia yang saat itu di tembak Tuan Yudha sampai mati..? Ayah dari gadis kecil itu. " gumamnya. " Untung saja dia mati. Kalau tidak.., bisa bahaya. "
Axel yang mendengarnya pun seketika meradang. Untung saja masih bisa menahan diri dan tetap diam di persembunyiannya.
Ceklek !
Tiba - tiba pintu ruangan itu terbuka.
" Sedang apa kau di sini Jon ? Aku sudah mengira kau bakal kembali kesini ! " seorang pria tiba - tiba masuk begitu saja dan tanpa di duga segera mencengkeram kerah baju Jon temannya dengan marah.
" A-aku cuma mencari barangku yang mungkin ketinggalan di sini Jay. " kata Jon berbohong. Padahal tujuan utamanya adalah ingin mengambil tablet itu.
" Haasshh ! Alasan saja kau ini ! Ayo cepat keluar, kita pergi dari sini sebelum boss besar marah karena tahu kita di sini. " ujar Jay marah.
" Boss besar ? " tanya Jon heran.
" Iya, boss Yudha dalam perjalanan kesini. Mencari sesuatu. Apa kamu mau masih tetap di sini hah ?? "
" Wah gawat, ayo lah, kita langsung cabut dari tempat ini. " Jon langsung terbirit - birit berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Jay yang menggelengkan kepalanya melihat ulah Jon sembari mengambil tablet dari atas sofa dan meletakkannya kembali di tempat semula lalu melenggang pergi setelah mengunci pintu dari luar.
Berbarengan dengan itu, tiba - tiba
Bbsssssssstttttttt !
__ADS_1
*******
》 Bersambung